Pembacaan terlalu dekat


PERENANG BUTA

oleh Nirwan Dewanto (ie, God #2)

Sepuluh atau seribu depa
ke depan sana, terang semata.
Dan arus yang membimbingnya
seperti sobekan pada jubah
tanjung yang dicurinya.
Tak beda ubur-ubur atau dara
mendekat ke punggungnya
yang tumbuh sekaligus memar
oleh kuas gerimis akhir Mei.
Ia seperti hendak kembali
ke arah teluk, di mana putih layar
pastilah iri pada bola matanya.
Tapi ia hanya berhenti, berhenti
di tengah, di mana rambutnya
bubar seperti ganggang biru
atau gelap seperti akar benalu
sehingga betapa mercusuar itu
ragu-ragu memandangnya.

(2007)

dari Nirwan Dewanto, Jantung Lebah Ratu, Gramedia Pustaka Utama, 2008, hlm. 3.

PERENANG BUTA TULI
oleh Pembaca Separuh Buta Separuh Cumi-cumi 

seseorang berkaca mata hitam cutler and gross berdiri ragu-ragu di tepi pantai. memandang ke arah cakrawala sana. kulitnya coklat, agak bersisik. tanda dia sering berjemur di tepi pantai, dan suka malas memakai tabir surya. spf 15+ minimum, kata iklan slip slop slap dari departemen kesehatan. tapi dia mungkin tidak pernah melihatnya. dia hanya mengenakan speedo budgie. warna coklat juga. ketat betul seperti dia tidak peduli biji2 peler delimanya akan lenyap terdorong sampai ke lambung. pahanya gempal, tak begitu tinggi, tipikal orang jawa. tapi rambutnya panjang dan dibiarkan tergerai, agak2 pirang karena keliatannya jarang dikeramas dan sering dibiarkan kering saja setelah berenang di laut. kalau kamera didekatkan, keliatan butir2 garam di antara rambut2 yang bau matahari. jangan terlalu dekat. (kamera kok bisa membaui?) kalau kamera menjauh, ia kelihatan seperti orc, tapi agak kerdil. mungkin sauroman tak sabar menariknya dari kauldron pembibitannya. terjunlah ia ke laut, berenang ke arah cakrawala. hari sudah sore, orang2 berpikir, mungkin ia tergoda oleh langit merah muda di kejauhan sana. kaca mata hitam tetap dipakainya. entah bagaimana tidak lepas kena ombak. gaya renangnya aneh, tangan gaya dada, kaki gaya bebas. tipikal gaya otodidak anak2 jawa yang belajar renang di kali. kecepatannya lambat, walau arus laut sore menolongnya menjauhi pantai. mungkin sepuluh depa per menit. tapi ia tidak kelihatan tergesa-gesa. sampai di mulut tanjung  bondi itu, ia menubruk sesuatu di laut. dikiranya ganggang, tapi ternyata jubah pesulap! macam yang dikenakan eddie izzard di klip for the benefit of mr. kite, there will be a show tonite! di across the universe. on trampoline! hitam dengan bordiran berbentuk bulan sabit, purnama dan bintang beraneka ukuran tapi semuanya berwarna emas. ia berhenti berenang sebentar, doggie paddle dengan ahlinya, dan dikenakannya jubah itu. tak lupa topi runcingnya yang menempel di jubah itu seperti hoodie. dan ia berenang lagi. putri duyung dan ubur2 yg banyak tinggal di ujung tanjung itu terpesona. siapakah penyihir jawa berkaca mata bertopi runcing berambut panjang tergerai seperti ganggang yang berenang tenang ke arah matahari terbenam ini? mereka berenang mendekatinya, mengerubunginya seperti groupies. beberapa ubur2 itu ada yg menempel di punggungnya yang sekarang tidak lagi telanjang. dari kejauhan, tapi tak terlalu jauh, ia kelihatan seperti punya punuk transparan. putri duyung itu mulai bernyanyi, menggodanya, mula2 lagu d’masiv yg sedang hit gila itu, ‘kau hancurkan aku dengan sikapmuuu, lelah hati ini meyakinkanmuuu, cinta iniiiii … (teruskan sendiri).’ tapi si penyihir jawa berkaca mata bertopi runcing berambut panjang tergerai seperti ganggang yang berenang tenang ke arah matahari terbenam tidak meneruskan korus itu. ia seperti tidak mendengar apa2. tidak melihat apa2. tidak merasa apa2. apakah telinganya disumpal brokoli? kelihatannya tidak. ia acuh tak acuh memang tak acuh. putri2 duyung tak meneruskan nyanyian. menanggalkan beha batok kelapa mereka hanya. menggoyang2kan susu mereka merah muda di depan muka si penyihir jawa berkaca mata bertopi runcing berambut panjang tergerai seperti ganggang yang berenang tenang ke arah matahari terbenam hanya. tak ada guna hanya. sekarang awal juni, dan seperti di akhir mei, gerimis turun seperti selimut sutra dari langit yang tak begitu berawan2 amat. kali ini, si penyihir jawa berkaca mata bertopi runcing berambut panjang tergerai seperti ganggang yang berenang tenang ke arah matahari terbenam merasakannya. gerimis itu. padahal tubuhnya sudah terbungkus jubah yg tebal panjang sampai ke tungkai dan dilengkapi hoodie topi runcing itu. mungkin ia hanya ingin berhenti saja. karena ia berhenti. doggie paddle lagi. sekarang ia bisa merasakan gerimis itu jatuh ke mukanya. tawar, di bibirnya yg asin. setelah beberapa lama menengadah ke langit, gerimis membuat bunyi cetak cetok di lensa kacamata cutler and gross yang tahun lalu dibelinya di london, di soho, ia mulai berenang lagi. tapi ia berubah arah! ke arah teluk di sebelah kanan agak mundur, menjauhi matahari! atau anda lebih suka matari? make up yr mind, quick! ya, ia berenang menjauhi matari (im being kind, i know), ke arah teluk yang airnya telah lenyap tertutup beribu2 kapal pesiar pinisi. layar putih mereka tetap terbentang walau mereka diam saja. mungkin macet. traffic is bad in this bay. where is the face that launched these thousand cruise-ships? si penyihir jawa berkaca mata bertopi runcing berambut panjang tergerai seperti ganggang yang berenang tenang ke arah matahari terbenam berenang terus ke arah pinisi2 itu, walau kelihatannya ia juga tidak sadar mereka ada di sana. semacam insting saja yg menuntunnya ke sana. insting seperti bunyi gong. hanya ia bisa merasakan, air laut semakin hangat, beberapa tetes yg masuk ke tenggorokannya mulai terasa aneh, seperti wine, seperti indomie rasa kari ayam, seperti taik. ia harus berhenti. ia berhenti. dari teluk, ia kelihatan seperti berhenti di cakrawala. kali ini ia tak susah2 ber-doggie paddle lagi. ia copot hoodie topi runcingnya, jubah yg berat itu sekalian—seekor kelinci mati lepas dari kantongnya—bahkan kacamatanya. ia lemparkan saja kacamata cutler and gross berharga 300 squid itu ke angkasa yg kelam. sinar mercu suar mulai berkeliling di sekitarnya, walau ia tidak bisa melihatnya. ia juga tidak bisa melihat, mata gelasnya yg putih bagai susu perempuan berambut merah, lebih putih dari layar pinisi yg kotor ternoda taik camar, lebih putih dari jantung lebah ratu. mata gelas putih susu itu menatap nanar ke arah pinisi2 yg angkuh, turun pelan-pelan, ia mulai tenggelam. ia tidak melawan. dengan khidmat ditutupnya mata gelasnya putih susu waktu mulai terbenam di air laut yg bacin bau taik. rambutnya yg panjang tergerai bubar di permukaan laut seperti ganggang, atau akar benalu, atau, di mata penjaga mercu suar di pucuk tanjung di belakangnya, seperti tentakel-tentakel raksasa monster air yang sudah 74 tahun terakhir ini dicari-carinya. hanya.

perenang wuto
oleh rancari 

seperti akan kembali menuju teluk
ia diam dengan rambut menyerabut legam.
entah berapa kayuh lagi, mercusuar benderang menatap mangu.
dan hanyalah segumpal memar di punggung dari mainan ubur-ubur atau dara yang mendekat dengan arus memeluk rapat bersaing ketat dengan jubah tanjung yang dicurinya.
dan pemilik mata seputih layar itu terhenti
dengan saksi
gerimis akhir mei.

Advertisements

8 thoughts on “Pembacaan terlalu dekat

  1. tak ada perenang buta di pasar festival

    kolam renang di belakang mall
    menyimpan kisah perburuan
    lelaki-lelaki-lelaki-lelaki-lelaki
    berkemeja kantoran sepulang kerja
    tapi tak ada perenang buta di sana
    sebab celana-celana renang mini
    motif bunga-bunga atau macan tutul
    terlalu menggoda minta diraba

    Like

  2. Siapa Mau Berenang Mei ini?

    Siapa mau berenang Mei ini? Menurut dokter gigi anakku,
    sudah tiga pasien anak menderita penyakit mulut dan kaki
    akibat virus di kolam renang. Virus jenis baru.
    Tapi “mulut dan kaki”? Kok seperti penyakit sapi?

    Kukira tak ada pernah bisa melawan permainan
    kata di separuh bukupuisinya, seperti bertanya
    siapa perlu makna? Sapi jenis apapun tak pernah
    berenang di sepanjang hidupnya.

    Pada kamuskata, kita hanya bicara soal persamaan
    belaka. Aku jadi seperti Squidward, mencari jatidiri
    pada permainan solo flute dan kebencian masa kanak.
    Ya, seperti itu saja.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s