sometimes the feeling is right
untuk ditusuk dengan supit bambu
you fall in love for the first time
sendiri dengan bayanganmu
not for the first time
wake up now (wake up now)
im not your lollipop
hanky panky
* bpm: 120 (minimum)
Eine kleine Mekifantasie
sometimes the feeling is right
untuk ditusuk dengan supit bambu
you fall in love for the first time
sendiri dengan bayanganmu
not for the first time
wake up now (wake up now)
im not your lollipop
hanky panky
* bpm: 120 (minimum)
seperti efek rumah kaca dan bunda vina aku pun suka desember ceria
penuh mistletoe, santa, dan gadis berhotpants leha-leha di plasenta
walaupun erk lebih suka dengan plangi yang setya menunggu hujan reda
walaupun mungkin juga kan, hujan yang setya pada plangi, selalu turun supaya dia ada
sementara vina, sudahlah siapa yang tahu ada apa di balik rambut sasak wanita gila itu
kring kring kring sepeda kumbang, burung camar, surat cintanya yang pertama?
mana aku tahu aku bukan wartawan silét padahal itu kan salah aksennya karena aigu
harusnya dibaca jadi silit yang dalam bahasa jawa artinya dubur gimana sih mr. editor
tapi mungkin juga dia penganut ejaan suwandi, ja sudah betul djuga kalau begitu
kalau buatku sih desember bulan gahar saat jalan-jalan jakarta berubah jadi kaca
dan hidupku terpeleset menggelincir dari bar ke bar sampai di sekitar sarinah thamrin
kaca itu berubah jadi es dan pecah dan aku tenggelam pas di bawah pantat brondong-brondong oh la la
three lambs of god
skin white as the sun
palm muted hetfiled-like
is that an inverted cross
throat gurgled benton-like
on her ass ?
or my imagination
now ive got something !
gone south ?
to die for ! :
three lambs
of god bent on vendetta
against axe-wielding
men.
saya menulis ini karena membaca ini. dia seorang teman, sudah lama tidak bertemu, mungkin sekarang, jam 4 sabtu pagi, dia lagi mandi limonchillo di ku de ta sementara saya sudah kembali disko di rumah memikirkan tentang tulisannya itu dan berpikir lebih baik menuliskan saja apa yang saya pikirkan. memang masalahnya apa yang dia tulis begitu saya baca saya jadi sadar kelihatannya sudah sering sekali jadi bahan pembicaraan saya, biasanya monolog, dengan teman-teman yang masih tahan mendengarkan (sebenarnya tidak). tapi saya tidak pernah menganggapnya menarik untuk ditulis, mungkin karena teman-teman yang masih tahan mendengarkan itu jumlahnya semakin lama semakin sedikit, bagaimana kalau saya tulis, bisa-bisa etc.
tulisan teman saya itu, walaupun bukan berarti isinya seperti ini atau bermaksud melakukan ini, mengingatkan saya akan buku-buku yang sudah saya baca selama ini, musik yang sudah saya dengarkan, film yang sudah saya tonton, konser, teater, balet, tari, gamelan, wayangan, pameran video art, musée du louvre, rodin, picasso, palais de tokyo, centre pompidou, MoMa, (teruskan sampai saya jadi terdengar seperti orang tergaya di dunia) yang sudah saya kunjungi.
atau mungkin semuanya yang TIDAK saya lihat di situ.
bukannya saya anti dengan seni besar, yang megah dan mainstream dan banyak peminatnya, saya pernah nonton konser prince dan itu kurang mainstream apa lagi, dan kalau saya pikir-pikir itu mungkin konser yang paling membahagiakan saya. atau paling membuat saya senang seperti dunia hanya dansa-dansi sepanjang malam. waktu nonton konser flaming lips itu juga hebat, tapi walaupun kami semua ikut berteriak menyanyi bohemian rhapsody dengan boneka kelinci, beruang, dan sapi, hati rasanya sepi sekali dan pengennya nangis saja. besoknya saya merasa sehat sudah menonton sesuatu yang begitu ‘dalam’ tapi dunia rasanya lebih hitam. sementara waktu itu prince duduk di grand piano emasnya dan mulai menyanyikan ‘a case of you’ joni mitchell tapi dimulai dari verse kedua ‘i am a lonely painter / i live in a box of paints’ rasanya seperti di puisi taufik ismail ‘trém berkelenéngan di san francisco’ yang ada kotak cat yang meledak di udara. langit jadi seperti lolipop rasa nggak jelas tapi asoi.
tapi misalnya beberapa minggu yang lalu saya begadang di loteng teman dan jam empat pagi di tengah-tengah sesuatu saya sudah lupa dia menyanyikan ‘sempurna’ versi gita gutawa. dalam versi cina. dan dia tidak bisa bahasa cina. pokoknya ‘sempurna’ menjadi ‘singsunglai’. dan dia menyanyikannya dengan muka lempeng dari awal sampai akhir, verse, chorus, middle-eight break, lengkap dengan falsetto, dan saya berpikir, ini jenius! saya mungkin tidak pernah tertawa lebih keras sekaligus juga merinding mendengar melodi lagu itu yang seperti yang selalu saya irikan dari penyanyi atau musisi bisa saja mengguncang hati tanpa tahu kenapa bagaimana.
atau kemudian seminggu kemudian saya berada di kedai remang-remang di jogja bersama beberapa teman merayakan diri kami sendiri dan salah satu dari kami yang tidak biasanya bersama kami, seorang penyair yang menurut saya besar tapi harus menerbitkan kumpulan bukunya sendiri karena banyak orang tidak suka mulutnya yang berapi-api, dia membacakan satu puisinya di buku itu judulnya ‘kinda blue’. kinda! gila lu! rasanya ingin memeluknya saja kok bisa orang merasakan dan tahan merasakan kesendirian yang seperti itu.
tapi dua kesempatan itu, yang menurut saya menghasilkan seni, sesuatu yang membuat hati melambung dan hidup sejenak berarti, hanya disaksikan segelintir orang saja. dan dalam konteks kesenian indonesia saja misalnya, oke, ‘kinda blue’ tadi, walau dalam bahasa inggris, saya yakin orang-orang akhirnya akan mengakui bahwa itu sebuah puisi hebat, meski bukunya mungkin hanya akan tergantung di tali rafia etalase kios buku di shopping jogja dengan sudut melekuk tanda banyak orang yang baca-baca tapi tak pernah mau beli. sementara, ‘singsunglai’? selain dalam legenda yang disebarkan di antara teman-teman sendiri, ia akan hilang saja tanpa jejak.
mungkin saya sebal karena di minggu saya ke jogja itu saya juga pergi ke launching seorang penyair BERNAMA besar di goethe haus yang dihadiri begitu banyak sastrawan
ill pay anything
to get the feeling back
of when i was three
sitting in the back seat of a cab
looking out towards a game parlour
my dad sitting next to me
—us not touching—
explaining the laws of pinball
to the back of my head
the world was large then
i habitually refused to eat
the glazed decorative
cherry on top of my sundaes
sometimes i get the feeling back
for free
when walking out of a mall
i see the unfinished summit
of a skyscraper
how the steel skeletons,
the still crane like a giant watchmen,
the workmen with their chests of white light,
how they never tire
of building up
largesse out of life.
* nepali proverb.
can you make haiku
out of the comic
coincidence of a chained
monkey and me
being in the same bus ?
i can of the wind
shooting fine bullets
of sand into my face
and the man in the next bus
blowing cigarette smoke
—which from where im sitting—
is either suspended by
the still air inside
or else grime has glued
strands of it on the black window
a sticker: ‘i need you don’t kiss’
i was walking along a canal in 2003 and i saw a poster for ‘morrissey live in concert’ plastered at the back of a gondola, and that was the first time i realised ‘live’ is just evil spelled backwards.
i was reading badai pasti berlalu two weeks ago and i got to page 343 and i thought yes, but when?
i was listening to sandie shaw the other day, her singing a song morrissey wrote for her ‘please help the cause against loneliness’, and i was thinking the song was released in 1988, how much money has she raised by now?
i was in the moshpit at a flaming lips concert the soft bulletin tour with grown men and women in bunny suits balloons unlimited supply of acid and i was thinking the mere concept of this spectacle is too heavy for superman to lift.
i was on top of monas one day and i looked out towards the direction of your house and i thought if could still see the curvature of the earth then at least that means i have not grown too disillusioned with life. yet.
i was listening to the smiths’ asleep and i was thinking this song is not funny like all the others, ‘there is a better place, there must be …’, really, moz?
i was reading rimbaud one morning and i thought perhaps if you never told me that poets only earn 3000 dollars a year (if that!) i would never have left you to become one.
satu sore si anak pengen juga minum susu soklat. padahal dia sudah berjanji tidak akan minum susu soklat lagi. sudah empat bulan. rencananya setahun. karena dia suka sekali susu soklat. seharian dia bisa minum susu soklat. dari kotak karton, dari botol, hangat, dingin, panas membakar lidah. tapi dia jadi tidak percaya dengan susu soklat. kelihatannya dia tidak pernah benar-benar sehat juga minum susu, soklat, sebanyak itu. tidak seperti bayi-bayi yang minum enfamild a+. mereka gemuk-gemuk dan lucu. susunya rasa madu. dia tetap kurus, tidak kering sih, tapi kalau dia berbaring miring tulang pinggulnya menonjol keluar seperti fin lumba-lumba. atau paus pemburu terserah yang mana. paus mamal, mungkin mereka minum susu juga. dan bukan susu soklat pastinya kan. tapi susu soklat yang dia temui sore itu benar-benar menggiurkan. rasanya pengen memeluknya saja semalaman. botolnya berbentuk botol anggur dan warnanya pun hijau tua. dari jauh bahkan orang tidak tahu isinya adalah susu soklat. mungkin mereka mengira, shiraz 2005. atau bordeaux 2001. mescato. tapi tidak, isinya susu soklat. ingin dibawanya saja botol itu terus disimpannya di lemari, untuk dilihat-lihat kalau dia kangen susu soklat. tapi dia tahu itu tidak mungkin, kalau dibawanya pulang, segera pasti botol itu akan dibawanya dan pasti habislah hanya dalam beberapa tegukan. karena si anak rakus, apalagi kalau menghadapi susu soklat. jadi ditatapnya saja erat-erat botol hijau itu dan dibayangkannya betapa lezat susu soklat di dalamnya, apalagi kalau dipanaskannya sebentar di microwave atau ditinggal mimpi semalam di kulkas. paginya tinggal glek glek glek. dia tulis puisi untuk botol hijau isi susu soklat itu, semacam ode, bahkan eulogi, atau mungkin juga apologia, kenapa dia tidak membawanya saja terus meng-glek glek glek isinya. dibacakannya di depan botol hijau yang diam saja mula-mula, tapi terus akhirnya tidak tahan juga ngomong, kamu kebanyakan ngomong juga sih, coba dari tadi kamu pergi saja, pasti aku juga tidak akan sekarang memikirkan apa tidak sebaiknya aku ikut kamu juga walaupun kamu sok-sok nggak mau. siapa juga yang nggak mau susu soklat? dasar bodoh.
itu Tubuh
basian parah
basian parah
subuh subuh
parah
mendampar tanya: setengki salah?
kamu suka slayer
saya suka anthrax
kata temanku.
lilitkan petai
di lehermu dong
kalau begitu.
tunggu aku beli
bakpia dulu
rasa paru-paru.
atau rasa pura-pura
18 ribu
harga biasa.
kota ini lambat sekali
rasanya seperti terbang
di dasar toba. penuh ganggang.
telur putih
atau telur soklat
aku tidur dulu. deh dong nek.
candi-candi
penuh kenti
sate kelinci.
rasanya seperti ayam
dagingnya putih
memang ayam.
sembahlah kenti batu
dengan serius
tanpa ragu.
minta kesuburan
dan ketegangan
organ vital. selamanya.
paling tidak semalam
deh dong nek
cukup waktu.
waktu tak pernah cukup
punggung selalu panas
di taksaka.
mari ganti argo dwipangga
dengarkan saut
menggila.
the orcs are ready to strike
sauron!,
chop the elves’ pointy ears!
jadikan lauk nasi campur
di samping gohyong
dan panggang cina.
lebih banyak lemak
tak ada sangsang
sup gratis lumayan nendang.
endang
seperti babaganouj
di satoo.
atau sampi
di trio
dengan saos cocol kacang.
tidak ada puisi
dalam perjalanan pulang
ke haribaan malam.
dua pot ilalang
di bawah jendela bar
tiga botol bir.
lempar saja keluar
sambit bulan
jadikan sabit. selamanya.