puisi tidak seperti jazz

jadi, kalau ada sesuatu yang tidak baru setelah tahun 2000, itu adalah kritik dan kritikus itu sendiri. waktu aku beli buku kumpulan puisi kompas hijau kelon & puisi 2002 (baru tahun ini, 2007, di toko buku jose rizal di tim) dan membaca esei-esei calz di situ aku sempat terkejut, hey, dia tidak menyebutkan heidegger/habermas/kundera di paragraf pertamanya, atau selanjutnya. kenapa sekarang…

bentuk esei-esei itu pun menarik, ada yang berbentuk puisi ngomel-ngomel pernuh pukimak!, ada cerpen, ada diary yang menyindir sdd terang-terangan, ‘”wah, pengarang asing. Ini terjemahan dari bahasa Jawa, ya?”‘ hahaha. lucu. sebenarnya kritiknya banyak yang serius, seperti kutipan di atas tadi, keberlanjutan dari tradisi mendebat bahasa indonesia itu sebenarnya apa/milik siapa/harus bagaimana, tapi nadanya ringan, main-main, isinya serius tapi penulisnya tidak menganggap dirinya sendiri terlalu serius.

jadi mungkin juga ada sesuatu yang baru dalam kritik sastra setelah tahun 2000. hilangnya nada main-main itu, hilangnya humor, seakan-akan ruang kritik itu sebuah masjid besar dan si kiritikus tidak boleh ketawa-ketiwi di dalamnya. lihat saja misalnya buku ‘telaah sastra terpilih’ epifenomenon arif bagus prasetyo (terbitan 2005). di muka buku itu dia menyertakan dictionary definition ‘epiphenomenon’, yang pertama ‘a secondary or additional symptom or complication arising during the course of a malady.’ hehehe, pas juga, karena setelah membaca kalimat pertama esei pertamanya, ‘sekedar singgah minum’ tentang misalkan kita di sarajevo gm, dan itu setelah harus membaca epigram dari eduardo galeano tentang muka yang angin dan angin yang muka (who? you ask. exactly.), dan kalimat itu ternyata ‘APAKAH puisi seperti jazz?’ aku juga mulai terserang satu additional symptom, bahkan full-blown malady, kebosanan. dan setelah berjuang melalui ‘teror dari neraka’, ‘dalam pukau modernitas’, sampai ‘analogi dan dunia yang melindap’, aku pun sadar malady apa yang selama ini menyiksaku: kemuakan.

memang arif bagus prasetyo bukan seorang pelawak, dan tidak bisa dipaksa untuk melawak, kalau dia mengganti kalimat yang aku kutip tadi menjadi ‘apakah puisi seperti grindcore?’ mungkin aku akan tertawa terbahak-bahak tapi aku yakin itu tidak akan terjadi, dan laksmi pamuntjak (perang, langit dan [sic—kurang koma setelah ‘langit’] perempuan) atau binhad nurrohmat (sastra perkelaminan), misalnya, juga bukan pelawak, walaupun kenaif/luguan binhad tentang seks sering membuatku cekikikan, tapi masalahnya bukan (hanya) karena mereka tidak pernah lucu, kalau kau sering membaca kritik sastra indonesia, kau akan muak bukan hanya karena kau tidak pernah dibuat tertawa tapi juga karena semua esei itu seperti dibuat di laboratorium yang sama, nadanya sama (kontemplatif/murung/mengeluh), referensinya sama (selain tiga nama di atas tadi, juga nietzsche, weber, borges, dan nilai tambah kalau kau menyebutkan nama pengarang amerika latin yang bukan borges, lorca, atau marquez—eduardo galeano! ha!), dan kesimpulannya biasanya pun sama, keputusasaan yang tak mungkin disembuhkan tentang bobroknya sastra indonesia (eg, f rahardi, ‘tidak ada puisi yang baik di indonesia dalam sepuluh tahun terakhir’ di kompas—walaupun menurutku yang ini ditulis dengan cukup baik, dia memang penyair yang baik), yang kalau di tangan nirwan dewanto menjelma jadi harapan-harapan yang belum pernah terwujud tentang utopia-utopia masa depan di mana, eg, ‘Mungkin suatu hari seorang komparatis cum pengaji budaya akan menahbiskan karyanya sebagai sastra dunia pascamodern, sumbangan yang begitu berharga dari wilayah tropika.’ (‘sastra dunia yang lain: terduniakan atau teretnografikan?’, di seminar ‘redefining the concept of world literature(s)’ di ui, juli 2006—yang, by the way, tidak meredefinisikan apa-apa, kecuali pernah ada seorang akademik dari filipina yang mengusulkan daripada berdebat arti ‘world’ itu sebenarnya apa, kenapa tidak kita ganti saja jadi ‘planetarial’, dan aku cukup setuju karena waktu itu, di hari kedua, aku merasa benar-benar sedang ada di planet lain. apakah aku berada di uranus atau mereka mengundang orang uranus? no, they were just yale academics.) dan semuanya ditulis dengan gaya yang mungkin bisa kulabeli ‘kritik sastrawi’, penuh cum, qua, dan preposisi latin lainnya yang bisa dipelajari di workshop jurnalisme sastrawi andreas harsono asal kamu punya 3 juta.

bayangkan, esei berjudul provokatif richard oh, ‘siapa takut, nirwan dewanto?’ di kompas itu, apalah sebenarnya selain keluhan terhadap cara menulis kritikus-kritikus seperti nirwan? purple prose, richard? itu warna lebam di mataku setelah membaca mereka.

soal isi, jadi begitu menyegarkan membaca kumpulan esei katrin bandel, sastra, perempuan, seks (terbitan 2006). bahwa di situ dia mencabik-cabik mitos kefeminisan ayu utami (‘vagina yang haus sperma; heteronormatifitas dan falosentrisme ayu utami’), kepengarangan djenar maesa ayu (‘nayla: potret sang pengarang perempuan sebagai selebriti’), dan sedikit kredibilitas maman s. mahayana sebagai kritikus yang masih tersisa, sudah cukup untuk membuatku tertawa-tawa senang. tidak ada juga humor di esei-esei ini, tapi karena isinya beda, paling tidak dibandingkan dengan 1523 tulisan eseis lain tentang subyek yang sama, dan kebetulan juga ditulis dengan jernih tanpa referensi terlalu banyak kecuali kepada buku yang sedang dibahas (lihat esei ‘nayla’ itu sebagai contoh pembacaan dekat yang tidak akan merusak mata).

mungkin humor dan lawak adalah forte saut sitomorang, suami katrin. aku senang mengamati sepak-terjang mereka berdua sebagai good cop-bad cop sastra indonesia. katrin serius, saut melawak. katrin dingin, saut meradang. katrin di koran, saut di milis. katrin mengepung, saut blitzkrieg. katrin mainstream, saut underground. menurutku mereka melakukan semua ini dengan sengaja, penuh strategi, sebuah gerilya yang tersusun rapi lengkap dengan buku panduan yang diterbitkan dalam bentuk stensilan (elektronik!). seperti kata saut sendiri, menyindir youknowwho, ‘siapa bilang revolusi sudah tak ada lagi!’

tapi selain saut, kelihatannnya kritik sastra di web 2.0 memang tidak banyak. banyak omelan (termasuk saut sendiri) tapi esei yang, seperti esei katrin misalnya, mampu melupakan diri penulisnya sendiri lebih dari lima menit, tidak banyak.

mungkin ini ada hubungannya dengan pengamatanku kemarin dulu bagaimana blogger indonesia lebih suka menulis fiksi—who needs second life when you’ve got multiply?—daripada berita, apalagi esei. mungkin kau bisa dengan gampang mencari sastra di blog, tapi kritik sastra? siapa bilang revolusi tak perlu lagi?

*bagian dari esai berseri. bagian pertama di sini. bagian selanjutnya di sini.

sore aku pergi ke tuk ketemu nirwan satu menyapa nirwan dua cipika-cipiki sama ayu dikenalkan pada gm dipandang dengan tatapan aneh oleh nukila bertanya pada hasif apa bahasa indonesianya upload ‘unggah’ katanya ada sitok juga di situ tapi aku eneg melihat cengdemnya kemudian malamnya pulang dan menulis email buat richard oh yang kujuduli ‘fuk tuk’ begini bunyinya:

i think what i hated most about that night was how humorless the whole thing was. i mean when you think about tuk, you expect humorless but what i didn’t expect, and what i was so disappointed about, was that i think there were only three people there who had read the book: the speaker (bambang sugiharto, his blurb is on the back cover, he’s like a philosophy lecturer from the u of parahyangan, gm (or maybe laksmi just read him the book as bedtime stories) and me.

then the first thing that bambang, phd, said was how ‘memang jarang ya kita bertemu dengan seorang esais indonesia yang bacaannya begitu luas, gayanya begitu stylish dan begitu erudit’ (he really did say erudit). i mean, the other thing that gm said to me re: my review of ellipsis was how ‘kritik sastra indonesia itu ya masih berkisar di situ2 aja, ttg orangnya’. well what about what that bambang dude said? could you get more ad hominem than that? if i had her money my bacaan would be luas too, i mean i hadn’t read the weil&bespaloff book just because i couldn’t afford it. i’d read the review in the guardian sometime ago, but my credit card’s maxed out way before that.

and then gm’s first comment was ‘saya kira buku ini sangat berharga karena memperkenalkan kita pada bespaloff,’ and then he went on and on ad nauseam about who she was and who weil was bla bla bla, nothing that you can’t google, so that people forget that laksmi did not introduce bespaloff to us, it’s the new york review of books who repackaged the two essays in the one book that did it.

when gm was in the middle of his hagiography of bespaloff&weil, catatan pinggir style, it struck me: he’s (or thinks he is) socrates. the sad thing was there was no budding plato in the crowd. you know, he probably thinks that it’s his duty to educate these people, the way he would give a short history of pompeii in his catatan pinggir, and that’s noble and all that, but like, hasn’t he heard of wikipedia?

i asked him outside about what he meant when he said that my review of ellipsis was just another example of ‘gitu2 aja kritik sastra indonesia, selalu ttg orangnya’ and he said that me mentioning the fact that laksmi used to write the good food guide was beside the point, and that what i said about her love motel poems were an unwarranted personal attack.

so i explained blablabla that my point in mentioning the good food guide, apart from not wanting to miss out on telling the joke about the oasis foie gras, was how i seriously think that her habit of writing about the ambience (pronounce it a la francaise of course) of a restaurant helps her, and is a good influence, when she writes her travelogue lyrics (lyrical travelogues?). and that my point about the love motels was the simple matter of why did she use ‘love motel’ instead of say, ‘check-in’, the indonesian idiom. not because i think she’d be better off using the indonesian idiom, i just want to know why she chose ‘love motel’ over anything else. (in my review i also mentioned the possibility of ‘fuck motel’.)

anyway, the point was that i was just reiterating what was already on the page,  there in my review/essay/whatever. though i must admit, gm was actually quite prepared to listen to me and then changed (or appeared to anyway) his stance once i was done explaining. he nodded his head and said now i know what you mean. still though, that means he either didn’t read my review properly, or didn’t understand it, or something was stopping him from seeing what i was trying to say (perhaps laksmi’s pendulous breasts).

and he sort of sounded kinda mean. his praises (for the bits in my essay that he liked) sounded genuine, even supportive and encouraging, but his protests were like, really angry. like a child throwing a tantie.

i’m sick of talking about that review. but i guess there’s still another thing i want to say, at least when i wrote it i kept my attention on the pages of her book, the words she’d tried hard to turn into magic, and her record as a writer, unlike the people in that back-breaking theatre (why don’t they just have chairs, instead of levels, is that not socratic enough?), who’d crap on and on about heidegger whenever they had the chance. (and even when they didn’t.)

mikael.

naik sepeda

It’s quiet in the suburbs.
9.37. PM.
Trees have grown in abandoned corner houses.
Overgrown like afros.
And people are up
in strange places
squatting on empty
badminton courts
with the sign
white painted on grey concrete
just outside the touchlines
PARKING SPACE FOR MEDIKA LESTARI CUSTOMERS ONLY
a man bellycooling
his t-shirt rolled up just below his nipples
leaning on doorjambs
of a makeshift
plywood shack for builders
— you see them everywhere
a magnificent wog mansion
next to it
ceilings painted with ducks
doves
angels flying in mid-air
I prefer not to see how they make them float
above white domes lit
by blue spotlight
the colour of the sea in Fiji
Tourism Board brochures.
Yellow light
of cheap low watted bulb
behind the bellycooling man
O how I long to see what’s behind the doorjambs
but all I did was smile
at the man
another quick look at his nipples
dark under the ambient blue
of the aforementioned
magnificent
domes.
Two boys
playing cards
outside a gate
sila on the dusty conblocks
(or perhaps they’d wiped the dust off
with their hands the way I used to
sweep loose earth with my hand
then sit
on the now smooth
hard surface
to watch a badminton match
at the RT court
— remember the lines
made of multicoloured raffia?
The shuttlecock
would bounce when a smash hit
above a depression on the ground.
Makes it easier
for the umpires to decide
on line calls. On the line is in.
Or out. I don’t remember. It all seems so far away
now.)
So what I’m trying to do is get all the details down
everything perfect and complete
so I don’t forget
do justice to this place.

apakah aku berada di mars atau mereka mengundang orang mars?

pergi ke rak sastra di gramedia. apa yang kau jumpai di sana? novel, puisi, novel, cerpen, puisi. kalau inilah ‘sastra indonesia’, rasanya tiga rak memang sudah cukup. hahaha.

bagaimana dengan lirik lagu? catatan perjalanan? esei yang bukan tentang pramoedya? resensi film?

‘walau kamu / tak semancung / gunung-gunung / di belahan bumi pertiwi / uuu uuu’

aku bukan orang yang pertama yang akan menahbiskan seorang vokalis menjadi penyair tentu, calz sudah melakukan itu pada ebiet g. ade (paling tidak menyindir bahwa ‘Ebiet sebenarnya mempunyai bakat untuk jadi penyair’ di buku isyarat-nya, hlm. 401), dan camille paglia pada joni mitchell, dan entah sudah berapa ratus penyair pada bob dylan. tapi di sini, setelah calz menahbis ebiet di tahun 1982, siapa?

aku belum pernah melihat lagi. maka sekarang aku akan mendeklarasikan bahwa jimi multhazam, vokalis the upstairs, bukan hanya punya bakat jadi penyair, tapi memang sudah lama jadi penyair, hanya mungkin tidak pernah berpikir menganggap dirinya seorang penyair (buat apa juga, dia tidak akan disewa dengan honor berpuluh juta untuk meng-headline pensi di seantero nusantara sebagai sekedar penyair), ataupun susah-susah mengetik lirik-lirik gubahannya dan mengirimkannya ke don@kompas.com.

tentu juga jauh lebih asyik menjadi anak haram mick jagger dan iggy pop daripada ahli waris acep zamzam noor dan d. zawawi imron.

tapi coba simak ini:

‘Digital Video Festival’

Kita di masa depan
Dan sedang menuju Jakarta Barat
Sebelum Fatahillah
Ada baiknya berputar arah
Tepat di Glodok Raya
Terdapatlah pusat film negara
Istana dongeng dunia
Dari Hollywood hingga ke Iran
Mari pesta

Digital Video Festival

Tak guna antrian panjang
Apalagi hanya popcorn yang mahal
Karena kita gembira
Bermodal awal lima ribuan
Kan ku ajak kau dara
Menyaksikan tutur gambar di rumah
Bertumpuk keping bajakan
Masih sempatnya kita berwacana
Menggila

Digital Video Festival

(dari album terakhir mereka, Energy)

sungguh suatu lukisan weekend sore-sore di jakarta (atau weekdays buat anak-anak ikj kurang kerjaan itu!) yang sangat hidup bukan? dari cangkokan realita dan bahasa sehari-hari yang meyakinkan, ‘popcorn yang mahal’, ‘modal awal lima ribuan’, ‘berwacana’ (!—aku suka sarkasmenya!), sampai ke hiperbola yang tidak terasa melebih-lebihkan, ‘pusat film negara’ (apakah ini juga kritik terselubung kepada ppfn, bp2n, panitia ffi, dan badan sensor film?—pusat film negara adalah pasar gelap terang-terangan untuk DVD bajakan!), ‘istana dongeng dunia’, lirik ini begitu, ya, liris, menunjukkan sebuah pastoral bisa juga hidup di tengah-tengah kota! (bukan hanya di gresik, lampung, dan lembaran puisi kompas minggu ;).)

banyak lagi contoh lirik-lirik jimi yang mengingatkanku mungkin sedikit pada puisi mbeling, atau antologi bunga matahari itu, atau the new york school of poets seperti kenneth koch, john ashbery, dan frank o’hara yang menyibukkan diri dengan membawa kembali bahasa sehari-hari, slang, prokem, bahasa gaul, ke dalam puisi. judul posting ini misalnya, yang kuambil dari salah satu judul lagu mereka. di lagu itu ada kuplet yang menurutku paling akurat mendeskripsikan dancefloor stadium: ‘mereka berdansa sungguh seragam/tetabuhan purbakala telah dilistrikkan.’ tetabuhan purbakala telah dilistrikkan! siapapun yang pernah ngiprit di stadium pasti akan langsung diserang flashback begitu mendengar lirik ini!

hanya jimi tak pernah menyebut dirinya sendiri sebuah gerakan tentu. apalagi gerakan puisi.

jimi-lah penyair terbaik di antara lirikus indonesia setelah, bukan ebiet g. ade, calz kurang cermat menurutku hanya mengangkat dia, obbie messakh! ingat ‘di bawah payung hitam/rambutku dan rambutmu/bersatu dalam diam’? jenius!

sinema keindonesia-indonesiaan

akhir tahun 2005 sebuah blog multiply mulai menarik banyak perhatian fans film indonesia. blog itu berisi review film2 indonesia yang nyinyir dan pedas, yang terkenal memberikan rating ‘kancut’ (dari ilustrasinya kelihatannya mereka memakai merek hing’s, atau rider) buat film-film yang mereka benci. bukan sesuatu yang baru bagi yang sudah lama membaca joe queenan atau anthony lane, atau bahkan usmar ismail (di bukunya mengupas film, terbitan sinar harapan tahun 1983 misalnya), tapi kelihatannya jadi barang panas di antara para peresensi dan ‘pekerja film’ sendiri.

belum ada yang membuat studi yang mendalam (atau studi apapun sebenarnya) tentang pengaruh gaya resensi sinema indonesia pada resensi film di koran dan majalah mainstream di indonesia, tapi aku yakin siapapun peneliti itu (semoga bukan bule garing dari murdoch university lagi) akan menemukan bahwa gaya akmal nassery basral di tempo, susi ivaty di kompas, dan evieta fadjar p. di koran tempo seperti tiba-tiba mendapat suntikan adrenalin di bulan-bulan setelah sinema indonesia meledak dan terpaksa menjadi situs resmi bukan lagi blog supaya bisa lebih banyak menampung comments pembaca mereka. lihat review akmal tentang film rudy soedjarwo ‘mengejar mas-mas’ misalnya. mereka semua tiba-tiba berlomba menjadi yang paling sarkastis dan nyelekit, dan itu setelah bertahun-tahun menyalin press release dan blurbs yang dibagikan dalam media pack/goodie bag dengan entah apa lagi 😉 pas launching. pernahkah kamu membandingkan sinopsis film di situs bioskop 21 dan berita singkat tentang film yang baru dirilis di koran-koran? rasanya seperti déjà vu.

aku akan beri satu contoh tanpa tahu malu, karena sekali lagi ini adalah tulisanku sendiri, tapi aku sekali lagi setuju dengan calz, ‘[j]ika tidak satu pun kritikus dapat memberikan penilaian atau pemahaman yang meyakinkan atau malah hanya sekadar komentar asal bunyi atau lip service saja, maka pengarangnya harus angkat bicara.’ (di buku isyarat itu lagi, hlm. xv) karena aku belum melihat satu pun kritik memberikan satu pun penilaian atau pemahaman, jangankan yang meyakinkan (yang asal bunyi pun tak ada), maka aku akan angkat bicara:

reality love and rock ‘n’ roll / realita cinta dan rock n roll (scroll down)

menurutku, dan ini aku angkat bicara sebagai seorang kritikus, terlepas dari bagus atau tidak (buatku sendiri, review anak-anak yang lain di situ biasanya lebih lucu, contohnya review gotcha di halaman yang sama), ada beberapa hal yang baru di sini. mungkin bukan yang tidak pernah dilakukan dalam sejarah, tapi paling tidak yang mengikuti selera/gaya/zeitgeist sekarang (pertengahan 2000-an): swear words (‘prick’), referensi kepada film porno (‘anal highway 3’), referensi kepada pedro almodovar (filmnya sendiri juga me-refer kepada almodovar), joke berformat mata kuliah yang sebenarnya sudah lama basi (‘queer politics 6969—the simpsons have done it already! in 1990!), kecabulan (6969 dan anal highway tadi), kebencian pada the mainstream (‘garasi’), dan ya, hampir lupa, begitu bilingualnya aku, bahasa inggrisnya.

sebagai kritikus yang baik aku juga berpendapat penulis resensi ini punya kesempatan menulis seluruh resensinya dalam bahasa ABG beneran (like, more ‘like’ at least). but he played it way too straight. too safe. too earnest.

sekali lagi, semua ini bukan hal yang baru sama sekali. sekali lagi: joe queenan dan anthony lane. tapi ketidak baruan ini jadi hal yang menarik juga: seorang penulis resensi indonesia menulis resensi tentang film indonesia (yang dipengaruhi film spanyol) dalam bahasa inggris dan secara sadar bekerja dalam/memanfaatkan/memodifikasi tradisi penulisan dalam bahasa inggris itu. tradition and the individual talent? which tradition? whose? foreign tradition? but can a tradition that someone manipulates be called foreign if he consciously manipulates it? (and where the fuck’s the fucking talent? hahaha.)

among the infidels

indonesia sudah lama jadi tempat singgah dan objek tulisan travel writers sedunia. dari miguel covarrubias sampai v.s. naipaul—yang ke sini dan menulis tentang tempat ini dua kali di among the believers kemudian di beyond belief—sampai host program wisata kuliner kanal discovery travel & living, no reservations, anthony bourdain. dan jangan lupa bervolume-volume etnografi/antropologia dari indonesianis-indonesianis cornell sampai perth.

sekarang lihat ini.

sekarang ganti travel writers indonesia yang mengobyekkan dunia.

aku sengaja tidak memakai sigit susanto dan ‘catatan perjalanan’-nya, menyusuri lorong-lorong dunia, terbitan tahun 2005, karena menurutku tulisan-tulisan di situ masih terlalu lugu. masih menempatkan si backpacker indonesia sebagai seorang naif yang terheran-heran pada dunia, dan tak sekali pun benar mengeja nama sesimpel vladimir nabokov (hanya ada 4 entri indeks untuk ‘nabakov’). sementara stelivena, yang tentu saja menyembunyikan nama aslinya dan apa identitas daytime-nya (rusmailia lenggogeni, creative group head jwt—thanks google!), nyaman mencela rasa truffles dan tahu persis ada berapa -a dalam dar es salaam.

mungkin perbedaan ini karena sigit memang sudah tua (lahir tahun 1963), sehingga, seperti pernah aku bayangkan di salah satu postingku kemarin, mungkin dibesarkan dalam dunia yang masih datar, belum global.

critique of no reason

buku filosofi kopi dee lestari sempat dirilis dengan blurb di sampul depan dari goenawan mohamad yang menyatakan (kira-kira), ‘ada kata dalam bahasa inggris, wit, yang dalam bahasa indonesia berarti cerkas. ada banyak yang cerkas di buku ini.’ setelah membaca buku ini aku jadi bertanya-tanya apakah goenawan mohamad punya pemahaman yang sama sekali lain tentang konsep ‘wit’, ‘cerkas’, dan ‘banyak’. karena aku sama sekali tak menjumpai wit di buku ini! (tadinya aku mau mempertanyakan konsepnya tentang ‘buku’ juga, remember, this is dee we’re talking about, who somehow manages to fool everyone into thinking that supernova was a novel, tapi aku tidak yakin dia benar-benar memakai kata ‘buku’ di blurb-nya, mungkin dia hanya bilang ‘di sini’.)

tidak banyak eseis di indonesia, apalagi yang populer. aku ingat juga di kumpulan tulisan kakilangit terbitan horison yang tidak dijual untuk umum itu ada mungkin ribuan sajak dan ratusan cerpen tapi kalau tidak salah tak sampai 10 esei. dan selain goenawan dan catatan pinggir-nya, eseis yang punya kolom reguler dan (logikanya, walaupun belum tentu juga) karena itu, pembaca reguler, hanya segelintir dan itu-itu saja namanya: sga dan wimar di djakarta!, rosihan anwar di cek & ricek (selalu ngomel, dan karena itu, tetap lucu) dan belakangan ayu utami dan ‘kodok ngorek’-nya dan muara bagja dengan kolom fashion-nya di seputar indonesia minggu, dan yang katanya agak meledak, samuel mulia dan ‘parodi’-nya di kompas minggu.

semua penulis itu, kecuali ayu, berumur di atas (buat rosihan, jauh di atas) 40 tahun. mereka sudah tua, dan esei-esei mereka juga mulai terasa basi. atau paling tidak, aku bisa membaca banyak esei yang sama bagusnya dan isinya lebih dekat (kalau tidak sama persis) dengan kehidupanku, di blog seperti budibadabadu. soal fashion, aku lebih memilih membaca regina kencana di majalah a+ daripada muara bagdja. soal kehidupan gaul ibukota yang menyebalkan tapi lucu aku akan baca affi, atau marianne (terutama posting-posting tahun 2004-nya) daripada samuel mulia (dan menurutku gaya tulisan sam sendiri sekarang sangat dipengaruhi gaya menulis anak-anak a+, muda tentu, yang ia pimpin sebagai editor-in-chief di tahun-tahun pertamanya, dan sempat menang hadiah cakram utuk media inovatif, yang aku yakin karena tulisan-tulisan di situ waktu itu memang agak lain. dan menurutku—ini perlu studi tersendiri juga!—gaya menulis di a+ circa 2000, yang dicontek dari the face, details, spin, adalah pionir gaya penulisan di majalah-majalah hiburan sekarang, dari yang mahal seperti playboy sampai yang free(!). bukan hanya soal kecenderungannya untuk terlalu banyak mencampur bahasa inggris dengan bahasa indonesia, tapi juga nadanya yang berusaha, mungkin terlalu keras, untuk selalu nyinyir).

critics of impractical reasons

menurutku inilah problem sastra indonesia yang terbesar. kritikus yang malas. bukan malas menulis, karena banyak sekali kritik di mana-mana, terutama di koran minggu dan yang menyebutkan nama habermas, tapi malas mencari tulisan-tulisan baru, nama-nama baru, gaya-gaya baru.

bukan hanya untuk menyelamatkan tulisan yang bagus dari genre yang bereputasi jelek. tapi siapa lagi yang menyadari kecerkasan (ha!), misalnya, jakarta kafe-nya tatyana selain taofik hidayat di sriti.com? ada lagi yang tidak merasa terlalu terhormat untuk mengobrak-abrik rak chick lit untuk menemukan buku ini? cerita terbaik di buku ini, ‘jakarta kafe’, diakhiri dengan kutipan dari ‘gadis kecil’-nya sdd (dan seluruh buku ini sangat dipengaruhi lirisisme sdd—lagi-lagi menyajikan pastoral urban, di warung kopi, kafe, metro mini, mal), sehingga kalau taofik mau memindahkannya dari rak chick lit dan menyandingkannya ‘sejajar dengan sejumlah cerpennya seno gumira ajidarma, atau dengan yang paling mutakhir: kuda terbang mario pinto karya linda christanti [sic],’ dia bisa saja, tapi yang paling penting adalah kesediannya berpikir dengan serius tentang kumpulan cerpen ini, eg, ‘jakarta yang kuyu, tatyana lukiskan bak oven bocel, segalanya serba mampet, lusuh, gagap komunikasi, yang ia larutkan dalam bentuk tokohnya yang serba mandek.’

tapi sayangnya, hampir semua kritikus sastra indonesia masih menganggap menyeleksi tulisan bagus dari rak chick lit atau blog hopping untuk mencari chairil dan pram yang baru, atau yang bukan lagi-lagi ingin jadi chairil dan yang bukan lagi-lagi ingin jadi pram lebih tepatnya, sama saja dengan mengorek-ngorek keranjang sampah.

padahal di keranjang sampah di rumahku kutemukan ini:

1111 666

EMPUK-EMPUK ENAK

buat sahur OK
buka juga bisa

(iklan phone sex di lampu merah, bulan puasa 2005)

kalau salah satu fungsi sastra adalah untuk mensubversi tatanan status quo (moral/pemerintahan/seksual, etc), lebih subversif mana, iklan 2×4 senti ini, atau 148 halaman ode untuk leopold von sacher-masoch?

*bagian kelima dari esai berseri. bagian pertama di sini. bagian selanjutnya di sini.

art has always been a matter for the real few

and by that i mean the stinking rich. sekilas saja, selain blog yang bisa dibuat siapa saja yang ahli IT kantornya tidak terlalu reseh, mungkin satu-satunya hal yang mungkin baru, paling tidak jadi lebih banyak bisa dilihat di rak-rak aksara dan qb (rip), seperti pernah aku singgung di posting sebelumnya, adalah buku-buku indonesia, entah pengarangnya atau isinya, tapi berbahasa inggris. richard oh, tiga novel sejak tahun 1999, laksmi pamuntjak, dua kumpulan sajak dan satu kumcer, dua dosen ui dan seorang petualang sastra dari budapest yang juga sudah menerjemahkan sajak-sajak eka budianta (antologi puisi bilingual—satu lagi tren kecil) (gerda hutapea-silitonga, manneke budiman, sukasah syahdan aka tjipoetat quill), dan dua orang gadis muda, amira waworuntu dan marrysa tunjung sari. [update 9 desember 2007: ada juga kumpulan puisi olivia kristina sinaga, raiu, yang berisi 25 puisi berbahasa indonesia dan 25 bahasa inggris, yang telat saya baca—geez what kind of a critic am i! she is a genius.]

hampir semua buku itu lebih daripada kurang adalah produk vanity publishing. richard oh menerbitkan buku pertamanya sendiri di balik label gamelan press yang kemudian bermetamorfosis menjadi metafor publishing, yang antara lain sempat giat menerjemahan buku-buku sastra indonesia ke bahasa inggris (eg, djenar maesa ayu’s they say i’m a monkey), ellipsis, kumpulan puisi pertama laksmi pamuntjak, diterbitkan penerbitannya sendiri, pena klasik, yang belum pernah menerbitkan buku lain selain jakarta good food guide-nya sendiri dan edisi pertama cala ibi nukila amal. dan jangan lupa, laksmi adalah salah satu ahli waris dinosaurus penerbitan indonesia itu, pt djambatan. a jar of pickles manneke budiman cs. diterbitkan oleh ‘absis+ordinat’—aku belum pernah melihat buku lain terbitan penerbit ini. [update 14 desember 2007: menurut keterangan manneke budiman di sini, Absis+Ordinat ternyata ‘bukan penerbit, tapi percetakan. Cuma dia yang minat.’ (another can of worms!)] sedangkan amira waworuntu menceritakan di french flaps dan editor’s note bukunya (tak diberitahu siapa) bahwa dia cucu fuad hassan dan sempat tinggal di boston sementara ayahnya belajar di harvard kemudian pindah ke perth. seperti juga buku manneke cs. buku amira juga dihadiahi foreword dari penulis kata pengantar ter-rajin di indonesia setelah sapardi djoko damono itu: melani budianta. sementara marrysa tunjung sari yang bukunya fruits: flavors of life diterbitkan terrant, salah satu penerbit chicklit handal, memuat foreword dari tinuk yampolsky, ‘pekerja seni’ yang juga istri ethnomusicologist/bekas wakil ford foundation di indonesia, philip yampolsky.

being rich and well-connected is not exactly a crime, i guess, dan semangat diy, apakah itu dari seorang saudagar atau band grindcore blok m bawah tanah, mungkin memang patut dikagumi, tapi apa aku sudah pernah cerita tentang sebuah perdebatan di lobi apartemen plaza senayan seusai khatulistiwa literary award 2006, antara segerombolan anak bunga matahari v. richard oh dan nirwan 2 (ahmad arsuka)? richard mengeluh bahwa problem terbesar tulisan-tulisan di blog dan milis seperti bunga matahari adalah semuanya terlalu open-source, tidak ada seorang pun yang mau menyusahkan diri jadi kurator/editor untuk, katanya, ‘separate the wheat from the chaff!’ waktu itu aku hanya ketawa, dan bilang, dan buku-bukumu sendiri, richard, kau yakin they’re wheat? hahaha.

maksudku, banyak orang yang mengeluh seperti richard, bahwa di blog/milis tidak ada proses pemilih/pemilah-an, tapi, apakah orang-orang itu pernah mempertanyakan/memeriksa hal yang sama pada buku-buku yang berserakan di gramedia?

apakah mereka pernah benar-benar meriset sistem penerimaan/pemilihan naskah dan pengeditan bagaimana yang dilakukan gagas media, grasindo, terrant, etc, yang buku-buku chick/teen/pre-teen lit-nya sering dituduh tak bermutu? atau sebaliknya, pernahkah mereka memeriksa apakah buku-buku karangan penulis bernama besar, eg, remy sylado, nano riantiarno, goenawan mohamad yang diterbitkan kpg/gramedia/kalam sudah melalui proses seleksi/editing yang sewajarnya juga? ataukah nama besar mereka sudah cukup untuk membuat editor manapun membuang pensilnya?

yang jelas, kalau soal quality control, dunia buku sebenarnya tidak beda-beda amat dengan dunia blog dan milis.

kalau kau kaya, kau terbitkan kumpulan puisimu sendiri, kalau kau tidak kaya, tapi juga tidak miskin-miskin amat, kau nongkrong di warnet seharian mengutak-atik blogger, wordpress, multiply, mungkin. mungkin juga kau melakukan dua-duanya. atau tidak dua-duanya dan terlalu sibuk mendownload midlake dari limewire. tapi sudahlah, ini sudah terlalu banyak berteori lagi, yang jelas, kalau soal menulis, web 2.0 mungkin telah membuat mengumumkan tulisanmu ke orang banyak jadi proses yang lebih murah, tapi di negara kita yang makanan pokoknya indomie rasa ayam bawang ini (harga per bungkus rp 900 di warung dekat rumah), masih tetap kurang murah dan sama sekali belum menjangkau blanket coverage (mungkin baru sesaputangan) untuk bisa dibilang telah membuat proses itu jadi lebih demokratis.

terus terang aku sendiri tidak begitu tahu perbedaan macam apa yang akan terjadi kalau aku menulis sebuah puisi di lembar kuning gading moleskine-ku (ukuran saku), atau di kotak new post blogger, atau dengan rich-text beta editor di yahoogroups bunga matahari, kadang-kadang aku cuma merasa ingin cepat selesai kalau aku menulis di blog/milis karena setelah lima-enam baris aku sudah tidak bisa melihat lagi baris-baris yang pertama tadi seperti apa. harus scroll up dulu. tapi itu kalau aku menulisnya langsung di situ—yang sering juga aku lakukan untuk memaksa diriku menyelesaikan sesuatu. tapi mungkin juga kan kau menulis posting blog-mu di selembar kertas dulu, baru kemudian menyalinnya di microsoft word dan baru setelah itu meng-copypaste-nya ke blogger? dan siapa tahu kau tidak se-ADD aku sehingga kau tak perlu melihat lagi baris-baris yang telah kau tulis karena kau masih ingat semuanya di luar kepala.

tapi menurutku memang ada bedanya membaca tulisan-tulisan itu, entah ‘sastra’ atau bukan, di blog atau milis. waktu richard mengeluh tentang wheat-nya yang terselip di antara begitu banyak chaff di bunga matahari, dia sebenarnya benar-benar telah salah mengerti fungsi dari milis itu sendiri. kalau memakai analogi anak-anak geek, dia seperti apple fanboy yang minta dimanja dengan aplikasi-aplikasi terbaik dan tergampang yang sudah dipilihkan steve jobs sementara milis adalah sebuah software open source berbasis linux. bunga matahari memang ada di situ untuk menampung semua orang yang merasa bisa berpuisi, richard! fungsi moderator di situ bukan untuk memilah-milih antara yang benar-benar bisa dan yang hanya merasa bisa! bahkan aku cukup salut mereka juga memutuskan untuk tidak begitu ikut campur waktu ada beberapa anggota protes tentang sebuah posting yang menurut mereka menyinggung sara (goodbye orba!). terus siapa yang akan melakukan itu, separate the wheat from the chaff? guess what, richard: you!

ya, hahaha, kalau kau memang tak takut dengan nirwan dewanto, kau harus berani jadi seperti dia! hahahahaha. pilihlah sendiri apa yang kau suka, apa yang kau anggap wheat mana yang chaff, mana yang akan kau simpan di notes scribefire-mu mana yang akan kau delete secepatnya dan selamanya.

menurutku inilah revolusi web 2.0 yang sebenarnya, hols. semua orang sekarang bisa menjadi harold bloom dengan canon-nya sendiri-sendiri. ia bisa blogwalking mengikuti links di tiap-tiap blog, atau lewat tags, atau tetap, pergi ke technorati dan minta rekomendasi kalau dia malas.

tapi untuk sebuah milis sebesar bunga matahari, pengalaman membaca di situ bisa jadi kurang asyik karena beberapa hal. baiklah aku kutip saja sebuah posting yang pernah aku kirim ke sana beberapa waktu yang lalu tentang ini:

waktu itu, dua tahun lalu, setiap posting di buma akan bertahan di
halaman pesan baru seharian. digeser sedikit demi sedikit oleh
postingan-postingan lain yang mengomentarinya.

kadang-kadang komentar itu berupa puisi juga, kadang meniru rima puisi
yang dikomentari, strukturnya, judulnya, isinya, diksinya. mirip
penyair-penyair cina jaman baheula. dan kali ini tak perlu membebani
kuda mengantar surat-suratan mereka.

kadang juga isinya hanya bagus! seru nih! gokil!

kemudian ada peluncuran antologi itu.

aksafuckinra.

pertama kali wartawan-wartawan budaya garing bergelang akar bahar
berjaket potongan-potongan kulit sisa berbau aspal melihat
penyair-penyair bergaun tety kadi bersepatu balet berparfum l’occitane.

muncul berbagai sisipan khusus tentang buma, tentang tukang-tukang
kebunnya yang cantik dan wangi.

dan kulihat pengumuman itu setiap hari – 123 new members – 75 new
members – too many new members.

sekarang sebuah posting beruntung kalau bisa bertahan di lembar pesan
baru lebih dari lima menit.

begitu banyak puisi, apakah ada yang sempat membaca?

di antologi itu ada sesuatu yang `buma’.

diksi yang tidak dicut&paste dari gema tanah air 1&2, ketidakseriusan,
keseriusan untuk tidak serius, sebuah haiku tentang slam dance.

kebumaan yang sedang hilang pada waktu yang sama di
bungamatahari@yahoogroups.com

ditelan nama-nama baru dan nama-nama yang loncat dari milis sebelah.

dedy_tri_r, pakcik_ahmad, bung kelinci, abang edwin sa,
shakesphere[sic]_brokenheart.

nama-nama yang sering memanggil satu sama lain dengan kata sapa ‘kang’.

untuk apa seseorang bergabung dengan komunitas baru padahal dia sudah
punya komunitasnya sendiri, padahal dia sendiri tidak punya sesuatu
yang baru?

kemudian memposting hal yang sama dalam waktu yang sama ke kedua milis
itu?

atau banyak lagi milis yang lain.

untuk apa seseorang menjadi anggota dari lebih dari satu komunitas puisi?

kalau memang benar dedy_tri_r ingin puisinya dikenal karena puisi itu
bergaya khas komunitasnya dan bukan gayanya sendiri (ridiculous for a
poet), apakah itu berarti dia ingin, bermimpi, puisinya suatu saat
akan dikenal sebagai puisi buma dan puisi apsas dan bukan puisinya
sendiri?

betapa rendah hati.

ya, gara-gara antologi berbentuk buku itu, unsur keinteraktifan di buma sempat hampir hilang (sekarang sudah mulai lagi, setelah antusiasme bandwagon-jumping itu seperti biasa diikuti oleh mass malaise).

soal keinteraktifan ini—fitur andalan web 2.0 seharusnya!—akan kubahas lagi nanti, menurutku ini masih belum dimanfaatkan secara maksimal oleh penyair/cerpenis/blogger, whatever, di indonesia, malah jauh lebih berkembang di situs-situs revolusioner (paling tidak, technologeekcally) seperti ini.

sekarang aku akan kembali dulu ke masalah membaca itu lagi. menurutku ini memang masalah yang mahapenting. kalau art memang a matter for the real few, those few biasanya adalah those who can read not just bahasa indonesia tapi juga inggris, perancis (eg, sutardji, toeti heraty, rita oetoro), belanda (toeti heraty, rita oetoro), dan those who can afford to buy books in kinokuniya/aksara/qb/amazon. (secara teori, kau bisa juga baca à la recherche du temps perdu dari sini, tapi itu secara teori, aku belum pernah ketemu dengan orang yang benar-benar sudah pernah melakukannya.)

aku sudah pernah menyinggung sedikit tentang apa menurutku pengaruh bacaan yang kebanyakan berbahasa inggris ini pada penulis yang berbahasa ibu indonesia, now let’s hear it from the horse’s mouth: ‘in entering this gobalisation era, Indonesia’s youth has been actively studying the English language as an international of communication … unlike other people, Amira chooses English to express her talent in literature.’ (Amira, Self-Portrait and other poetic reflections, Penerbit Kata Hasta, Jakarta, 2006, hlm. ix—di editor’s note oleh seorang editor tanpa nama) dan ini: ‘In a poem called “globalillusion” Sukasah Syahdan imagines the world as “a stage shrinking & life remains a same rendition/without rehearsal whose script is written by no-one except/dimmest reveries which scatter in everyone’s mind.”‘ (Melani Budianta dalam Hutapea-Silitonga, G., Budiman, M., & Syahdan, S., A Jar of Pickles, Absis+Ordinat, Jakarta, 2006, hlm. 4.)

mungkin agak defensif memulai kumpulan puisi dengan menjustifikasi pilihan bahasanya! tapi ini sedikit membuktikan bahwa paling tidak menulis dalam bahasa inggris bagi penulis indonesia sudah menjadi satu pilihan (bagi amira, paling tidak menurut editornya), atau bagi sukasah syahdan, mungkin jadi satu-satunya pilihan: kalau dunia sudah seperti panggung yang semakin menciut dan hidup sendiri seperti drama yang diulang-ulang, mungkin lama-lama tidak akan ada lagi ruang untuk bahasa lain selain bahasa yang (thanks web 2.0!) makin lama makin terasa seperti gerakan supremacist itu: bahasa inggris.

apakah ini baru, atau hanya keberlanjutan dari proses yang sudah lama dimulai? let me get back to you on that one.

 

*bagian keempat dari esai berseri. bagian pertama di sini. bagian selanjutnya di sini

Oh Brother

If only you knew how much I wanted you to feel the same thing I felt when I went to the bar at the old Hotel Sabang Metropolitan one ngentot ngentot ngentot ngentot took me a full fucking twenty minutes enough to download 30 seconds of amateur Korean porn to fucking change the ribbon on this fucking brother machine.

Some brother.

Ngentot.

Goddamn fucking ngentot.

I’ve written more things way more on computers than on typewriters but I’ve never stopped thinking that my best work is still lying before me and I will do it better, it will be best, only if I write it, if I start regularly write on the heavy keys of this brother M 1760 TR and less on the soft keyboards of my iBook.

copyleft*

seperti ini misalnya:

Monday, July 02, 2007

memulung

Interesting Times Last updated less than one minute ago

—>learnedly and single-handedly transforming the map
of Anglo-American poetry

Make me popular! is a leitmotif

“Till death do us part.” Total bullshit.

“We’ll be together forever.” Fuck you!

Bungaaaa is in your overextended network

’nuair dh’ēireas mi’s tu gheobh a chiad sgailc*

Write when you feel moved to, in response to some inner necessity,
or
attempt to force your talent
never
let it develop at its own pace

‘when I rise up it is thou who wilt get the first slap or blow’**

*We suggest that you try clearing your internet history, cookies, and temporary files, including offline content.

**ta to sinds 4 da scribefiah magik

Powered by ScribeFire.

posted by lo! @ 9:11 AM 1 comments

kau tahu, tapi dewan juri pasti tidak tahu jadi lebih baik kuumumkan dahulu, ini dari blog-ku sendiri (satu dari entah berapa lagi). sayang setelah di-copypaste ke writeroom, foto yang ada di antara ‘”we’ll be together …”‘ dan ‘bungaaaa is in your …’ jadi hilang, tapi mungkin ini bisa jadi contoh bagus tentang teknologi yang membantu.

posting ini kubuat seluruhnya dengan scribefire, semacam widget yang bisa dijadikan plug-in di browser firefox dan muncul dengan ikon halaman buku tulis dan pena di sudut kanan bawah yang kalau diklik akan menyerobot sepertiga browser itu—di bagian bawahnya—untuk sebuah kotak kosong dan serangkaian tombol-tombol. di bagian atasnya kau masih bisa browsing seperti biasa. sekarang kalau kau menemukan sesuatu yang menarik, daripada copypaste ke word atau textedit yang memerlukan terlalu banyak klik, atau memencet kombinasi tombol untuk screenshot yang aku selalu lupa, kau tinggal klik bagian yang kau sukai dan seret saja ke kotak kosong tadi. setelah itu kau bisa menambahi komentar, kata pengantar, stabilo, apapun, kemudian mengirimkannya langsung ke blogmu, tak perlu lagi log in dulu ke server blog.

kelihatannya widget ini didesain untuk blogger amerika yang lebih sering memuat berita, atau lebih banyak lagi opini tentang berita, berebut menjadi satu lagi citizen dalam citizen journalism. berbeda dengan blog indonesia yang jauh lebih banyak berisi catatan harian yang disembunyikan sebagai puisi, puisi yang disembunyikan sebagai catatan harian, riwayat hidup yang disamarkan sebagai cerpen, cerpen yang menyaru menjadi biografi, etc, etc.

menurutku aneh bahwa banyak blogger indonesia akan menulis tentang hal-hal yang sangat personal (atau paling tidak something that might get them into trouble) seperti aborsi, atau bos yang a total freak, atau kakak yang menyebalkan, tapi mereka tetap akan menyembunyikan hal yang remeh-temeh, seperti kota tempat mereka tinggal, perusahaan yang dipimpin bos tadi, suburb mana di kota yang sudah bisa ditebak juga pasti jakarta itu, nama mal/club/cafe yang mereka kunjungi, etc, etc.

ada banyak kemungkinan kenapa ini terjadi, kenapa blogger di dunia lain sibuk membuka rahasia orang lain sementara blogger kita sibuk membuka rahasia sendiri tapi juga menciptakan rahasia-rahasia baru. tapi mungkin kenapa-nya tidak begitu penting dibahas di esei ini, lebih penting apa-nya. walaupun ada satu kenapa-nya yang relevan kelihatannya, menurutku, dan aku berpikir ini karena ini yang kurasakan setiap kali membaca blog yang diceceri white lies seperti itu, rahasia-rahasia kecil itu membuat pembaca jadi penasaran. dan ini membuat pembaca mengunjungi blog itu lagi dan lagi dan lagi. setelah beberapa kali, dan setelah meng-google nama penulis blog itu, kalau memang namanya asli, biasanya kita bisa mendapat gambaran kira-kira orang ini siapa, dunianya seperti apa, kerjanya di ad agency mana, lebih suka casa atau oh la la, stadium atau embassy, etc, etc. kadang-kadang cyberstalking seperti ini jadi lebih penting daripada membaca entri blog si penulisnya. itulah makanya aku bilang kemajuan teknologi informasi ini mungkin lebih banyak mempengaruhi kebiasaan membaca daripada menulis, tapi masalah ini nanti sajalah. ada satu hal yang tak dapat diingkari: unsur biografi memang penting dalam sebuah blog.

tapi bukan hanya untuk memenuhi hasrat voyeuristis kita. bukan hanya. sebuah entri blog, seperti banyak entri di blogmu, bisa cukup kuat untuk berdiri sendiri, dinikmati tanpa harus disangga backstory biografimu, atau entri-entri yang lain. kalau kau hanya pernah posting satu kali, yang ini misalnya—

Saturday, June 23, 2007
22.6.2007

jam 8.30 pagi saya keluar rumah. ada kucing berukuran sangat kecil yang takut-takut mau menyeberang jalan. tangan kanan saya penuh dengan dua tas. jadi saya gendong kucing dengan satu tangan. kucing muat dalam telapak tangan kiri. lalu saya beri susu di luar pagar. lalu saya berpikir everything can go wrong today but i’m gonna have my own cat. it will love me back. lalu saya senyum-senyum sepanjang jalan membayangkan saya akan punya kucing lagi. waktu kecil kucing saya pernah mencapai tiga belas ekor. tapi saya ibu yang jahat. lalu saya tidak boleh punya kucing lagi. jadi ketika sudah besar saya hanya berpikir bahwa saya punya kucing. tiga jam kemudian kakak saya menyapa lewat yahoo messenger. katanya kucing itu terjepit, tergilas pagar. jadinya kucing itu sekarat lalu dibuang. i killed a cat i thought i saved. rasanya tidak enak sekali. malamnya saya pergi karena harus. saya makan kerak telor, soto betawi, nasi biryani, kentang berbumbu, puding coklat. lalu saya dan teman membeli bando tanduk setan yang bisa menyala karena ada baterainya. kami pakai sepanjang jalan sambil bicara tentang perceraian. lalu kami naik bajay dan di kaca saya melihat dua pasang tanduk merah menyala. lalu kami makan mi jawa. lalu saya melihat ibu kucing dan rasa tidak enak itu muncul lagi. lalu saya pulang dan langsung menyalakan komputer. ada pesan dari kakak saya bahwa saya bisa membeli kucing bagus di manggarai. teman saya yang menginap juga menyarankan itu. tapi-jangan ketawa-saya pikir makhluk hidup dan mungkin juga cinta tidak bisa dibeli. lalu saya menulis beberapa e-mail supaya saya dikirimi e-mail. lalu saya membaca ini. saya sempat terganggu dengan kejujurannya. but no it doesn’t make me love her less. lalu saya menulis i love you all the same di status yahoo messenger. tapi saya salah. perhaps i love you even more.

posted by holiday_sendiri @ 6/23/2007 03:21:00 PM 0 comments

—blog-mu akan tetap berarti. tapi kenapa kamu lagi? bisa juga sih aku mengutip yang ini:

Friday, March 24, 2006

Pasar Saliwangi

Park your bike just outside the market. You will meet a man who single-handedly runs the small parking lot with high efficiency. Later when you want to leave, just give him your keys. He will ask you which direction you want to go to and proceed to get your bike out and arrange it accordingly.

posted by eko at 1:28 PM

buatku eko, siapapun dia, lebih menarik daripada pico iyer. kemarin dulu lampion sastra bikin hajatan travel literature, kenapa tidak mengikutkan ini? bahasa inggrisnya tidak seidiomatik kamu. that ‘with high efficiency’ in paragraph one sounds a bit indonglish to me. tapi ini satu hal lagi yang menarik, mungkin salah satu efek ‘globalisasi’ yang ditanyakan oleh dewan juri itu adalah suatu saat nanti, mungkin tidak selama yang kita bayangkan, indonesia akan punya patois inggrisnya sendiri, seperti karibia, india, singapura. inglish? indonglish? mungkin akan penuh dengan governmentspeak seperti ‘with high efficiency’ tadi, tapi menarik melihat sampai segawat apa kita bisa mematahkan tulang belakang bahasa yang diam-diam begitu sensitif dengan kemurniannya itu. apa suatu saat hollywood akan membuat film yang meledek indonglish kita seperti yang mereka lakukan kepada afringlish dengan lord of war?

tapi ada poinku kenapa aku memakai satu lagi contoh dari blogmu. kali ini memakai bahasa indonesia, dan berbentuk seperti sebuah catatan harian. pertama kali membacanya aku tidak tahu kenapa aku sangat tersentuh, aku cuma tahu aku sangat suka dengan kalimat itu, ‘lalu kami naik bajay dan di kaca saya melihat dua pasang tanduk merah menyala,’ kemudian aku sadar bahwa semua rasa bersalah, rasa jahat telah membunuh kucing yang kau kira kau selamatkan tadi, rasa bersalah terganggu dengan kejujuran blog yang kau baca itu (yang kelihatannya—ingat aku juga blogstalker yang handal—kakakmu sendiri), tidak pernah kau ceritakan panjang lebar kepadaku. tapi dari satu kalimat tadi aku sudah tahu semuanya. kau merasa begitu berdosanya, kau pikir dirimu sendirilah sang setan!

dan kalau dewan juri sempat membaca entri-entri blogmu yang lain mereka akan menemukan bentuk-bentuk lain, surat berseri, travelogue, potongan chat, mini play, reportase, penggalan teka-teki silang, etc, etc. jadi, apa bedanya blog-mu dengan kotak yang menyimpan oeuvre fernando pessoa dengan segala macam pseudonym-nya?

apakah setiap karya itu milik masing-masing pseudonym-nya atau sebuah bios yang kebetulan bernama fernando pessoa itu? apakah setiap entri blogmu ditulis oleh holiday_sendiri atau dirimu yang sebenarnya, siapapun itu? biografi siapakah yang tersimpan di kotak itu, fernando pessoa atau pseudonym-pseudonym-nya, di blogmu, holiday_sendiri atau kau sendiri?

itulah kenapa aku pikir unsur biografi itu bisa jadi menarik buat pembaca blog. kalau pembaca mau, ia bisa menggabungkan semua posting dalam sebuah blog seperti milikmu dan menganggapnya seperti sebuah volume collected poems/stories/works dan menilaimu dari totalitas itu. atau tetap hanya memilih beberapa yang dia suka dan menyimpan mereka di notes scribefire-nya. jadi semacam selected works pilihan dia sendiri. pembaca tidak dipaksa membeli buku berisi tulisan-tulisan pilihanmu atau editormu, satu lagi revolusi buat pembaca bukan?

aku jadi hampir lupa dengan tulisan scribefire-ku sendiri yang mengawali posting ini. aku cenderung setuju dengan apa yang berkali-kali dikatakan sutardji (sampai hampir bosan membacanya) di kumpulan esei isyarat-nya itu (sudah jelas isyaratnya, calz!), kalau pengarang belum benar-benar mati dia seharusnya tak usah keberatan menerangkan karyanya, dan bukan bersembunyi di balik klise ‘the author is dead,’ atau ‘biarkan karya saya saja yang bicara,’ siapa bisa menjamin karyanya itu memang pintar bicara? hahaha.

semua teks di tulisanku itu kucomot (‘memulung’–>kupulung) dari berbagai macam tempat di internet. beberapa kumodifikasi, beberapa kubiarkan begitu saja. ‘interesting times’ (seharusnya teks ini berbentuk sebuah box, sayang box-nya tidak kelihatan di sini, semoga dewan juri tidak malas mengklik hyperlink ini) dari salah satu kolom di the new yorker. ‘last updated …’ aku sudah lupa, tapi bisa ditemukan di mana-mana, terutama di situs-situs berita, o ya, aku ingat ini dari the guardian, dan kumasukkan karena pengumuman macam inilah yang selalu membuatku merasa tidak bisa dan tidak boleh ketinggalan internet, mungkin karena dengan mengikuti setiap update di situ aku jadi tidak perlu merasa perlu meng-update kehidupanku sendiri!, marjorie perloff menulis ‘learnedly and single-handedly …’ tentang ezra pound dalam reviewnya tentang antologi pound terbitan library of america di boston review, ‘”till death do us part …”‘ dari ‘the anti-marriage rant‘ debbie goad, co-author zine legendaris ‘answer me!‘, dan di bawahnya seharusnya ada foto bunga citra lestari bertopi koboi di wc cowok yang kucuri dari account friendster-nya (who cares if it’s fake), di samping foto itu ada tulisan ‘bungaaaa is in your extended network’ yang kupelesetkan menjadi sebuah komentar sosial murahan menjadi ‘is in your overextended network,’ etc, etc, etc. (bahasa aneh di bawahnya itu celtic.)

poinnya, aku ingin membuat sebuah berita (sebuah update!) tentang internet itu sendiri, menggunakan alat yang disediakan oleh internet itu sendiri, dengan bahasa, kata-kata, yang sudah ada di sana, tak perlu aku tulis lagi sendiri. mungkin perasaanku tentang internet itu sendiri diwakili oleh baris-baris selanjutnya, yang ku-cut&paste dan modifikasi dari sebuah situs writing workshop yang menganjurkan ‘write when you feel moved to, in response to some inner necessity, never attempt to force your talent, let it develop at its own pace.’ bagaimana mungkin hanya menulis kalau benar-benar perlu, bagaimana mungkin tidak memforsir bakat kita (kalau memang punya), bagaimana mungkin melakukan apapun ‘at its own pace,’ kalau dunia sekarang berlari (all those updates!) begitu cepat!

tapi kalau misalnya tidak ada orang yang mengerti kehebatan content tulisanku ini ;), apa ada lagi sesuatu yang baru di situ? bentuknya? proses menulisnya? dengan besar hati kukatakan, sama sekali tidak. orang yang akrab dengan penulis-penulis beat tentu tahu william s. burroughs sudah sering memakai teknik cut&paste macam ini. scribefire hanya lebih ringkas saja, tidak perlu pegal-pegal menggunting dan mengelem, dan langsung bisa diumumkan. akan sedikit berbeda mungkin kalau aku lebih rajin dan tetap menyertakan hyperlinks yang akan membawa pembaca ke asal teks yang kucuri tadi. tapi itu akan membuat pembacaku itu jadi kurang penasaran bukan? hahaha.

seperti yang kucurigai di postingku kemarin, kelihatannya kemajuan teknologi belum menghasilkan bentuk tulisan yang benar-benar baru. tapi, paling tidak buat seseorang yang senang dengan teknik cut&paste seperti ini, mungkin sesuatu seperti scribefire memberinya kemungkinan-kemungkinan content yang baru. yang tadinya dia cuma terbatas meng-cut&paste kliping lampu merah, fhm edisi indonesia, mungkin ehm … waktu masih terbit, menjuxtaposisikannya dengan potongan-potongan sabili, sekarang dia bisa melakukan apapun yang dia mau dengan lembaran-lembaran virtual tonga star. tentu, itu kalau dia mampu membayar iuran Rp 750.000 sebulan untuk langganan speedy unlimited seperti bapakku. ya, setelah globalisasi seharusnya sudah berapa, 10, 20? tahun berlangsung, masih tetap ada satu hal lagi yang belum berubah juga: art has always been a matter of a few. (dan jangan tanya dari mana aku mencuri aforisme ini, get your own broadband!)

*dan judul copyleft itu? ya, silakan, kau pun bisa mencuri apapun dari posting ini.

bagian ketiga dari esai berseri. bagian pertama di sini. bagian selanjutnya di sini.

yohurt

hellohurt

if
i stare at the computer screen for a very, very long time
say, all night
would your name suddenly pop up in the morning
and suppose it does
would a simple “hello”
hurt?

posted by holiday_sendiri @ 2/26/2007 05:43:00 AM 4 comments

baiklah, aku akan mulai dengan ini saja dulu hols. mungkin karena aku ingin mengejutkan dewan juri dengan sesuatu yang baru dalam sastra indonesia sejak tahun 2000, bahasa inggris! tentu kamu bukan satu-satunya, richard oh sudah menulis tiga novel, laksmi pamuntjak dua kumpulan puisi dan satu kumpulan cerpen, tapi menurutku di satu posting blogmu yang hanya 7 baris ini ada beberapa hal yang segar, aku malas memakai kata baru, yang tak ada di buku-buku tebal mereka.

ini saja dulu hols, ‘would a simple “hello” / hurt?’ waktu membaca baris ini aku tidak tertohok oleh enjambment-nya yang pas dan nendang, tapi oleh kecermatanmu, atau aku agak ragu memakai kata kecermatan, karena rasanya kalimatmu sangat natural, bukan hasil proses sebuah laboratorium, mungkin keluwesan?, ya, mungkin keluwesanmu menggunakan bahasa inggris itu. kau menanyakan sekaligus kepada siapapun ‘your name’ itu, ‘would it hurt to just say a simple “hello”?’ dan kepada dirimu sendiri ‘if he did say it, would it hurt me?’ permainan kata-kata, double entendre, ironi, yang kau jejalkan dalam satu idiom inggris, ‘would it hurt x to do y?’ ini tidak pernah aku jumpai di kalimat-kalimat serius yang sok filosofis di novel-novel richard oh, maupun di sajak-sajak laksmi pamuntjak yang kadang-kadang bisa indah tapi kesakralannya bisa sangat membosankan itu.

aku juga sangat menikmati imaji yang tersaji (hahaha rima murahan) di posting pendek ini (ya posting, aku tidak akan menyebutnya dengan nama lain, seperti puisi, karena itu seakan-akan mengakui posting yang bagus akan naik kelas menjadi puisi dan tidak lagi bisa disebut hanya sebuah posting), seseorang yang memelototi layar komputer begitu lama (‘say, all night’, hehe, hiperbolamu benar-benar menyentak tidak sekedar melebih-lebihkan, dan lucu), dan menunggu nama seseorang ‘pop up’ in the morning sehingga bisa diasumsikan kau, eh, seseorang ini membiarkan yahoo! messengernya on semalaman, (visible atau invisible? kalau dia ingin seseorang yang lain itu menyapanya apakah dia akan besar hati membuat le premier pas dengan membiarkan dirinya visible atau malah ingin mengetes seberapa besar orang lain itu ingin menyapanya dengan membiarkan dirinya invisible? apakah dia akan memakai fasilitas ‘invisible to x only’, invisible hanya untuk orang lain yang diharap-harapkannya itu, atau tidak?), sesuatu yang kritikus sastra akan bilang satu lagi contoh obsesi/ketidakmampuan sastra indonesia keluar dari obsesi tentang hal-hal urban, tapi aku tidak peduli, buatku, yang setiap minggu membaca semua lembaran-lembaran sastra koran, sastra indonesia justru terlalu penuh dengan gunung, laut, sawah, padang ilalang, dan scene klise pastoral lain. (dan btw, kau pakai status apa, would you actually say ‘would a simple “hello” hurt?’—dan haha, sayang untuk status ym kau tak bisa memakai enjambment-mu yang nendang itu ya.)

belum lagi judulmu yang juga ber-double entendre-ria itu! hello, hurt! hello! fuck that hurts! genius.

dan tahu tidak hols, setting yahoo! messenger-an ini mengingatkanku akan ribet30. pernah baca? dia membuat musik yang liriknya diambil dari penggalan-penggalan dialog interview atau hasil nguping yang dia rekam dengan teman-temannya, dan orang asing yang tak dia kenal, di jakarta, kebanyakan. kalau tidak salah dia seorang anthropologis. aku hanya kenal dia dari bloghopping. musiknya jadinya macam kombinasi antara band night ips dan band-band ipecac-lah. tapi di blognya dia juga mengumpulkan inventori status yahoo! messenger orang-orang, seperti ini:

– the drone from sector 7G (14/03/07)
– I am attached but I am not connected (26/05/07)
– hybernate (11/03/07)
– still waiting for my 15 minutes of fame (13/03/07)
– i hope my legs don’t break (13/03/07)

hahaha, lucu ya! apa ini, found art? outsider art? or just that, art? haikuis-haikuis amatir yang membagi-bagikan karya mereka dengan gratis dan tak keberatan sama sekali kemudian menghancurkannya sendiri setelah mereka bosan? temporary art? tapi bagaimana bisa dibilang temporary kalau mereka sering dianggap hanya maya, tidak pernah benar-benar ada?

tenang, aku tidak sedang akan meluncurkan sebuah tractatus tentang ke(tidak)nyataan. mari kembali saja ke pertanyaan-pertanyaan dewan juri itu sebentar: ‘Adakah kebaruan dalam sastra Indonesia setelah tahun 2000?’ sekilas ada beberapa hal yang terlihat baru, bahasa inggrismu, setting yahoo! messenger tadi, bahwa itu tidak dimuat di lembaran sastra koran minggu tapi diupload (aku tahu kata resminya sekarang diunggah, tapi aku menolak memakai kata yang aku tak tahu etimologinya bagaimana) di blog, walaupun kalau kau bertanya apa yang aku rasakan waktu membacanya, ya masih sama dengan apa kata chairil waktu itu jadi salah satu obsesi setiap penyair, kesepian.

‘Ataukah yang terlihat dalah [sic] keberlanjutan dari tradisi penulisan sastra sebelumnya?’ sebenarnya aku tidak melihat dua pertanyaan pertama ini bertentangan satu sama lain. sesuatu yang baru baru dibilang baru karena dia berbeda dengan yang lama, dengan kata lain, entah apakah karena dia sengaja mempertimbangkan apa saja yang lama kemudian membuat yang bukan seperti itu, atau tidak pernah memperhatikan yang lama dan tak sengaja membuat sesuatu yang baru, yang baru selalu merupakan kelanjutan dari yang lama, yang sebelumnya. tapi sudahlah berteori. pertanyaan yang lebih menarik: ‘tradisi penulisan sastra sebelumnya’ yang mana yang kau lanjutkan, atau paling tidak, mempengaruhimu? aku sendiri langsung teringat lorrie moore dan tom swifties dan pun-nya begitu membaca ‘hellohurt’, dan aku tahu buku-bukunya pernah ada di qb, jadi mungkin kau sempat membacanya. (gosip: richard oh bilang lorrie moore salah satu gurunya di wisconsin-madison, tanyaku: kok nggak ada pengaruhnya sama sekali di novel-novelmu? hehehe.) atau mungkin juga, menyambung teoriku tadi, kau dipengaruhi keinginan untuk menulis tentang kehidupanmu yang kebetulan urban tapi tidak dengan cara seperti sga.

‘Bagaimana sastra Indonesia berdialog dengan sastra dunia? Apakah konteks kekinian semisal globalisasi, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, mempengaruhi proses penciptaan sastra Indonesia mutakhir?’ memang menyebalkan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan, tapi aku punya satu pertanyaan simpel: kenapa menulis dengan bahasa inggris? dan jawabanku, tentu aku tidak setuju dengan kritikus-kritikus gaek seperti martin aleida, misalnya, yang menganggap itu hanya gaya-gayaan dan sering tidak menggunakan bahasa inggris itu dengan tidak benar, apapun itu yang dia anggap dengan ‘tidak benar.’ seperti sudah kubahas, penggunaan bahasa inggrismu bukan hanya benar dan idiomatik, kau justru sudah mempermainkan bahasa inggris itu seperti bahasa ibumu sendiri, memelesetkan kalimat, menyuntikkan makna baru ke dalamnya dengan enjambment yang mengejutkan dan mise-en-scène yang bukan hanya lucu atau agak berbeda, tapi juga sangat kuat. apakah ini berarti sastra indonesia berdialog dengan sastra dunia dengan menconteknya? aku kira tidak sesimplistis itu. ada dua anak sma di kelas ccf-ku dan setiap kali ada anekdot yang perlu mereka bandingkan dengan pengalaman mereka, pembandingnya hampir selalu mereka ambil dari dunia virtual mereka (yang kelihatannya buat mereka tidak virtual sama sekali): ‘hihihi, itu kaya di the sims ya’; ‘oh, jadi kaya di myspace kita bisa bikin profil kita jadi restricted?’ maksudku, kau hanya bisa berdialog dengan dunia yang mau mengajakmu berdialog. kau mungkin besar membaca lorrie moore daripada sga karena kau belanja buku di qb bukan di gramedia, kemudian memesan bukunya yang sedang ‘habis, mbak’ di amazon dan di situ di kolom ‘customers who bought this item also bought’ kau menemukan amy hempel dan miranda july, dan kemudian kau sekalian memasukkan mereka juga di shopping cart-mu, kemudian malam-malam waktu kau tiba-tiba ingin chatting dengan seseorang yang kau tunggu-tunggu tapi tak juga visible (apa kamu sudah mencoba menyapanya, karena mungkin dia yang invisible? or would a simple hello hurt for you too?) dan kau ingin menulis sesuatu untuk mengumumkan kesepianmu, apakah pantas orang mengharap kau akan mengobrak-abrik perpustakaan kakakmu dulu, siapa tahu dia masih menyimpan kumcer sga yang ada cerita ‘manusia kamar’-nya yang waktu itu pernah ia ceritakan sekilas kepadamu, dan mencontek caranya mengungkapkan kesepian dan, seperti yang terekspresikan dengan begitu ringkasnya di salah satu status ym di inventori tadi, ke-am not connected-an-mu? tentu tidak. tidak mungkin. simpelnya, bagi beberapa orang, muda, kaya, dan tidak tinggal di daerah terpencil tentu, mengungkapkan diri dalam bahasa inggris mungkin adalah satu-satunya jalan untuk mengungkapkan diri secara tertulis. tentu mereka setiap hari tetap sering ngomong dalam bahasa indonesia, atau jakarta, bagaimanapun sengitnya mereka menolak mengaku begitu, tapi menulis berbeda dengan ngomong bukan? itu adalah aktivitas yang paling personal, dan tentu kau hanya akan bisa melakukannya dalam bahasa tertulis yang paling akrab denganmu, dan dalam kasus anak muda, kaya, dan kosmopolitan tadi, tentu itu adalah bahasa inggris. konteks kekinian? kemajuan teknologi informasi dan komunikasi? tentu mereka mempengaruhi proses penciptaanmu. seperti di cerita tentang kau dan amazon tadi, paling tidak jadi lebih banyak cara membelanjakan credit card bapakmu ;). tapi kalau mau serius sedikit, kurasa kemajuan teknologi informasi ini lebih mempengaruhi cara kita membaca daripada cara kita menulis, tapi aku akan bicara tentang ini nanti saja, di posting selanjutnya.

‘Bagaimana eskplorasi bentuk, genre, gaya, tema, gagasan dan kecenderungan dalam karya sastra Indonesia mutakhir?’ seperti tentang pertanyaan terakhir tadi, ini akan kujawab saja di posting yang lain yang agak lebih teknis. secara singkat, mungkin aku bisa mengatakan sastra indonesia belum begitu memanfaatkan fasilitas teknologi baru, widgets, flash, hyperlinks, etc, seperti kusinggung di kata pengantarku, untuk mencoba-coba bentuk yang baru. tapi aku juga ragu, apakah bentuk baru itu terlalu penting, atau bahkan, apakah teknologi-teknologi baru itu benar-benar menawarkan sesuatu yang baru atau hanya memudahkan kita melakukan hal-hal yang lama?

 

*bagian kedua dari esai berseri. bagian pertama di sini. bagian selanjutnya di sini.

SPELL NARCISSIST RITE, YOU FOOLS!

saya suka berpikir saya adalah orang yang sangat kosmopolit, atau kosmopolitan?, whatever. tadi malam waktu menonton film eternal summer yang membuka q! film festival di blitz megaplex, saya tidak bertepuk tangan di akhir film sementara penonton lain bertepuk dan bersuit, dan saya merasa begitu sophisticated. di luar sebelum film mulai ada zeke & the popo dan sementara orang-orang lain berbisik wah keren ya, saya keras-keras berteriak ke teman di samping saya, nama band yang mirip radiodead ini apa? kawan itu tersentak menjauh seperti saya baru saja bilang pacarnya seorang sundal. di bar orang-orang sibuk bertanya apakah tiket undangan bisa ditukar minuman dan menumpuk hors d’oeuvres di piring kertas sementara saya dengan dinginnya bilang, enggak gue udah makan di bawah, nggak, bawa equil kok dari rumah.

setelah itu kita berempat bergi ke after-party di pitstop naik peugeot 505 yang disetiri seorang teman wanita dan saya berpikir betapa gender-neutralnya saya. saat dia berpusing-pusing mencari tempat parkir di parking lot sarinah yang sempit saya sibuk ngobrol dan mengisap ganja dengan teman wanita satu lagi di bangku belakang. kita ngobrol tetang antoine doinel di 400 blows, gelsomina, dan siapa yang lebih menjengkelkan, jesse, celine, céline, atau zampano.

di pitstop saya melintas di tengah lantai dansa, kemudian berdiri menyilang tangan di depan bar sambil menonton bapak-bapak beranting speaker bluetooth yang berpendar-pendar biru dan mbak-mbak bertwinset warna-warni primer berdansa ria diiringi i will survive. saya berkata kepada teman wanita saya sesama penghisap ganja tadi, ‘i don’t think i can survive this too much longer.’

kemudian saya berjabat tangan, cipika-cipiki, dengan teman wanita yang menyetir tadi, dia bilang ‘thank you,’ dan saya hanya mengangguk sambil menggerakkan bibir entah meringis, senyum, atau gengsi, cipika-cipiki dengan beberapa orang lagi yang menyapa saya dengan nama dan saya jawab dengan ‘eh elu, cabut ah, garing,’ dan di luar menyetop taksi blue bird dan bilang kepada sopirnya, ‘apartemen daksa pak ya.’

di bangku belakang saya dan teman saya tadi meneruskan menghisap ganja dan berbincang-bincang dengan suara keras dan tertawa-tawa lebih keras lagi tentang tiga hari untuk selamanya yang ia tulis selama tiga tahun yang terasa seperti selamanya, hahaha, kala yang begitu overrated (saya: ‘ya, but i never rated it in the first place’), ekskul yang diam-diam membuat mewek, dan bagaimana australia di wincing the night away mengingatkan kita berdua pada stockholm circa 2005.

di apartemennya kita bermain tenis wii dengan avatar yang kita namai inem dan svetlanarapova smashnavratilova dan baks lagi lints baru yang diluluri madu di antara minum tequila dengan batu es dan duvel dan anker tapi never never budweiser. semuanya diiringi isabella dan suci dalam debu dari ipod 80g yang dipasang di sebuah bose sounddock. di sini kita bisa berbicara lebih keras dan tertawa lebih keras tentang jobdesk menjadi stylist ian kasela, polemik tentang dude harlino di lembar surat pembaca genie, dan kios gloria jean’s di blok m mal yang benar-benar menjual jins.

jam lima mulai ada jeda di antara tawa kita dan aku memesan blue bird lewat speed dial di hapeku. nomor 2 setelah 1 yang ‘kamu’ dan tak pernah lagi aku pakai. blue bird meluncur ke taman paris di pinggiran tangerang dan aku tiba saat laundry masih tutup dan pasar tradisional baru dua, tiga penjaja memajang semangka dengan label ‘sedless.’ di kamar ac masih menyala, kumatikan, dan aku berbaring di lantai yang dingin berbantal tas selempang yang dari tadi kuseret ke mana-mana. bau asap rokok di mana-mana. pugggungku panas. aku belum ganti baju, tapi buat apa juga, toh aku tidak lagi tidur berdua.