puisi tidak seperti jazz

jadi, kalau ada sesuatu yang tidak baru setelah tahun 2000, itu adalah kritik dan kritikus itu sendiri. waktu aku beli buku kumpulan puisi kompas hijau kelon & puisi 2002 (baru tahun ini, 2007, di toko buku jose rizal di tim) dan membaca esei-esei calz di situ aku sempat terkejut, hey, dia tidak menyebutkan heidegger/habermas/kundera di paragraf pertamanya, atau selanjutnya. kenapa sekarang…

bentuk esei-esei itu pun menarik, ada yang berbentuk puisi ngomel-ngomel pernuh pukimak!, ada cerpen, ada diary yang menyindir sdd terang-terangan, ‘”wah, pengarang asing. Ini terjemahan dari bahasa Jawa, ya?”‘ hahaha. lucu. sebenarnya kritiknya banyak yang serius, seperti kutipan di atas tadi, keberlanjutan dari tradisi mendebat bahasa indonesia itu sebenarnya apa/milik siapa/harus bagaimana, tapi nadanya ringan, main-main, isinya serius tapi penulisnya tidak menganggap dirinya sendiri terlalu serius.

jadi mungkin juga ada sesuatu yang baru dalam kritik sastra setelah tahun 2000. hilangnya nada main-main itu, hilangnya humor, seakan-akan ruang kritik itu sebuah masjid besar dan si kiritikus tidak boleh ketawa-ketiwi di dalamnya. lihat saja misalnya buku ‘telaah sastra terpilih’ epifenomenon arif bagus prasetyo (terbitan 2005). di muka buku itu dia menyertakan dictionary definition ‘epiphenomenon’, yang pertama ‘a secondary or additional symptom or complication arising during the course of a malady.’ hehehe, pas juga, karena setelah membaca kalimat pertama esei pertamanya, ‘sekedar singgah minum’ tentang misalkan kita di sarajevo gm, dan itu setelah harus membaca epigram dari eduardo galeano tentang muka yang angin dan angin yang muka (who? you ask. exactly.), dan kalimat itu ternyata ‘APAKAH puisi seperti jazz?’ aku juga mulai terserang satu additional symptom, bahkan full-blown malady, kebosanan. dan setelah berjuang melalui ‘teror dari neraka’, ‘dalam pukau modernitas’, sampai ‘analogi dan dunia yang melindap’, aku pun sadar malady apa yang selama ini menyiksaku: kemuakan.

memang arif bagus prasetyo bukan seorang pelawak, dan tidak bisa dipaksa untuk melawak, kalau dia mengganti kalimat yang aku kutip tadi menjadi ‘apakah puisi seperti grindcore?’ mungkin aku akan tertawa terbahak-bahak tapi aku yakin itu tidak akan terjadi, dan laksmi pamuntjak (perang, langit dan [sic—kurang koma setelah ‘langit’] perempuan) atau binhad nurrohmat (sastra perkelaminan), misalnya, juga bukan pelawak, walaupun kenaif/luguan binhad tentang seks sering membuatku cekikikan, tapi masalahnya bukan (hanya) karena mereka tidak pernah lucu, kalau kau sering membaca kritik sastra indonesia, kau akan muak bukan hanya karena kau tidak pernah dibuat tertawa tapi juga karena semua esei itu seperti dibuat di laboratorium yang sama, nadanya sama (kontemplatif/murung/mengeluh), referensinya sama (selain tiga nama di atas tadi, juga nietzsche, weber, borges, dan nilai tambah kalau kau menyebutkan nama pengarang amerika latin yang bukan borges, lorca, atau marquez—eduardo galeano! ha!), dan kesimpulannya biasanya pun sama, keputusasaan yang tak mungkin disembuhkan tentang bobroknya sastra indonesia (eg, f rahardi, ‘tidak ada puisi yang baik di indonesia dalam sepuluh tahun terakhir’ di kompas—walaupun menurutku yang ini ditulis dengan cukup baik, dia memang penyair yang baik), yang kalau di tangan nirwan dewanto menjelma jadi harapan-harapan yang belum pernah terwujud tentang utopia-utopia masa depan di mana, eg, ‘Mungkin suatu hari seorang komparatis cum pengaji budaya akan menahbiskan karyanya sebagai sastra dunia pascamodern, sumbangan yang begitu berharga dari wilayah tropika.’ (‘sastra dunia yang lain: terduniakan atau teretnografikan?’, di seminar ‘redefining the concept of world literature(s)’ di ui, juli 2006—yang, by the way, tidak meredefinisikan apa-apa, kecuali pernah ada seorang akademik dari filipina yang mengusulkan daripada berdebat arti ‘world’ itu sebenarnya apa, kenapa tidak kita ganti saja jadi ‘planetarial’, dan aku cukup setuju karena waktu itu, di hari kedua, aku merasa benar-benar sedang ada di planet lain. apakah aku berada di uranus atau mereka mengundang orang uranus? no, they were just yale academics.) dan semuanya ditulis dengan gaya yang mungkin bisa kulabeli ‘kritik sastrawi’, penuh cum, qua, dan preposisi latin lainnya yang bisa dipelajari di workshop jurnalisme sastrawi andreas harsono asal kamu punya 3 juta.

bayangkan, esei berjudul provokatif richard oh, ‘siapa takut, nirwan dewanto?’ di kompas itu, apalah sebenarnya selain keluhan terhadap cara menulis kritikus-kritikus seperti nirwan? purple prose, richard? itu warna lebam di mataku setelah membaca mereka.

soal isi, jadi begitu menyegarkan membaca kumpulan esei katrin bandel, sastra, perempuan, seks (terbitan 2006). bahwa di situ dia mencabik-cabik mitos kefeminisan ayu utami (‘vagina yang haus sperma; heteronormatifitas dan falosentrisme ayu utami’), kepengarangan djenar maesa ayu (‘nayla: potret sang pengarang perempuan sebagai selebriti’), dan sedikit kredibilitas maman s. mahayana sebagai kritikus yang masih tersisa, sudah cukup untuk membuatku tertawa-tawa senang. tidak ada juga humor di esei-esei ini, tapi karena isinya beda, paling tidak dibandingkan dengan 1523 tulisan eseis lain tentang subyek yang sama, dan kebetulan juga ditulis dengan jernih tanpa referensi terlalu banyak kecuali kepada buku yang sedang dibahas (lihat esei ‘nayla’ itu sebagai contoh pembacaan dekat yang tidak akan merusak mata).

mungkin humor dan lawak adalah forte saut sitomorang, suami katrin. aku senang mengamati sepak-terjang mereka berdua sebagai good cop-bad cop sastra indonesia. katrin serius, saut melawak. katrin dingin, saut meradang. katrin di koran, saut di milis. katrin mengepung, saut blitzkrieg. katrin mainstream, saut underground. menurutku mereka melakukan semua ini dengan sengaja, penuh strategi, sebuah gerilya yang tersusun rapi lengkap dengan buku panduan yang diterbitkan dalam bentuk stensilan (elektronik!). seperti kata saut sendiri, menyindir youknowwho, ‘siapa bilang revolusi sudah tak ada lagi!’

tapi selain saut, kelihatannnya kritik sastra di web 2.0 memang tidak banyak. banyak omelan (termasuk saut sendiri) tapi esei yang, seperti esei katrin misalnya, mampu melupakan diri penulisnya sendiri lebih dari lima menit, tidak banyak.

mungkin ini ada hubungannya dengan pengamatanku kemarin dulu bagaimana blogger indonesia lebih suka menulis fiksi—who needs second life when you’ve got multiply?—daripada berita, apalagi esei. mungkin kau bisa dengan gampang mencari sastra di blog, tapi kritik sastra? siapa bilang revolusi tak perlu lagi?

*bagian dari esai berseri. bagian pertama di sini. bagian selanjutnya di sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s