Sastra Indonesia tidak perlu makelar-makelar kulit putih

oleh Theodora Sarah Abigail diterjemahkan oleh Mikael Johani Penulis Indonesia sudah lama diwakili makelar-makelar kulit putih di panggung internasional. Masalahnya, apakah sebenarnya kita perlu mereka? Banyak orang asing menyimpan gambaran di dalam kepala tentang Indonesia yang primitif, penuh kampung kumuh, sungai-sungai kotor dan gunungan sampah. Jikapun mereka punya bayangan baik tentang Indonesia, paling terbatas gubukContinue reading “Sastra Indonesia tidak perlu makelar-makelar kulit putih”

Kebaya or bolero: which one is more English? 

Kebaya or bolero: which one is more English? investigates – after Said – the “configurations of power” between an Indonesian editor and his (American) English translator, and the effects their struggle for power had on the voice of the original author. Keywords: bowdlerization, commercialism, editing, Indonesian, mistranslation, orientalism. Cet article, intitulé « Kebaya ou Bolero:Continue reading “Kebaya or bolero: which one is more English? “

Stop asking is this puisi, no one’s interested in your answer

Ditulis untuk Kongkow Jawara Puisi di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Dewan Kesenian Jakarta 14 Desember 2016 Sebuah sayembara puisi hanyalah een rimpeltje in de oceaan, a ripple in the ocean, sebuah riak di tengah samudra usaha kanonisasi Puisi Indonesia, proses yang tak bosan-bosannya berlangsung sejak skena Pujangga Lama sampai sekarang skena Pujangga Hallmark. TermasukContinue reading “Stop asking is this puisi, no one’s interested in your answer”

TEMPO DOELOE

A collection of tempo doeloe-era short stories edited by Pramoedya Ananta Toer. In Melayu Pasar not Indonesian, presented in original Van Ophuijsen spelling.  It reads like a cerita silat anthology with local characters. Full of penyamoen, boedak, fat sopi-drinkin Kandjeng Toean, baba-baba Tjina, cowardly politie, et al. Settings are surprisingly more Batavia coret than downtown:Continue reading “TEMPO DOELOE”

BURUNG-BURUNG MANYAR

oleh Y.B. Mangunwijaya Bildungsroman prajurit KNIL cemen yang cinta mati dengan teman masa kecilnya di Kraton Mangkunegaran yang sekarang bekerja sebagai asisten Syahrir di pihak Rikiblik. Apa daya Konferensi Meja Bundar membuat kisah cinta mereka jadi pear-shaped. Di waktu tua, saat Montague sudah menjelma dari Belanda menjadi Freeport dan Capulet menjadi keluarga sakinah beranak tiga,Continue reading “BURUNG-BURUNG MANYAR”

KUMPULAN BUDAK SETAN

oleh Intan Paramaditha, Eka Kurniawan, Ugoran Prasad Intan’s three stories that were not already published in Koran Tempo are, suprisingly, the best. Surprising since her previous short story collection Sihir Perempuan was a bit stiff, sounding more like a tome of recyled gothic THEORIES than deconstructed-then-rebuilt gothic stories some critics claimed it to be. InContinue reading “KUMPULAN BUDAK SETAN”

BANGKIT DARI LAPAK: Abdullah Harahap Dalam Kanon Sastra Indonesia

Artikel tentang Abdullah Harahap biasanya akan dimulai dengan membicarakan statusnya sebagai pengarang cerita-cerita horor murahan—dime novels-lah, stensilan-lah, picisan-lah, sastra kaki lima-lah—yang buku-bukunya dibungkus sampul bergaya ersatz Basoeki Abdullah yang murahan juga dan sampai sekarang di tukang loak pun masih dihargai murah pula. Seperti karakter-karakter malang dalam cerita-ceritanya sendiri yang biasanya tidak bisa membebaskan diri dariContinue reading “BANGKIT DARI LAPAK: Abdullah Harahap Dalam Kanon Sastra Indonesia”

bahasa atap yang runtuh*

*i’ve found that if you change the order of the nouns or group of nouns in an afrizal malna poem, not only will you end up with a still totally comprehensible poem, you’ll have in your hand a still totally comprehensible afrizal poem! compare the scramble immediately below with the original after it:   sapi-sapiContinue reading “bahasa atap yang runtuh*”

Jakarta ou les malheurs des masochistes*

Masokisme, sepertti bullying, sudah menjadi kata yang gampang diumbar. Masokis lo! Bully lo! Thanks Twitter! Arti kata itu sendiri menjadi pudar semakin sering diumbar. Lo makan keripik peudeus Maicih level 2? Masokis lo! Lo pesen jigoku ramen Sanpachi level 10? Masokis lo!   Pada tahun 2002 yang lalu, penerbit oldskool konservatif Pustaka Jaya menerbitkan buku OdeContinue reading “Jakarta ou les malheurs des masochistes*”