Hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha ti.*

Hati oleh ghe

duh.

hatimu berserakan di lantai kamarku

sebentar. kuambil pengki dan sapu

Saya tertawa membaca ini. Sebentar, jangan tertawa dulu. Tertawa barang langka sekarang dalam sastra Indonesia, paling tidak (meneruskan rant saya dua di sesi satu kemarin) yang diakui oleh koran-koran Minggu. Dan orang sebenarnya rindu ketawa, lihat ini. Jadi, satu hal penting dulu, hanya karena saya tertawa, bukan berarti sajak kecil ini lebih ‘ringan’ apalagi lebih tidak bermutu daripada sajak yang membuat saya mengerutkan dahi atau mengelus-elus dada (ini juga mungkin terjadi gara-gara saya bingung dan putus asa nggak ngerti artinya, belum tentu karena sajaknya menyedihkan dan membuat trenyuh).

Saya tertawa karena apa? Pertama-tama, tidak jelas. Tapi menurut saya, alasan tertawa memang susah dijelaskan. Tidak semua orang akan menertawakan hal yang sama. Dan hal yang sama-sama ditertawakan mungkin sekali tidak ditertawakan karena alasan yang sama. Ada alasannya kenapa Freud menjuduli kitab sucinya tentang humor ‘Jokes and their Relation to the Unconscious’, karena kelihatannya memang itulah yang diserang oleh sebuah lelucon, alam bawah sadar kita, sebelum sadar kenapa, kita sudah tertawa duluan.

Tapi marilah kita bermain Oprah sebentar, jadi psikoanalis amatiran.

Mungkin yang pertama membuat saya ketawa adalah anti-klimaks sajak ini, ‘sebentar. kuambil pengki dan sapu’. si pacar (eks pacar!) sadar hati (eks)pacarnya berserakan di lantai kamar (pastinya dia sendiri yang menghancurkannya!) tapi reaksinya bukan, misalnya, ‘nih, bunga sekeranjang!’, dia hanya akan menyapu serpihan-serpihan hati itu, menggiringnya ke pengki, dan kemudian saya bayangkan, ke mana lagi kalau bukan membuangnya ke tempat sampah! dan perhatikan titik setelah sebentar itu. bukan ‘sebentar, (koma) …’ seberapakah sebentar yang diikuti titik itu? si (eks)pacar berdiri (atau mungkin tergeletak pingsan di lantai) tanpa hati, dan masih juga dia disuruh menunggu! mana emergency response-nya!

Tapi mungkin sebelum itu saya sudah ketawa karena ‘duh.’ di baris pertama. ini (lagi-lagi diikuti titik yang nyantai, bukan koma yang tergesa apalagi tanda pentung yang panik) duh khawatir atau duh kebosanan? duuuh, lagi deh, gimana siiih!

Kesinisan penyair, yang dikatakan dengan begitu dead pan, buat saya sangat menghibur. Buat saya, kesinisan adalah emosi yang sama real-nya dengan, misalnya, penyesalan. Dan penyesalan sudah diberikan terlalu banyak tempat di koran Minggu (tetep).

Tapi ini masalah yang buat saya memang besar. Sejak puisi mbeling di tahun ’70-an (cari antologi ‘Penyair Muda Di Depan Forum’ di toko buku Jose Rizal di TIM), baru ‘Antologi Bunga Matahari’ (2005) yang dengan sadar memberi tempat utk emosi-emosi yang tidak melulu muram. (Joko Pinurbo bisa lucu juga, tapi pada dasarnya dia seorang romantis yang paling suka kalau bisa menguras air mata pembacanya.)

Mungkin selain tertawa karena sajak ini lucu, saya juga tertawa lega karena sajak ini tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam romantisme, apalagi sentimentalisme, yang palsu.

Tidak tahu apakah ini sengaja atau tidak, mungkin tidak penting sengaja atau tidak, saya juga suka dengan bentuk visual sajak ini. Pendek, cuma tiga baris, yg membuat saya berpikir tentang haiku, atau misalnya ini:

Malam Lebaran

Bulan

Di atas kuburan

(Sitor Situmorang)

Yang juga mungkin membuat saya secara tidak sadar menanti sesuatu yang penuh kekhidmatan seperti itu. Penantian yang langsung hancur berserakan setelah membaca ‘duh.’ tadi.

Perrmainan bentuk seperti ini, mengkhianati bentuk, tentu bisa menjadi salah satu senjata penyair yang ampuh. Seperti Sitor sendiri misalnya, dengan (nyaris)pantun-nya ‘Si Anak Hilang’ yang pulang ke bentuk tradisional hanya untuk memberi tahu bahwa si anak hilang ini tidak mungkin pulang!

Dan lagi2, parodi bentuk seperti ini juga jarang sekali ditemui sekarang di koran-koran Minggu. Yang kebanyakan memuat verse yang sok libre. Satu lagi centang dengan bolpen hijau untuk puisi ‘Hati’ ini.

Satu lagi yang membuat saya penasaran tentang ini, dan yang juga lama tidak disinggung oleh sastra Indonesia, terutama kritik(us)2nya adalah fungsi retorik puisi ini. Dia diucapkan untuk apa? Apakah misalnya, untuk membuat (eks)pacar ini jadi lebih kesal sehingga dia akhirnya meninggalkan kamar terus si penyair bisa tenang hore2 main Wii? Kita suka lupa puisi punya maksud pragmatis seperti itu juga. Dan seandainya itu benar, betapa efektifnya puisi ini! (Eks)pacar mana yang tidak akan semakin muak dengan penyair tanpa hati seperti ini!

Hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha
hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha
hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha
hahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha

ha.

* pernah dimuat di kemudian.com

Blogged with the Flock Browser

depressed diaspora of the world unite!*

In the Cold November Rain
The Bus Driver’s Wife
Five Minutes
Oleh
FrenZy

Not only are these stories written in English, they’re set outside Indonesia, the first in London, then Brisbane, and Melbourne.

Gets rid of one problem: something that sometimes Laksmi Pamuntjak (say) struggles with in her English poems/short-stories. Like I’ve written and pointed out so many times here. I’m sick of it myself, if you write in English about Hotel Grand Menteng, would you say it’s a ‘love-motel’, as Laksmi does, taking a run-o-the mill Ameringlish idiom to describe something Indonesian, or use a term like ‘check-in place’ since that’s what we Indonesians call it? Not idiomatic English perhaps, but isn’t it more real? What is real? What use is real in fiction?

But I’m not gonna talk about language, it’s boring. Sure there are some awkward expressions, like ‘resisting my desperation to choke out loud’ (Cold November Rain) or ‘this whole ticket buying scheme had finally been mastered’ (The Bus Driver’s Wife), but you’d get that even in something written by a budding writer from Toorak, nothing that a good editor can’t fix. (If indeed it needs be fixed.)

The first story is actually nowhere near as horrendous as the title suggests—the infamous Guns N’ Roses operock video, though like the song, the story is also about unrequited love. At one page nowhere near as epic of course.

A woman sitting in a room in ‘depressing London weather in November, the unfriendly humid air poisoning my oily skin’ (depressing London weather is a bit of a tautology, but the real problem/the problem of the real in this sentence is ‘the humid air’, how could it be humid in London, in early winter? Is it the cheap Tesco heater that makes your hands and feet all clammy? Problem of verisimilitude. But why is this problematic? Or is it? I guess if this were a sci-fi short set in post-apocalyptic global-scorched London then I wouldn’t have batted an eyelid on ‘humid London November’, but as we shall see, this story is basically a realist vignette, and in a slice-of-life I guess it’s reasonable that we expect the life to be as we know it.), ‘wrapped in a dirty bath towel, chain smoking’, staring at ‘a bottle of painkillers’ on (probably) top of the sink.

So the woman is depressed. But she was ‘too wound up to care.’ Then it turns out that she’s too wound up because she cares too much. For ‘the motionless body next to me. A man’s body.’ They’d fucked two hours ago after he turned up on her doorstep and he: ‘I need you’, and she: ‘You need a place to stay.’ Funny. Then she: ‘I love you,’ then he: ‘Thank you.’ A bit more standard dark humour, but believable.

Then the answers for all the dark humour, the painkillers, the depressing London scene: ‘Will your wife come looking for you? Will you say goodbye and never come back?’ Like Axl said, nothing lasts forever / in the cold November rain, but perhaps, some things do, like a sob story set in grey London.

The second story, perhaps the most interesting, begins with the simple, short, sentence ‘The bus driver is my best friend.’ Which somehow sounds kinda depressing. Bus driver? What about a stripper? And it gets worse, ‘He is an old man nearing his sixties, … a Russian-Australian, … his Australian accent is very thick since he spends most of his life in Brisbane, … with a nametag that says Steve.’ Perhaps the most depressing thing is that nametag, what’s wrong with Stefanovich, why would you try so hard to fit in to Brisbane, land of tight stubbies and Bir Bintang singlets, why would you move to Brisbane at all?

They’d become friends because when the narrator, a girl, moved to Australia, she was ‘dominated by fear and loneliness’ (in Brisbane, wouldn’t blame ya girl), and Steve likes to chat about his sad bus-driving life, bad pay, unhappy wife, the usual sob story. But the narrator thought Steve was ‘very different. … unlike the other grumpy bus drivers who shout at foreigners.’ Aha! Maybe because Steve was a foreigner himself! A depressed diaspora just like the narrator!

Misery loves company especially when it’s a young probably pretty Asian international student. Or a granddad who happily listens to a pretty Asian international student’s stories of her ‘need to get away from a very bad breakup’ and her subsequent loneliness (girl on the rebound!). Then one night Steve told rebounding girl he was gonna quit his job, wife was leaving him because he was, yes, a total loser, and he might just as well pack his bags and move back to Russia.

Nyet! thought rebound girl.

‘I’m just an old man, what do I have except a rusty bag and a passport?’
‘You have love.’
‘No, dear. We have memories.’

And as if the thought of soldiering on in life in snowy Ukraine with a bag full of memories of hot summer afternoons in Brisbane verandahs was way too depressing, this story ends with Steve’s wife getting on the bus at the last stop as narrator girl gets off. Reconciliation.

‘What am I to know all about love? I do not even have love. My ex boyfriend is an emotional abuser and I have given up on love a long time ago.’ (Narrator girl’s monologue, all in her head.) But girl, from the ending you’ve given us, looks like you really haven’t.

The third story, ‘Five Minutes’, about a man who, accompanied by a kid, observes and bitches about people in a park ‘in the heart of Melbourne’, and the kid turns out to be the man’s imaginary friend and the man turns out to be a geriatric granddad suffering either from Alzheimer or multiple sclerosis that has left him ‘unable to speak and move, all I can do is feel,’ (some people have all the luck) I thought must’ve been written by the same author who wrote ‘In the Cold November Rain’ since both titles were accompanied with the date of writing ‘January 2007.’ Not only that, in ‘Five Minutes’ the author wrote that ‘people scurry through… to get to the tube station.’ But the tube is in London, in Melbourne it’s the train. (Or the tram if you wanna be all romantic and olde-worlde.)

That problem of verisimilitude again. Perhaps the author mixed up his/her memories of London and Melbourne and the two cities merge into one. (After all, Melbourne is the one city in Australia with European pretensions, though it’s Paris they aim for, what with the parks, the sidewalk cafés et al., and it rains there the whole time too.) But I imagine a Melburnian would object to see his ordinary train station be written as ‘the tube’, and this brings me back to Laksmi Pamuntjak: so why shouldn’t I complain that she calls Hotel Grand Menteng (say) with the pissweak appellation ‘love motel’? We’ve already got ‘check-in place’, why not use it? What is wrong with the more real?

The imaginary kid disappears and the story ends. Which makes me think: these are all depressing stories, but I like them much more than the sugar-coated inspirational stories millions of people bought in Andrea Hirata’s Edensor. (About his student days in Paris dan sekitarnya.)

* pernah dimuat di kemudian.com

Blogged with the Flock Browser

mangga muda problem lama*

Mangga muda oleh ghe

Sebelum mulai bicara tentang puisi ‘Mangga muda’ (ya, m yang kedua memang kecil, penulisnya Francophile ya?) ini saya ingin ngomong sebentar tentang proses review buat kemudian.com ini. Mungkin semua orang sudah tahu juga, saya diberi pilihan beberapa tulisan untuk direview tanpa pernah tahu nama atau siapa penulisnya. Alasannya jelas tentu—paling tidak ini asumsi saya—untuk mencegah kongkalikong, mencegah reviewer seperti saya menulis review penuh gula-gula untuk penulis yang manis dan kebetulan adik pacar saya. Tapi kemudian saya pikir, ini kan bukan lomba? Lagian, saya justru merasa perlu tahu latar belakang seorang penulis, bukan hanya namanya saja, kalau bisa saya ingin tahu buku apa saja yang dia baca waktu tumbuh dewasa, di kota mana dia dibesarkan, (dalam konteks Indonesia bhinneka tunggal ika ini) suku dia apa. dia suka mendengarkan musik apa, heroes atau csi, etc. etc.

Seperti di review saya yang kemarin tentang tiga cerpen berbahasa Inggris yang ternyata ditulis oleh satu orang itu (saya cuma berani menebak waktu itu dua dari tiga cerita itu ditulis oleh orang yang sama) saya ingin juga tahu apakah dia benar-benar pernah tinggal di London atau dia hanya mengkhayalkannya saja dengan bahan-bahan yang pastinya banyak dia dapatkan waktu dia tinggal di Brisbane. Atau malah sebaliknya? Kelihatannya sih tidak. Atau dia mengkhayal tentang semua tempat itu dan selama ini dia tinggal di Tebet (ala Ratih Kumala dan Tabula Rasa-nya)? Buat saya hal-hal seperti ini bukan hanya menarik tapi juga penting, karena misalnya saja waktu itu saya sempat bertanya kok dia bisa-bisanya bilang London humid di bulan November? Nah, kalau misalnya dia hanya pernah tinggal di Australia dan hanya pernah transit di Heathrow tiga jam sebelum terus ke Stockholm saya jadi bisa tahu pastinya itu dia lakukan karena dia mencampurkan waktu musim panas Australia yang berada di belahan bumi selatan dengan London di bumi utara. Saya jadi tahu dia cuma perlu merevisi pelajaran geografi SMU-nya saja. Tapi kalau misalnya ternyata dia pernah belajar seni patung di St. Martins College setelah capek belajar Masters ekonomi di Brisbane saya jadi bisa bilang mungkin dia lagi mencampuradukkan memori historisnya. Dan kalau dia ternyata masih sekolah di SMU 26, yah, spekulasi sendiri saja kira-kira kesimpulan macam apa yang bisa kita tarik tentang cerita-cerita itu.

Menurut saya ini masalah yang penting, karena di Indonesia kelihatannya kritikus sastra suka malas atau tidak bersedia menyambungkan tulisan dengan dunia penulisnya. Semacam hangover dari New Criticism saya yakin mereka juga tidak pernah benar-benar mengerti juga. Seperti misalnya kata pengantar Nirwan Dewanto di buku ‘Ripin: Cerpen Kompas PIlihan 2005-2006’. Di situ dia sama sekali tidak pernah benar-benar membahas di cerita ‘Ripin’ karya Ugoran Prasad yang ia anggap cerita terbaik di Kompas selama periode 2005-2006 itu siapa itu si Ripin, apa yang terjadi dengannya (bapaknya mati ditembak Petrus—ini twist-nya haha sori ya spoiler haters), kenapa Ugoran memilih masalah Petrus ini untuk cerpennya, apa masih menarik menulis tentang Petrus, etc. etc. Hal-hal yang menurut saya lebih menarik tentang ini daripada misalnya, ‘[dalam Ripin] kita sampai pada paradoks yang menggetarkan: antara kokohnya alur dengan hasrat para tokoh untuk keluar dari tindasan, antara keasyikan sudut pandang dengan kekasaran latar cerita, antara mustahaknya tutup cerita dengan ketidakpastian nasib Ripin si tokoh utama.’ (Nirwan Dewanto dalam ‘Ripin etc.’ hlm. xxvi.) Tindasan macam apa? Dari siapa? Kenapa ada di situ? Kekasaran macam apa? Siapa? Kenapa ada di situ? Apakah penting, menarik, membosankan, biasa-biasa saja semua itu ada di situ? Dan, apa arti mustahak? 😉

Buat saya kritik macam di atas, yang kelihatannya menganggap hanya arsitektur sebuah tulisan saja yang penting (semacam versi Taliban New Criticism), sama saja dengan bilang foie gras itu mak nyusss tapi tak pernah bilang (karena memang tak tahu karena memang tak mau tahu!) makanan itu terbuat dari apa.

Mungkin semua ini kedengaran terlalu panjang tapi pun sudah langsung relevan begitu kita membaca judul sajak kita kali ini ini: ‘Mangga muda.’ Karena saya orang Indonesia atau paling tidak orang Jawa, membaca judul ini langsung terbayang di kepala saya berbagai macam bayangan tentang mangga muda: dicocol campuran garam dan cabe enak, makanan perempuan lagi ngidam, tergantung musim ada atau tidaknya di pasar (paling tidak dulu sebelum globalisasi mangga karbitan melanda Total). Dan begitu membaca baris pertama sajak ini, nah benar kan saya. Sekarang bayangkan misalnya saya seorang wannabe Indonesianis asal Alaska yang belum dapat-dapat juga beasiswa pertukaran pelajar ke UGM tapi saya nekat menulis review tentang sajak ini dan karena saya memang tidak tahu dan malas bertanya pada supervisor saya, saya tidak pernah mempertimbangkan semua imej kultural spesifik tentang mangga muda ini dan hanya sibuk menyatakan betapa pengulangan dua kata mangga muda ini menghipnotis seperti mantra (ini memang benar, tapi), apakah patut kritik saya dibilang kritik yang lengkap? Apakah patut tulisan saya itu disebut kritik karena saya sebenarnya belum memeriksa semua kemungkinan pembacaan sajak ini? Apakah patut saya disebut seorang kritikus?

Sudah jelas kalau tulisan seorang kritikus akan dipengaruhi oleh latar belakangnya, apakah tidak lucu kalau kemudian kritikus itu sok-sok menganggap tulisan yang dikiritiknya tidak ada hubungannya dengan latar belakang penulisnya? Penulis sudah mati? Ya, kau yang membunuhnya Kritikus Sialan!

Kembali ke sajak kita (sebelum saya membunuhnya juga dengan melupakannya sama sekali), sajak ini adalah sajak yang naratif. Banyak sajak tentu yang sebenarnya memang prosa yang ditulis dalam baris-baris sehingga kelihatannya seperti puisi. Baca banyak sajak Billy Collins misalnya, atau Hasan Aspahani. Memang tantangan membuat puisi mungkin itu (paling tidak puisi lirik), bagaimana menggubah lirisisme yang kita rasakan, semacam aku melihat matamu dan di matamu ada aku, dalam kata-kata yang tidak sekedar menceritakan itulah yang terjadi tapi dalam puisi (apa pun itu kek) yang bisa membangkitkan rasa itu lagi untuk pembacanya setiap kali ia membacanya. Jadi misalnya, kalau saya tulis saja, ‘di matamu ada aku’, pembaca akan membacanya, mungkin bisa mengerti apa yang saya maksud, tapi (selain berpikir duh menye-klise banget sih) setelah itu ya sudah, kalimat (tak layak dibilang baris) ini bisa dibuang saja, sudah selesai tugasnya, dia hanya menceritakan apa yang terjadi, suatu saat, mungkin di tepi sebuah danau dengan kabut yang mengambang di atas permukaannya yang (tentu saja) tenang, ‘di matamu ada aku.’

Literature is news that STAYS news (Ezra Pound, ‘ABC of Reading’, hlm. 29). Saya suka nggak yakin juga macam apa news yang akan STAY news itu. Tapi biasanya sih kita tahu begitu kita melihatnya. Misalnya saja (ini saya pilih random dari rak buku saya), ‘both of us hapless outcasts at the farther end of the sky; meeting like this, why must we be old friends to understand one another?’ (Po Chü-i, ‘Song of the Lute’ dalam Burton Watson (penerjemah), ‘The Columbia Book of Chinese Poetry’, hlm. 252.) Bisa saja hal itu benar-benar terjadi, two hapless outcasts meeting at the farther end of the sky and feeling like they’re best friends already, tapi satu hal saja, setelah membaca ini anda ingin membacanya lagi bukan, dan lagi, dan lagi. Tanpa harus menganalisa bagaimana Po Chü-i melakukannya, dua baris itu tidak seperti kalimat gubahan saya di atas atau sekolom berita di Kompas, kita tidak akan merasa cukup hanya mengingat apa yang diberitakan oleh baris-baris itu, kita akan ingin membacanya dan lagi dan lagi, seakan-akan kata-katanya jadi lebih penting daripada apa yang diberitakannya. Ya, seakan-akan dua baris itu adalah news that STAYS news.

Nah, sajak ‘Mangga muda’ ini di banyak tempat terasa seperti cerita yang bisa merasakan ada puisi di balik ceritanya dan ingin melompat ke situ dan hup! bah! ternyata perhitungannya kurang tepat, lompatannya kurang jauh dan terjerembablah dia kembali ke narasi cerpen korannya. Tapi di beberapa tempat, sajak ini juga terasa seperti puisi yang tertatih-tatih memaksa untuk bercerita!

Sajak ini banyak menggunakan jurus pengulangan, seperti ‘kuketuk pintunya / kuketuk pintunya’ atau ‘kuketuk pintunya / kuketuk pintunya / kuketuk pintunya’ dan ini kadang-kadang terasa seperti usaha penulis untuk memuisikan cerita ‘Mangga muda’-nya tapi kadang-kadang juga terasa sepertinya mungkin justru ini yang lebih ingin dilakukan si penulis, mengulang-ulang kata-katanya begitu saja, terus saja, seperti mantra. Dan di sinilah, misalnya, pentingnya latar belakang penulis tadi. Mungkin, karena penulis ini (kelihatannya) memang orang Indonesia, salah satu bentuk puisi yang paling familiar buatnya, terdengar paling alami di telinganya, mungkin tanpa dia sadari, adalah mantra. Atau, dan ini ada juga hubungannya dengan si penulis adalah orang Indonesia, mungkin dia banyak baca balada-balada Rendra.

Cerita sajak ini adalah seorang suami yang dengan kelihatannya agak berat hati dan karena itu malas-malasan mencarikan mangga muda untuk istrinya (mungkin karena dia baru ngidam ini jam ‘setengah dua belas malam’). Tapi rasanya si suami berangkat bukan untuk istrinya karena ‘Menatapnya aku berpikir / ‘ah … itu yang meminta anakku sendiri’’. Seperti Hercules dengan satu tugas saja dia mengalami berbagai rintangan dan dia bukan Hercules jadi semua rintangan itu tidak bisa dia lalui juga sampai akhirnya dia sampai di ‘… pasar kampung kami / jam dua belas malam …’ tapi dasar bukan Hercules dia takut masuk pasar yang dia dengar penuh preman dan langsung balik kanan tapi baru ‘… berjalan dua langkah …’ dia sudah dihadang oleh ‘… tiga orang pemuda …’ dan ‘… lelaki / baju hitam-hitam dan wajah tanpa ekspresi’ ‘di belakang mereka …’

Si suami ditikam mati oleh ketiga preman dan satu laki-laki misterius ini. Tapi dari tadinya cerita yang gampang sekali diikuti, tiba-tiba di sini sajak ini menjadi agak misterius, atau mungkin, paling tidak jadi lebih susah diikuti, saya tidak tahu. Lebih baik saya kutip hampir semua bagian akhir ini:

‘aku jatuh rebah kulihat banyak sekali darah
tiga preman itu kabur membawa dompetku yang isinya tak seberapa
tapi lelaki itu tinggal
dia jalan mendekatiku dengan wajah tanpa ekspresi diulurkannya tangannya
pusarku berkedut menuntut tanganku menyambut tangannya
rasanya seperti berkenalan dan kutahu dia bukan Tuhan
dia bukan Tuhan
tapi tangannya sejuk dan aku seperti melayang’

Apakah tiga preman ini = the three wise men, tiga magi dalam cerita Injil Matius tapi kali ini yang benar-benar telah diperalat Herod = si lelaki baju hitam-hitam bukan Tuhan itu untuk menemukan dan membinasakan Kristus = si suami? Apa penulis sajak ini seorang pastur? Atau murid seminari Gonzaga? Untuk sementara ini, karena saya memang tidak tahu siapa penulis ini dan dunianya seperti apa, saya tidak tahu. Tapi bagian terakhir ini menurut saya, dengan nada setengah bercanda ringannya, adalah sebuah meditasi, sebuah puisi, tentang Tuhan dan kematian yang cukup indah.

Kalau lelaki yang tinggal itu bukan Tuhan terus siapa? The Grim Reaper karena bajunya hitam-hitam? Tapi dia mengajak salaman (jadi tangannya tidak sibuk memegang sabit raksasa) dan ‘… menyambut tangannya / rasanya seperti berkenalan … tangannya sejuk …’ Malaikat kematian biasanya tidak seramah ini.

Atau sebenarnya dia memang Tuhan, yang membiarkankan si suami ‘melayang’, bebas dari beban mencarikan mangga muda buat istrinya, hanya si suami terlalu merasa bersalah dengan ketidakbertanggungjawabannya ini (‘… tangannya sejuk dan aku seperti melayang’ tidak kedengaran seperti dia terlalu keberatan mati ditusuk preman-preman pasar itu) sehingga tidak mau mengakui bahwa sekalipun mungkin si lelaki baju hitam-hitam tanpa ekspresi ini adalah Setan dia adalah Tuhan penyelamat baginya?

*pernah dimuat di kemudian.com

Blogged with the Flock Browser

tidak eksperimental tidakeksperimentaltidak eksperi mental

tidak eksperimental
karena tidak percaya diri memang
tidak masuk akal
    ¿erianillopa itrepes silunem kadit apanek

ke atas

dari bawah

                                                                                                    m
                                                                                                i
                                                                                         r
                                                                                    i
                                                                             n
                                                                                    g

                                                                                            k
                                                                                                  i
                                                                                            r
                                                                                     i

r
a
t
a

k
a
n
a
n

monyet lu, gembil!

Tapi kau cuma anjing

Chihuahuahahahahahahahaha

Garis tangan yang luber sampai ke paha

I hate auto-correct
    Every sentence should have begun
every sentence should
                                             nothavebe        gun

jinak****

—entah untuk apa
tapi memang perlu
semacam semangat untuk membaca buku baru
—atau mengulang yang lama
tanpa memedulikan
akhir cerita bagaimana

tergantung memang
pada ambisi
mau jadi penyair besar
atau sekedar merekam jaman
—mengatur rangkaian bunga
—rapi, dengan segala macam simbolik*nya
atau menebar kembang tabur di makam
—sekenanya, asal menutup tanah

untuk apa juga mencatat komentar teman
yang kau sayangi
kemudian kau gubah jadi puisi
‘antara menyingkap dan sembunyi’**
—hanya mengundang salah paham!
tidak semua orang bisa menerima
seseorang bisa sekaligus munafik

dan pamer jati diri***

* i know this sounds wrong but nyonya besar toeti heraty pernah memakainya sekali
** dan *** ‘yang sudah jelas / tulis sajak itu / antara menyingkap dan sembunyi / antara munafik dan jati diri’—toeti heraty, ‘post scriptum’
**** dari menggagahi ney di sini

toh tidak apa apa bukan hidup semakin lama semakin tidak berarti

—toh tidak apa apa bukan
kalau hidup sekedar pilihan
menuang bir—erdinger, duvel
75 ribu sebotol—
dengan busa
    atau kering saja

kemudian, sebentar
aku mau ke toilet dulu
dan di sana menyeka air mata
di depan cermin yang retak
    tepat di tengahnya

memang, jadi semakin susah
fokus bekerja
hati selalu berdebar
ingin lagi bercanda
bersenda gurau
    dengan teman

—dan bayangan fantastis
tentang diri sendiri
sampai—menengok jam tangan tetangga
jarum menunjuk tiga
    waktunya pulang

atau sekedar istirahat
dari kesepian
yang semakin lama semakin
menyayat
    toh tidak apa apa bukan
   
—hidup semakin lama semakin tidak berarti
tanpa canda tawa yang dipertahankan
mati matian sepanjang hari—sepanjang malam
dan pagi pun—kata kata yang berusaha diledakkan
di angkasa di antara kita
    selain itu hanya perjalanan pulang

di taksi, tarif lama, atau baru, apalah bedanya
langit jakarta yang ceria, kubikel kantor yang masih menyala
entah lembur, entah alpa dimatikan, apalah bedanya
itupun kadang kadang, hati masih menyalak
jangan pulang!, dan taksi pun dibelokkan
    ke apartemen teman di jantung kota

percakapan percakapan yang makin menyesatkan
dalam asyik asap rokok, kadang kadang ganja
stok darurat—setiap hari selalu darurat—
perdebatan tentang atheisme dengan mata merah menyala
sendu di sudut sudutnya, atau mungkin
    mengantuk saja

selanjutnya hanya menanti siapa yang bakal pertama berhenti
menuang chivas ke dalam gelas berisi kopi
—suam suam kuku—itupun setengah hati
sebelum kesopanan dan tata krama
menuntun jari menekan angka angka
    yang sudah dihapal di luar kepala

0217941234, ya blue bird saja
ke pinggir jakarta—dan lima belas menit kemudian
masih juga main tebak tebakan, siapa di antara kita berdua
yang sedang pura pura tidak mendengar
suara kunci mobil dibentur benturkan
    di pagar besi di luar

repogorepogereporepo *la voix des autres*

yurtusku barabu coreng *terbang bersama coreng*

hihi

lalala
lalala

lulululu

dududu
dududu
tangtingtung
kentangkentung

lalilulalolali
danggentakgentakgentak

teteretet
teretereteret

tungutungutungtungdupret

lo kbayang g
klo misalny kita ga slg ngrti bahasa
jd klo ngomong ky gt?
seru y?

yoi bgt
atau ini yg suka aku perhatikan
kita jd lebih pake bahasa tubuh
woofwoofwoof (*sambil menabrakkan kepala ke bahumu*)

grrrr *sambil menyikut*

setosetsogah (*sambil noyor*)

lulululululu *sambil nyirem air*

huwfghuwfgrahfuth *sambil nangis kucek2 mata*

hmrprhmpgfm *smbl nyabut jamur trus ngasi*

khrer? fdgfdjyrui! *menampik jamur tapi gak pergi juga*

oepoooplkldfkjslkg… *sukur, ga mau, memakan jamur*

hfgsdfgksdfkaskdfhsfkshlhsflhslfhlks!!!!!!!!!!!!!!!!! *semakin nangis membahana kaki dijejak2kan di lantai*

eryuteuyruetyeuyr *naik k pohon trus tidur*

ehohehohaarghwajabastu *lari ke laut terus nyebur, bodysurf setengah jam-an trus berbaring di handuk bolak balik telentang tengkurep sejam-an baru balik*

cdascsdadcdascdsacdsadcadsca *lg main ayunan d pohon*

kongfereas ? *menyodorkan cangkang kerang berbentuk headdress bambang ekalaya*

qwewrerttrerew *menerima dan memberikan bunga utk dmakan*
abnmnmbnaboopom *ga pait ky mawar, enak kayak selada*

pnonhpijngponghpihg *lumayan, mungkin enak ditabur truffles*

ploiukoplkiukolp *klo mkn pake jamur pasti seru, semuany jd warnawarni*

rereterteretertet *aku lebih suka duniaku kelabu, jadi lebih tidak banyak pilihan* tertertertettertet

okghjgkohjgikhgokhjkgjkgjohg *ah kau memang drama queen*

oppopopopopopopoopop ! *biarin! sambil nangis lagi dan mulai berjalan menjauh*

igilgfhjiflijhifdlijhdlijiljfighljfijgh *aneh banget sih dikitdikit nangis sambil ngunyah jamur lagi*

arkarkarkaqweeqweearkark *membatin, ‘memang tidak ada yg mengerti aku,’ kaki menginjak cangkang, ‘aduh bangsat, bahkan benda mati pun bah’*

emnemnmgnemngmenmngmenmngmengmen? *mau larilarian aja ga?*

yuyuyuyuyuyuyuyuyuyuyratrauys udausdinupn ! *ayuuuukkk aku bosan bersedih juga, tenggorokanku amis rasanya!*

odkfodkofkdokfodkfodkfodofkodkfodkfodk! *k atas bukit trus turunnya gulinggulingan ya!*

gdsgdhjegjeldj! *habis itu naik lagi pake gantole ya!*

duihdiuhduhuihdiuhd! *wah asik ampe malem ya mainnya!*

owaqrrowaaarowardpowaawrrd! *sampe pagi juga bisa, nih donat!*

dyedhyehdyehdyeheydhdheyhdyehdyeh? *krispy kreme bukan?*

poerpoperopoerpe *iya ini yg original setengah lusin*

sbgers nrtesrsre *asik*

perepo wasdd tqearr *aku senang main2 spt ini, aku pengennya main2 spt ini aja terus*

xyuretxyuertghuhuhgf *maunya gitu tapi ga bisa*

utrte utret gearegs jgeeadh lolololo *aku mau mencoba, siapa tahu bisa, mungkin habis itu terus mati kelaparan api ya udahlah*

pooutiwyrtueoarpesiptrjewtopwtpoiiytrie! *larilari aja terus supaya ga ketangkep*

nbcnbcncbmncbnc mlmlmlm ncbcnbcnbncbnmlmlmlml *yayayayay mungkin di balik bukit sana ada alternate universe!’

czxveerrrrrrtgsudyfh *aku percaya sih begitu*

grasdjg grasgsg ! *sambil mengajak hi-five*

uehfuyeuyfgautstfgtesw! *ber-hi-five*

hgdhsgagkda jkhdkshkah ! *ayo terbang saja biar lebih cepat, kau hanya perlu mengangkat kakimu setinggi lutut dulu*

iendnuureemdmnjgurieeojdmvnhierieie *oya? abis itu main futsal yuk*

oiore d ououn d ioopm d *bahasanya mulai canggih ada artikel d-nya, *futsal terbang aku mau futsal kaki aku sering cedera lutut**

dsfhjsbgksdknbgfhbhjkfkajfkjs! *iya dong, aku gampang cedera paha soalnya*

urereiur d ieufoieufhfhdlfh d fgfgfggg d *di jkt sudah banyak lapangan futsal terbang ayo terbang ke sana saja*

cnsjdkjfhakjgljhgjhagjhfaghjgafa *iya, aku memang sudah rindu jakarta*

jakarta ghghgweghgwe d ghghghhweghgh d fgahghhyg *jakarta ya, dia seperti bau gendong batik eyangku*

nchebyewjdkhcwskahcyskmyhzjyzfhuedkjednfuhukfkjnmfhukzufh *baunya mengingatkanku pada masa kecil main piknikpiknikan*

yuyuyuyyuyu coreng ghgshgahg *aku pusing coreng aku mau terbang beneran biar segar*

opekojsfsihgfjsghkkpkpoppoippioioipopoiko *masukin di blog aja, ni jadi satu cerita, oom slokop*

osh kosh b gosh osh kosh b gosh *hihi*

mal a la tete *hoho*

je est l’autre *aku belum mandi sejak hari minggu malam*

You currently appear offline
Some features may not be available.

il faut suffrir pour etre belle *mandi ga bikin jadi cantik kok*

j’accuse *i dont know about that*

ne fais pas semblant de ne pas savoir *ya, kata almarhum kakekku, ga usah sering mandi, nanti kulitnya tipis*

puis-je tâter ? *ya jd suka gatel2 tp kalau ga pk sabun pake air panas saja ga papa*

un bain de cons *sekalian berenang atau berendam ya*

dors bien *walapun aku tak terlalu suka berendam krn airnya suka terasa terlalu panas pertama2nya tp kalau didinginin nanti terlalu dingin baru 2 menit saja*

tu n’aimes pas tout! *ah kau memang ga suka semua hal hahaha*

choses au-dessus du blâme choses sous l’éloge vraiment ! je n’aime pas tout ! *i know, im an ungrateful dick*

vit toi *yea emang sih mungkin kau yang jadi inspirasi pembuat gelanggelang free complain world

cet idiot et homme *c’est moi !*

un mec? un bac? *aku sudah mau pergi nih. jangan lupa percakapan ini dipost ya. atau kau gengsi kalau tulisan seperti ini masuk blogmu?*

étoiles pluie soleil lune *bukan gengsi sih aku kadang2 suka aja menyimpan sesuatu (banyak hal) buat diriku sendiri, tp pasti akan kusimpan*

c’est drole, n’est pas? *menurutku lucu tapi aku ga sempat sekarang*

tres drole, mais n’aie jamais crainte *hihi iya*

j’ai de temps mais comment *eh mau sampai mana nih cerita percakapannya*

un ciel d’enfer *sampai percakapan ini berakhir saja*

Blogged with the Flock Browser

what made me really depressed today:

Facebook doesn’t load in the People sidebar,* what do I do?

Some people are currently experiencing a problem getting their Facebook contacts to load into the People sidebar. This is because of a Facebook change, and we are currently working hard on a fix.

In the meantime, you may be able to get People to return to normal by following these steps:

Mac, Windows, Linux
1. Login to Facebook
2. Click the “accounts” link at the top of the page.

If this doesn’t work, try this:

Mac
1. Open the Flock menu
2. Click “Preferences”
3. Go to the “Advanced” tab
4. Within that tab, go to the “Update” tab
5. Click “Force Service Updates”
6. Restart Flock

Windows
1. Open the Tools menu
2. Click “Options”
3. Go to the “Advanced” tab
4. Within that tab, go to the “Update” tab
5. Click “Force Service Updates”
6. Restart Flock

Linux
1. Open the Edit menu
2. Click “Preferences”
3. Go to the “Advanced” tab
4. Within that tab, go to the “Update” tab
5. Click “Force Service Updates”
6. Restart Flock

For up-to-the-minute updates on this bug, check out Flock on Twitter.

*the most interesting thing in the flock browser, and the most important thing in my life

guess it runs in the family


Rumah indahmu
(written while watching Tita* playing water at San Diego Hills**)
Endang Johani***

tercapailah kini yang kau cita
diam di bukit luas cakrawala
rumput hijau memangku danau

kalau tidak di hari tuamu
maka biarlah di hari abadimu
senyum bidari
nyala lilin
menyambutmu
karena kau pulang di hari jadimu

riang cucumu mengecipak sejuknya air
yang mengalir di pinggir makammu
kutahu kau damai di alam sana
karena makammu indah penuh bunga

                                             18/02/08****

Di makam tua
(written otw from bekonang***** to skh******, very sleepy)
Endang Johani

dua orang lelaki
dua generasi
berjongkok di kerikil makam
mencabut perdu, memungut daun bertebaran
menyapu jejati di tanah hujan
berdoa kepada tuhan yang hampir dilupakan
kupandangi mereka, mengharukan

lalu kutaruh bunga di atasnya
bapak/yangkung, ibu/yangti
dan adik bayi mungil di kaki makam
yang kini dipangku Tuhan

                                            21/03/08

*my mom’s granddaughter, not from me
**actually in Krawang
***my mom, yesterday she asked, as she handed me these poems, ‘how do i join your Bunga Matahari thing?’
****the day after my dad, her husband, died
*****a little village outside solo where my mom’s family comes from, also ray sahetapy’s village in opera jakarta, because arswendo atmowiloto who wrote the script came from this sleepy, incestuous village, too. so did srimulat
******sukoharjo, the kabupaten town next to solo, we were going to a wedding there

Kimura Kaela*

“I went to Fiji for 3 days

But I had the flu the whole time

I couldn’t go out to sea for dinner

I’ve still got a runny nose now

And on the third day

Angelina Jolie came wearing this

Skin-tight black wedding dress

And quaffed 3 tall glasses of wine

—White

At the houseboat dinner that

I couldn’t attend

Because of my runny nose

I don’t know. People tell me

I slept for 3 days

So couldn’t have seen Angelina

Jolie coming to see us

But now I’ve got this pretty, high, nasally

Voice like Kimura Kaela

All thanks to my 3-day dream of

Angelina.”

*found this in my notebook, can’t be sure if it’s mine hence the ”   “