so that’s it, eh?
you’ve groomed your look
for two centuries
so you
go
the spitting image
always
of condorcet.
Eine kleine Mekifantasie
so that’s it, eh?
you’ve groomed your look
for two centuries
so you
go
the spitting image
always
of condorcet.
we drank red flowers
we later scattered
over the dead.
Kelihatannya penyair-penyair ini tidak menyembunyikan apa-apa
Dan Lu Yu-lah yang pantas dapat kue tar untuk
“Di atas Perahu di Suatu Malam di Musim Panas
Aku Mendengar Jeritan Burung Air.
Kedengarannya Sedih Sekali dan Kelihatannya Seperti Ingin Memberi Tahu
Istriku Kejam-Aku Sangat Tersentuh, Karena Itu Kutulis Sajak Ini.”
“Aku Keluar Rumah di Suatu Pagi Musim Semi
Diiringi Suara Burung dan Air Terjun,”
rasanya seperti horden kulit kerang yang membelai bahuku.
Merleau-Ponty Rorty Hegel Heidegger Benjamin Paz Bespaloff Weil Kadare Pamuk Condorcet Le Brun Corot Seurat Sitor Chairil Balzac Sebald Havel Rumi Eagleton Brecht Chekhov Mayakovsky Yevtushenko Che Borges Vargas-Llosa Popper Wittgenstein Plotinus Pythagoras Monet Manet Renoir Cocteau Cousteau Plato Cavavy Homer Euripides Aeschylus Balzac Gide Bordieu Antonioni Bergman Eisenstein Wenders Picasso Gericault Kant Wagner Dilthey Singer Gao Xinjiang Russell Whitehead Keynes Ha Jin Chen Tien-Wen Brook Paglia Kristeva Fellini Schopenhauer Nietszche Dario Fuentes Gelman Cortazar Neruda Achebe Mahfouz Walcott Coetzee Gordimer Adorno Arendt Feuerbach Gadamer Habermas How Could I Forget Husserl Kierkegaard Hamsun Lukascs Schiller Rammstein Kiarostami Erice Bakhtin Ibnu Arabi Eco Levi Satrapi Nagel Nussbaum Strauss Bazin Mallarme Rimbaud Apollinaire Queneau Grass Naipaul Andangjaja Valery Sastrowardojo Dante Botticelli Genet Beckett Ibsen Ionesco Jelinek Racine Soyinka Zweig
di kota asing ini
hujan sore-sore adalah
lautan parapluie
sungai tak berarus
air hijau
dan sepasang turis amerika
bermantel eurodisney
di atap bateau-mouche
yang melaju lurus.
no more comment.
no more comment.
SEKALI LAGI seandainya dewan juri bisa membaca entri-entri blogmu yang lain, hols, mereka akan menemukan surat berseri-mu, travelogue-mu, potongan chat-mu, mini play-mu, reportase-mu, penggalan teka-teki silang-mu, etc, etc. jadi, apa bedanya blog-mu dengan kotak yang menyimpan oeuvre fernando pessoa dengan segala macam heteronym-nya itu?
apakah setiap karya itu milik masing-masing heteronym-nya atau seorang (yang katanya) homo yang kebetulan bernama fernando pessoa itu? apakah setiap entri blogmu ditulis oleh holiday_sendiri atau dirimu yang sebenarnya, siapapun itu? siapakah yang tersimpan di kotak itu, fernando pessoa atau heteronym-heteronym-nya, di blogmu, holiday_sendiri atau kau sendiri? dan yang menulis di blog friendstermu, siapa itu? berapa blog yang sebenarnya kamu punya?
kalau pembacamu yang lihai cyberstalking mau, ia bisa menggabungkan semua posting blog milikmu dan menganggapnya seperti sebuah volume collected poems/stories/works dan menilaimu dari totalitas itu. atau tetap hanya memilih beberapa yang dia suka dan menyimpan mereka di notes scribefire-nya. jadi semacam selected works pilihan dia sendiri. pembaca tidak dipaksa membeli buku berisi tulisan-tulisan pilihanmu atau editormu, satu lagi revolusi buat pembaca bukan? END OF SEKALI LAGI (penting nek)
begitulah hols, hal baru sejak tahun 2000 yang paling kunikmati adalah kelihatannya aku jadi punya pilihan bacaan begitu banyak. walaupun tentu setiap harinya aku hanya membaca blogmu, atau dia, atau dia, setiap ada update yang kucek dari bloglines atau mengulangi membaca postingan lama yang tersimpan di archives, tapi bayangan bahwa kalau aku mau, masih banyak kemungkinan lain di luar sana, membuatku merasa seperti sejarawan renaissance di vatican library.
SEKALI LAGI LAGI soal bahasa inggris yang makin merajalela itu, aku jadi sering berandai-andai seperti nirwan 1, mungkin salah satu efek ‘globalisasi’ yang ditanyakan oleh dewan juri itu adalah suatu saat nanti, mungkin tidak selama yang kita bayangkan, indonesia akan punya patois inggrisnya sendiri, seperti karibia, india, singapura. inglish? indonglish? apapun julukannya, menarik melihat sampai segawat apa kita bisa mematahkan tulang belakang bahasa yang diam-diam begitu sensitif dengan kemurniannya itu. apa suatu saat hollywood akan membuat film yang meledek inglish kita seperti yang mereka lakukan kepada afringlish dengan lord of war? END OF, penting juga nek soalnya menurutku
aku baru lihat lagi, salah satu syarat sayembara kritik itu eseinya harus ‘ditulis dalam Bahasa Indonesia.’ aku sempat mau bilang, semoga itu tidak berarti sastra yang dikritik harus berbahasa indonesia juga, tapi kemudian aku sadar mungkin mereka sudah akan mengeluh duluan dengan sisipan-sisipan bahasa inggris-ku di esei ini. tapi kemudian aku juga malas memohon supaya bahasa yang kupakai diterima orang seperti penulis-penulis kata pengantar buku-buku yang tadi. kalau aku bisa bahasa manggarai aku akan tulis esei ini pakai bahasa itu saja, kan jadi satu lagi hal baru.
menyedihkan kalau seniman indonesia, sekarang, waktu mereka bebas dan bisa (walaupun tetap kurang duit) untuk menikmati seni lain dari seluruh penjuru dunia, mencontek dan memanipulasinya untuk memajukan seni sendiri, masih saja merasa perlu mengatakan hal seperti, ‘Gue masih mencoba mendalami blues ini sehingga gue ngga perlu merasa ‘bersalah’ karena memainkan musik yang (katanya) ‘ngga Indonesia’.’
get with the program, people.
what if, like, someone stole your words?
–
don’t know, i guess i’ll be
–
i am
lost for words
CatatanNya akan terbit besok. Di halaman yang sama sejak Dia berumur 30-an. Dengan gaya yang kira-kira sama sejak Dia berumur 18-an. Menjadi sebuah permainan untuk menebak-nebak Dia menulis apa minggu ini. Wibisana? Plotinus? Kadare? Atau sebuah meditasi tentang onta dan kebahagiaan? Entahlah, sama sulitnya menebak isi kepalaNya yang sudah lama hanya mulai membotak itu dengan mengira-ngira apa yang dipikirkan Parikesit waktu sekali lagi tombaknya mental dari dada Jakasombo.
Aku kira Dia akan menulis sesuatu yang agak ringan minggu ini. Karena minggu kemarin Dia menulis tentang Sang Fundamentalis. Seorang evangelis Amerika. Heavy stuff. Messiah, Armageddon, liberalisme, sekularisme, Al-Qaidah, Ku Klux Klan, Jemaah Islamiyah, kubur, surga sejarah. God help us.
Sebelum itu tulisan terburu-buru tentang mall baru yang penuh hot pants itu.
Biasanya Dia akan menulis tentang sesuatu yang terjadi pekan sebelumnya (Falwell meninggal) atau buku yang baru dibacaNya, atau lebih jarang, sesuatu yang terjadi padaNya. Jadilah ketergesa-gesaan esei mall itu.
Mungkin sudah setahun ini dia lebih marah daripada biasanya. Atau paling tidak aku jadi teringat fotoNya entah di mana, bersinglet dengan rambut berminyak acak-acakan, di depan mesin tik di kantor majalahNya yang lama. Jendela terbuka di belakangNya. Sebuah sore di Senen. Bukan lagi Dia rapi dengan dan turtleneck di tepi sebuah danau. Danube.
Sesuatu telah berubah dalam dirinya.
Mungkin itu dimulai dengan sajak-sajak aneh yang dimuat di Kompas Minggu dua tahunan lalu. Sajak-sajak kasar yang sengaja tidak mau berbunyi manis seperti biasanya. Hanya penuh dengan tank, bom, meriam yang tak lagi meledak dalam cuaca. Hanya serentetan mesin pembunuh manusia.
Setelah itu Dia mulai memakai kata Ajal, dengan A kapital, di sajak-sajakNya setahun kemudian, yang menurutku, seratus tahun yang akan datang, akan dianggap sebagai mahakaryaNya. Atau mungkin juga sebagai satu lagi contoh karya-karya menjelang ajal seorang seniman besar, yang mencoba membunuh dirinya sendiri sebelum benar-benar mati.
“ada nama yang mati / namaku yang mati”
Supaya Ia kekal, abadi.