who the hell cares if the author’s dead or alive

padahal blog menyediakan begitu banyak tools yang bahkan tidak memerlukan kita paham bahasa html yang bisa kita gunakan untuk men-subversi (meng-hack?) tatanan sastra indonesia. seperti fasilitas comment di setiap posting dan kebebasan menggunakan bahasa apapun (kalau mau, bahasa html juga bisa), bukan hanya inggris dan indonesia, di situ.

pertama, fasilitas comment. sebuah posting yang populer seperti ini misalnya, bisa punya (sampai sekarang, 11/9/2007) 80 comments/replies. posting yang awalnya berupa review tentang kala (mencela) berubah menjadi diskusi massal tentang identitas, identitas, identitas, dan foto bugil faharani. buatku posting yang seperti ini berhenti menjadi milik penulisnya saja, dan posting awalnya tadi hanya menjadi semacam kata pengantar (kalau aku arif bagus prasetyo aku akan bilang ‘prolegomena’) untuk sebuah esei penuh digresi tentang apapun itu yang ditulis oleh sebuah jungian collective consciousness (mungkin aku memang arif bagus prasetyo). the author is dead, long live co-authors!

seperti pernah aku singgung, mungkin (sekarang aku berandai-andai seperti nirwan 1) sebenarnya keinteraktivitasan blog yang seperti ini bisa dimanipulasi menjadi sebuah cara penulisan kolektif yang praktis. seperti yang sudah dilakukan orang ini misalnya. atau hyperlinks yang menjamur di posting mereka bisa saja sebenarnya mereka karyakan menjadi penyambung novel hyperlink mereka. hasilnya mungkin sama saja dengan cerita-cerita seri ‘pilih sendiri petualanganmu’ yang sering kubaca waktu sd dan entah kenapa selalu dari jerman, tapi mana pernah cerita-cerita yang ini berlanjut ke halaman berisi HTTP 404 Not Found? :p aku sendiri pernah mencobanya di sini, memakai salah satu tokoh ciptaan temanku di ceritaku, tapi ya baru sekali itu saja. mungkin walaupun sebagai bangsa, kata orang jawa, kita makan tidak makan suka kumpul, dan kata para indonesianis kita sebuah close-knit collective society, sebagai artis, artiste apalagi, kita adalah makhluk-makhluk individualistis!

kemudian soal demokrasi/bahasa atau demokrasi bahasa tadi. soal keinteraktivitasan di atas juga ada hubungannya kelihatannya dengan demokrasi ini, if the author is dead, the mob rules, right? soal bahasa, lihat ini. kebetulan aku orang jawa jadi hanya bisa bahasa jawa, tapi aku yakin pasti ada beribu-ribu blog yang berbahasa batak, sunda, manggarai, dani, etc. sekarang melihat blog yang itu tadi saja, aku yakin para editor panjebar semangat, jayabaya, dan damar jati tidak perlu panik menyerukan matinya bahasa jawa setiap kali mereka berkumpul di kongres bahasa jawa. masih rame ing gawe kok, hanya makin sepi ing pamrih aja. coba klik ini, scroll down ke posting tanggal 1/11/06 dan 5/11/06. diskusi di antara dua orang yang tak pernah bertemu muka tentang bahasa jawa, menerjemahkannya ke bahasa indonesia, inggris, perbandingannya dengan bahasa indonesia, inggris, dan william carlos williams, dalam bahasa jawa! lucu ya. if i may say so myself. and i have been saying so myelf, so i will. i did! again!

lost and found in translation

saat yang pas untuk segue ke masalah terjemahan. ya, setelah tahun 2000 bermunculan banyak buku terjemahan baik dari inggris ke indonesia (soal contoh salah satu masalahnya baca saja ini), dan mungkin ini yang agak-agak baru, dari indonesia ke inggris. puisi pula. dan bukan terbitan lontar. goenawan mohamad, sitok srengenge (‘on nothing’? how appropriate), eka budianta. masih nama-nama besar. tapi ada juga ini. hehehe. kau pikir aku akan membiarkan satu pun hal lepas dari gurita hyperlinks-ku?

kualitas terjemahan buku-buku itu biasanya masih pas-pasan, kritik terbaik tentang itu ada di review richard oh di majalah jakarta java kini tentang ‘on nothing’-nya sitok srengenge. (aku belum bisa menemukan arsipnya, ada di kolom review buku tetapnya.) kalau tidak salah dia bilang nukila amal terlalu banyak menggunakan gerund, -ing, sehingga membuat baris-baris sitok menjadi kata benda yang pasif daripada kalimat aktif yang menarasikan sesuatu seandainya nukila memakai kata kerja aktif biasa saja. aku sendiri akan berargumen puisi sitok memang tidak pernah menceritakan apa-apa (on nothing! how appropriate!), kecuali mungkin keinginannya menyanggamai dia dan dia dan dia, tapi sutralah, nek.

yang semakin berkurang justru terjemahan puisi dari bahasa asing (selama ini sih biasanya inggris) ke bahasa indonesia. sejak seri ‘puisi dunia’ m. taslim ali kelihatannya belum ada penyair indonesia, selain sdd (buku terjemahan terakhirnya ‘love poems’ yang dikemas buat pembaca remaja lengkap dengan sampul warna es krim, bagus sekali isinya sebenarnya, tapi selain sampul try-hard itu tera ternyata juga memilih font tulisan tangan (ide sok muda mereka ’80-an banget, dan tanpa maksud revival!) yang bikin semuanya jadi lebih susah dibaca daripada tulisan tangan mamakku—dia dokter) yang secara reguler menerjemahkan puisi asing. terakhir mungkin terjemahan octavio paz arif bagus prasetyo, dan kolaborasi nukila amal dengan salah satu teman peserta iowa workshop-nya di koran tempo, tapi ya itu tadi, sporadis, tidak ajek.

aku sendiri sudah berusaha tentu, di sini. dan di situ aku berusaha menerjemahkan penyair yang agak kontemporer, anne carson, jaya savige, pemenang kontes seryu dai-ichi. tapi masih terlalu awal untuk bisa dibilang aku akan sporadis juga atau penuh dedikasi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s