susu soklat

satu sore si anak pengen juga minum susu soklat. padahal dia sudah berjanji tidak akan minum susu soklat lagi. sudah empat bulan. rencananya setahun. karena dia suka sekali susu soklat. seharian dia bisa minum susu soklat. dari kotak karton, dari botol, hangat, dingin, panas membakar lidah. tapi dia jadi tidak percaya dengan susu soklat. kelihatannya dia tidak pernah benar-benar sehat juga minum susu, soklat, sebanyak itu. tidak seperti bayi-bayi yang minum enfamild a+. mereka gemuk-gemuk dan lucu. susunya rasa madu. dia tetap kurus, tidak kering sih, tapi kalau dia berbaring miring tulang pinggulnya menonjol keluar seperti fin lumba-lumba. atau paus pemburu terserah yang mana. paus mamal, mungkin mereka minum susu juga. dan bukan susu soklat pastinya kan. tapi susu soklat yang dia temui sore itu benar-benar menggiurkan. rasanya pengen memeluknya saja semalaman. botolnya berbentuk botol anggur dan warnanya pun hijau tua. dari jauh bahkan orang tidak tahu isinya adalah susu soklat. mungkin mereka mengira, shiraz 2005. atau bordeaux 2001. mescato. tapi tidak, isinya susu soklat. ingin dibawanya saja botol itu terus disimpannya di lemari, untuk dilihat-lihat kalau dia kangen susu soklat. tapi dia tahu itu tidak mungkin, kalau dibawanya pulang, segera pasti botol itu akan dibawanya dan pasti habislah hanya dalam beberapa tegukan. karena si anak rakus, apalagi kalau menghadapi susu soklat. jadi ditatapnya saja erat-erat botol hijau itu dan dibayangkannya betapa lezat susu soklat di dalamnya, apalagi kalau dipanaskannya sebentar di microwave atau ditinggal mimpi semalam di kulkas. paginya tinggal glek glek glek. dia tulis puisi untuk botol hijau isi susu soklat itu, semacam ode, bahkan eulogi, atau mungkin juga apologia, kenapa dia tidak membawanya saja terus meng-glek glek glek isinya. dibacakannya di depan botol hijau yang diam saja mula-mula, tapi terus akhirnya tidak tahan juga ngomong, kamu kebanyakan ngomong juga sih, coba dari tadi kamu pergi saja, pasti aku juga tidak akan sekarang memikirkan apa tidak sebaiknya aku ikut kamu juga walaupun kamu sok-sok nggak mau. siapa juga yang nggak mau susu soklat? dasar bodoh.

Blogged with the Flock Browser
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s