let’s all meet up in the year 2000

jadi pertanyaan mereka pertama, hols, adalah apa ada yang baru dalam sastra indonesia setelah tahun 2000? aku bayangkan bakal ada 121 esei yang akan bilang: sastra saiber. tak usahlah kita permasalahkan kenapa mereka harus pakai kata menjijikkan itu, saiber, yang jelas aku bisa jamin 119 di antara mereka akan ngomong tentang bumimanusia, bungamatahari, dan blog. mungkin mereka akan ngomong sudah begitu banyak penulis baru, semua orang sekarang bisa menulis apa saja yang mereka mau, semua bisa berpuisi!, dan semua ini menghasilkan dunia sastra indonesia yang sudah lebih demokratis sesuai dengan spirit reformasi.

halah, katamu. seperti kataku juga, semua boleh berpuisi mungkin, tapi bisa? hahaha, tapi aku juga tidak mau terlibat dalam polemik ndeso tentang sastra saiber tadi melawan sastra koran misalnya, dengan masing-masing pentolannya yang mengatai yang satu sampah dan yang lain dilettante sastra, aku bahkan tidak mau tahu. aku tidak tertarik dengan aktivis-aktivis bumimanusia yang mengatakan dalam situs mereka yang sudah mati itu sebenarnya banyak karya sastra yang akan hidup terus sepanjang masa (tapi bagaimana kalau hyperlinks mereka sudah tidak ada yang bekerja?), ataupun dengan tongkol-tongkol sastra (ingat, paus itu mati tahun 2000, apa karena itu dewan sandal ban itu menetapkan tahun 2000 sebagai batas penelitian sayembara ini?) yang mengatakan tidak, perlu kurator-kurator seperti kami untuk memisahkan gandum dari gabahnya.

DOUBLE TAKE Jadi hols, dewan sandal ban itu (yang bahkan tak punya situsnya sendiri jadi aku tak bisa buat hyperlink-nya [update 9 desember 1007: sekarang sudah ada]) menyelenggarakan satu lagi sayembara. “Sayembara kritik sastra”. Yang membuatku tertawa kecil adalah pertanyaan pertamanya, “Adakah kebaruan dalam sastra Indonesia setelah tahun 2000?” Bukan “adakah kebaruan”-nya yang membuatku meringis, tapi “tahun 2000”-nya itu. Kenapa tahun 2000? Apa yang terjadi di tahun 2000? Bukankah Saman, misalnya, yang kelihatannya mereka anggap sebagai titik tolak kebangkitan sastra baik wangi maupun bau setelah Orde Baru terbit tahun 1998? Apalagi kejadian besar sastra sejak itu? Apa karena tahun itu tanggal 11 Maret Paus Sastra itu meninggal? Dan sampai sekarang sekedar dugong/uskup pun kita tak punya? Karena itu mereka bikin sayembara ini, untuk menjaring paus yang mungkin selama ini terlalu malas untuk muncul ke permukaan/uskup yang malas pakai jubahnya? Atau karena tahun itu Grasindo menerbitkan 3 jilid Angkatan 2000 Dalam Sastra Indonesia-nya Korrie Layun Rampan? Tapi siapa yang ingat buku itu pernah ada? Atau itu maksud mereka, menyindir bahwa “[k]ritik sastra, terutama yang bagus dan inspiratif, masih menjadi barang langka” karena mereka menganggap Korrie sekedar tongkol/pendeta desa kecil di perbatasan Papua Nugini, kurang meyakinkan, sehingga siapa Angkatan 2000 itu, kalau memang ada, masih perlu diabsen lagi anggota-anggotanya?

Atau mungkin juga mereka menerima mentah-mentah karangan Korrie itu, karena yang mereka minta kan “kebaruan dalam sastra Indonesia setelah tahun 2000″? Jadi mungkin mereka mengharapkan esei-esei berjudul “Angkatan 2007”, atau “Angkatan Cyber” (aku yakin pasti ada satu di antara fonetifasis itu yang memasukkan esei berjudul “Angkatan Saiber”) yang bisa mereka jual ke Grasindo lagi.

Menurutku sih lumayan banyak kebaruan yang terjadi setelah tahun 2000, tapi mungkin bukan sastra, apalagi Sastra Indonesia. Pernah selama 2006 aku memaksa diri membaca lembaran puisi Kompas Minggu; aku berhenti setelah membaca 3654 kata “menjelma” (dan, yang pasti akan (sudah) membuat Calz berang, sans “jadi” setelahnya).

END OF DOUBLE TAKE kalau aku juga akan ngomong tentang internet dan pengaruhnya terhadap sastra indonesia, aku tidak akan membuang waktuku berteori tentang bagaimana hyperlinks bisa membuat narasi berantai yang lebih njelimet daripada proust, atau bagaimana anonimitas bisa membebaskan élan (i hate this word too, thanks to donny gahral) penyair. aku hanya akan menunjukkan tulisan-tulisan yang menurutku bagus (aku tak akan memakai satu lagi kata membingungkan itu, sastra), habis perkara. kebetulan saja mereka ada di internet. dan kebetulan saja mereka muncul setelah tahun 2000. bisa saja mereka muncul di trotoar bau pesing di depan oh la la sarinah, di kulit kambil, di stalagmit dingin di liang bua, toh menurutku obsesi manusia juga hanya itu-itu saja: percintaan, kematian, kesepian, bulan, gay porn.

selain itu mungkin di beberapa tulisan yang memang, terpaksa atau memang senang, ditulis langsung di kotak posting sebuah blog, misalnya, akan ada sesuatu yang berbeda hanya karena pembatasan-pembatasan yang terpaksa dihadapi penulisnya (tapi juga jadi fetish tersendiri buat dia), seperti ukuran kotak posting yang hanya sebesar telapak tangan, kematian huruf kapital karena harus menulis cepat di sela-sela tugas kantor, atau godaan untuk memakai widget web 2.0 terbaru yang biasanya sebenarnya hanya memudahkan cut&paste dan menghiasi tulisan dengan gambar yang dicuri dari flickr atau video dari youtube. (take that ilustrasi cerpen kompas!)

sebenarnya kalau aku mau membalikkan kurator-kurator koran itu bisa saja, aku bisa bilang, aku sudah lama ingin bilang, kenapa lembaran-lembaran sastra koran minggu itu begitu membosankan? lihat coba judul-judul puisi ini: gandrung campuhan, malai padi, cerita wayan, hantu paus, jalan sunyi. semuanya pastoral gampangan! kenapa tidak pernah ada kecanduan breakbeat, topping donat, posting edo, hantu henry foundation, tol terang benderang? belum tentu lebih bagus (dan belum tentu yang asli tadi sudah bagus), tapi kenapa tidak pernah ada? apa karena semua penyair yang menulis di koran memang berjiwa tua. atau memang tua? atau, yang lebih mengkhawatirkan, bukan bahwa kurator-kurator koran hanya suka sajak-sajak seperti itu, tapi bahwa mungkin penyair yang ingin dimuat di koran, atau mungkin lebih gawatnya, orang yang merasa dirinya penyair, dan lebih gawat lagi, yang masih hanya ingin menjadi penyair, yang merasakan siksaan harus mengetik di keyboard warnet yang berminyak sesuatu yang menggelitik di hatinya, merasa harus mengungkapkan perasaannya (tak usahlah dulu ngomong ‘yang terdalam’) dalam sajak-sajak dengan gaya seperti itu, karena mungkin mereka berpikir sajak itu ya harus seperti itu.

tapi sudahlah, bukankah tadi aku sudah berjanji tidak akan ngomong tentang siapa orang jahat dalam jagat persilatan (usang sekali perumpamaan ini, tapi sering sekali dipakai bukan oleh saut situmorang? tentu dia memakai istilah hokkiennya biar lebih lucu sekaligus otentik dan menunjukkan kepenelitian yang takzim, dunia kang ouw kalau tak salah) sastra indonesia? dan tentang kebosananku akan apa yang dianggap ‘sastra’ oleh ‘sastrawan’ indonesia selama ini? mungkin aku harus lebih realistis dan hanya berjanji tidak akan ngomong terlalu banyak.

 

*bagian pertama dari esai berseri. bersambung ke sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s