mata bukan ilalang*

Di Matamu Yang Ilalang oleh ghe

Bad news first, nggak apa-apa, karena saya kira akhirnya puisi ini cukup kuat untuk menerima all kinds of news. Mungkin ada empat, pertama kata ilalang itu, yang sudah terlalu sering kita dengar di segala sesuatu yang ‘puitis’, dari D. Zawawi Imron’s ‘Bulan Tertusuk [I]lalang’ sampai nama komunitas yang penyairnya banyak dimuat di Kompas Minggu. Kemudian matamu itu sendiri, sesuatu yang klise juga di bahasa puisi Indonesia. Contoh, satu saja dari segudang yang ada di toko buku Jose Rizal di tim misalnya adalah judul kumpulan puisi Johannes Sugianto tahun lalu ‘Di Lengkung Alis Matamu’ (bahkan di sini matamu ini sama sekali tidak perlu, alis ada di mana lagi kalau bukan di mata? Ke mana aja editornya?). Kemudian pembandingan dua hal itu, ilalang dan matamu. Satu hal klise dibandingkan dengan satu hal klise lain. Two wrongs don’t make a right, they make a bigger wrong!

Kemudian beberapa kata di dalam puisinya sendiri (selama ini kita baru sampai di judulnya), ‘rinai’, ‘[ku]riap’, ‘[ber]kelindan’, dan ‘rekata’, yang, selain juga kedengaran terlalu berbau halaman puisi Kompas Minggu, saya juga tidak langsung mengerti artinya. ini mungkin tidak langsung jelek. Walaupun bau basi, kalau kata-kata itu memang punya alasan kuat ada di situ, benar-benar dipilih untuk mengatakan sesuatu (atau bunyi, ini hal lain lagi, sekarang kita bicara maknanya dulu) yang memang tidak bisa dikatakan oleh kata lain, bukan hanya karena ingin ‘puitis’, ya mungkin memang harus dipakai. Kerak nasi aja bisa enak. Tapi, ini adalah hal yang buat saya perlu dipikirkan juga. Make it new! Kata beribu-ribu penyair (sebuah klise juga), tapi namanya juga klise, ada benarnya. Punya masalah nggak kita menulis puisi yang bunyinya (paling tidak) sama saja dengan banyak puisi lainnya? Apa nggak lebih baik bikin sesuatu yg baru? Atau mungkin si penulis puisi ini justru memilih hal yang lebih radikal dan susah lagi, memakai kata-kata klise tadi tapi memakainya dengan maksud yang spesifik, spesifik untuk tujuan puisinya ini? Sehingga yg tadinya klise jadi tidak klise lagi?

Okelah kita lihat. Pertama rinai. Saya lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Atau ini salah. Sebenarnya sebelum saya ambil KBBI saya sudah membaca puisi ini beberapa kali. Entah kenapa mengingatkan saya pada puisi Frans Nadjira ‘Mimpi Dalam Demam’ (saya lampirkan di bawah).* Mungkin karena saya jadi membayangkan pegunungan dan padang rumput yang berangin. Ya, gambarnya cukup jelas saya rasa, walaupun memakai kata-kata yang klise seperti ilalang dan rumput dan bintang. Mata itu tidak berlama-lama menjadi mata, langsung lenyap mejadi ilalang dan mulailah fantasi narator puisi ini, sebuah fantasi yang cukup kuat. Dia menemukan dirinya di padang ilalang dengan ‘angin yang rinai’, rebah, atau ingin rebah di atasnya, kalau dia bisa rebah di situ dia akan me’riap’ rumput yg berkelindan di dada (sampai di sini sebenarnya agak membingungkan, ini dada siapa? Bukankah tadi dia ada di mata si penerima sajak ini? Tapi dada siapa sebenarnya akan jelas setelah kita tahu apa sebenarnya maksud si narator dengan ‘kuriap’ dan ‘berkelindan’ jadi ini nanti kita bahas pas membahas dua kata itu saja), kemudian telentang menatap ‘rekata’ (yg tadinya saya kira semacam compound rekat+kata, dan saya sempat miris membayangkan, oh no, not another poem ABOUT a poem! Kata-kata tentang kata-kata! Tapi tenang, saya salah kok), dan menanti hujan bintang. Lucu, saya membayangkannya seperti campuran stardust dan angin rumput savanna.

Menurut KBBI ‘hari rinai’ ternyata berarti ‘hari hujan rintik2’ tapi ‘rinai’ sebagai kata kerja (merinai) juga berarti ‘bersenandung, bernyanyi-nyanyi kecil’. Ini kejutan yang menyenangkan. Mungkin penulis sajak ini memang merasa harus memakai kata rinai ini karena dia memang membayangkan dua hal sekaligus, di padang ilalang yang mata pacarnya itu mungkin memang hujan sedang turun rintik-rintik dan lagi ada angin yang bernyanyi-nyanyi kecil. Lucu bukan? Yah, mungkin juga si penulis sajak ini tidak memakai KBBI dan mungkin juga dari dua arti rinai itu mungkin di kepalanya hanya ada satu (mungkin yang ‘bernyanyi-nyanyi kecil’ karena dia meletakkan rinai begitu dekat ke angin, tapi bisa juga kan itu angin besar yang mulai membawa gerimis, yang mungkin belum turun di situ tapi sudah deras di padang seberang sana?), tapi bagi saya walaupun misalnya penyairnya tidak sengaja—dan saya sih entah kenapa yakin penyair ini cukup sengaja, bahwa saya bisa, punya kemungkinan, membaca rinai itu seperti itu tetap menyenangkan. I don’t care if the author’s dead or alive, as long as his words are alive. dan ‘rinai’ ini, so alive!

Perhitungkan juga kemungkinan hubungan rinai yg hujan ini dengan ‘hujan bintang’ di baris terakhir. Saya tadi sudah cukup senang dengan gambar hujan bintang di padang ilalang, dan sekarang setelah tahu mungkin sebelum hujan bintang itu sudah ada hujan rintik-rintik di situ, gambar ini jadi lebih lucu dan kompleks lagi: apakah si narator ini ternyata agak tersiksa juga di padang itu dengan segala macam gerimis dan anginnya dan sedang menanti langit cerah dan bintang-bintang muncul lagi? Dan kalau kita ingat lagi padang ilalang ini sebenarnya adalah mata kekasihnya, apakah hujan berarti air mata? Apakah mereka habis berantem dan sekarang si penyair ini sedang membujuk pacarnya supaya baikan? Supaya matanya penuh bintang lagi (ingat, mata juga sering sekali dibandingkan atau diasosiasikan dengan bintang bahkan di buku diary anak SMP)? Jadi ternyata di puisi yang awalnya hanya kelihatan romantis dan menye ini sebenarnya juga tersembunyi kesedihan? Oke, oke sekali pilihan kata rinai ini ternyata.

Kemudian [ku]’riap’ dan [ber]’kelindan’. kbbi bilang ‘meriap’ = ‘tumbuh atau bertambah besar; bertambah banyak’, sementara ‘berkelindan’ (yang sekarang pasti akan anda dengar di seminar akademik di mana saja sebagai bagian dari ekspresi du jour ‘berjalin berkelindan’, padahal mungkin maksudnya cuma ‘ada hubungannya’) = ‘erat menjadi satu’, tapi ‘kelindan’ sendiri adalah kata benda arkaik yang berarti ‘benang yang baru dipintal’ atau ‘benang yang sudah dimasukkan ke dalam lubang jarum.’ Yay! So many possibilities! Bayangkan, berarti ‘dada’ ini kelihatannya adalah dada si penyair, dia rebah (di punggungnya) di padang ilalang itu, dan melihat di dadanya ada rumput yg tumbuh (dan berarti dia telanjang dada bukan, di tengah angin dan hujan rintik2 itu, nggak dingin? Mungkin semarah itukah pacarnya padanya sehingga dia (harus) merasa begitu tersiksa? Atau dia memang drama queen dan lagi cari simpati?).

Mungkin jelas di sini rumput adalah metafor untuk cinta, cinta si penyair pada si pemilik mata/ilalang, yang tumbuh langsung dari dadanya, yang ingin ia ‘riap’ supaya ‘bertambah besar dan banyak’. Yang lebih menarik lagi bagi saya adalah bahwa rumput itu sudah berkelindan di dadanya. Bukan hanya cintanya yg ada di situ tapi juga cinta pacarnya, mereka sudah ‘erat menjadi satu.’ Buat saya di sini pun sudah jelas ada metafor seksual di sini, yang dibuat jadi semakin kuat dan spesifik dengan arti arkaik ‘kelindan’ tadi. mungkin cinta mereka adalah cinta yg baru, seperti ‘benang yg baru dipintal’, walaupun begitu benang itu ‘sudah dimasukkan ke dalam lubang jarum’. Obvious sexual metaphor!

Dan menjadi semakin misterius dan menggelitik lagi kalau kita ingat pepatah ‘seperti menegakkan benang basah’. Apakah ini masalahnya kenapa mereka berantem??? Karena benangnya (entah benang/penis siapa karena tidak ada petunjuk jelas siapa yang cowok dan siapa yang cewek, atau apakah cowok dan cewek atau cowok dan cowok atau cewek dan cewek—walaupun saya punya perasaan entah kenapa penulis sajak ini cowok) tidak pernah bisa tegak? (tentu saja benang bisa diinterpretasikan sebagai cinta itu sendiri, cinta mereka seperti rumput yg seperti benang yg tidak pernah bisa tegak (karena basah terus karena hujan rintik-rintik tadi yang adalah air matanya ‘matamu’).

Tapi sekali lagi, bahwa sajak ini, karena pilihan kata ‘kelindan’ itu, mengijinkan ada interpretasi yg seksual tadi (dan benang yg masuk ke lubang jarum tadi juga mengingatkan saya bahwa banyak barang-barang tajam (caution: menyakitkan!) di puisi ini: ilalang, rumput, gerimis dan hujan yg seperti jarum. bukan berarti seks yg dilakukan si penyair dan pacarnya pasti sado-masochist, tapi menebar barang-barang tajam di puisi ini bisa saya rasakan waktu membacanya, membuat saya jadi merasa seperti takut ketusuk, dan dalam puisi yg bisa dirasakan pembaca kadang-kadang bisa lebih penting daripada yg bisa dimengertinya) selain interpretasi standar yg hanya melibatkan cinta suci non-karnal, itu sangat mengasyikkan buat saya, pembacanya.

Kalau saya bilang kemungkinan itu lebih mengasyikkan daripada jawaban yg pasti (mana interpretasi yang benar?), yang tidak disediakan oleh puisi ini, itu akan jadi sebuah klise sendiri, mungkin lebih baik digambarkan begini: karena puisi ini hanya memberi kemungkinan, seperti memberi rumus, sebenarnya kita bebas mempermainkan rumus itu sampai sejauh mana, tapi kita tetap punya puisi itu (ie, pertanyaan yg harus kita pecahkan dengan rumus itu (atau sebenarnya malah masih ada lagi rumus lain yg juga bisa dipakai!)), dan ketegangan antara keinginan kita untuk bermain-main dengan kemungkinan-kemungkinan tadi dan semacam rasa wajib atau berhutang (karena kita sudah diberi sesuatu yang begitu asyik) untuk mengerti puisi itu seperti yg ditulis oleh penulisnya, itulah yg mengasyikkan.

Dan tenang, ‘rekata’ ternyata bukan = rekat + kata. rekata adalah kata arkaik lagi (yg membuat semakin mungkin penyair ini memang memilih kata-kata-nya dengan sengaja dan hati-hati, atau dia anak indie yg bukan hanya pakaiannya saja yang vintage!) yang artinya ‘kala (bintang atau rasi)’. Sekarang dia telentang menatap scorpio (walaupun ingat, semua ini adalah harapan si narator, dia ‘ingin’, ‘kan’, tapi mungkin juga keinginannya, fantasinya, begitu kuat sehingga dia sudah tidak bisa membedakannya dengan kenyataan (sounds like he’s in denial)), langit mulai cerah, dia menyilang tangan di belakang kepala dan dalam sesuatu yang terasa seperti sebuah ketabahan yang mengasyikkan menunggu bintang-bintang yang membentuk konstelasi itu menghujani(dada?)nya dan menggambar tato berbentuk kalajengking di situ.

Semua ini adalah usaha untuk memahami puisi ini, yang menyediakan cukup banyak teka-teki sehingga usaha ini jadi cukup asyik dan mengasyikkan (apa bedanya?) tapi kalau misalnya saya dipaksa untuk bilang apakah saya suka atau tidak suka pada puisi ini saya masih ragu-ragu juga. Seperti semoga sudah jelas, maksud, arti, puisi ini cukup menarik dan dikatakan dengan cukup jernih, tapi tentu puisi bukan cuma masalah maksud dan arti.

Puisi juga soal bunyi (antara banyak lagi yang lain), dan sebenarnya bunyi puisi ini juga enak, tidak ada yang janggal. Memenggalnya jadi dua paragraf yg pertama menggambarkan aksi si narator dan yang kedua yang lebih singkat menggambarkan maksud aksi di atas juga logis, selalu ada caesura di antara aksi dan maksud bukan? Puisi ini jadi semacam sonnet mini. selain itu, ironi yang diciptakan antara nadanya yang rapi dan merdu seperti lullaby kepada diri sendiri, dan kegelisahan dan kecemasan yang disembunyikannya, membuat kegelisahan dan kecemasan itu makin menusuk. (Pertimbangkan juga kemungkinan satu ironi lagi, bahwa kalau lagu singkat ini adalah sebuah lullaby, ia lullaby yang ingin mengantarkan si narator bukan untuk tidur tapi untuk terjaga, supaya bisa ‘telentang menatap rekata’, sampai kapan?, mungkin dia harus insomnia selamanya!)

Tapi juga dalam hal bunyi inilah puisi ini punya masalah. Seperti sudah saya bilang di awal, saya sudah bosan dengan kata-kata ilalang, matamu, rumput, bintang, hujan, matamu lagi (sampai 3x termasuk judul), ilalang lagi (3x juga). Seperti sudah saya jelaskan juga, ternyata pilihan kata-kata dalam puisi ini memang ada alasannya, dan kuat, jadi mungkin memang puisi ini harus berbunyi seperti sekarang. Tapi saya juga jadi berandai-andai, karena fantasi penyair ini sebenarnya cukup kuat, mata itu benar-benar jadi seperti ilalang, apa jadinya kalau dia mencoba bakat berfantasinya itu pada skenario lain, pada sebuah puisi berjudul ‘di cuping hidungmu yang london’ misalnya? Jangan anggap ini sebagai sebuah saran ‘seharusnya’, anggaplah sekedar pertanyaan saya saja, sebuah kemungkinan, karena saya ingin tahu.

‘Benar-benar jadi SEPERTI ilalang.’ Kenapa saya bilang SEPERTI, bukan ‘jadi ilalang’ langsung saja? Karena kelihatannya itu yg dibilang penyairnya. sepanjang puisi ini, sejak judul, mata ini adalah mata yang (seperti) ilalang. Paling tidak, dua hal ini adalah hal yang setara dan ada pada waktu yang bersamaan, matamu adalah ilalang dan ilalang adalah matamu, tapi dua hal itu tetap dua hal yg berbeda. Sebuah perumpamaan, simile if you will. Membandingkan dua hal yg tak sama. melupakan sejenak bahwa mata dan ilalang adalah dua hal yg klise, dan perbandingan di antaranya pun juga, mata dan ilalang adalah dua hal yg cukup (tidak lagi sangat karena cukup sering dibandingkan!) berbeda, dan karena itu banyak hal yg menarik akan muncul (dan sudah) dari pembandingan itu. Tapi sekarang coba bandingkan (ha!) apa yg terjadi dengan ‘matamu’ di puisi ini dengan apa yg terjadi dengan ‘mata’ di puisi Saut Situmorang di bawah ini:

mata mawar

sepasang mawar merah mekar di matamu
membakar malam yang sunyi di hatiku

sepasang mawar merah mekar di matamu
malam yang sunyi jadi panas di hatiku

sepasang matamu jadi danau tak berombak
menyimpan duri tajam yang tak nampak

malam yang sunyi di hatiku
malam yang panas di hatiku
berdarah tergores duri matamu

sepasang mawar merah mekar di mataMu
durinya jadi bulan mati di hatiku

(Saut Situmorang, Saut Kecil Bicara Dengan Tuhan, Bentang Budaya, 2003, hlm. 7)

Di sini, mawar MEKAR di matamu, matamu JADI danau tak berombak, dan karena di mata itu sekarang tumbuh mawar (yang belum sempat dipotongi duri-duri-nya, dan duri-duri ini, ingat, ‘tak nampak’ karena disembunyikan oleh ‘danau tak berombak’ yg TADINYA ‘sepasang matamu’ tadi), malam di hati si penyair ‘berdarah tergores duri matamu’. Blablabla. Poin saya adalah, di sini mata dan sepasang mawar dan danau tak berombak (no prize for guessing what this looks like/mean/is a metaphor of!) dan duri-duri itu, berhenti menjadi dua, tiga, empat hal yang berbeda dan MENJADI satu. seperti bisa dilihat sekarang di judulnya ‘mata mawar’. Bukan (lagi) mata yang mawar atau mata seperti mawar.

‘Matamu’ sekarang tak ada lagi, yang ada hanya ‘mata mawar’ ini. Tidak ada perumpamaan, yang ada adalah metamorfosis dari sebuah mata menjadi mata mawar. Kenapa saya pikir ini lebih kuat (kalau belum jelas memang ini yg saya pikirkan) daripada hanya membandingkan mata dengan setangkai mawar? Banyak hal sebenarnya, misalnya waktu jadi bergerak. Saya jadi bisa merasakan mawar mekar di mata itu, seperti dalam fast-motion nature documentary di discovery channel, dari tidak ada menjadi ada. Kemudian danau muncul di sana, dan di bawah permukaannya tumbuh duri-duri. Semua ini seperti bergerak, dalam waktu. Dan waktu tidak bisa di-rewind. Di akhir puisi ini, waktu si penyair bilang duri mata mawar itu jadi bulan mati di hatiku, suasana jadi begitu menekan, karena mungkin selamanya akan begitu terus, kalau tidak malah jadi tambah buruk.

Dan ini: karena sebuah mawar merah benar-benar telah mekar di mata itu, durinya juga jadi terasa telah benar-benar jadi bulan mati (pastinya bulan sabit karena duri bentuknya lebih mirip itu daripada bulan purnama, jadi semakin menusuk bok!) yang sekarang benar-benar menusuk-nusuk hatinya. Sementara di ‘di matamu yang ilalang’, fantasi kuat tentang padang ilalang yang gerimis, angin yang menyanyi, rumput yang tumbuh di dada yang telentang menanti hujan bintang itu, seperti berakhir dengan sebuah anti-klimaks: ‘di matamu yang ilalang.’ Oh, ini tadi bukan benar-benar padang ilalang toh, hanya matamu.

Tentu sebenarnya si penyair ini telah benar-benar melihat padang ilalang itu di mata siapapun-mu itu. Sebenarnya semuanya ini bukanlah fantasinya, melainkan kenyataannya. Kenapa malu mengakuinya?

*mimpi dalam demam
Frans Nadjira

Seorang perempuan
berbaju hitam
menebar jala
di atas rerumputan

Lalu turun gerimis
Dari atas bukit-bukit
serombongan anak-anak
bernyanyi

Kami telah menadah angin
mengumpulkannya dalam keranjang
Kami telah memetik matahari
memasukkannya dalam keranjang
bercampur bunga-bunga.

(Frans Nadjira, Singgalang, tahun 19 nomor 3553, Senin 22 Desember 1986, hlm. 6 kolom 1.)

* pernah dimuat di kemudian.com

Blogged with the Flock Browser
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s