All that he wants (I saw the sign) (Sendiri di rumah) It’s a beautiful lie o ooo o ooo (He lives a lonely life)

seperti efek rumah kaca dan bunda vina aku pun suka desember ceria
penuh mistletoe, santa, dan gadis berhotpants leha-leha di plasenta
walaupun erk lebih suka dengan plangi yang setya menunggu hujan reda
walaupun mungkin juga kan, hujan yang setya pada plangi, selalu turun supaya dia ada
sementara vina, sudahlah siapa yang tahu ada apa di balik rambut sasak wanita gila itu
kring kring kring sepeda kumbang, burung camar, surat cintanya yang pertama?
mana aku tahu aku bukan wartawan silét padahal itu kan salah aksennya karena aigu
harusnya dibaca jadi silit yang dalam bahasa jawa artinya dubur gimana sih mr. editor
tapi mungkin juga dia penganut ejaan suwandi, ja sudah betul djuga kalau begitu
kalau buatku sih desember bulan gahar saat jalan-jalan jakarta berubah jadi kaca
dan hidupku terpeleset menggelincir dari bar ke bar sampai di sekitar sarinah thamrin
kaca itu berubah jadi es dan pecah dan aku tenggelam pas di bawah pantat brondong-brondong oh la la

senisembunyi

saya menulis ini karena membaca ini. dia seorang teman, sudah lama tidak bertemu, mungkin sekarang, jam 4 sabtu pagi, dia lagi mandi limonchillo di ku de ta sementara saya sudah kembali disko di rumah memikirkan tentang tulisannya itu dan berpikir lebih baik menuliskan saja apa yang saya pikirkan. memang masalahnya apa yang dia tulis begitu saya baca saya jadi sadar kelihatannya sudah sering sekali jadi bahan pembicaraan saya, biasanya monolog, dengan teman-teman yang masih tahan mendengarkan (sebenarnya tidak). tapi saya tidak pernah menganggapnya menarik untuk ditulis, mungkin karena teman-teman yang masih tahan mendengarkan itu jumlahnya semakin lama semakin sedikit, bagaimana kalau saya tulis, bisa-bisa etc.

tulisan teman saya itu, walaupun bukan berarti isinya seperti ini atau bermaksud melakukan ini, mengingatkan saya akan buku-buku yang sudah saya baca selama ini, musik yang sudah saya dengarkan, film yang sudah saya tonton, konser, teater, balet, tari, gamelan, wayangan, pameran video art, musée du louvre, rodin, picasso, palais de tokyo, centre pompidou, MoMa, (teruskan sampai saya jadi terdengar seperti orang tergaya di dunia) yang sudah saya kunjungi.

atau mungkin semuanya yang TIDAK saya lihat di situ.

bukannya saya anti dengan seni besar, yang megah dan mainstream dan banyak peminatnya, saya pernah nonton konser prince dan itu kurang mainstream apa lagi, dan kalau saya pikir-pikir itu mungkin konser yang paling membahagiakan saya. atau paling membuat saya senang seperti dunia hanya dansa-dansi sepanjang malam. waktu nonton konser flaming lips itu juga hebat, tapi walaupun kami semua ikut berteriak menyanyi bohemian rhapsody dengan boneka kelinci, beruang, dan sapi, hati rasanya sepi sekali dan pengennya nangis saja. besoknya saya merasa sehat sudah menonton sesuatu yang begitu ‘dalam’ tapi dunia rasanya lebih hitam. sementara waktu itu prince duduk di grand piano emasnya dan mulai menyanyikan ‘a case of you’ joni mitchell tapi dimulai dari verse kedua ‘i am a lonely painter / i live in a box of paints’ rasanya seperti di puisi taufik ismail ‘trém berkelenéngan di san francisco’ yang ada kotak cat yang meledak di udara. langit jadi seperti lolipop rasa nggak jelas tapi asoi.

tapi misalnya beberapa minggu yang lalu saya begadang di loteng teman dan jam empat pagi di tengah-tengah sesuatu saya sudah lupa dia menyanyikan ‘sempurna’ versi gita gutawa. dalam versi cina. dan dia tidak bisa bahasa cina. pokoknya ‘sempurna’ menjadi ‘singsunglai’. dan dia menyanyikannya dengan muka lempeng dari awal sampai akhir, verse, chorus, middle-eight break, lengkap dengan falsetto, dan saya berpikir, ini jenius! saya mungkin tidak pernah tertawa lebih keras sekaligus juga merinding mendengar melodi lagu itu yang seperti yang selalu saya irikan dari penyanyi atau musisi bisa saja mengguncang hati tanpa tahu kenapa bagaimana.

atau kemudian seminggu kemudian saya berada di kedai remang-remang di jogja bersama beberapa teman merayakan diri kami sendiri dan salah satu dari kami yang tidak biasanya bersama kami, seorang penyair yang menurut saya besar tapi harus menerbitkan kumpulan bukunya sendiri karena banyak orang tidak suka mulutnya yang berapi-api, dia membacakan satu puisinya di buku itu judulnya ‘kinda blue’. kinda! gila lu! rasanya ingin memeluknya saja kok bisa orang merasakan dan tahan merasakan kesendirian yang seperti itu.

tapi dua kesempatan itu, yang menurut saya menghasilkan seni, sesuatu yang membuat hati melambung dan hidup sejenak berarti, hanya disaksikan segelintir orang saja. dan dalam konteks kesenian indonesia saja misalnya, oke, ‘kinda blue’ tadi, walau dalam bahasa inggris, saya yakin orang-orang akhirnya akan mengakui bahwa itu sebuah puisi hebat, meski bukunya mungkin hanya akan tergantung di tali rafia etalase kios buku di shopping jogja dengan sudut melekuk tanda banyak orang yang baca-baca tapi tak pernah mau beli. sementara, ‘singsunglai’? selain dalam legenda yang disebarkan di antara teman-teman sendiri, ia akan hilang saja tanpa jejak.

mungkin saya sebal karena di minggu saya ke jogja itu saya juga pergi ke launching seorang penyair BERNAMA besar di goethe haus yang dihadiri begitu banyak sastrawan

The knife may forget but not the wood.*

ill pay anything
    to get the feeling back
        of when i was three
sitting in the back seat of a cab
    looking out towards a game parlour
        my dad sitting next to me
—us not touching—
    explaining the laws of pinball
        to the back of my head

the world was large then
    i habitually refused to eat
        the glazed decorative
cherry on top of my sundaes

sometimes i get the feeling back
    for free
        when walking out of a mall
i see the unfinished summit
    of a skyscraper
        how the steel skeletons,
the still crane like a giant watchmen,
    the workmen with their chests of white light,
        how they never tire
of building up

largesse out of life.

* nepali proverb.

what are notes but work delayed ?

can you make haiku
out of the comic
coincidence of a chained
monkey and me
being in the same bus ?

i can of the wind
shooting fine bullets
of sand into my face
and the man in the next bus
blowing cigarette smoke

—which from where im sitting—

is either suspended by
the still air inside
or else grime has glued
strands of it on the black window
a sticker: ‘i need you         don’t kiss’

everyone else has had more sex than me ooo ooo

i was walking along a canal in 2003 and i saw a poster for ‘morrissey live in concert’ plastered at the back of a gondola, and that was the first time i realised ‘live’ is just evil spelled backwards.

i was reading badai pasti berlalu two weeks ago and i got to page 343 and i thought yes, but when?

i was listening to sandie shaw the other day, her singing a song morrissey wrote for her ‘please help the cause against loneliness’, and i was thinking the song was released in 1988, how much money has she raised by now?

i was in the moshpit at a flaming lips concert the soft bulletin tour with grown men and women in bunny suits balloons unlimited supply of acid and i was thinking the mere concept of this spectacle is too heavy for superman to lift.

i was on top of monas one day and i looked out towards the direction of your house and i thought if could still see the curvature of the earth then at least that means i have not grown too disillusioned with life. yet.

i was listening to the smiths’ asleep and i was thinking this song is not funny like all the others, ‘there is a better place, there must be …’, really, moz?

i was reading rimbaud one morning and i thought perhaps if you never told me that poets only earn 3000 dollars a year (if that!) i would never have left you to become one.

susu soklat

satu sore si anak pengen juga minum susu soklat. padahal dia sudah berjanji tidak akan minum susu soklat lagi. sudah empat bulan. rencananya setahun. karena dia suka sekali susu soklat. seharian dia bisa minum susu soklat. dari kotak karton, dari botol, hangat, dingin, panas membakar lidah. tapi dia jadi tidak percaya dengan susu soklat. kelihatannya dia tidak pernah benar-benar sehat juga minum susu, soklat, sebanyak itu. tidak seperti bayi-bayi yang minum enfamild a+. mereka gemuk-gemuk dan lucu. susunya rasa madu. dia tetap kurus, tidak kering sih, tapi kalau dia berbaring miring tulang pinggulnya menonjol keluar seperti fin lumba-lumba. atau paus pemburu terserah yang mana. paus mamal, mungkin mereka minum susu juga. dan bukan susu soklat pastinya kan. tapi susu soklat yang dia temui sore itu benar-benar menggiurkan. rasanya pengen memeluknya saja semalaman. botolnya berbentuk botol anggur dan warnanya pun hijau tua. dari jauh bahkan orang tidak tahu isinya adalah susu soklat. mungkin mereka mengira, shiraz 2005. atau bordeaux 2001. mescato. tapi tidak, isinya susu soklat. ingin dibawanya saja botol itu terus disimpannya di lemari, untuk dilihat-lihat kalau dia kangen susu soklat. tapi dia tahu itu tidak mungkin, kalau dibawanya pulang, segera pasti botol itu akan dibawanya dan pasti habislah hanya dalam beberapa tegukan. karena si anak rakus, apalagi kalau menghadapi susu soklat. jadi ditatapnya saja erat-erat botol hijau itu dan dibayangkannya betapa lezat susu soklat di dalamnya, apalagi kalau dipanaskannya sebentar di microwave atau ditinggal mimpi semalam di kulkas. paginya tinggal glek glek glek. dia tulis puisi untuk botol hijau isi susu soklat itu, semacam ode, bahkan eulogi, atau mungkin juga apologia, kenapa dia tidak membawanya saja terus meng-glek glek glek isinya. dibacakannya di depan botol hijau yang diam saja mula-mula, tapi terus akhirnya tidak tahan juga ngomong, kamu kebanyakan ngomong juga sih, coba dari tadi kamu pergi saja, pasti aku juga tidak akan sekarang memikirkan apa tidak sebaiknya aku ikut kamu juga walaupun kamu sok-sok nggak mau. siapa juga yang nggak mau susu soklat? dasar bodoh.

Blogged with the Flock Browser

unofficial verse culture

kamu suka slayer

saya suka anthrax

kata temanku.

lilitkan petai

di lehermu dong

kalau begitu.

tunggu aku beli

bakpia dulu

rasa paru-paru.

atau rasa pura-pura

18 ribu

harga biasa.

kota ini lambat sekali

rasanya seperti terbang

di dasar toba. penuh ganggang.

telur putih

atau telur soklat

aku tidur dulu. deh dong nek.

candi-candi

penuh kenti

sate kelinci.

rasanya seperti ayam

dagingnya putih

memang ayam.

sembahlah kenti batu

dengan serius

tanpa ragu.

minta kesuburan

dan ketegangan

organ vital. selamanya.

paling tidak semalam

deh dong nek

cukup waktu.

waktu tak pernah cukup

punggung selalu panas

di taksaka.

mari ganti argo dwipangga

dengarkan saut

menggila.

the orcs are ready to strike

sauron!,

chop the elves’ pointy ears!

jadikan lauk nasi campur

di samping gohyong

dan panggang cina.

lebih banyak lemak

tak ada sangsang

sup gratis lumayan nendang.

endang

seperti babaganouj

di satoo.

atau sampi

di trio

dengan saos cocol kacang.

tidak ada puisi

dalam perjalanan pulang

ke haribaan malam.

dua pot ilalang

di bawah jendela bar

tiga botol bir.

lempar saja keluar

sambit bulan

jadikan sabit. selamanya.

mata bukan ilalang*

Di Matamu Yang Ilalang oleh ghe

Bad news first, nggak apa-apa, karena saya kira akhirnya puisi ini cukup kuat untuk menerima all kinds of news. Mungkin ada empat, pertama kata ilalang itu, yang sudah terlalu sering kita dengar di segala sesuatu yang ‘puitis’, dari D. Zawawi Imron’s ‘Bulan Tertusuk [I]lalang’ sampai nama komunitas yang penyairnya banyak dimuat di Kompas Minggu. Kemudian matamu itu sendiri, sesuatu yang klise juga di bahasa puisi Indonesia. Contoh, satu saja dari segudang yang ada di toko buku Jose Rizal di tim misalnya adalah judul kumpulan puisi Johannes Sugianto tahun lalu ‘Di Lengkung Alis Matamu’ (bahkan di sini matamu ini sama sekali tidak perlu, alis ada di mana lagi kalau bukan di mata? Ke mana aja editornya?). Kemudian pembandingan dua hal itu, ilalang dan matamu. Satu hal klise dibandingkan dengan satu hal klise lain. Two wrongs don’t make a right, they make a bigger wrong!

Kemudian beberapa kata di dalam puisinya sendiri (selama ini kita baru sampai di judulnya), ‘rinai’, ‘[ku]riap’, ‘[ber]kelindan’, dan ‘rekata’, yang, selain juga kedengaran terlalu berbau halaman puisi Kompas Minggu, saya juga tidak langsung mengerti artinya. ini mungkin tidak langsung jelek. Walaupun bau basi, kalau kata-kata itu memang punya alasan kuat ada di situ, benar-benar dipilih untuk mengatakan sesuatu (atau bunyi, ini hal lain lagi, sekarang kita bicara maknanya dulu) yang memang tidak bisa dikatakan oleh kata lain, bukan hanya karena ingin ‘puitis’, ya mungkin memang harus dipakai. Kerak nasi aja bisa enak. Tapi, ini adalah hal yang buat saya perlu dipikirkan juga. Make it new! Kata beribu-ribu penyair (sebuah klise juga), tapi namanya juga klise, ada benarnya. Punya masalah nggak kita menulis puisi yang bunyinya (paling tidak) sama saja dengan banyak puisi lainnya? Apa nggak lebih baik bikin sesuatu yg baru? Atau mungkin si penulis puisi ini justru memilih hal yang lebih radikal dan susah lagi, memakai kata-kata klise tadi tapi memakainya dengan maksud yang spesifik, spesifik untuk tujuan puisinya ini? Sehingga yg tadinya klise jadi tidak klise lagi?

Okelah kita lihat. Pertama rinai. Saya lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Atau ini salah. Sebenarnya sebelum saya ambil KBBI saya sudah membaca puisi ini beberapa kali. Entah kenapa mengingatkan saya pada puisi Frans Nadjira ‘Mimpi Dalam Demam’ (saya lampirkan di bawah).* Mungkin karena saya jadi membayangkan pegunungan dan padang rumput yang berangin. Ya, gambarnya cukup jelas saya rasa, walaupun memakai kata-kata yang klise seperti ilalang dan rumput dan bintang. Mata itu tidak berlama-lama menjadi mata, langsung lenyap mejadi ilalang dan mulailah fantasi narator puisi ini, sebuah fantasi yang cukup kuat. Dia menemukan dirinya di padang ilalang dengan ‘angin yang rinai’, rebah, atau ingin rebah di atasnya, kalau dia bisa rebah di situ dia akan me’riap’ rumput yg berkelindan di dada (sampai di sini sebenarnya agak membingungkan, ini dada siapa? Bukankah tadi dia ada di mata si penerima sajak ini? Tapi dada siapa sebenarnya akan jelas setelah kita tahu apa sebenarnya maksud si narator dengan ‘kuriap’ dan ‘berkelindan’ jadi ini nanti kita bahas pas membahas dua kata itu saja), kemudian telentang menatap ‘rekata’ (yg tadinya saya kira semacam compound rekat+kata, dan saya sempat miris membayangkan, oh no, not another poem ABOUT a poem! Kata-kata tentang kata-kata! Tapi tenang, saya salah kok), dan menanti hujan bintang. Lucu, saya membayangkannya seperti campuran stardust dan angin rumput savanna.

Menurut KBBI ‘hari rinai’ ternyata berarti ‘hari hujan rintik2’ tapi ‘rinai’ sebagai kata kerja (merinai) juga berarti ‘bersenandung, bernyanyi-nyanyi kecil’. Ini kejutan yang menyenangkan. Mungkin penulis sajak ini memang merasa harus memakai kata rinai ini karena dia memang membayangkan dua hal sekaligus, di padang ilalang yang mata pacarnya itu mungkin memang hujan sedang turun rintik-rintik dan lagi ada angin yang bernyanyi-nyanyi kecil. Lucu bukan? Yah, mungkin juga si penulis sajak ini tidak memakai KBBI dan mungkin juga dari dua arti rinai itu mungkin di kepalanya hanya ada satu (mungkin yang ‘bernyanyi-nyanyi kecil’ karena dia meletakkan rinai begitu dekat ke angin, tapi bisa juga kan itu angin besar yang mulai membawa gerimis, yang mungkin belum turun di situ tapi sudah deras di padang seberang sana?), tapi bagi saya walaupun misalnya penyairnya tidak sengaja—dan saya sih entah kenapa yakin penyair ini cukup sengaja, bahwa saya bisa, punya kemungkinan, membaca rinai itu seperti itu tetap menyenangkan. I don’t care if the author’s dead or alive, as long as his words are alive. dan ‘rinai’ ini, so alive!

Perhitungkan juga kemungkinan hubungan rinai yg hujan ini dengan ‘hujan bintang’ di baris terakhir. Saya tadi sudah cukup senang dengan gambar hujan bintang di padang ilalang, dan sekarang setelah tahu mungkin sebelum hujan bintang itu sudah ada hujan rintik-rintik di situ, gambar ini jadi lebih lucu dan kompleks lagi: apakah si narator ini ternyata agak tersiksa juga di padang itu dengan segala macam gerimis dan anginnya dan sedang menanti langit cerah dan bintang-bintang muncul lagi? Dan kalau kita ingat lagi padang ilalang ini sebenarnya adalah mata kekasihnya, apakah hujan berarti air mata? Apakah mereka habis berantem dan sekarang si penyair ini sedang membujuk pacarnya supaya baikan? Supaya matanya penuh bintang lagi (ingat, mata juga sering sekali dibandingkan atau diasosiasikan dengan bintang bahkan di buku diary anak SMP)? Jadi ternyata di puisi yang awalnya hanya kelihatan romantis dan menye ini sebenarnya juga tersembunyi kesedihan? Oke, oke sekali pilihan kata rinai ini ternyata.

Kemudian [ku]’riap’ dan [ber]’kelindan’. kbbi bilang ‘meriap’ = ‘tumbuh atau bertambah besar; bertambah banyak’, sementara ‘berkelindan’ (yang sekarang pasti akan anda dengar di seminar akademik di mana saja sebagai bagian dari ekspresi du jour ‘berjalin berkelindan’, padahal mungkin maksudnya cuma ‘ada hubungannya’) = ‘erat menjadi satu’, tapi ‘kelindan’ sendiri adalah kata benda arkaik yang berarti ‘benang yang baru dipintal’ atau ‘benang yang sudah dimasukkan ke dalam lubang jarum.’ Yay! So many possibilities! Bayangkan, berarti ‘dada’ ini kelihatannya adalah dada si penyair, dia rebah (di punggungnya) di padang ilalang itu, dan melihat di dadanya ada rumput yg tumbuh (dan berarti dia telanjang dada bukan, di tengah angin dan hujan rintik2 itu, nggak dingin? Mungkin semarah itukah pacarnya padanya sehingga dia (harus) merasa begitu tersiksa? Atau dia memang drama queen dan lagi cari simpati?).

Mungkin jelas di sini rumput adalah metafor untuk cinta, cinta si penyair pada si pemilik mata/ilalang, yang tumbuh langsung dari dadanya, yang ingin ia ‘riap’ supaya ‘bertambah besar dan banyak’. Yang lebih menarik lagi bagi saya adalah bahwa rumput itu sudah berkelindan di dadanya. Bukan hanya cintanya yg ada di situ tapi juga cinta pacarnya, mereka sudah ‘erat menjadi satu.’ Buat saya di sini pun sudah jelas ada metafor seksual di sini, yang dibuat jadi semakin kuat dan spesifik dengan arti arkaik ‘kelindan’ tadi. mungkin cinta mereka adalah cinta yg baru, seperti ‘benang yg baru dipintal’, walaupun begitu benang itu ‘sudah dimasukkan ke dalam lubang jarum’. Obvious sexual metaphor!

Dan menjadi semakin misterius dan menggelitik lagi kalau kita ingat pepatah ‘seperti menegakkan benang basah’. Apakah ini masalahnya kenapa mereka berantem??? Karena benangnya (entah benang/penis siapa karena tidak ada petunjuk jelas siapa yang cowok dan siapa yang cewek, atau apakah cowok dan cewek atau cowok dan cowok atau cewek dan cewek—walaupun saya punya perasaan entah kenapa penulis sajak ini cowok) tidak pernah bisa tegak? (tentu saja benang bisa diinterpretasikan sebagai cinta itu sendiri, cinta mereka seperti rumput yg seperti benang yg tidak pernah bisa tegak (karena basah terus karena hujan rintik-rintik tadi yang adalah air matanya ‘matamu’).

Tapi sekali lagi, bahwa sajak ini, karena pilihan kata ‘kelindan’ itu, mengijinkan ada interpretasi yg seksual tadi (dan benang yg masuk ke lubang jarum tadi juga mengingatkan saya bahwa banyak barang-barang tajam (caution: menyakitkan!) di puisi ini: ilalang, rumput, gerimis dan hujan yg seperti jarum. bukan berarti seks yg dilakukan si penyair dan pacarnya pasti sado-masochist, tapi menebar barang-barang tajam di puisi ini bisa saya rasakan waktu membacanya, membuat saya jadi merasa seperti takut ketusuk, dan dalam puisi yg bisa dirasakan pembaca kadang-kadang bisa lebih penting daripada yg bisa dimengertinya) selain interpretasi standar yg hanya melibatkan cinta suci non-karnal, itu sangat mengasyikkan buat saya, pembacanya.

Kalau saya bilang kemungkinan itu lebih mengasyikkan daripada jawaban yg pasti (mana interpretasi yang benar?), yang tidak disediakan oleh puisi ini, itu akan jadi sebuah klise sendiri, mungkin lebih baik digambarkan begini: karena puisi ini hanya memberi kemungkinan, seperti memberi rumus, sebenarnya kita bebas mempermainkan rumus itu sampai sejauh mana, tapi kita tetap punya puisi itu (ie, pertanyaan yg harus kita pecahkan dengan rumus itu (atau sebenarnya malah masih ada lagi rumus lain yg juga bisa dipakai!)), dan ketegangan antara keinginan kita untuk bermain-main dengan kemungkinan-kemungkinan tadi dan semacam rasa wajib atau berhutang (karena kita sudah diberi sesuatu yang begitu asyik) untuk mengerti puisi itu seperti yg ditulis oleh penulisnya, itulah yg mengasyikkan.

Dan tenang, ‘rekata’ ternyata bukan = rekat + kata. rekata adalah kata arkaik lagi (yg membuat semakin mungkin penyair ini memang memilih kata-kata-nya dengan sengaja dan hati-hati, atau dia anak indie yg bukan hanya pakaiannya saja yang vintage!) yang artinya ‘kala (bintang atau rasi)’. Sekarang dia telentang menatap scorpio (walaupun ingat, semua ini adalah harapan si narator, dia ‘ingin’, ‘kan’, tapi mungkin juga keinginannya, fantasinya, begitu kuat sehingga dia sudah tidak bisa membedakannya dengan kenyataan (sounds like he’s in denial)), langit mulai cerah, dia menyilang tangan di belakang kepala dan dalam sesuatu yang terasa seperti sebuah ketabahan yang mengasyikkan menunggu bintang-bintang yang membentuk konstelasi itu menghujani(dada?)nya dan menggambar tato berbentuk kalajengking di situ.

Semua ini adalah usaha untuk memahami puisi ini, yang menyediakan cukup banyak teka-teki sehingga usaha ini jadi cukup asyik dan mengasyikkan (apa bedanya?) tapi kalau misalnya saya dipaksa untuk bilang apakah saya suka atau tidak suka pada puisi ini saya masih ragu-ragu juga. Seperti semoga sudah jelas, maksud, arti, puisi ini cukup menarik dan dikatakan dengan cukup jernih, tapi tentu puisi bukan cuma masalah maksud dan arti.

Puisi juga soal bunyi (antara banyak lagi yang lain), dan sebenarnya bunyi puisi ini juga enak, tidak ada yang janggal. Memenggalnya jadi dua paragraf yg pertama menggambarkan aksi si narator dan yang kedua yang lebih singkat menggambarkan maksud aksi di atas juga logis, selalu ada caesura di antara aksi dan maksud bukan? Puisi ini jadi semacam sonnet mini. selain itu, ironi yang diciptakan antara nadanya yang rapi dan merdu seperti lullaby kepada diri sendiri, dan kegelisahan dan kecemasan yang disembunyikannya, membuat kegelisahan dan kecemasan itu makin menusuk. (Pertimbangkan juga kemungkinan satu ironi lagi, bahwa kalau lagu singkat ini adalah sebuah lullaby, ia lullaby yang ingin mengantarkan si narator bukan untuk tidur tapi untuk terjaga, supaya bisa ‘telentang menatap rekata’, sampai kapan?, mungkin dia harus insomnia selamanya!)

Tapi juga dalam hal bunyi inilah puisi ini punya masalah. Seperti sudah saya bilang di awal, saya sudah bosan dengan kata-kata ilalang, matamu, rumput, bintang, hujan, matamu lagi (sampai 3x termasuk judul), ilalang lagi (3x juga). Seperti sudah saya jelaskan juga, ternyata pilihan kata-kata dalam puisi ini memang ada alasannya, dan kuat, jadi mungkin memang puisi ini harus berbunyi seperti sekarang. Tapi saya juga jadi berandai-andai, karena fantasi penyair ini sebenarnya cukup kuat, mata itu benar-benar jadi seperti ilalang, apa jadinya kalau dia mencoba bakat berfantasinya itu pada skenario lain, pada sebuah puisi berjudul ‘di cuping hidungmu yang london’ misalnya? Jangan anggap ini sebagai sebuah saran ‘seharusnya’, anggaplah sekedar pertanyaan saya saja, sebuah kemungkinan, karena saya ingin tahu.

‘Benar-benar jadi SEPERTI ilalang.’ Kenapa saya bilang SEPERTI, bukan ‘jadi ilalang’ langsung saja? Karena kelihatannya itu yg dibilang penyairnya. sepanjang puisi ini, sejak judul, mata ini adalah mata yang (seperti) ilalang. Paling tidak, dua hal ini adalah hal yang setara dan ada pada waktu yang bersamaan, matamu adalah ilalang dan ilalang adalah matamu, tapi dua hal itu tetap dua hal yg berbeda. Sebuah perumpamaan, simile if you will. Membandingkan dua hal yg tak sama. melupakan sejenak bahwa mata dan ilalang adalah dua hal yg klise, dan perbandingan di antaranya pun juga, mata dan ilalang adalah dua hal yg cukup (tidak lagi sangat karena cukup sering dibandingkan!) berbeda, dan karena itu banyak hal yg menarik akan muncul (dan sudah) dari pembandingan itu. Tapi sekarang coba bandingkan (ha!) apa yg terjadi dengan ‘matamu’ di puisi ini dengan apa yg terjadi dengan ‘mata’ di puisi Saut Situmorang di bawah ini:

mata mawar

sepasang mawar merah mekar di matamu
membakar malam yang sunyi di hatiku

sepasang mawar merah mekar di matamu
malam yang sunyi jadi panas di hatiku

sepasang matamu jadi danau tak berombak
menyimpan duri tajam yang tak nampak

malam yang sunyi di hatiku
malam yang panas di hatiku
berdarah tergores duri matamu

sepasang mawar merah mekar di mataMu
durinya jadi bulan mati di hatiku

(Saut Situmorang, Saut Kecil Bicara Dengan Tuhan, Bentang Budaya, 2003, hlm. 7)

Di sini, mawar MEKAR di matamu, matamu JADI danau tak berombak, dan karena di mata itu sekarang tumbuh mawar (yang belum sempat dipotongi duri-duri-nya, dan duri-duri ini, ingat, ‘tak nampak’ karena disembunyikan oleh ‘danau tak berombak’ yg TADINYA ‘sepasang matamu’ tadi), malam di hati si penyair ‘berdarah tergores duri matamu’. Blablabla. Poin saya adalah, di sini mata dan sepasang mawar dan danau tak berombak (no prize for guessing what this looks like/mean/is a metaphor of!) dan duri-duri itu, berhenti menjadi dua, tiga, empat hal yang berbeda dan MENJADI satu. seperti bisa dilihat sekarang di judulnya ‘mata mawar’. Bukan (lagi) mata yang mawar atau mata seperti mawar.

‘Matamu’ sekarang tak ada lagi, yang ada hanya ‘mata mawar’ ini. Tidak ada perumpamaan, yang ada adalah metamorfosis dari sebuah mata menjadi mata mawar. Kenapa saya pikir ini lebih kuat (kalau belum jelas memang ini yg saya pikirkan) daripada hanya membandingkan mata dengan setangkai mawar? Banyak hal sebenarnya, misalnya waktu jadi bergerak. Saya jadi bisa merasakan mawar mekar di mata itu, seperti dalam fast-motion nature documentary di discovery channel, dari tidak ada menjadi ada. Kemudian danau muncul di sana, dan di bawah permukaannya tumbuh duri-duri. Semua ini seperti bergerak, dalam waktu. Dan waktu tidak bisa di-rewind. Di akhir puisi ini, waktu si penyair bilang duri mata mawar itu jadi bulan mati di hatiku, suasana jadi begitu menekan, karena mungkin selamanya akan begitu terus, kalau tidak malah jadi tambah buruk.

Dan ini: karena sebuah mawar merah benar-benar telah mekar di mata itu, durinya juga jadi terasa telah benar-benar jadi bulan mati (pastinya bulan sabit karena duri bentuknya lebih mirip itu daripada bulan purnama, jadi semakin menusuk bok!) yang sekarang benar-benar menusuk-nusuk hatinya. Sementara di ‘di matamu yang ilalang’, fantasi kuat tentang padang ilalang yang gerimis, angin yang menyanyi, rumput yang tumbuh di dada yang telentang menanti hujan bintang itu, seperti berakhir dengan sebuah anti-klimaks: ‘di matamu yang ilalang.’ Oh, ini tadi bukan benar-benar padang ilalang toh, hanya matamu.

Tentu sebenarnya si penyair ini telah benar-benar melihat padang ilalang itu di mata siapapun-mu itu. Sebenarnya semuanya ini bukanlah fantasinya, melainkan kenyataannya. Kenapa malu mengakuinya?

*mimpi dalam demam
Frans Nadjira

Seorang perempuan
berbaju hitam
menebar jala
di atas rerumputan

Lalu turun gerimis
Dari atas bukit-bukit
serombongan anak-anak
bernyanyi

Kami telah menadah angin
mengumpulkannya dalam keranjang
Kami telah memetik matahari
memasukkannya dalam keranjang
bercampur bunga-bunga.

(Frans Nadjira, Singgalang, tahun 19 nomor 3553, Senin 22 Desember 1986, hlm. 6 kolom 1.)

* pernah dimuat di kemudian.com

Blogged with the Flock Browser