pi lih

di depan klenteng bergenteng naga itu pilihannya selalu sama, sayap yang utuh, atau dada yang disuwir-suwir seperti berita tentang ibumu yang menolak meninggalkan rumah dan kakakmu yang datang dengan pedang di hatinya. tapi waktu kalian bercakap, semua itu tak ada, hanya nostalgia tentang Kota Tua, bistik Belanda, dan mrica berwantek merah muda menyewa video Megaloman,Continue reading “pi lih”

unofficial verse culture

kamu suka slayer saya suka anthrax kata temanku. lilitkan petai di lehermu dong kalau begitu. tunggu aku beli bakpia dulu rasa paru-paru. atau rasa pura-pura 18 ribu harga biasa. kota ini lambat sekali rasanya seperti terbang di dasar toba. penuh ganggang. telur putih atau telur soklat aku tidur dulu. deh dong nek. candi-candi penuh kentiContinue reading “unofficial verse culture”