senisembunyi

saya menulis ini karena membaca ini. dia seorang teman, sudah lama tidak bertemu, mungkin sekarang, jam 4 sabtu pagi, dia lagi mandi limonchillo di ku de ta sementara saya sudah kembali disko di rumah memikirkan tentang tulisannya itu dan berpikir lebih baik menuliskan saja apa yang saya pikirkan. memang masalahnya apa yang dia tulis begitu saya baca saya jadi sadar kelihatannya sudah sering sekali jadi bahan pembicaraan saya, biasanya monolog, dengan teman-teman yang masih tahan mendengarkan (sebenarnya tidak). tapi saya tidak pernah menganggapnya menarik untuk ditulis, mungkin karena teman-teman yang masih tahan mendengarkan itu jumlahnya semakin lama semakin sedikit, bagaimana kalau saya tulis, bisa-bisa etc.

tulisan teman saya itu, walaupun bukan berarti isinya seperti ini atau bermaksud melakukan ini, mengingatkan saya akan buku-buku yang sudah saya baca selama ini, musik yang sudah saya dengarkan, film yang sudah saya tonton, konser, teater, balet, tari, gamelan, wayangan, pameran video art, musée du louvre, rodin, picasso, palais de tokyo, centre pompidou, MoMa, (teruskan sampai saya jadi terdengar seperti orang tergaya di dunia) yang sudah saya kunjungi.

atau mungkin semuanya yang TIDAK saya lihat di situ.

bukannya saya anti dengan seni besar, yang megah dan mainstream dan banyak peminatnya, saya pernah nonton konser prince dan itu kurang mainstream apa lagi, dan kalau saya pikir-pikir itu mungkin konser yang paling membahagiakan saya. atau paling membuat saya senang seperti dunia hanya dansa-dansi sepanjang malam. waktu nonton konser flaming lips itu juga hebat, tapi walaupun kami semua ikut berteriak menyanyi bohemian rhapsody dengan boneka kelinci, beruang, dan sapi, hati rasanya sepi sekali dan pengennya nangis saja. besoknya saya merasa sehat sudah menonton sesuatu yang begitu ‘dalam’ tapi dunia rasanya lebih hitam. sementara waktu itu prince duduk di grand piano emasnya dan mulai menyanyikan ‘a case of you’ joni mitchell tapi dimulai dari verse kedua ‘i am a lonely painter / i live in a box of paints’ rasanya seperti di puisi taufik ismail ‘trém berkelenéngan di san francisco’ yang ada kotak cat yang meledak di udara. langit jadi seperti lolipop rasa nggak jelas tapi asoi.

tapi misalnya beberapa minggu yang lalu saya begadang di loteng teman dan jam empat pagi di tengah-tengah sesuatu saya sudah lupa dia menyanyikan ‘sempurna’ versi gita gutawa. dalam versi cina. dan dia tidak bisa bahasa cina. pokoknya ‘sempurna’ menjadi ‘singsunglai’. dan dia menyanyikannya dengan muka lempeng dari awal sampai akhir, verse, chorus, middle-eight break, lengkap dengan falsetto, dan saya berpikir, ini jenius! saya mungkin tidak pernah tertawa lebih keras sekaligus juga merinding mendengar melodi lagu itu yang seperti yang selalu saya irikan dari penyanyi atau musisi bisa saja mengguncang hati tanpa tahu kenapa bagaimana.

atau kemudian seminggu kemudian saya berada di kedai remang-remang di jogja bersama beberapa teman merayakan diri kami sendiri dan salah satu dari kami yang tidak biasanya bersama kami, seorang penyair yang menurut saya besar tapi harus menerbitkan kumpulan bukunya sendiri karena banyak orang tidak suka mulutnya yang berapi-api, dia membacakan satu puisinya di buku itu judulnya ‘kinda blue’. kinda! gila lu! rasanya ingin memeluknya saja kok bisa orang merasakan dan tahan merasakan kesendirian yang seperti itu.

tapi dua kesempatan itu, yang menurut saya menghasilkan seni, sesuatu yang membuat hati melambung dan hidup sejenak berarti, hanya disaksikan segelintir orang saja. dan dalam konteks kesenian indonesia saja misalnya, oke, ‘kinda blue’ tadi, walau dalam bahasa inggris, saya yakin orang-orang akhirnya akan mengakui bahwa itu sebuah puisi hebat, meski bukunya mungkin hanya akan tergantung di tali rafia etalase kios buku di shopping jogja dengan sudut melekuk tanda banyak orang yang baca-baca tapi tak pernah mau beli. sementara, ‘singsunglai’? selain dalam legenda yang disebarkan di antara teman-teman sendiri, ia akan hilang saja tanpa jejak.

mungkin saya sebal karena di minggu saya ke jogja itu saya juga pergi ke launching seorang penyair BERNAMA besar di goethe haus yang dihadiri begitu banyak sastrawan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s