dua tahun yang lalu hampir setiap sore aku menunggumu di situ, sekarang hampir setiap malam, lebih sering lagi pagi pagi buta, aku melewati tempat itu, memandangnya dari dalam taksi yang terlalu dingin, dan aku berpikir, betapa bahagianya aku waktu itu

<div style="text-align: right;“><span style="font-style: italic;“>Il n’y a pas d’absence remplaçable.— pas René Char Gerimis turun Ketak ketik Mesin tik Dingin di dahi Orang orang lari Ayun semua Map Tas Koran pagi tadi Ke atas kepala Beri hormat ! Pada awan Menakutkan Hanya aku Tidak. Diam saja. Aku tidak takut Pada hujan ! Sebentar lagi KauContinue reading “dua tahun yang lalu hampir setiap sore aku menunggumu di situ, sekarang hampir setiap malam, lebih sering lagi pagi pagi buta, aku melewati tempat itu, memandangnya dari dalam taksi yang terlalu dingin, dan aku berpikir, betapa bahagianya aku waktu itu”

toh tidak apa apa bukan hidup semakin lama semakin tidak berarti

—toh tidak apa apa bukankalau hidup sekedar pilihanmenuang bir—erdinger, duvel75 ribu sebotol—dengan busa    atau kering saja kemudian, sebentaraku mau ke toilet duludan di sana menyeka air matadi depan cermin yang retak    tepat di tengahnya memang, jadi semakin susahfokus bekerjahati selalu berdebaringin lagi bercandabersenda gurau    dengan teman —dan bayangan fantastistentang diri sendirisampai—menengok jam tangan tetanggajarum menunjukContinue reading “toh tidak apa apa bukan hidup semakin lama semakin tidak berarti”

Putra Express

                di taxisetelah pesta—lima pitcher birdan banyak beritadi ubud panas membungkus bungapaus malas lewat lagi di lamaleradi upper room scotland adalah a corner pubdi dalamnya se-pint jakarta                 selalugelas diisi—tak pernah dibiarkanlebih dari setengah kosong kurang darisetengah terisi ledakan ledekan di mana kau menciumnya?jari leleh mengelus pipi     Continue reading “Putra Express”