Truth claim

i haven’t updated thetruthaboutjakarta for many reasons. most of them i don’t want to discuss with you. safe to say i’ve been away from life as i know it. i’m on an overgrown path edged with brambles, going nowhere. i don’t mind. i’ve been taking siestas in empty pasanggrahans, unkempt, deserted by travelers even. no one likes hanging out anymore. just sitting in kroessi males all afternoon. no one sees the point in writing letters in english anymore. make the gestures of writing with your hands, and no one would understand. i’ve been reading many books in my dreams. more and more wiliams, p.a. daum, e. breton de nijs, albert alberts, anything indische belletrice. i think the spelling is wrong but i’ll let subagjo have it this time. i don’t have time to talk to you anymore. i have my suspicions. no, i never suspected you, but i should never have trusted anyone, least of all myself. we have lost our rohani, and i’m trying to replace it with tales of things, with a tokai cigarette lighter as their serial protagonist. i long for a late afternoon with a baskin&robbins mixed flavors sky, but everywhere around me is night. goodbye.

you’re harsh on me for a reason i know. your own reasons. i’ve got nothing to do with whatever person you’ve decided to be. perhaps you decided it one night in lhokseumawe, while waiting for someone to crush your panadol extras for you in your teaspoon. and you didn’t have water, only cold oversweet tea. get on with it. get on with life. as you would’ve said to me, i bet you would’ve said those words to me. you have. if i told you, that i too had decided on the person, the ideal man, i wanted to be three years ago and now i find myself staring at the same ceiling i was staring at three years ago to the second, would you believe me? i have not moved an inch. time to rearrange the furnitures in my room. no one has been rocking in the rocking chair for many years, perhaps it’s time to put rocking to pasture. would you believe it.

i’m trying to make you into my new muse. but you’re whipping me into shapes i hate. the shadow painting of a rasta’s head, a fender strat, thick ankles. you’re not letting me be who i am o muse nouvelle!, i hate you. i hate you but i love you, because your hate is new. your disgust at my reluctance to stand under the cold mountain water pouring out of the bamboo pipe, your short, curt answers to my self-imposed problems of amour, your secretly texting your friends to pick you up so you can get away from the possibility of spending the night with me. you’re cleverer than all my old muses, that’s what i like about you. in this country, i’d kill for clever. now the struggle, which, of course you would suggest, doesn’t really have to be one, is to find a way to feel the heat of your skin against mine. period.

 

Puisi terpanjang dalam sejarah peradaban Hindu-Buddha bangsa ini

Seperti pernah saya janjikan waktu acara Bengkel Kata ‘Tuhkan Ada Hal-hal Yang Belum Selesai!’ BungaMatahari kemarin, yang live-blogging-nya (thanks to Yoshi‘s industrious insanity) bisa dinikmati di sini, inilah saatnya mencontek ide Benrik (sebenarnya saatnya seharusnya sudah beberapa saat yang lalu tapi saya memang suka melupakan saat-saat yang seharusnya penting dalam hidup saya) untuk memulai proyek ‘Puisi Terpanjang Dalam Sejarah Peradaban Hindu-Buddha Bangsa Ini’. Caranya gampang, karena kan contekan, saya akan menulis baris pertama di posting ini, sebentar lagi, sabar, kemudian kalian, siapapun, silakan meneruskan di reply-reply kalian sampai selamanya. Syaratnya saya pikir cuma perlu satu, setiap reply hanya boleh satu baris saja, kalau mau dua baris bikin saja reply baru (tapi ingat, satu baris kan bisa panjang banget ! Jadi penderita logorrhea di antara kalian, tak usah khawatirlah !). Bahasa boleh apa saja, yang belum bisa Klingon belajarlah dari Google Klingon. Dan ingat, di reply thread multiply ini sekarang orang bisa bikin audio dan video reply, pergunakanlah ! Katanya cyborgs !

Ok, here we go, the first line in what let’s make it happen, people !

« JEMARIKU LABALABA MERAYAP MENCARI SUDUT MEMINTAL JARING » *

* baris pertama ini dari Olivia Kristina Sinaga

Their City Jakarta*

*aeons ago i joined the Asia Blogging Network when they promised me free space on their ‘My City Blogging Channel’ to write whatever i wanted about jakarta. whatever ! my city ! ha ! the followings are writings i did for them that they subsequently unilaterally without any prior or after the fact notification took off the blog and labeled ‘private’, true stories about this city that you proles can never ever read. until now :

 

Private: no time 4 verse
Oleh mikael_johani January 14th, 2008 pukul 12:14 pm

manymoonsagoafterpitchersofheinekenandplatesoftacosatchilisstadium! cheapesexorbitantnomineralwaterthreehourslater: therooftopof mangga besar!

a tiny room with a 10-inch polytron, prayermatscoveredinimentoswrappers, t h   e n     e       on G L   O R    Y rimbaud had not the chance to see.*

*arthur rimbaud visited batavia in early august-early december 1876 as an enlister in the dutch colonial army.


Private: radit hearts jani not
Oleh mikael_johani January 14th, 2008 pukul 12:06 pm

in the year 2058 people will ask:

whatever happened to janis leopard print boots?

how could anyone decipher vino gs glottal shouts?

the green velvet seats in the second hand japanese buses look pretty though

and the early morning sunshine on faharanis face as she thought of

future ice cream dates at dilapidated cikini bodega hang outs

—free wi fi

makes you think

this city is all sweetness and lite

when theres no desire left in you

to stand up and fight.

 

Private: bermain layang layang di taman kompleks penuh kambing kambing kecil mencari makan di hari pertama 2008
Oleh mikael_johani January 14th, 2008 pukul 11:54 am

benang gelas diulurkan

damai dikuburkan

– the rest of the writings i did for them, that they deemed public enough !, fuckin police state !, you can still enjoy here, aren’t i nice still linking them, handing them more traffic they don’t deserve and when they’ve for all intents and purposes put the brakes on me !

ripped jeans and flannelled fools


Sunday cricket has never been as good as


the Sunday you came back from London.

we sat on cool grass in the shade

you said : like the Spartans at the Hot Gates.

i said : youd be the hottest chick at Thermopylae !

sunday brunch : bacon & egg roll from a gourmet Jewish deli.

you said : i like how theyve forgotten what kosher means

is it Hebrew ?

the picket fences painted pink.

a Chinaman bowling tailenders out on a dustbowl.

7 fer 92.

im trying to paint a picture of happiness 

before the cloud comes in.

they came in.

in fast rolling cartwheels. 

smelt like yr hair in the morning.

i am remembering all this in a great mall

where its always a perfect 21° under a thousand neon suns.

you are gone.

like the last wicket

middle stump out of the ground.



Pembacaan terlalu dekat


PERENANG BUTA

oleh Nirwan Dewanto (ie, God #2)

Sepuluh atau seribu depa
ke depan sana, terang semata.
Dan arus yang membimbingnya
seperti sobekan pada jubah
tanjung yang dicurinya.
Tak beda ubur-ubur atau dara
mendekat ke punggungnya
yang tumbuh sekaligus memar
oleh kuas gerimis akhir Mei.
Ia seperti hendak kembali
ke arah teluk, di mana putih layar
pastilah iri pada bola matanya.
Tapi ia hanya berhenti, berhenti
di tengah, di mana rambutnya
bubar seperti ganggang biru
atau gelap seperti akar benalu
sehingga betapa mercusuar itu
ragu-ragu memandangnya.

(2007)

dari Nirwan Dewanto, Jantung Lebah Ratu, Gramedia Pustaka Utama, 2008, hlm. 3.

PERENANG BUTA TULI
oleh Pembaca Separuh Buta Separuh Cumi-cumi 

seseorang berkaca mata hitam cutler and gross berdiri ragu-ragu di tepi pantai. memandang ke arah cakrawala sana. kulitnya coklat, agak bersisik. tanda dia sering berjemur di tepi pantai, dan suka malas memakai tabir surya. spf 15+ minimum, kata iklan slip slop slap dari departemen kesehatan. tapi dia mungkin tidak pernah melihatnya. dia hanya mengenakan speedo budgie. warna coklat juga. ketat betul seperti dia tidak peduli biji2 peler delimanya akan lenyap terdorong sampai ke lambung. pahanya gempal, tak begitu tinggi, tipikal orang jawa. tapi rambutnya panjang dan dibiarkan tergerai, agak2 pirang karena keliatannya jarang dikeramas dan sering dibiarkan kering saja setelah berenang di laut. kalau kamera didekatkan, keliatan butir2 garam di antara rambut2 yang bau matahari. jangan terlalu dekat. (kamera kok bisa membaui?) kalau kamera menjauh, ia kelihatan seperti orc, tapi agak kerdil. mungkin sauroman tak sabar menariknya dari kauldron pembibitannya. terjunlah ia ke laut, berenang ke arah cakrawala. hari sudah sore, orang2 berpikir, mungkin ia tergoda oleh langit merah muda di kejauhan sana. kaca mata hitam tetap dipakainya. entah bagaimana tidak lepas kena ombak. gaya renangnya aneh, tangan gaya dada, kaki gaya bebas. tipikal gaya otodidak anak2 jawa yang belajar renang di kali. kecepatannya lambat, walau arus laut sore menolongnya menjauhi pantai. mungkin sepuluh depa per menit. tapi ia tidak kelihatan tergesa-gesa. sampai di mulut tanjung  bondi itu, ia menubruk sesuatu di laut. dikiranya ganggang, tapi ternyata jubah pesulap! macam yang dikenakan eddie izzard di klip for the benefit of mr. kite, there will be a show tonite! di across the universe. on trampoline! hitam dengan bordiran berbentuk bulan sabit, purnama dan bintang beraneka ukuran tapi semuanya berwarna emas. ia berhenti berenang sebentar, doggie paddle dengan ahlinya, dan dikenakannya jubah itu. tak lupa topi runcingnya yang menempel di jubah itu seperti hoodie. dan ia berenang lagi. putri duyung dan ubur2 yg banyak tinggal di ujung tanjung itu terpesona. siapakah penyihir jawa berkaca mata bertopi runcing berambut panjang tergerai seperti ganggang yang berenang tenang ke arah matahari terbenam ini? mereka berenang mendekatinya, mengerubunginya seperti groupies. beberapa ubur2 itu ada yg menempel di punggungnya yang sekarang tidak lagi telanjang. dari kejauhan, tapi tak terlalu jauh, ia kelihatan seperti punya punuk transparan. putri duyung itu mulai bernyanyi, menggodanya, mula2 lagu d’masiv yg sedang hit gila itu, ‘kau hancurkan aku dengan sikapmuuu, lelah hati ini meyakinkanmuuu, cinta iniiiii … (teruskan sendiri).’ tapi si penyihir jawa berkaca mata bertopi runcing berambut panjang tergerai seperti ganggang yang berenang tenang ke arah matahari terbenam tidak meneruskan korus itu. ia seperti tidak mendengar apa2. tidak melihat apa2. tidak merasa apa2. apakah telinganya disumpal brokoli? kelihatannya tidak. ia acuh tak acuh memang tak acuh. putri2 duyung tak meneruskan nyanyian. menanggalkan beha batok kelapa mereka hanya. menggoyang2kan susu mereka merah muda di depan muka si penyihir jawa berkaca mata bertopi runcing berambut panjang tergerai seperti ganggang yang berenang tenang ke arah matahari terbenam hanya. tak ada guna hanya. sekarang awal juni, dan seperti di akhir mei, gerimis turun seperti selimut sutra dari langit yang tak begitu berawan2 amat. kali ini, si penyihir jawa berkaca mata bertopi runcing berambut panjang tergerai seperti ganggang yang berenang tenang ke arah matahari terbenam merasakannya. gerimis itu. padahal tubuhnya sudah terbungkus jubah yg tebal panjang sampai ke tungkai dan dilengkapi hoodie topi runcing itu. mungkin ia hanya ingin berhenti saja. karena ia berhenti. doggie paddle lagi. sekarang ia bisa merasakan gerimis itu jatuh ke mukanya. tawar, di bibirnya yg asin. setelah beberapa lama menengadah ke langit, gerimis membuat bunyi cetak cetok di lensa kacamata cutler and gross yang tahun lalu dibelinya di london, di soho, ia mulai berenang lagi. tapi ia berubah arah! ke arah teluk di sebelah kanan agak mundur, menjauhi matahari! atau anda lebih suka matari? make up yr mind, quick! ya, ia berenang menjauhi matari (im being kind, i know), ke arah teluk yang airnya telah lenyap tertutup beribu2 kapal pesiar pinisi. layar putih mereka tetap terbentang walau mereka diam saja. mungkin macet. traffic is bad in this bay. where is the face that launched these thousand cruise-ships? si penyihir jawa berkaca mata bertopi runcing berambut panjang tergerai seperti ganggang yang berenang tenang ke arah matahari terbenam berenang terus ke arah pinisi2 itu, walau kelihatannya ia juga tidak sadar mereka ada di sana. semacam insting saja yg menuntunnya ke sana. insting seperti bunyi gong. hanya ia bisa merasakan, air laut semakin hangat, beberapa tetes yg masuk ke tenggorokannya mulai terasa aneh, seperti wine, seperti indomie rasa kari ayam, seperti taik. ia harus berhenti. ia berhenti. dari teluk, ia kelihatan seperti berhenti di cakrawala. kali ini ia tak susah2 ber-doggie paddle lagi. ia copot hoodie topi runcingnya, jubah yg berat itu sekalian—seekor kelinci mati lepas dari kantongnya—bahkan kacamatanya. ia lemparkan saja kacamata cutler and gross berharga 300 squid itu ke angkasa yg kelam. sinar mercu suar mulai berkeliling di sekitarnya, walau ia tidak bisa melihatnya. ia juga tidak bisa melihat, mata gelasnya yg putih bagai susu perempuan berambut merah, lebih putih dari layar pinisi yg kotor ternoda taik camar, lebih putih dari jantung lebah ratu. mata gelas putih susu itu menatap nanar ke arah pinisi2 yg angkuh, turun pelan-pelan, ia mulai tenggelam. ia tidak melawan. dengan khidmat ditutupnya mata gelasnya putih susu waktu mulai terbenam di air laut yg bacin bau taik. rambutnya yg panjang tergerai bubar di permukaan laut seperti ganggang, atau akar benalu, atau, di mata penjaga mercu suar di pucuk tanjung di belakangnya, seperti tentakel-tentakel raksasa monster air yang sudah 74 tahun terakhir ini dicari-carinya. hanya.

perenang wuto
oleh rancari 

seperti akan kembali menuju teluk
ia diam dengan rambut menyerabut legam.
entah berapa kayuh lagi, mercusuar benderang menatap mangu.
dan hanyalah segumpal memar di punggung dari mainan ubur-ubur atau dara yang mendekat dengan arus memeluk rapat bersaing ketat dengan jubah tanjung yang dicurinya.
dan pemilik mata seputih layar itu terhenti
dengan saksi
gerimis akhir mei.

kau dan aku selalu / baks duls selamanya*

dulu semua tergantung pada

jari-jari yang tenang melin-

ting papier yang katamu

lucu seperti kulit kentang dan



angin yang bersahabat

pada tembakau yang ruwet

seperti pubic hair pacarmu

yang bulan depan datang dari



brighton, kota pelesiran, 3
hours on the tube. itu kalau

ingatanku tak salah, katamu

sambil mengecap bibir yang



tak sabar. tentang brighton,

jauhnya dari london, atau

jadwal kedatangannya? tan-

ya udara di puncak gedung



femina. di sini, saat ini, jang-

an tanya apa-apa lagi. aku tahu,

kita hanya berdiri di pinggir

kuningan, tapi rasanya seperti



on top of the world! aku ulur-

kan tanganku, kubelai se-

mangka yang mulai berair di

matamu,** karena aku setuju


yang kurang sekarang hanya pa-

rasol yang tak akan menyembunyi-

kan melankoli buah-buahan di kafe-

teria tempat kita nanti makan siang.





*pernah pula di-post di rubrik Event blog ini dan dibacakan di acara Poetry Attack Prambors Rasisoniananana
**semangka berair ini dicuri dari Afrizal Malna, ‘Menanam Karen di
Tengah Hujan’, dalam Seperti Sebuah Novel Yang Malas Mengisahkan
 Manusia, IndonesiaTera, 2003, hlm. 46.

Ithaka di Kepalanya

jadi mungkin odysseus akan lebih menikmati perjalanannya

kalau dia tidak terlalu terburu-buru harus segera sampai ithaka,

are we there
yet are we
there yet
are we
there
yet!
 
no, polutlas odysseus, nikmati saja pemandangannya, nak.

tuh, globe trekker masih memerlukan satu host lagi,

banyak penonton ingin tahu di mana membeli kacamata hitam polyphemos yang berlensa satu.

anggap saja laistrygones itu semacam shrek yang didubbing oleh kumbakarna,

memang mengerikan tampangnya, tapi kata orang hati mereka terbuat dari kapas.

fierce poseidon? yah, dia pasti marah anaknya kau bikin buta, jadi minta maaf saja, bilang

2897 tahun lagi namanya akan diabadikan dalam sebuah film hollywood

tentang kapal yang karam sebelum waktunya.

see if he doesn’t cry like the little baby he is.

lagian, achilles dapat bantuan zeus terus-menerus, kenapa kau tidak,

toh dia hanya adiknya, dijewer juga pasti leleh trisulanya.

cyclops? yayaya. bilang kau yang bikin buta pemimpinnya,

apa kalian mau telinga kalian kubikin jadi satu semua juga?

hahaha. jangan terlalu banyak tertawa.

mampirlah sekalian ke fiji, seram, sri lanka (raksasa di sana bisa terbang, namanya rahwana),
 
jangan lupa mampir ke patpong, sucky sucky long time,

tapi jangan lama-lama, nanti kau ketinggalan pesawat

ke angkor wat.

nongkronglah sejenak di pinggir toba,

bagi cerita tentang hampir saja dikorbankan untuk dewa-dewa

dengan kerah putih ingwer ludwig dan raja-raja megalitik.

naik bus trans-sumatra sampai terminal rawamangun,

panjat helipad sahid,

di situ bakslah dengan selints cims dan anker kaleng,

undang saut, dia suka yang beginian, juga nono anwar,

tanya, kenapa dulu dia memutuskan tidak menyastra saja,

bilang kau masih menyimpan eseinya tentang cavafy

di budaja djaja oktober 1972,

sebelum dia pergi untuk ber-LLBitch dan lalala.

tanya, kalau begitu, apakah seluruh hidupnya jadi seperti menunggu ithaka datang kepadanya?

miringkan kupingmu untuk mendengar poluphloisboio yang muncrat dari mulutnya. pulang?

buat apa? put the fun back in your nostoi.

ithaka?

jez leave it to the suitors, la.

EXIT NEMO

ajalkah itu kusapa di figurentheater ?

ophelia bergaun kafan
gertrude sembab
dan h. menusuk pisau lipat
ke perut malam

HIDUPLAH !

sepotong tulang kering
tiga tengkorak
dan otot berupa tambang

jatuh dari panggung hitam

melayang di Yamuna
di samping keledai Tom Waits
dan sepotong plang :

FIRE EXIT
Keep Clear

cahaya terang-benderang
di antara tangan

penonton bertepuk kencang.