di depan klenteng bergenteng naga itu pilihannya selalu sama, sayap yang utuh, atau dada yang disuwir-suwir seperti berita
tentang ibumu yang menolak meninggalkan rumah dan kakakmu yang datang dengan pedang di hatinya.
tapi waktu kalian bercakap, semua itu tak ada, hanya nostalgia tentang Kota Tua, bistik Belanda, dan mrica berwantek merah muda
menyewa video Megaloman, Beta, dari bapak-bapak rental keliling yang menenteng tas tenis tua, merek Head. Yang mencatat tanggal di sobekan karton
pembungkus Buavita. Cinta diberikan dan kita memberikan cinta, kalimat itu muncul tiba-tiba, dari bau jelantah dan nasi basah yang menyelip di rusuk-rusuk tikar
katakan itu pada Gaban! seringaimu pada malam yang kisut, lampu-lampu rem yang mengerut
kau belum juga berubah! sergahnya, mulutmu masih menyembunyikan tikus-tikus kecil bergigi runcing, rambutmu masih tegak tersapu angin, bibirmu masih seperti Mimin.
sudahlah kak, kita di sini bukan lagi untuk memperdebatkan siapa yang paling cantik, Laura atau Mary, atau siapa yang paling baik di mata Pa
atau iya? aku benci malam ini tidak ke mana-mana. kalau bisa aku ingin tahu serigala macam apa yang bersembunyi di prairie hatimu. dan ibu.
dan dia hanya tersedak, dan gelas nasgitel terbang bersama ujung jarinya. kelihatannya, dan dalam hati kau tahu itu, hidup sudah berlaku lebih kejam padanya.
mungkin lebih baik aku datang ke rumah saat orang-orang sibuk siesta dan kalian tak ada di dalamnya. aku meninggalkan notes di bawah jok sepeda seperti biasa
kak, bu, adik mampir untuk minum, sekarang hari selasa kliwon, pukul dua. mungkin itu akan lebih meninggalkan harapan.
dik, akhirnya dia berkata, di kota ini gerimis hanya asam, kuda tak berhenti di tengah hutan, dalam satu siang, bisa saja kami berada di empat tempat bersamaan.
untuk apa bicara tentang kemungkinan, sementara malam pun belum genap, dan masa lalu masih begitu mengerikan?
di pasar, adikku, orang-orang masih berbenah, dan di kafe itu, mereka masih menyilangkan siku. untuk apa membayar bon yang belum jatuh waktu?
entahlah, kata-katamu selalu terdengar seperti pepatah. aku hanya ingin cerita yang lain, hati yang utuh, ketel yang tak pernah dingin.
sambil membenarkan dudukmu, kau mengarahkan pandang ke matanya yang keruh seperti kelereng taruhan, kaosnya yang kedodoran.
hanya yang dari tadi diam saja bisa melihat, urat-urat di punggung tanganmu mengeras, seperti sungut-sungut naga di bawah bulan di atas.