SPELL NARCISSIST RITE, YOU FOOLS!

saya suka berpikir saya adalah orang yang sangat kosmopolit, atau kosmopolitan?, whatever. tadi malam waktu menonton film eternal summer yang membuka q! film festival di blitz megaplex, saya tidak bertepuk tangan di akhir film sementara penonton lain bertepuk dan bersuit, dan saya merasa begitu sophisticated. di luar sebelum film mulai ada zeke & the popo dan sementara orang-orang lain berbisik wah keren ya, saya keras-keras berteriak ke teman di samping saya, nama band yang mirip radiodead ini apa? kawan itu tersentak menjauh seperti saya baru saja bilang pacarnya seorang sundal. di bar orang-orang sibuk bertanya apakah tiket undangan bisa ditukar minuman dan menumpuk hors d’oeuvres di piring kertas sementara saya dengan dinginnya bilang, enggak gue udah makan di bawah, nggak, bawa equil kok dari rumah.

setelah itu kita berempat bergi ke after-party di pitstop naik peugeot 505 yang disetiri seorang teman wanita dan saya berpikir betapa gender-neutralnya saya. saat dia berpusing-pusing mencari tempat parkir di parking lot sarinah yang sempit saya sibuk ngobrol dan mengisap ganja dengan teman wanita satu lagi di bangku belakang. kita ngobrol tetang antoine doinel di 400 blows, gelsomina, dan siapa yang lebih menjengkelkan, jesse, celine, céline, atau zampano.

di pitstop saya melintas di tengah lantai dansa, kemudian berdiri menyilang tangan di depan bar sambil menonton bapak-bapak beranting speaker bluetooth yang berpendar-pendar biru dan mbak-mbak bertwinset warna-warni primer berdansa ria diiringi i will survive. saya berkata kepada teman wanita saya sesama penghisap ganja tadi, ‘i don’t think i can survive this too much longer.’

kemudian saya berjabat tangan, cipika-cipiki, dengan teman wanita yang menyetir tadi, dia bilang ‘thank you,’ dan saya hanya mengangguk sambil menggerakkan bibir entah meringis, senyum, atau gengsi, cipika-cipiki dengan beberapa orang lagi yang menyapa saya dengan nama dan saya jawab dengan ‘eh elu, cabut ah, garing,’ dan di luar menyetop taksi blue bird dan bilang kepada sopirnya, ‘apartemen daksa pak ya.’

di bangku belakang saya dan teman saya tadi meneruskan menghisap ganja dan berbincang-bincang dengan suara keras dan tertawa-tawa lebih keras lagi tentang tiga hari untuk selamanya yang ia tulis selama tiga tahun yang terasa seperti selamanya, hahaha, kala yang begitu overrated (saya: ‘ya, but i never rated it in the first place’), ekskul yang diam-diam membuat mewek, dan bagaimana australia di wincing the night away mengingatkan kita berdua pada stockholm circa 2005.

di apartemennya kita bermain tenis wii dengan avatar yang kita namai inem dan svetlanarapova smashnavratilova dan baks lagi lints baru yang diluluri madu di antara minum tequila dengan batu es dan duvel dan anker tapi never never budweiser. semuanya diiringi isabella dan suci dalam debu dari ipod 80g yang dipasang di sebuah bose sounddock. di sini kita bisa berbicara lebih keras dan tertawa lebih keras tentang jobdesk menjadi stylist ian kasela, polemik tentang dude harlino di lembar surat pembaca genie, dan kios gloria jean’s di blok m mal yang benar-benar menjual jins.

jam lima mulai ada jeda di antara tawa kita dan aku memesan blue bird lewat speed dial di hapeku. nomor 2 setelah 1 yang ‘kamu’ dan tak pernah lagi aku pakai. blue bird meluncur ke taman paris di pinggiran tangerang dan aku tiba saat laundry masih tutup dan pasar tradisional baru dua, tiga penjaja memajang semangka dengan label ‘sedless.’ di kamar ac masih menyala, kumatikan, dan aku berbaring di lantai yang dingin berbantal tas selempang yang dari tadi kuseret ke mana-mana. bau asap rokok di mana-mana. pugggungku panas. aku belum ganti baju, tapi buat apa juga, toh aku tidak lagi tidur berdua. 

let’s all meet up in the year 2000

jadi pertanyaan mereka pertama, hols, adalah apa ada yang baru dalam sastra indonesia setelah tahun 2000? aku bayangkan bakal ada 121 esei yang akan bilang: sastra saiber. tak usahlah kita permasalahkan kenapa mereka harus pakai kata menjijikkan itu, saiber, yang jelas aku bisa jamin 119 di antara mereka akan ngomong tentang bumimanusia, bungamatahari, dan blog. mungkin mereka akan ngomong sudah begitu banyak penulis baru, semua orang sekarang bisa menulis apa saja yang mereka mau, semua bisa berpuisi!, dan semua ini menghasilkan dunia sastra indonesia yang sudah lebih demokratis sesuai dengan spirit reformasi.

halah, katamu. seperti kataku juga, semua boleh berpuisi mungkin, tapi bisa? hahaha, tapi aku juga tidak mau terlibat dalam polemik ndeso tentang sastra saiber tadi melawan sastra koran misalnya, dengan masing-masing pentolannya yang mengatai yang satu sampah dan yang lain dilettante sastra, aku bahkan tidak mau tahu. aku tidak tertarik dengan aktivis-aktivis bumimanusia yang mengatakan dalam situs mereka yang sudah mati itu sebenarnya banyak karya sastra yang akan hidup terus sepanjang masa (tapi bagaimana kalau hyperlinks mereka sudah tidak ada yang bekerja?), ataupun dengan tongkol-tongkol sastra (ingat, paus itu mati tahun 2000, apa karena itu dewan sandal ban itu menetapkan tahun 2000 sebagai batas penelitian sayembara ini?) yang mengatakan tidak, perlu kurator-kurator seperti kami untuk memisahkan gandum dari gabahnya.

DOUBLE TAKE Jadi hols, dewan sandal ban itu (yang bahkan tak punya situsnya sendiri jadi aku tak bisa buat hyperlink-nya [update 9 desember 1007: sekarang sudah ada]) menyelenggarakan satu lagi sayembara. “Sayembara kritik sastra”. Yang membuatku tertawa kecil adalah pertanyaan pertamanya, “Adakah kebaruan dalam sastra Indonesia setelah tahun 2000?” Bukan “adakah kebaruan”-nya yang membuatku meringis, tapi “tahun 2000”-nya itu. Kenapa tahun 2000? Apa yang terjadi di tahun 2000? Bukankah Saman, misalnya, yang kelihatannya mereka anggap sebagai titik tolak kebangkitan sastra baik wangi maupun bau setelah Orde Baru terbit tahun 1998? Apalagi kejadian besar sastra sejak itu? Apa karena tahun itu tanggal 11 Maret Paus Sastra itu meninggal? Dan sampai sekarang sekedar dugong/uskup pun kita tak punya? Karena itu mereka bikin sayembara ini, untuk menjaring paus yang mungkin selama ini terlalu malas untuk muncul ke permukaan/uskup yang malas pakai jubahnya? Atau karena tahun itu Grasindo menerbitkan 3 jilid Angkatan 2000 Dalam Sastra Indonesia-nya Korrie Layun Rampan? Tapi siapa yang ingat buku itu pernah ada? Atau itu maksud mereka, menyindir bahwa “[k]ritik sastra, terutama yang bagus dan inspiratif, masih menjadi barang langka” karena mereka menganggap Korrie sekedar tongkol/pendeta desa kecil di perbatasan Papua Nugini, kurang meyakinkan, sehingga siapa Angkatan 2000 itu, kalau memang ada, masih perlu diabsen lagi anggota-anggotanya?

Atau mungkin juga mereka menerima mentah-mentah karangan Korrie itu, karena yang mereka minta kan “kebaruan dalam sastra Indonesia setelah tahun 2000″? Jadi mungkin mereka mengharapkan esei-esei berjudul “Angkatan 2007”, atau “Angkatan Cyber” (aku yakin pasti ada satu di antara fonetifasis itu yang memasukkan esei berjudul “Angkatan Saiber”) yang bisa mereka jual ke Grasindo lagi.

Menurutku sih lumayan banyak kebaruan yang terjadi setelah tahun 2000, tapi mungkin bukan sastra, apalagi Sastra Indonesia. Pernah selama 2006 aku memaksa diri membaca lembaran puisi Kompas Minggu; aku berhenti setelah membaca 3654 kata “menjelma” (dan, yang pasti akan (sudah) membuat Calz berang, sans “jadi” setelahnya).

END OF DOUBLE TAKE kalau aku juga akan ngomong tentang internet dan pengaruhnya terhadap sastra indonesia, aku tidak akan membuang waktuku berteori tentang bagaimana hyperlinks bisa membuat narasi berantai yang lebih njelimet daripada proust, atau bagaimana anonimitas bisa membebaskan élan (i hate this word too, thanks to donny gahral) penyair. aku hanya akan menunjukkan tulisan-tulisan yang menurutku bagus (aku tak akan memakai satu lagi kata membingungkan itu, sastra), habis perkara. kebetulan saja mereka ada di internet. dan kebetulan saja mereka muncul setelah tahun 2000. bisa saja mereka muncul di trotoar bau pesing di depan oh la la sarinah, di kulit kambil, di stalagmit dingin di liang bua, toh menurutku obsesi manusia juga hanya itu-itu saja: percintaan, kematian, kesepian, bulan, gay porn.

selain itu mungkin di beberapa tulisan yang memang, terpaksa atau memang senang, ditulis langsung di kotak posting sebuah blog, misalnya, akan ada sesuatu yang berbeda hanya karena pembatasan-pembatasan yang terpaksa dihadapi penulisnya (tapi juga jadi fetish tersendiri buat dia), seperti ukuran kotak posting yang hanya sebesar telapak tangan, kematian huruf kapital karena harus menulis cepat di sela-sela tugas kantor, atau godaan untuk memakai widget web 2.0 terbaru yang biasanya sebenarnya hanya memudahkan cut&paste dan menghiasi tulisan dengan gambar yang dicuri dari flickr atau video dari youtube. (take that ilustrasi cerpen kompas!)

sebenarnya kalau aku mau membalikkan kurator-kurator koran itu bisa saja, aku bisa bilang, aku sudah lama ingin bilang, kenapa lembaran-lembaran sastra koran minggu itu begitu membosankan? lihat coba judul-judul puisi ini: gandrung campuhan, malai padi, cerita wayan, hantu paus, jalan sunyi. semuanya pastoral gampangan! kenapa tidak pernah ada kecanduan breakbeat, topping donat, posting edo, hantu henry foundation, tol terang benderang? belum tentu lebih bagus (dan belum tentu yang asli tadi sudah bagus), tapi kenapa tidak pernah ada? apa karena semua penyair yang menulis di koran memang berjiwa tua. atau memang tua? atau, yang lebih mengkhawatirkan, bukan bahwa kurator-kurator koran hanya suka sajak-sajak seperti itu, tapi bahwa mungkin penyair yang ingin dimuat di koran, atau mungkin lebih gawatnya, orang yang merasa dirinya penyair, dan lebih gawat lagi, yang masih hanya ingin menjadi penyair, yang merasakan siksaan harus mengetik di keyboard warnet yang berminyak sesuatu yang menggelitik di hatinya, merasa harus mengungkapkan perasaannya (tak usahlah dulu ngomong ‘yang terdalam’) dalam sajak-sajak dengan gaya seperti itu, karena mungkin mereka berpikir sajak itu ya harus seperti itu.

tapi sudahlah, bukankah tadi aku sudah berjanji tidak akan ngomong tentang siapa orang jahat dalam jagat persilatan (usang sekali perumpamaan ini, tapi sering sekali dipakai bukan oleh saut situmorang? tentu dia memakai istilah hokkiennya biar lebih lucu sekaligus otentik dan menunjukkan kepenelitian yang takzim, dunia kang ouw kalau tak salah) sastra indonesia? dan tentang kebosananku akan apa yang dianggap ‘sastra’ oleh ‘sastrawan’ indonesia selama ini? mungkin aku harus lebih realistis dan hanya berjanji tidak akan ngomong terlalu banyak.

 

*bagian pertama dari esai berseri. bersambung ke sini.

BAU BEKAS ARANG BAKAR DI HANAMASA*

Bau bekas arang bakar di Hanamasa
memanaskan nafsu kita.
Seakan-akan harum buah pala turun dari dahan,
ke haribaan.

Malam yang melintasi Mahakam
memang mengancam.
Ada segulung majalah gratisan, katanya, dengan 6 cerita
tentang lumut, jeram dan Lt. 6 Blok M Plaza

6 kiasan yang membujuk kita
mengabaikan akhir, hingga
kautetapkan tubuhmu
ke tubuhku, terus, seperti dulu.

Tapi di luar teks:
gultik dan kaligrafi
tak bisa lepaskan deru busway
dan suara mal selesai,

juga runtuhan merah-hati, kembang di atas got,
genangan hujan pada lobang jalan
yang berkaca-kaca, hingga kau bertanya,
di mana gerangan esok mereka?

Bagaimana aku akan menjawabnya?
Di luar gerbang ini kulihat seorang satpam
berdiri, menanti. “Berhentilah di sini, Tuan yang tak akan hadir
lagi. Berhentilah di McStop ini.”

*no apologies to you

royal faluda

suatu malam sehabis nonton pan’s labyrinth aku duduk bersama pacarku di kursi bar di komala’s

dia memesan baby faluda, aku teh chai

dan kita ngobrol wek wek wek dua jam-an tentang salesman setengah baya, ibu-ibu india yang menjepit bawang bombay mentah dengan ujung jarinya, dan brondong-brondong di oh la la di seberang yang mencoba menyembunyikan cardigan murahan mereka di balik

tawa.

kita tertawa ha ha ha dan dia menggodaku kenapa begitu gampang menangis menonton pan yang berkulit kayu dan berbau tanah, dan aku menggodanya kenapa daya kritisnya hilang begitu nama gael garcía bernal muncul di layar.

‘tapi kan tadi tidak ada gael garcía bernal?’

ha ha ha ha ha. ‘kukira tadi sutradaranya juga benicio del toro!’

selagi mencengkeram perutku yang tegang tertawa

aku ingat waktu aku umur 10 tahun, duduk di atap rumahku di badran, jogja

menonton rumpun, gepeng, asep, githil, lilik, mas kelik, dan trio

membela gawang rt 6 dari serangan ganas nanang, bomber rt 12

buku pspb kelas empat terbitan tiga serangkai di pangkuanku

gambar jenderal oerip soemohardjo dengan epaulet-nya yang tak sempat disetrika

dan tangan yang menuding entah kopral siapa

di halaman 42.

besok ulangan.

waktu itu faluda hanya nama tante yang naik haji baru sekali tapi sudah lima kali umrah

(karena angka ganjil dikasihi allah)

dan chai, aku yakin waktu itu aku belum tahu ada sesuatu di dunia yang bernama seperti itu

ada kasti, ada gobag sodor, ada benthik, ada dhelikan, ada lèk lèk-an,

tapi belum ada chai.

sekarang pacarku menusuk-nusuk baby faludanya yang tinggal sepertiga, mencari vermicelli yang mungkin sembunyi di balik air susu yang putih seperti hatinya,

dan aku memutar-mutar sendok di teh chai-ku, memecah kerak lemak yang menggumpal di permukaannya:

waktu itu, juga belum ada dia.

royal faluda

suatu malam sehabis nonton pan’s labyrinth aku duduk bersama pacarku di kursi bar di komala’s

dia memesan baby faluda, aku teh chai

dan kita ngobrol wek wek wek dua jam-an tentang salesman setengah baya, ibu-ibu india yang menjepit bawang bombay mentah dengan ujung jarinya, dan brondong-brondong di oh la la di seberang yang mencoba menyembunyikan cardigan murahan mereka di balik

tawa.

kita tertawa ha ha ha dan dia menggodaku kenapa begitu gampang menangis menonton pan yang berkulit kayu dan berbau tanah, dan aku menggodanya kenapa daya kritisnya hilang begitu nama gael garcía bernal muncul di layar.

‘tapi kan tadi tidak ada gael garcía bernal?’

ha ha ha ha ha. ‘kukira tadi sutradaranya juga benicio del toro!’

selagi mencengkeram perutku yang tegang tertawa

aku ingat waktu aku umur 10 tahun, duduk di atap rumahku di badran, jogja

menonton rumpun, gepeng, asep, githil, lilik, mas kelik, dan trio

membela gawang rt 6 dari serangan ganas nanang, bomber rt 12

buku pspb kelas empat terbitan tiga serangkai di pangkuanku

gambar jenderal oerip soemohardjo dengan epaulet-nya yang tak sempat disetrika

dan tangan yang menuding entah kopral siapa

di halaman 42.

besok ulangan.

waktu itu faluda hanya nama tante yang naik haji baru sekali tapi sudah lima kali umrah

(karena angka ganjil dikasihi allah)

dan chai, aku yakin waktu itu aku belum tahu ada sesuatu di dunia yang bernama seperti itu

ada kasti, ada gobag sodor, ada benthik, ada dhelikan, ada lèk lèk-an,

tapi belum ada chai.

sekarang pacarku menusuk-nusuk baby faludanya yang tinggal sepertiga, mencari vermicelli yang mungkin sembunyi di balik air susu yang putih seperti hatinya,

dan aku memutar-mutar sendok di teh chai-ku, memecah kerak lemak yang menggumpal di permukaannya:

waktu itu, juga belum ada dia.

so you think your blog entry is self-indulgent

hi hank, i’ve just read all your blog entries. it’s funny how you sound

kinda different to the hank i know in real life. not too different. just a
little bit so. like a paint peel so. then it kinda makes me realise that
maybe i’m also like that, the blog me is kinda a marvel superhero
alternative world away from the real me. like you know how i can’t stop
talking about myself in real life, but in my blog i hardly ever talk about
myself. at least, not in that confessions of j.j. rousseau the ancient
blogger kinda way. i say kinda too much. i hate it. i should be firmer and
be less afraid to make mistakes. i like reading your stories, about your
gadge, i like especially your getting really afraid that the fumes of the
drying floor paint (a lovely russet? the colour of blood!) are swimming in
your bloodstream like new clouds but not doing anything about it. you know,
since i moved to jakarta i have been obsessed with the idea of man trying to
live in a world that seems only too eager to kill. everything in it. you see
so much death but you also see life in the cracks in between all the deaths.
how? and why does life go on? reading your stories also makes me feel like i
was there with you at the narrabundah gym for a reunion and you were telling
me all that’s happened to you since i left syldavia. oh, hi norm! the band night’s
still goin’? hi bev! how are the riding gloves? need new ones? penny
joy! (consider: why did the world let someone like penny joy live? she was
fat and unhealthy, gave out deaths in little packets of second-hand literary
wisdom to all her students, yet she lived on! how? why?!) i miss talking to
my syldavian friends. about my syldavian life, in syldavian english. i
miss talking to you, and just kicking back singing gbv songs at the top of
our voice. maybe i should write more letters like this. i like this. do you
do messengers? i’ve added you on msn but you never seem to be online. do you
use yahoo instead? i miss syldavia the place too, sometimes i just want to
get out of the house and walk the two hundred metres to the beach like i
used to do in bondi and sit on a little patch of cool grass and stare at
that giant boulder that’s stranded near the rock pool like an old zit. and
think about how it got there, people say it was a freak storm threw it out
of the sea, but what if it was giant bumbagana rising out of the dreamtime
sea like a nigga poseidon? but two hundred metres out of my house now is
just a new mall being built. it’s fascinating in its own way what with all
the bamboo scaffolds that are supposed to secure the builders’ lives but
more likely will impale them someday, but you just don’t get the mix of
quietness and awe that you get from looking at nature, virgin nature like
you get in syldavia. but it’s true that i don’t get obessed with syldavia
the way i was obsessed about jakarta when i was living in klow. i could
not really explain why i missed jakarta then. it was something primordial,
primeval. now the way i miss syldavia seems more adult. i miss my friends,
they are the friends i made in my formative years so they will remain
important and perhaps, i will remain friends with them for the rest of my
life however hard i try to get away from them, and i will try to see them
again one day, because i want to and because i miss them, but i don’t think
i can live in syldavia again. i don’t want to. and that’s a shame because
that means i can’t live close to my friends again, and that perhaps, though
i want to remain friends with them, the distance in space and time between
us will become greater and greater that we will be friends in name only.
well that only means that i have to make more effort to remain close to my
friends, perhaps i should write more letters like this, try to talk to them
on skype (have you got it?), text them more often, whatever it takes. but i
have my own life here, little bits of sentences i’m trying to cobble
together into a neat little everlasting story of me (“he writes a tome of
pop-up books, never judge it on first looks!”). and you can’t co-write the
story of your life with your friends. you have to shut the door to your room
and, head down, write the complete prose yourself.

mikael.

p.s. all this is a little sentimental, but that’s how i get when i talk
about the past, memories, the true history of our gang. that’s why i want to
concentrate on the now.