art has always been a matter for the real few

and by that i mean the stinking rich. sekilas saja, selain blog yang bisa dibuat siapa saja yang ahli IT kantornya tidak terlalu reseh, mungkin satu-satunya hal yang mungkin baru, paling tidak jadi lebih banyak bisa dilihat di rak-rak aksara dan qb (rip), seperti pernah aku singgung di posting sebelumnya, adalah buku-buku indonesia, entah pengarangnya atau isinya, tapi berbahasa inggris. richard oh, tiga novel sejak tahun 1999, laksmi pamuntjak, dua kumpulan sajak dan satu kumcer, dua dosen ui dan seorang petualang sastra dari budapest yang juga sudah menerjemahkan sajak-sajak eka budianta (antologi puisi bilingual—satu lagi tren kecil) (gerda hutapea-silitonga, manneke budiman, sukasah syahdan aka tjipoetat quill), dan dua orang gadis muda, amira waworuntu dan marrysa tunjung sari. [update 9 desember 2007: ada juga kumpulan puisi olivia kristina sinaga, raiu, yang berisi 25 puisi berbahasa indonesia dan 25 bahasa inggris, yang telat saya baca—geez what kind of a critic am i! she is a genius.]

hampir semua buku itu lebih daripada kurang adalah produk vanity publishing. richard oh menerbitkan buku pertamanya sendiri di balik label gamelan press yang kemudian bermetamorfosis menjadi metafor publishing, yang antara lain sempat giat menerjemahan buku-buku sastra indonesia ke bahasa inggris (eg, djenar maesa ayu’s they say i’m a monkey), ellipsis, kumpulan puisi pertama laksmi pamuntjak, diterbitkan penerbitannya sendiri, pena klasik, yang belum pernah menerbitkan buku lain selain jakarta good food guide-nya sendiri dan edisi pertama cala ibi nukila amal. dan jangan lupa, laksmi adalah salah satu ahli waris dinosaurus penerbitan indonesia itu, pt djambatan. a jar of pickles manneke budiman cs. diterbitkan oleh ‘absis+ordinat’—aku belum pernah melihat buku lain terbitan penerbit ini. [update 14 desember 2007: menurut keterangan manneke budiman di sini, Absis+Ordinat ternyata ‘bukan penerbit, tapi percetakan. Cuma dia yang minat.’ (another can of worms!)] sedangkan amira waworuntu menceritakan di french flaps dan editor’s note bukunya (tak diberitahu siapa) bahwa dia cucu fuad hassan dan sempat tinggal di boston sementara ayahnya belajar di harvard kemudian pindah ke perth. seperti juga buku manneke cs. buku amira juga dihadiahi foreword dari penulis kata pengantar ter-rajin di indonesia setelah sapardi djoko damono itu: melani budianta. sementara marrysa tunjung sari yang bukunya fruits: flavors of life diterbitkan terrant, salah satu penerbit chicklit handal, memuat foreword dari tinuk yampolsky, ‘pekerja seni’ yang juga istri ethnomusicologist/bekas wakil ford foundation di indonesia, philip yampolsky.

being rich and well-connected is not exactly a crime, i guess, dan semangat diy, apakah itu dari seorang saudagar atau band grindcore blok m bawah tanah, mungkin memang patut dikagumi, tapi apa aku sudah pernah cerita tentang sebuah perdebatan di lobi apartemen plaza senayan seusai khatulistiwa literary award 2006, antara segerombolan anak bunga matahari v. richard oh dan nirwan 2 (ahmad arsuka)? richard mengeluh bahwa problem terbesar tulisan-tulisan di blog dan milis seperti bunga matahari adalah semuanya terlalu open-source, tidak ada seorang pun yang mau menyusahkan diri jadi kurator/editor untuk, katanya, ‘separate the wheat from the chaff!’ waktu itu aku hanya ketawa, dan bilang, dan buku-bukumu sendiri, richard, kau yakin they’re wheat? hahaha.

maksudku, banyak orang yang mengeluh seperti richard, bahwa di blog/milis tidak ada proses pemilih/pemilah-an, tapi, apakah orang-orang itu pernah mempertanyakan/memeriksa hal yang sama pada buku-buku yang berserakan di gramedia?

apakah mereka pernah benar-benar meriset sistem penerimaan/pemilihan naskah dan pengeditan bagaimana yang dilakukan gagas media, grasindo, terrant, etc, yang buku-buku chick/teen/pre-teen lit-nya sering dituduh tak bermutu? atau sebaliknya, pernahkah mereka memeriksa apakah buku-buku karangan penulis bernama besar, eg, remy sylado, nano riantiarno, goenawan mohamad yang diterbitkan kpg/gramedia/kalam sudah melalui proses seleksi/editing yang sewajarnya juga? ataukah nama besar mereka sudah cukup untuk membuat editor manapun membuang pensilnya?

yang jelas, kalau soal quality control, dunia buku sebenarnya tidak beda-beda amat dengan dunia blog dan milis.

kalau kau kaya, kau terbitkan kumpulan puisimu sendiri, kalau kau tidak kaya, tapi juga tidak miskin-miskin amat, kau nongkrong di warnet seharian mengutak-atik blogger, wordpress, multiply, mungkin. mungkin juga kau melakukan dua-duanya. atau tidak dua-duanya dan terlalu sibuk mendownload midlake dari limewire. tapi sudahlah, ini sudah terlalu banyak berteori lagi, yang jelas, kalau soal menulis, web 2.0 mungkin telah membuat mengumumkan tulisanmu ke orang banyak jadi proses yang lebih murah, tapi di negara kita yang makanan pokoknya indomie rasa ayam bawang ini (harga per bungkus rp 900 di warung dekat rumah), masih tetap kurang murah dan sama sekali belum menjangkau blanket coverage (mungkin baru sesaputangan) untuk bisa dibilang telah membuat proses itu jadi lebih demokratis.

terus terang aku sendiri tidak begitu tahu perbedaan macam apa yang akan terjadi kalau aku menulis sebuah puisi di lembar kuning gading moleskine-ku (ukuran saku), atau di kotak new post blogger, atau dengan rich-text beta editor di yahoogroups bunga matahari, kadang-kadang aku cuma merasa ingin cepat selesai kalau aku menulis di blog/milis karena setelah lima-enam baris aku sudah tidak bisa melihat lagi baris-baris yang pertama tadi seperti apa. harus scroll up dulu. tapi itu kalau aku menulisnya langsung di situ—yang sering juga aku lakukan untuk memaksa diriku menyelesaikan sesuatu. tapi mungkin juga kan kau menulis posting blog-mu di selembar kertas dulu, baru kemudian menyalinnya di microsoft word dan baru setelah itu meng-copypaste-nya ke blogger? dan siapa tahu kau tidak se-ADD aku sehingga kau tak perlu melihat lagi baris-baris yang telah kau tulis karena kau masih ingat semuanya di luar kepala.

tapi menurutku memang ada bedanya membaca tulisan-tulisan itu, entah ‘sastra’ atau bukan, di blog atau milis. waktu richard mengeluh tentang wheat-nya yang terselip di antara begitu banyak chaff di bunga matahari, dia sebenarnya benar-benar telah salah mengerti fungsi dari milis itu sendiri. kalau memakai analogi anak-anak geek, dia seperti apple fanboy yang minta dimanja dengan aplikasi-aplikasi terbaik dan tergampang yang sudah dipilihkan steve jobs sementara milis adalah sebuah software open source berbasis linux. bunga matahari memang ada di situ untuk menampung semua orang yang merasa bisa berpuisi, richard! fungsi moderator di situ bukan untuk memilah-milih antara yang benar-benar bisa dan yang hanya merasa bisa! bahkan aku cukup salut mereka juga memutuskan untuk tidak begitu ikut campur waktu ada beberapa anggota protes tentang sebuah posting yang menurut mereka menyinggung sara (goodbye orba!). terus siapa yang akan melakukan itu, separate the wheat from the chaff? guess what, richard: you!

ya, hahaha, kalau kau memang tak takut dengan nirwan dewanto, kau harus berani jadi seperti dia! hahahahaha. pilihlah sendiri apa yang kau suka, apa yang kau anggap wheat mana yang chaff, mana yang akan kau simpan di notes scribefire-mu mana yang akan kau delete secepatnya dan selamanya.

menurutku inilah revolusi web 2.0 yang sebenarnya, hols. semua orang sekarang bisa menjadi harold bloom dengan canon-nya sendiri-sendiri. ia bisa blogwalking mengikuti links di tiap-tiap blog, atau lewat tags, atau tetap, pergi ke technorati dan minta rekomendasi kalau dia malas.

tapi untuk sebuah milis sebesar bunga matahari, pengalaman membaca di situ bisa jadi kurang asyik karena beberapa hal. baiklah aku kutip saja sebuah posting yang pernah aku kirim ke sana beberapa waktu yang lalu tentang ini:

waktu itu, dua tahun lalu, setiap posting di buma akan bertahan di
halaman pesan baru seharian. digeser sedikit demi sedikit oleh
postingan-postingan lain yang mengomentarinya.

kadang-kadang komentar itu berupa puisi juga, kadang meniru rima puisi
yang dikomentari, strukturnya, judulnya, isinya, diksinya. mirip
penyair-penyair cina jaman baheula. dan kali ini tak perlu membebani
kuda mengantar surat-suratan mereka.

kadang juga isinya hanya bagus! seru nih! gokil!

kemudian ada peluncuran antologi itu.

aksafuckinra.

pertama kali wartawan-wartawan budaya garing bergelang akar bahar
berjaket potongan-potongan kulit sisa berbau aspal melihat
penyair-penyair bergaun tety kadi bersepatu balet berparfum l’occitane.

muncul berbagai sisipan khusus tentang buma, tentang tukang-tukang
kebunnya yang cantik dan wangi.

dan kulihat pengumuman itu setiap hari – 123 new members – 75 new
members – too many new members.

sekarang sebuah posting beruntung kalau bisa bertahan di lembar pesan
baru lebih dari lima menit.

begitu banyak puisi, apakah ada yang sempat membaca?

di antologi itu ada sesuatu yang `buma’.

diksi yang tidak dicut&paste dari gema tanah air 1&2, ketidakseriusan,
keseriusan untuk tidak serius, sebuah haiku tentang slam dance.

kebumaan yang sedang hilang pada waktu yang sama di
bungamatahari@yahoogroups.com

ditelan nama-nama baru dan nama-nama yang loncat dari milis sebelah.

dedy_tri_r, pakcik_ahmad, bung kelinci, abang edwin sa,
shakesphere[sic]_brokenheart.

nama-nama yang sering memanggil satu sama lain dengan kata sapa ‘kang’.

untuk apa seseorang bergabung dengan komunitas baru padahal dia sudah
punya komunitasnya sendiri, padahal dia sendiri tidak punya sesuatu
yang baru?

kemudian memposting hal yang sama dalam waktu yang sama ke kedua milis
itu?

atau banyak lagi milis yang lain.

untuk apa seseorang menjadi anggota dari lebih dari satu komunitas puisi?

kalau memang benar dedy_tri_r ingin puisinya dikenal karena puisi itu
bergaya khas komunitasnya dan bukan gayanya sendiri (ridiculous for a
poet), apakah itu berarti dia ingin, bermimpi, puisinya suatu saat
akan dikenal sebagai puisi buma dan puisi apsas dan bukan puisinya
sendiri?

betapa rendah hati.

ya, gara-gara antologi berbentuk buku itu, unsur keinteraktifan di buma sempat hampir hilang (sekarang sudah mulai lagi, setelah antusiasme bandwagon-jumping itu seperti biasa diikuti oleh mass malaise).

soal keinteraktifan ini—fitur andalan web 2.0 seharusnya!—akan kubahas lagi nanti, menurutku ini masih belum dimanfaatkan secara maksimal oleh penyair/cerpenis/blogger, whatever, di indonesia, malah jauh lebih berkembang di situs-situs revolusioner (paling tidak, technologeekcally) seperti ini.

sekarang aku akan kembali dulu ke masalah membaca itu lagi. menurutku ini memang masalah yang mahapenting. kalau art memang a matter for the real few, those few biasanya adalah those who can read not just bahasa indonesia tapi juga inggris, perancis (eg, sutardji, toeti heraty, rita oetoro), belanda (toeti heraty, rita oetoro), dan those who can afford to buy books in kinokuniya/aksara/qb/amazon. (secara teori, kau bisa juga baca à la recherche du temps perdu dari sini, tapi itu secara teori, aku belum pernah ketemu dengan orang yang benar-benar sudah pernah melakukannya.)

aku sudah pernah menyinggung sedikit tentang apa menurutku pengaruh bacaan yang kebanyakan berbahasa inggris ini pada penulis yang berbahasa ibu indonesia, now let’s hear it from the horse’s mouth: ‘in entering this gobalisation era, Indonesia’s youth has been actively studying the English language as an international of communication … unlike other people, Amira chooses English to express her talent in literature.’ (Amira, Self-Portrait and other poetic reflections, Penerbit Kata Hasta, Jakarta, 2006, hlm. ix—di editor’s note oleh seorang editor tanpa nama) dan ini: ‘In a poem called “globalillusion” Sukasah Syahdan imagines the world as “a stage shrinking & life remains a same rendition/without rehearsal whose script is written by no-one except/dimmest reveries which scatter in everyone’s mind.”‘ (Melani Budianta dalam Hutapea-Silitonga, G., Budiman, M., & Syahdan, S., A Jar of Pickles, Absis+Ordinat, Jakarta, 2006, hlm. 4.)

mungkin agak defensif memulai kumpulan puisi dengan menjustifikasi pilihan bahasanya! tapi ini sedikit membuktikan bahwa paling tidak menulis dalam bahasa inggris bagi penulis indonesia sudah menjadi satu pilihan (bagi amira, paling tidak menurut editornya), atau bagi sukasah syahdan, mungkin jadi satu-satunya pilihan: kalau dunia sudah seperti panggung yang semakin menciut dan hidup sendiri seperti drama yang diulang-ulang, mungkin lama-lama tidak akan ada lagi ruang untuk bahasa lain selain bahasa yang (thanks web 2.0!) makin lama makin terasa seperti gerakan supremacist itu: bahasa inggris.

apakah ini baru, atau hanya keberlanjutan dari proses yang sudah lama dimulai? let me get back to you on that one.

 

*bagian keempat dari esai berseri. bagian pertama di sini. bagian selanjutnya di sini

Advertisements

One thought on “art has always been a matter for the real few

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s