Kepribadian Labil Sasaran Brightspot Market

oleh Administrator

 

Anak-anak remaja yang berkepribadian labil jadi sasaran Brightspot Market untuk diajak bergabung. Demikian menurut cendekiawan muslim Prof. Dr. Jalaluddin Rahmat.

 

Prof. Dr. Jalaluddin mengatakan bahwa orang yang frustrasi, berkepribadian tertutup, merasa terasing dari lingkungan, dan tidak memiliki sahabat merupakan orang yang paling mudah diarahkan. “Orang-orang labil itu adalah orang yang tersesat dalam hidupnya. Ketika mereka masuk Brightspot Market, seluruh hidup mereka diurusi,” katanya di sela-sela acara media edukasi mengenai stres dan depresi di Jakarta, Kamis (5/5).

 

Sementara itu ahli kedokteran jiwa dr. Surjo Dharmono mengatakan bahwa orang berkepribadian stabil punya mekanisme pertahanan yang baik sehingga sulit dicekoki ideologi baru. “Mereka sadar jika masuk Brightspot Market,” kata dr. Surjo.

 

Orang yang sudah terpengaruh ideologi baru itu kemudian diyakinkan bahwa mereka adalah orang pilihan dan harus  menjalankan perintah “@BrightspotMRKT”.

 

Untuk mencegah perekruitan Brightspot Market di kalangan remaja, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta pelurusan ajaran agama. Presiden meminta seluruh masyarakat untuk turut serta memberantas aksi kejahatan bias cut dan structured dress.

Jakarta ou les malheurs des masochistes*

Masokisme, sepertti bullying, sudah menjadi kata yang gampang diumbar. Masokis lo! Bully lo! Thanks Twitter! Arti kata itu sendiri menjadi pudar semakin sering diumbar. Lo makan keripik peudeus Maicih level 2? Masokis lo! Lo pesen jigoku ramen Sanpachi level 10? Masokis lo!

 

Pada tahun 2002 yang lalu, penerbit oldskool konservatif Pustaka Jaya menerbitkan buku Ode untuk Leopold von Sacher Masoch karangan Dinar Rahayu.Di tengah-tengah histeria sastra wangi/sastra bau waktu itu, isi buku ini sebenarnya jarang dibicarakan, jarang juga yang peduli. Masteng-masteng sastra jauh lebih tertarik dengan ironi semu “Kok seorang cewek menulis tentang von Sacher Masoch, yang namanya jadi asal kata masokisme itu?”

 

Ironi yang semu, karena obyek masokisme dalam buku Venus in Furs karya von Sacher Masoch adalah seorang cowok, Severin, yang naksir abitch dengan seorang cewek, Wanda.Saking naksirnya, Severin rela diperlakukan seperti budak oleh Wanda, kelakuan masokis yang lama-lama membuat Wanda jadi menikmati perannya sebagai seorang dominatrix sadis.

 

Wajar dong (bukan ironis!) kalau seorang perempuan di era pasca Orba yang sedang gegap gempita merayakan kebebasan, menulis sebuah ode untuk pengarang buku ini? (Mungkin sebuah usaha merayakan pembebasan dari budaya Orba yang patriarkal dan stereotipe perempuan Orba yang submisif—masokis?)

 

Tapi, sebelum saya mengumbar lebih banyak lagi kata masokisme, sebenarnya apa sih artinya?

 

Secara luas, masokisme, kata benda, bisa diartikan sebagai kecenderungan menikmati penderitaan.Seperti Severin tadi, yang senang-senang saja waktu Wanda menyewa tiga cewek Afrika untuk menjadi dominatrices-nya.

 

Namun, seperti juga hampir semua kata (termasuk “bullying”), arti masokisme telah berkembang dalam sejarah. Sekarang, jika kita mencari arti kata “masochism” di Wikipedia, kita akan diantarkan ke sebuah “disambiguation page” dan disuruh memilih mengklik entri “Sadomasochism” atau entri “Self-defeating personality disorder”.

 

Sadomasochism adalah istilah yang di-mashup dari nama von Sacher Masoch dan Marquis de Sade, Enny Arrow-nya Perancis, pengarang stensilan vintage 120 Days of Sodom, Justine, Juliette, dan Philosophy in the Bedroom. Istilah sadomasochism ini sekarang lebih sering digunakan untuk mendeskripsikan kegiatan seksual orang-orang yang mendapatkan kenikmatan dari disiksa (dengan terkontrol dan banyak aturan) dan/atau dipermalukan (misalnya dikencingi (watersports) atau diberaki).

 

Sementara sebagai “self-defeating personality disorder”, masokisme adalah kondisi klinis yang diderita oleh orang-orang yang memilih untuk menderita dalam kegagalan daripada menjadi seorang yang sukses seperti @mrshananto.

 

Dalam kehidupan Jakarta yang keras ini, sepertinya kita memang hanya punya dua pilihan, menyerah untuk menjadi #ManusiaGagal di #NegaraGagal atau berusaha mengumpulkan sebanyak mungkin inspirasi dari #motivatwit, #kultwit, #selebtwit supaya kita bisa menjadi SUPER!

 

de Sade, seorang penduduk #NegaraGagal Perancis circa abad 18-19 menulis Justine ou les malheurs de la vertu sebagai satir terhadap keadaan genting di Perancis pas sebelum Revolusi Perancis terjadi. Ia menulisnya di penjara Bastille.

 

Vertu bukan handphone ekslusif supermahal tapi sebenarnya tidak canggih itu.Vertu berarti virtue, atau arete dalam bahasa Yunani, yang bisa diartikan secara general sebagai kebaikan. Lawannya adalah kejahatan, atau vice/le vice. Sejak zaman Aristoteles, filsuf-filsuf sudah sibuk berdebat tentang apa sebenarnya arete/la vertu/virtue/kebaikan itu. Bagaimana menjadi orang yang baik?Nilai moral macam apakah kebaikan itu?

 

de Sade hanyalah satu lagi dari serentetan filsuf Barat yang berusaha menawarkan sistem filsafat moralnya sendiri tentang kebaikan (dan kejahatan).

 

Plot novel Justine menceritakan kakak beradik Justine dan Juliette yang, setelah orang tua borjuisnya bangkrut (ditipu) dan meninggal, terpaksa berusaha mencari jalan hidupnya sendiri. Juliette yang lebih tua, berambut coklat dan seksi, memilih jalan kejahatan.Mendaftarkan diri menjadi seorang pelacur di sebuah rumah bordil, berpura-pura masih perawan kemudian menjual keperawanan palsunya itu berpuluh-puluh kali kepada bangsawan-bangsawan horny.

 

Setelah makin matang dan dewasa, Juliette yang licik ini memanfaatkan kebodohan bangsawan-bangsawan Perancis langganannya untuk keuntungannya sendiri.Ia berhasil mendapatkan gelar bangsawan sendiri dengan meracuni salah satu pelanggan yang mengangkatnya jadi selir, dan mendapatkan segala keuntungan ekonomi dari gelar bangsawan itu.

 

Sementara itu, Justine yang masih berumur 12 tahun di awal cerita, pucat, berambut pirang, suci, dan beneran perawan memilih jalan kebaikan. Ia selalu berusaha menolak pertolongan dari orang-orang, yang selalu menolongnya dengan pamrih.Karena Justine adalah sebuah novel satir, setiap orang yang menawarkan pertolongan dengan pamrih kepada Justine sebenarnya mewakili sebuah institusi #NegaraGagal Perancis yang ingin dikritik Sade.

 

Justine mengungsi di sebuah biara, tapi ia malah dijadikan budak seks para pendeta disitu. Dipaksa ikut orgy, diperkosa jika tidak mau.Biara dan pendeta tentu mewakili gereja, agama (Katolik).Justine menolong seorang bangsawan yang dirampok, tapi bangsawan ini kemudian malah menyekapnya di sebuah gua dan akhirnya, gang-bang lagi.Bangsawan ini tentu mewakili kaum aristokrat Perancis waktu itu.Justine meminta tolong seorang hakim untuk membebaskannya dari tuduhan tapi hakim itu justru mempermalukannya di pengadilan.Hakim tentu mewakili sistem hukum Perancis waktu itu.

 

de Sade memakai kisah masokisme Justine untuk mengkritik sadisme #NegaraGagal Perancis. Namun, lebih radikal daripada itu, de Sade juga memakai masokisme Justine untuk mengkritik standar moralitas tentang kebaikan dan kejahatan itu sendiri. Menurut de Sade, kebaikan dan kejahatan bukanlah moral absolutes yang ditentukan oleh tuhan maupun hukum (apalagi kaum aristokrat!) Kebaikan dan kejahatan adalah nilai moral yang subyektif.Apa yang dianggap Justine sebagai kebaikan (keperawanan misalnya), bagi Juliette hanyalah sebuah komoditas yang bisa dijual (berkali-kali) untuk keuntungan ekonomis.

 

Selain itu, de Sade juga ingin menunjukkan bahwa, pada akhirnya, baik kejahatan maupun kebaikan mampu memberikan kenikmatan.Dan sebenarnya kenikmatan inilah yang menjadi tujuan utama kehidupan manusia.Juliette ingin merasakan kenikmatan hidup mewah dengan gelar bangsawan, tanah dan kereta kudanya sendiri.Kejahatan hanyalah caranya untuk meraih kenikmatan-kenikmatan itu.Sementara, Justine pun mendapatkan kenikmatan spiritual dari kekeraskepalaannya mempertahankan la vertu-nya.

 

Seharusnya sudah ada novel Indonesia kontemporer yang menawarkan satir terhadap sadisme Jakarta kepada penduduknya sendiri.Namun sepertinya belum ada yang mengkritik sadisme Jakarta seradikal dan senihilis de Sade.Novel 86 karya Okky Madasari yang bergaya realis berhasil menyindir budaya korupsi di sistem birokrasi pemerintah dengan menohok.Tokoh utamanya, Arimbi, seorang juru ketik panitera pengadilan, mulanya seperti Justine, hidup jujur, cenderung naif, di tengah-tengah budaya kongkalikong di kantornya.Seperti Justine yang kukuh (berusaha) mempertahankan keperawanannya, Arimbi awalnya menolak untuk korupsi.Tidak seperti Justine, kemurnian moralitas Arimbi tidak langsung mendatangkan penderitaan baginya, walaupun juga tidak memberikan kenyamanan, apalagi kemewahan hidup.Arimbi sering merasa sedih tidak mampu beli AC buat kamar kosannya yang sempit dan panas.

 

Penderitaan bagi Arimbi justru datang ketika ia berubah menjadi seorang Juliette. Mulai korupsi kecil-kecilan karena ia ingin menikah, punya anak, dan hidup nyaman. Barulah sadisme Jakarta menimpanya. Mulanya korupsi memberinya kemewahan yang selama ini tidak mampu ia dapatkan (hasil korupsi pertamanya adalah sebuah mesin AC). Tapi akhirnya ia tertangkap dan mulailah siklus penderitaannya.

 

Selama di penjara dan setelah keluar dari situ, Arimbi menjadi labil. Pada dasarnya ia tetap orang yang baik seperti Justine (ia dengan senang hati membalas cinta preman lesbian di blok penjaranya), namun seperti Juliette ia juga bisa berpikir dengan kepala dingin tentang semua kebutuhan ekonomi keluarga kecilnya setelah keluar dari penjara, kemudian menyuruh suaminya jadi kurir sabu.

 

Novel 86, sama seperti Justine, berakhir dengan tragis: suami Arimbi ditangkap polisi pas lagi pesta sabu (Justine mati disambar petir di akhir kisahnya).

 

Memang kedua novel ini berbeda gaya, Justine adalah novel satir bergaya semi-Gotik dengan segala ke-lebay-annya, sementara 86 bergaya realis. Kesamaannya adalah keduanya berusaha menyindir #SistemGagal di sebuah #NegaraGagal.

 

Walaupun sebagai satir, gaya 86 tidak seradikal Justine, ada satu hal yang mungkin membuatnya jadi lebih nihilis. Arimbi tidak semasokis Justine, ia pun bisa bertindak sadis seperti Juliette. Namun nasibnya pada waktu ia baik maupun pada waktu ia jahat sama saja. Tetap dikadali oleh #NegaraGagal Indonesia. Apakah dengan begini Okky Madasari ingin mengatakan bahwa baik la vertu maupun le vice sama-sama tidak mampu memberikan kenikmatan apapun bagi manusia-manusia Jakarta? Bahwa masokisme penduduk Jakarta pada akhirnya akan sia-sia?

 

*aslinya ditulis untuk @kopdarbudaya, 21 Oktober 2011 

Rayya dengan dua Y

Saya menulis ini untuk istri saya @violeteye. Semua yang akan ada di post ini kebanyakan berasal dari apa yang dikatakannya kepada saya selama makan pagi dan sebelum tidur beberapa hari terakhir ini. Sayang, istri saya sedang sangat sibuk dan juga sedang sedih, sehingga saya takut ia tidak punya waktu untuk menuliskan semua ini. Ia sering tenggelam dalam kesedihannya, sesuatu yang justru membuat saya iri, karena saya selalu lari dari kesedihan saya. Sering hal-hal yang ia rasakan dalam kesedihannya lambat laun akan mengendap dan keluar menjadi puisi, suatu saat nanti. Namun puisi itu akan berbentuk bunga, yang hidup dari kompos kesedihan yang telah lama ia simpan tadi. Kadang-kadang, kalau saya berpikir tentang istri saya, saya membayangkannya sebagai sebidang tanah hijau yang sebenarnya penuh dengan lubang-lubang biopori yang tidak kelihatan karena tertutupi rumput.

 

Suatu saat nanti, mungkin pecahan-pecahan percakapan yang akan saya rangkum di sini akan muncul di puisi-puisi istri saya. Yang saya ingin lakukan sekarang adalah merekamnya secara utuh, kemudian memamerkannya di etalase tumblr posterous. Mungkin istri saya tidak akan menyukai usaha ini, tapi saya selalu merasa sayang kalau perkataan-perkataannya hilang begitu saja, ditelan suara knalpot dari mobil-mobil rusak yang sedang diperbaiki di bengkel depan rumah.

 

Kisah ini bermula dari menonton film Rayya, Cahaya Di Atas Cahaya di Ciledug CBD XXI. Saya ingat waktu itu hari Jumat, dan siangnya istri saya kirim pesan di WhatsApp untuk bagaimana kalau kita nonton film aja malam ini di CBD? Walaupun sepertinya film yang menarik untuk ditonton hanya Test Pack, yang kami berdua curiga seperti biasa sedang digadang-gadang oleh teman-teman pembuat filmya (Monty Tiwa) di Twitter dan mungkin sekali sucks azz. Walaupun saya cukup suka skenario yang dia tulis buat Mengejar Mas-Mas dan 9 Naga. Tapi kemudian saya ingat membaca review Mumu (@mumualoha) tentang Rayya di Facebook. Di situ dia memujinya sebagai (basically) kondensasi pemikiran-pemikiran Emha Ainun Najib selama ini. Mumu menganggap sudah saatnya Emha menjadi bapak bangsa juga seperti Garin Nugroho dan Arswendo Atmowiloto, dan ia sudah melakukannya di film ini.

 

Saya sendiri tidak pernah suka maupun mengerti Emha. Buat saya, karya-karyanya selama ini terlalu esoterik dan solipsistik. Yang bukan orang Jawa tidak usah ambil bagian. Tapi karena saya punya kebiasaan memaksa diri melakukan hal yang tidak saya suka, maka saya bilang ke istri saya, kita nonton Rayya saja yuk, kata Mumu bagus.

 

Jadi kami nonton Rayya hari Jumat malam, jam 21:10. Hanya ada empat penonton lagi selain kami berdua, keluarga Cina, bapak ibu dan dua anaknya.

 

Awal film ini bagi saya khas film-film Indonesia masa kini, dimulai dengan keinginan yang meluap-luap rasanya untuk menyorotkan di layar perak sepotong kehidupan urban Jakarta yang dialami pembuat filmnya. Selalu seperti ada keputusasaan, semacam yearning?, untuk berteriak, begini lho hidup(ku) yang so sophisticated itu sekarang! Padahal yang mereka sorotkan selalu karakter dan situasi yang itu-itu saja. Dalam film ini situasinya adalah sebuah rapat (I’m not gonna say miting) di sebuah rumah produksi yang dihadiri karakter-karakter klise dari film Indonesia era 2000-an awal: ada cukong Cina, ada desainer cong dan brondongnya, ada satu dua “creative types”, ada MacBook Pro. Bandingkan dengan awal-awal film Pintu Terlarang (pembukaan pameran tunggal di sebuah galeri) atau Arisan 2 (sekelompok sosialan Jakarta memperbincangkan 1. sebuah feature article tentang mereka sendiri di sebuah majalah fashion & lifestyle berformat raksasa dan 2. sebuah buku tentang bedah plastik yang baru saja diterbitkan salah satu dari mereka. Hadir juga di situ seorang token bencong, editor majalah fesyen tadi (terlalu kaleng untuk menjadi parodi samuel mulia)), similar bourgeois mise-en-scenes, the same cardboard cut-out characters. Cardboard cut-out characters di awal film Rayya sedang memperbincangkan editorial plan buat sebuah coffee-table book sekaligus hagiografi tentang Rayya, seorang supermodel slash aktris slash penyanyi slash seleb slash drama queen.

 

Selanjutnya, setelah adegan editorial war-room ini, Rayya menjelma menjadi sebuah road-movie, yang karena arahnya sama dari Barat (Jakarta) ke Timur (sepanjang Jawa sebelum menyeberang ke Bali), jadi mirip sekali dengan Tiga Hari Untuk Selamanya. Rayya naik mobil berdua bersama fotografernya yang somewhere di Pantura diganti dari seorang fotografer muda yang idealis dan berapi-api menjadi seorang fotografer tua yang phlegmatic. (ie, Alex Abbad bermobil Jaguar (flashy, comfortable, safe) diganti dengan Tio Pakusadewo bermobil Land Cruiser (understated but still bloody expensive, not as comfortable (the Tio character actually said this to Rayya) but way cooler in the hipster car spectrum, can go off-road—off-road movie?)

 

Sepanjang perjalanan mereka, dialog antara Rayya dan kedua fotografernya, terutama Arya (near-anagram for Rayya) yang dimainkan Tio, bisa dideskripsikan sebagai “purple prose”, atau dengan kata lain “terlalu masteng/mbakteng sastra.” Rayya menjadi, menurut saya, mash-up antara 3 Hari Untuk Selamanya dan kuliah umum Salihara. Sementara, menurut istri saya, Rayya adalah “3 Hari Untuk Selamanya meets Before Sunset dengan aroma Sastra Reboan.”

 

Dua hal lagi yang paling penting yang dikatakan oleh istri saya tentang Rayya adalah bahwa: 1. Conceit pembuatan coffee-table hagiografi Rayya ini bisa dibandingkan dengan konsep/legenda buku The Last Sitting karya fotografer Bert Stern, yang berisi foto-foto Marilyn Monroe enam bulan sebelum meninggal. Menurut mitologi yang dikembangkan Stern, photo-shoot yang ditugaskan Vogue ini menjadi sangat intim sehingga Stern jadi tahu betapa depresinya Marilyn di balik segala kegemerlapannya. (Kalau punya buku ini coba lihat foto-foto negatif yang memperlihatkan bekas luka operasi usus buntu di perut Marilyn—some girls like it hidden!) Sepertinya, poin Emha dan sutradara Viva Westi salah satunya juga untuk menunjukkan luka di balik kedugeman Rayya. 2.  Aneh bahwa banyak orang yang suka Rayya secara literal menganggap film ini adalah sebuah “peray(y)aan”, entah perayaan bahasa (sok) puitis, perayaan semangat juang wong cilik Jawa (yang mereka asumsikan bisa mewakili wong cilik sak-Indonesia), atau perayaan lanskap ala Indonesia yang indah. Padahal, lanjut istri saya, bukankah Rayya ini sebenarnya sebuah kritik terhadap Rayya dan Rayya-Rayya lain (urban, rich, self-obsessed tho not always sexxee) dalam kehidupan kita? Bukankah nama Rayya dengan dua Y itu sendiri mungkin dimaksudkan Emha sebagai sesuatu yang ironis? Di dalam film, Arya (perfect anagram of Raya dengan satu Y) membandingkan nama Rayya dengan kata Raya dalam Indonesia Raya, menganjurkannya supaya selalu raya (definisi kata “raya” dalam KBBI adalah “besar, mulia (as in Hari Raya), atau pesta (as in perayaan)”) dan bukannya dipenuhi dengan keinginan-keinginan sok morbid setengah matang untuk bunuh diri. Bukankah ini bisa saja sindiran Emha juga untuk NKRI Raya yang sedang bunuh diri pelan-pelan (atau malah cepat-cepat), dan bukan usaha klise untuk merayakan (dengan satu Y!) yang positif-positif saja dari negara ini?

 

Banyak orang yang telah berbicara tentang film ini menunjuk ke sebuah adegan di mana seorang ibu tua penjual karak menolak sedekah Rayya yang sengaja membayar dengan uang 50 ribuan dan, “kembaliannya buat Ibu aja.” Si ibu tua itu bilang, “Saya di sini jualan bukan mengemis, ini saya kembalikan uangnya Den Ayu, sini karaknya kembalikan ke saya.” Adegan ini cukup mengharukan, namun setelah keharuan itu lewat apa sebenarnya yang tersisa? Jika istri saya benar tentang motif-motif Emha, mungkin adegan itu memang ada untuk menampar Rayya dan Rayya-Rayya lain di Indonesia yang sering merasa begitu heroik hanya dengan melemparkan frase tadi, “kembaliannya buat X aja.”

 

Sementara, review ini misalnya, menganggap bahwa adegan seperti itu (ada beberapa, yang selalu berakhir dengan semacam “pencerahan” buat Rayya) adalah satu titik dalam roadtrip Rayya untuk “berdamai dengan kelemahan diri sendiri.” Review ini percaya bahwa tokoh Rayya (dan berarti juga Rayya-Rayya yang lain di Indonesia Rayya) “pada dasarnya baik.”

 

Padahal, jika kita percaya bahwa Emha memang sedang bermain ironi tingkat tinggi (inggil? sangat halus sehingga hampir tak terasa?), kita seharusnya melihat adegan ibu penjual karak tadi sebagai sebuah tamparan keras buat semua Rayya yang pada dasarnya ngehek di negeri ini.

 

Memang, saya sendiri suka tidak percaya dengan sindiran super halus ala Jawa seperti ini. Saya ragu apakah sindiran itu sebenarnya memang sindiran, atau malah ciptaan pembaca/penonton super halus ala Jawa-nya yang mencari-cari hal yang sebenarnya tidak ada?

 

Bagi saya sendiri sampai sekarang, kritik dalam adegan itu kurang keras, terlalu sentimentil, terlalu klise. Dalam bangunan film itu, penolakan si mbok penjual karak itu sangat ketebak, seperti sebuah cumshot dalam video porno. Jika, seperti kata Mumu, Emha memang sedang menjadi budayawan pemomong bangsa dalam film ini, pelajaran macam apa yang sedang disublimasikannya dalam adegan ini? Apakah sekedar tamparan sekejap terhadap kaum borjuis Jakarta? Atau perayaan semangat dan harga diri wong cilik? Terus di mana kritik/sindiran terhadap peran negara dalam menghancurkan keduanya? Di mana kritik terhadap kapitalisme global yang menghancurkan ekonomi mbok penjual karak dan anak-anak pemecah batu (satu adegan tear-jerker lagi)? Apakah adegan war-room di awal film dimaksudkan sebagai sebuah expose fly-on-the-wall akan kedangkalan kaum OKB Jakarta dan kuasa kapital mereka? Di mana kedangkalan diwakili oleh karakter brondong kaleng yang borderline homophobic, dan kuasa kapital diwakili oleh engkong Cina penyandang dana yang mengeluh kalau bukunya terlalu banyak halamannya dan dolar naik terus dia nggak bakalan bisa “booking kertas”? Kok rasanya saya sudah menjadi pembaca/penonton super halus ala Jawa sendiri yang terlalu memaksakan diri untuk reading beyond the lines?

 

Buat saya, film ini terlalu annoying. Dialog pseudo-sastranya (“Kamu kuliah di mana Rayya?” “Universitas Kehidupan…” ZZZZZZ) membuat Opera Jawa jadi terasa seperti ludruk, dan penulis naskahnya (Emha dan Viva Westi) sepertinya tidak pernah sempat mencapai kompromi apakah film ini akan menjadi satir atau sebuah apologia tentang kelas menengah borjuis Indonesia Ray(y)a. Kentang di atas kentang.

Buah dan Perang

Judul Soegija itu hanya synecdoche, hal kecil yang seharusnya membawa kita ke dunia yang lebih besar, Hindia Belanda/Indonesia pada masa Perang Dunia 2 dan setelahnya. Mirip dengan judul “Rambo”, misalnya, nama/judul simpel yang membawa kita ke dunia perang dingin/dekolonisasi/rekolonisasi yang ruwet. (Btw, sekilas Rambo dan Soegija sama2 org Jawa yang namanya cuma satu, Rambo, Sugiyo. Tapi nama2 itu pun sebenarnya synecdoche dari nama panjang mereka John Rambo dan Albertus Soegijapranata :)).

 

Kenapa Garin menggunakan nama Soegija, bukan “Pak Besut” (sosok historis, penyiar RRI legendaris) atau “Koster Toegimin” (sosok mungkin fiktif, pembantu Soegija) sebagai synecdoche buat masa peralihan dari jaman kolonial ke jaman merdeka ini? Mungkin untuk menyorot peran pejuang sipil non-kolaborasionis yang saat itu/selama ini dalam historiografi Indonesia jadi pelanduk di tengah2 perebutan/persaingan kekuasaan antara gajah2 Tentara Rakyat Indonesia, dgn hero mereka Jendral Soedirman, vs pejuang2 sipil borjuis kolaborasionis macam Soekarno-Hatta.

 

Sepertinya Garin ingin bercerita tentang pejuang yang “tanpa pamrih” (“layan, layan, jangan layani saya,” perintah Soegija kepada altar boysnya supaya membantu pengungsi dulu sebelum membantu dia), atau ingin membayangkan bahwa pejuang macam itu memang ada. *putus asa* *makan srikaya*

 

Padahal sebenarnya kan semua langkah2 diplomatis Soegija yang sepertinya tanpa pamrih mendukung rikiblik yang masih bayi (eg, mendatangkan perwakilan Vatikan ke Gedung Agung Jogja untuk menyatakan dukungannya buat proklamasi Indonesia–Vatikan jd negara Eropa yang pertama yang melakukan ini) bisa juga diinterpretasikan sebagai langkah politik ciamik untuk memperkuat posisi gereja Katolik dalam Republik Indonesia yang akan datang. Pada saat itu kan semua orang kasak-kusuk melakukan hal yang sama–ke-Daerah Istimewa-an Yogyakarta bisa juga diinterpretasikan sebagai hasil lobi kuat dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX sebagai penguasa Ngayogyokarto Hadiningrat kepada penguasa2 kartel baru Republik Indonesia.

 

Lebih tanpa pamrih mana misalnya, Soegija (sosok priyayi Jawa (keluarganya abdi dalem Kasunanan Surakarta Hadiningrat), berpendidikan, bernetwork luas) atau karakter child soldier buta huruf yg “isone gelut” itu? Apa mungkin Garin berpendapat bahwa semakin privileged kita, semakin banyak kepentingan kita dan semakin sulit untuk berjuang tanpa pamrih? (Ingat pemuda isone gelut itu mengeluh kepada seorang pemuda melek huruf yg sedang mengumpulkan coin-a-chance kemerdekaan: “wong pinter kok njaluki duwit rakyat.”)

 

*makan srikaya*

 

Dan film ini kayaknya juga berhubungan erat dengan tema “agama yang membutakan (ke)manusia(an)” yg lebih dulu digali Garin di Mata Tertutup. Kali ini Garin lebih idealistik, membayangkan/bermimpi tentang agama yang membuka mata.

 

Soegija memang tidak pernah dimaksudkan sebagai sebuah biopic. Sejak kapan kita percaya judul film sesuai dengan isinya? Oya, sejak Mr Bean Kesurupan Depe tentunya :P. Berkah dalem.

 

Pertaruhan

menurutku kompilasi film pendek “pertaruhan” itu contoh yang masih bisa dipertanyakan tentang bagaimana feminisme diangkat spiritnya untuk menampilkan kisah-kisah seputar dunia perempuan.

karya ucu agustin tentang mbak nur, pelacur di kuburan bolo yang kalau siang bekerja sebagai pemecah batu, yang dipuji di mana-mana itu misalnya—selain bahwa hidup mbak nur keras, bahwa seperti judul segmen itu semua yang dilakukan mbak nur adalah untuk “ragat’e anak” (“ongkos punya anak” buat yang non-jawa di sini), aku kira aku tidak mendapatkan lebih banyak lagi tentang dia.

apalagi tentang preman-preman di pemakaman cina bolo itu yang hanya diperlihatkan pas mabuk dan menjelma sebagai karikatur seram tentang laki-laki (tentunya mereka memang seram, tapi apakah membalas demonisasi perempuan dalam sejarah indonesia, eg, gerwani sebagai nenek sihir-nenek sihir jahat, dengan balik mendemonisasi laki-laki adalah “spirit feminisme”?).

aku nonton di widjojo centre dan di diskusi setelahnya nia dinata menjelaskan panjang lebar bahwa ia ingin membuat film dokumenter yang “fighting [sic](?), non-judgmental”, sementara jelas-jelas bahwa film ini sangat judgmental dalam keempat segmennya! kaum agamis dan laki-laki hampir selalu muncul sebagai bahan ledekan saja. bukan hanya judgmental, film ini kadang juga sangat dangkal! ia hanya menawarkan judgment yang LAIN dari judgment yang menurut pembuat-pembuat film ini adalah judgment yang salah, bukan tidak menawarkan judgment/non-judgmental sama sekali.

yang juga mengerikan adalah film ini menawarkan judgment itu dengan agak licik, misalnya di segmen tentang khitan perempuan, ada seorang nenek-nenek ulama mui dan kakek-kakek kyai (ayah nong darol mahmada salah satu nara sumber segmen itu) yang diperlihatkan mengeluarkan pernyataan-pernyataan bodoh seperti “khitanan wanita untuk mengontrol syahwatnya” yang tentu saja mengundang tawa penonton sementara nara sumber yang berpihak kepada penonton/anti sunatan wanita seperti nong diperlihatkan selalu morally correct tanpa cela.

di sesi diskusi nong sendiri menjelaskan bahwa dialog dengan abahnya itu sebenarnya jauh lebih panjang dan abahnya sebenarnya tidak seburuk itu juga, tetapi dari film itu sendiri mana penonton akan tahu? kalau itu benar yang dikatakan nong kenapa keambivalenan sikap abahnya ini tidak diikutsertakan di dalam film itu? bukankah ini yang kalo di dunia perpolisian dikatakan sebagai “entrapment”, memancing seseorang untuk melakukan kejahatan kemudian menangkapnya basah-basah kemudian menghukumnya? di kasus ini, memancing abah nong untuk mengucapkan hal yang jahat, kemudian menghukumnya dengan mempertontonkan dan mengolok-olok kejahatan/kebegoannya di depan publik. apakah pantas ini dilakukan dalam sebuah film dokumenter?

kenapa tidak dijelaskan, misalnya, konteks sosial/kultural/pedagogik di sekeliling nenek-nenek/kakek-kakek ulama itu, kenapa mereka masih begitu bodoh/kuno di tahun 2008? kenapa mereka di film ini hanya ada utk ditertawakan? apakah itu “spirit feminisme”, menertawakan orang lain yang tidak setuju dengannya?

aku jadi teringat dengan film borat sacha baron cohen. sama juga sacha menjebak orang-orang untuk mengekspos kebodohan mereka sendiri, tapi paling tidak ia menciptakan persona borat yang sama bodoh dan menjijikkannya dengan orang-orang yang ia telanjangi kebodohannya. ia tidak seperti pendeta yang menuding-nuding pendosa di antara jemaatnya. ia sendiri juga pendosa.

pintu terlarang

sutradara: joko anwar

ditonton di: gala premiere studio xxi – ex, jakarta, 20 januari 2009, 21:25. never have i seen so many poseurs gathered in the one place since parc circa 2004.

pintu terlarang mulai sebagai cerita pesugihan klasik: gambir seorang pematung kolekdol superlaris langganan kokohkokoh penikmat seni yang jadi terkenal dengan seri patung maternal moods-nya yang berbentuk ibuibu bunting dalam berbagai pose ashtanga yoga. tapi ternyata dia punya rahasia klenik: dalam setiap perut bunting itu ia menyimpan fetus bayi yang dibelinya dari klinik aborsi ekslusif mirip erhalogy tapi tanpa kedai häagen-dazs di lobi. ia mulai melakukan ini sejak dipaksa istrinya thalida untuk menyimpan fetus bayi mereka sendiri yang mereka aborsi di situ waktu mereka belum terikat dalam holy matrimony. tapi kemudian film ini jadi lebih kompleks. gambir seperti layaknya protagonis dalam filmfilm pesugihan mencoba lepas dari ikatan pesugihannya ia mau jadi orang baikbaik saja seniman tanpa beban moral kismin tak apa ia tak mau lagi bikin patungpatung ibuibu pertiwi hamil tua (dengan fetus beneran dalam perut mereka). tapi tentu saja iblis dalam wujud koh jimmy art dealernya tidak mengijinkan jimmy mengaborsi karir kolekdol mereka berdua dan seperti layaknya protagonis dalam filmfilm pesugihan gambir terus saja membuat patungpatung hamil tua dengan fetus beneran dalam perutnya itu di bawah catholic guilt (more on this later) luar biasa. mungkin beban moralnya ini yang membuatnya jadi sering melihat tulisan “tolong saya” di manamana. apakah ini teriakan arwah fetusfetus yang dikaryakannya? atau teriakan minta tolongnya sendiri? so rosemary’s baby. rosemary’s dead babies! dalam stres berkepanjangan ini gambir menemukan dirinya tibatiba di sebuah secret club bernama herosase yang ternyata sebuah tempat yang mungkin bisa dideskripsikan dengan nama “peep-shows for sadists”. tiap kamar berisi televisi, daftar menu berisi namanama orang, dan remote control. ternyata setiap channel di tv itu menayangkan footages yang keliatannya diambil dari hidden cameras di rumah orangorang yang melakukan kegiatankegiatan self-mutilation seperti menyulam tangannya sendiri (dicontek dari bulan tertusuk ilalangnya garin?) atau mutilation unto others seperti dungeon berisi lakilaki bertudung menyodomi paksa lakilaki lain (pulp fiction?) dan yang jadi channel favorit gambir: anak yang disiksa orangtuanya sendiri. arie hanggara: director’s cut. gambir yakin anak itulah yang selama ini mengirim pesan “tolong saya” kepadanya. sejauh ini film jadi lebih menarik walau lambat nian menceritakan ceritanya seperti review ini juga tapi dari kisah pesugihan biasa ia menjadi satir psikologis yang oke punya. gambir yang selalu mengikuti kemauan orang lain—istrinya (yang menyebutnya lelaki lemah), koh jimmy, ibunya yang selalu mengritiknya kenapa belum punya anak juga (gambir dianggap impoten oleh ibunya. seperti kisah jake di fiesta/the sun also rises-nya hemingway mulai saat ini pintu terlarang juga jadi semacam wasteland/(in)fertility myth yang penuh dengan usaha memulihkan ketidaksuburan gambir/kehidupan manusia)—dalam kefrustrasian eksistensialnya mendera diri sendiri dengan secara masokis menonton channelchannel jahanam ini (cinemaxxx?). tapi mendera diri sendiri/jadi masokis pun ia hanya bisa melakukannya secara virtual, lewat tv! betapa ironisnya! bukti betapa memang benar ia lemah! satir yang bagus bener tentang kehidupan urban circa 2000-an di mana kita lebih senang menikmati realitas pre-loved lewat tv/youtube/tivo/youporn. singkat cerita gambir yang semakin didera perasaan bersalah tidak bisa menyelamatkan anak yang disiksa ortu di channel favoritnya tadi akhirnya terpaksa menyaksikan si arie hanggara II ini menggorok leher kedua ortunya waktu pulas tidur kemudan menggorok lehernya sendiri. revenge of the arie hanggaras! tapi ini juga berarti episode tamat dari film seri favorit gambir! o what would he do for a re-run! saat kelimpungan mencari channel lain gambir menemukan di daftar menu channel 13: thalida sasongko istrinya sendiri! di situlah ia menemukan bahwa selama ini ternyata istri, temanteman, bahkan ibunya sendiri bersekongkol supaya temanteman itu tidur dengan istrinya supaya mendapatkan keturunan (atas ijin bahkan usul ibunya). di situlah titik balik bagi gambir. dalam kemarahan yang amat sangat ia lupa bahwa dirinya seharusnya lemah dan perlu segera berobat ke mak erot dan dengan licin merancang sebuah pembalasan dendam yang begitu sadistis: ia mengundang semua orang yang selama ini telah menunggangi hidupnya ke sebuah christmas dinner. selanjutnya adalah sebuah scene anti-communion yang sungguh fun sekaligus sadistis. perjamuan terakhir? sindirsindiran antara yesus dan yudas? ngebencong doang dibanding scene yang dalam sepuluh menit dalam ke-graphic violence-annya berhasil jadi sama memuakkannya dengan 145 menit (premiere version) salò-nya pier paolo pasolini. gambir meracuni tamutamunya dengan obat yang membuat mereka paralitik masih bisa mendengar, melihat, dan berpikir tapi tidak bisa bergerak selama 10 menit dan sambil membacakan monolog yang tidak begitu jelas kedengaran dari artikulasinya yang buruk sambil ketawa ketiwi menyembelih mereka satu persatu. siapa yang tidak akan bahagia menonton henidar amroe dibenamkan mukanya sampai mati di mangkok es buah dan marsha timothy ditembak kepalanya sampai otaknya terceraiberai di meja makan (ternyata dia punya otak)? selain fun, scene ini juga makes total sense. gambir telah dibikin numb oleh channelchannel voyeuristis sadis di herosase dan sekarang ia hanya nyengirnyengir puas waktu menggorok ario bayu dan menancapkan matanya di gagang gelas anggur. apakah kita telah dibikin senumb gambir juga sehingga kita bisa tenangtenang saja menonton scene ini malah tersenyum penuh syukur o lucunya ? dan yang lebih penting lagi, gambir yang dulunya sekedar penonton masokis di depan tv yang menayangkan channelchannel gore di herosase sekarang berubah menjadi aktor utama super sadistis yang mempersembahkan episode unggulan dalam film seri channel 13 starring thalida sasongko (karena seperti dari footage koh jimmy yang darahnya muncrat dan menumpahi lensa kamera di depannya waktu lehernya digorok kita tahu bahwa christmas dinner ini pun direkam oleh hidden camera herosase)! the objectified becomes the subject! the oppressed becomes the oppressor! atau mungkin selama ini gambir adalah aktor utama di channel 14 herosase: sebuah bildungsroman gore seorang psikopat, pollock meets braindead? sampai di sini pintu terlarang seperti penyempurnaan kala, film joko anwar sebelumnya yang juga berusaha mengkombinasikan cerita legenda dan gore kacangan dengan kritik sosial. sampai di sini sangat berhasil. ceritanya lebih seru dan kritiknya juga nyampe. sayangnya, setelah scene christmas dinner ini masih ada tiga scene lagi yang malah seakan mengingkari argumenargumen film ini sendiri. film ini berubah menjadi sebuah bathtub story seperti cerita-cerita tentang monster bertetek lima yang mengejarngejar kita dengan sinar laser yang memancar dari putingputingnya tapi kemudian untungnya ini semua cuma mimpi dan nenek sudah menyediakan segelas susu coklat dan roti pake meisjes warnawarni buat sarapan yang sering kita karang waktu SD. karena ternyata anak kecil yang disiksa tadi adalah gambir sendiri dan gambir yang sebenarnya ternyata sekarang meringkuk di salah satu sel bawah tanah di museum fatahillah yang sudah disulap jadi sanatorium. seluruh film ini termasuk scene gorrific christmas dinner tadi semuanya ternyata hanya ada di dalam kepalanya! mungkin juga memang film pintu terlarang ini hanya satu dari sekian banyak film yang sudah berputar di kepala gambir sejak di umur delapan tahun ia menggorok leher kedua orang tuanya tapi tidak menggorok lehernya sendiri seperti dalam aborted bildungsromannya versi pintu terlarang dan kemungkinan ini lucu juga tetapi tetap saja secara filosofis scene in bikin kentang. apalagi setelah ini seperti layaknya dalam kebanyakan ceritacerita sekar ayu asmara penulis transexual novel pintu terlarang yang ceritanya diadaptasi jadi screenplay oleh joko anwar masih ada lagi juga twist yang seperti juga di ceritacerita sekar ayu asmara yang lain mungkin dimaksudkan untuk menunjukkan betapa banyaknya twists dalam kehidupan manusia atau mungkin di kepalanya sendiri: gambir yang telah keluar dari sanatorium ternyata telah jadi romo* yang dengan tekun mendengarkan pengakuan seseorang yang baru saja membunuh istrinya sendiri. o how ironic life is and how hypocritical our deeply religious semi-urban society! dan film pun berakhir dengan shot patung bunda maria. saya tidak ingat patungnya bunting atau tidak.

*p.s. apakah akan pernah ada film yang mengandung kritik sosial macam ini termasuk kritik terhadap hipokrisi moral yang berlandaskan nilainilai agama di indonesia tapi memakai setting makanmakan lebaran dan kultum di masjid ? kassian aja agama kristen/katolik selalu disuruh memanggul salib dosa semua agama yang telah turut berkontribusi dalam kebobrokan moral ini.

le petit chaban

le petit chaban 176 ribu bolehlah di cawanku
cukup untuk mengeringkan hati yang lembab

di jakarta masihkah ada gadis yang hanya lucu?
kalau kucipikumu akankah kau cipikaku?

sudah seribu kali aku menonton dvd bajakan casablanca
bagaimana kalau bogart berbeskap jawa?

rexona 24 hour protection di keteknya
rub it again, sam

rumah orang indo di den haag selalu bau menyan
membungkus rindu tanah air yang rawan

ante scriptum

—terdampar lagi di kamar ini
wallpaper motif trellis
mengelupas di sana sini
dua lampu sorot
tepat di atas kepala
lubang angin berbentuk hati
layang layang tanpa ekor
di langit sana

—langit di sini selalu biru
Pantone 292

—bukan misteri juga
sebenarnya seandainya
aku bisa mencegah menciumnya
di pojok bar gelap
dan seminggu kemudian
bilang ya saja
waktu dia menuntut
kita tidak bisa begini terus
kan gila

—tapi memang
sekali layang layang putus tali
tak ada yang mau benar benar tahu
siapa kini menaikkannya kembali

—mungkin juga tinggal rangka
gering di pucuk angsana

—kejar mengejar ada mangsanya
sekarang telah tiba
musim instan
benang telah digelas
layang layang berekor
bertelinga

—kalau hidup bisa seperti berburu
bukit hijau padang savanna
Afrika Sumbawa

—berhenti
(begitu saja)
peluru menembus kepala
atau hati ?

—belajarlah anatomi !

—semua hanya khayal semata
dan kata orang
32 waktunya beranjak dewasa

—aku pun sadar itu

—ada saatnya
turunkan ayunan
menggantung dasi
sebagai gantinya

—mana mungkin ada
hidup tanpa autopsi
hanya penyembelihan
diikuti makan pesta pora
di depan api unggun
tangan tangan merah hitam
diusapkan ke celana

—tidak!
hidup penuh post-mortem
segalanya
perhitungan gono gini
siapa yang membayar liburan ke Bali
siapa yang waktu itu ragu ragu pergi
cinta siapa yang lebih sejati ?

—baik kau biasakan
aku biasakan
naik banding
ke Mahkamah Percintaan
dengan kau sebagai
Hakim Ketua
Hakim I
Hakim II
Jaksa
Pembela

—aku sekedar pesakitan
di kursi berpunggung rotan

—di laporan koran esok hari
hanya foto punggungku yang diedarkan

—penjahat memang harus dihindari

—takut menular !

—Dewan Hakim Yang Mulia
ampunilah aku
karena aku tak tahu pun
apa yang telah kulakukan
aku tahu ini bukan alasan
apalagi alibi yang tak bisa dibantahkan
aku hanya menuntut
belas kasihan-Mu
karena aku manusia
tak tahu malu

—seandainya hidup
sesentimentil bayanganku !

—sekarang, ingat ingat ini,
catat kalau bisa
di blocnoot murahan pun tak apa
asal ‘kwaliteit baik’ :
kau sedang duduk duduk di Popi’s
kedai kecil di Gondangdia Lama
menonton kereta Bogor
melintasi bulan
lengan lengan
menggantung keluar
dari pintunya
dan hidup rasanya
seperti inilah seharusnya
selamanya

—masukkan Selected Poems
Williams-mu ke dalam tas
tak usah kunci tutupnya
ini kan hanya simbolik saja
toh kau sudah hapal
di luar kepala
The Widow’s Lament in Springtime
atau apapun dari
Journey to Love
(bukankah manis
epigrafnya:
’For My Wife’
—’the whole process is a lie’ !—
this whole poem

(—unless, paling tidak di kota ini
kau selalu kembali ke rumah
walau kau juga yang merusaknya)

Saia Lautan Api

SAIA
Sutradara: Djenar Maesa Ayu

Ditonton di: private screening di Subtitles, Dharmawangsa Square, Jakarta, lupa tahun berapa (2009?)

Saia, film terbaru Djenar Maesa Ayu, tidak seperti film-film Antonioni yang menanggalkan pakaian semua karakternya di menit pertama. Di menit pertama dalam Saia, kedua karakternya (mungkin bernama Saya dan Ia) memang sudah tidak berpakaian. Yang menempel di tubuh dua aktornya—Harry Dagoe dan Djenar sendiri—hanya tato, lebam, dan keringat.* Plot Saia simpel, sangat linear. Sepasang heterosexual menyewa holiday cottage dari bambu yang kelihatannya tidak terlalu murahan (sprei bersih, lampu meja bertutup kain kanvas putih a la Index Furniture, ada telpon), kemudian bercinta dengan berbagai macam gaya dengan jendela terbuka. Semuanya diabadikan oleh (mungkin) seorang voyeur dengan kamera digital dari kamar sebelah yang (kira-kira) berbentuk sama dari jendela yang juga terbuka (ada dua jendela, tembok di antaranya dengan lihai menyembunyikan penis Harry Dagoe sepanjang hampir 80 menit). Seperti holiday house mansion di film Salo Pier Paolo Pasolini, gubuk bambu Saia (perhatikan jumlah huruf yang juga sama dalam judul keduanya) juga bisa diinterpretasikan sebagai simbolisme sebuah eskapisme. Kalau orgy Pasolini adalah eskapisme ironis dari fasisme Il Duce (karena orgy untuk melarikan diri dari fasisme itu ternyata bukan cuma juga fasis tapi sadis dan masokis pula—poin satir hitam buku yang menginspirasi film ini, 120 Days of Sodom-nya Marquis de Sade, bahwa fas/sad-isme ada di dalam diri kita semua ke mana pun kita lari), gubuk Saia bisa juga diinterpretasikan menawarkan safe house dari fasisme Il Ba’asyir, Stormtroopers of MUI, dan kawan-kawannya. Kamera yang dipegang tangan dan kebanyakan diam (paling hanya bergerak dari jendela ke jendela, zoom in and out hanya kadang-kadang) selain mengingatkan kepada kerja kamera dalam reality shows seperti Big Brother, atau isi video-video VHS misterius di film Hidden (Caché) Michael Haneke, atau channel-channel sado masokis di klub Herosase dalam Pintu Terlarang Joko Anwar, juga mengingatkan kepada camera work primitif sutradara-sutradara 3gp Indonesia yang karya-karyanya, seperti Saia yang diputar di antara kalangan sendiri secara setengah rahasia, juga menghuni space dan status setengah underground setengah mainstream di kaskus dan berbagai blog penyedia link-link mesum. Scene-scene di film ini pun bisa dipilah-pilah berdasarkan fetish-fetish pornografi yang daftarnya sering ada di situs seperti youporn.com dan—versi Indonesianya—delthavideo.com: scene pertama blowjob, kedua swallow, ketiga foot fetish, keempat dildo, kelima BDSM, keenam (mungkin) rape, ketujuh (mungkin) snuff. Dan semuanya dibungkus dalam über-category MILF. Bedanya dengan menonton youporn atau mendownload video 3gp dari kaskus, kita tidak bisa memilih cuma menonton kategori yang kita suka. Selama 80 menit Saia bukan cuma mempersilakan penonton menjadi voyeur/peeping Tom/tukang ngintip tapi juga memaksanya untuk menikmati adegan-adegan yang mungkin tidak terlalu membuatnya ngaceng. Salah satu problem pornografi menurut mbah-mbah feminis serem Catherine McKinnon dan Andrea Dworkin adalah bahwa dalam proses produksinya aktor-aktor yang terlibat di dalamnya pasti dipaksa untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak mereka inginkan. Pornography is rape. Sex is rape. Nah, Saia, dengan cara memaksa penonton menonton hal-hal yang mungkin tidak ia sukai, telah membalik argumen ini. Gantian penonton—penikmat (mungkin) pornografi tadi—yang disiksa, yang diperkosa. Saia has turned pornography on its head! Lagipula, apakah Djenar sang sutradara benar-benar bermaksud menceritakan ada voyeur di cottage sebelah yang sedang membidikkan Flip HD-nya ke tetek Djenar dan dada Harry Dagoe yang berbulu sekaligus bergelimang keringat? Atau gaya handheld camera work ini hanya point of view seorang sutradara Dogme yang sedang bercerita tentang exhibisionisme Saya dan Ia? Apakah sebagai penonton kita deg-degan ikut mengintip atau meronta-ronta dipaksa untuk menonton? Di saat-saat waktu camera tiba-tiba zoom/maju ke tetek Djenar atau dada bergelimang keringat Harry Dagoe dan terdengar lamat-lamat suara nafas yang berat (film ini tanpa dialog dan hampir tanpa suara sama sekali)—apakah ini suara karakter si Djenar (Saya atau Ia?) yang akhirnya kedengaran dari jendela yang terbuka, atau suara nafas si voyeur yang ikut terangsang/tegang? Jika pun tidak ada voyeur dan yang ada hanyalah kameramen si Djenar Von Triers, maka ini juga cara yang cerdik untuk menjebak penonton menjadi voyeur itu sendiri. Sepanjang film penonton melihat dua jendela yang terbuka mempertontokan dua orang yang sedang ngewi dan tidak terlihat ingin menyembunyikan tubuh atau kegiatan mereka berdua. Penonton tidak diberi ruang untuk mengalihkan pandangannya. Kebanyakan kegiatan mengintip kecuali di peep-show tentulah dilakukan sambil sembunyi (orang yang masuk ke dalam bilik peep-show pun sedang sembunyi di bilik itu dan bilik itu bersembunyi di naungan sex-shop, legalitas pornografi di Amsterdam, etc.), tapi Saia tidak pernah membiarkan penonton—kalau dipikir-pikir semua penonton film, bahkan yang bukan pornografi, adalah voyeur bukan?—the ultimate voyeur ini, untuk sembunyi! Ia terpaksa melongo di depan Saya dan Ia sampai film ini berakhir dengan sebuah adegan snuff movie, di mana salah satu dari Saya dan Ia mungkin mati atau pura-pura mati dalam sebuah ritual sado masokis yang sangat terkontrol, dan sebuah twist** yang awalnya bagi saya agak membingungkan tapi kemudian menurut saya adalah cara yang pintar untuk meruntuhkan kepercayaan kita bukan cuma tentang seks, pornografi atau moralitas, tapi juga tentang (si)apa itu menonton dan (si)apa itu ditonton.

*dalam percakapan dengan Djenar, ia bercerita bahwa badan Harry Dagoe sempat biduran selama shooting sehingga selain keringat tubuhnya juga bergelimang bedak cair Caladyn

**bagi yang tidak terganggu dengan spoiler silakan melanjutkan baca:

Jadi setelah Djenar (Saya/Ia) memecahkan kepala Harry Dagoe dengan lampu meja dan atau pura-pura memecahkan kepalanya dengan lampu meja dalam permainan sado masokisme yang super rapi, Djenar (Saya/Ia) kemudian menutup kedua jendela di kamarnya untuk pertama kali. Kemudian kamera sempat mati (satu-satunya change of scene selama film ini adalah waktu kamera (seakan-akan) sengaja dimatikan (mungkin oleh si voyeur) dan sekali waktu (seakan-akan) kamera mati karena kehabisan batere (lengkap dengan ikon batere hampir habis di layar kemudian scene kira-kira tiga menit hanya layar hitam dan gambar ikon batere ngecharge di sudut kiri atas) sebelum dinyalakan kembali untuk mengambil shot dua jendela yang tertutup. Cukup lama. Setelah itu orang yang memegang kamera ini untuk pertama kalinya keluar kamar dan masuk ke dalam kamar dengan dua jendela tertutup tadi. Ternyata kamar kosong dan sudah rapi diberesi. Si pemegang kamera kemudian balik lagi ke kamar yang satunya, meletakkan kamera di kasur (tetap on), kemudian duduk di depannya. Siapa? Ternyata karakter yang dari tadi dimainkan Djenar sendiri (Saya/Ia). WTF??? Begitu pun reaksi saya pertama kali. Tapi karena saya terlatih menonton Dexter, otak forensik saya pun mulai bekerja dan saya menyadari bahwa setelah Djenar menutup jendela kemudian kamera mati, kita tidak pernah diberi tahu secara pasti apakah setelah kamera dihidupkan lagi kemudian menunjukkan lagi dua jendela yang tertutup, apakah dua jendela itu adalah dua jendela di kamar Saia dan Ia tadi. Bisa saja dua jendela yang tertutup itu adalah jendela di kamar di mana si voyeur tadi berada, diabadikan oleh kamera lain yang dipegang karakter yang dimainkan Djenar (Saya/Ia) tadi dari kamarnya sendiri.*** (Setelah membuang mayat Harry Dagoe dan atau menyuruhnya mandi.) Sehingga mungkin dari tadi si (mungkin) voyeur tadi ternyata bukan voyeur sama sekali tapi sesama eksibisionis yang memang diminta untuk mengabadikan Saya dan Ia ber-youporn ria sepanjang hari. Dan kali ini seharusnya giliran karakter yang dimainkan Djenar untuk mengambil gambar si sesama eksibisionis di kamar sebelah (entah lagi ngapain dan atau sama siapa). Dan mungkin selama ini mereka sudah saling membuat berbagai macam versi Saia dalam sebuah festival eksibisionisme yang sudah berlangsung ber-hari2 (120 days?). Efek twist ini sadis juga (sadis di sini dipakai dalam arti “hebat”, “gokil” seperti yang sering dipakai anak gaul Jakarta circa 2009), karena jika selama ini penonton mengidentifikasikan dirinya sebagai voyeur dengan segala macam problem moralnya (zina mata, objektifikasi seks/tubuh/perempuan/Harry Dagoe), itu adalah salah penonton itu sendiri. Karena ke-voyeur-an itu ternyata adalah fetishisme kita sendiri yang mungkin lama kita repress dan sembunyikan tapi ternyata hanya menjadi moral baggage yang kita bawa ke mana-mana termasuk waktu kita menonton Saia. Kita telah memproyeksikan voyeurisme kita sendiri kepada seorang karakter di dalam film yang sebenarnya hanya seorang maniak seks eksibisionis. Tentu hal yang terakhir ini punya relevansi yang sangat besar dalam dunia Indonesia sekarang. Saia mungkin ingin bilang bahwa fatwa Stormtroopers of MUI untuk membreidel Suster Keramas, misalnya, hanya refleksi bahwa para stormtroopers itu memang terobsesi dengan onani sehingga mereka begitu mengidentifikasikan keramas dengan mandi junub. Dan Saia mengatakannya dengan cara yang jauh lebih menarik dan kompleks daripada moralis-moralis dan atau filsuf-filsuf Twitter. Tapi selain itu, mungkin Saia juga sedang berbicara tentang/menyentil hal yang jauh lebih besar daripada sekedar hipokrisi moral: menonton film (porno maupun bukan) itu sendiri. Jika kita menonton Avatar 3D misalnya, tentu kita tidak punya tanggung jawab lain selain bayar tiket dan mengembalikan kacamata 3D setelah film selesai. Tapi, menonton Saia kita, seperti si sesama eksibisionis tak bernama tadi, justru dituntut untuk menandatangani sebuah perjanjian justru untuk menanggalkan kacamata apapun yang tadi kita pakai. Moral, seksual, tekstual, struktural—you name it. Kita boleh menonton, dipersilakan, tapi kita juga dituntut untuk menonton bagaimana kita sendiri menonton Saia, untuk membiarkan diri kita—seperti yang telah dilakukan dengan lapang dada (insert own Harry Dagoe dada bergelimang keringat joke here) oleh Saya dan Ia—menjadi obyek yang ditonton juga.

***mungkin Djenar memberi hint dengan celana dalam Harry Dagoe yang terjepit di daun jendela waktu ia menutupnya. Kalau pas kamera dinyalakan lagi menunjukkan dua jendela yang tertutup tanpa celdal Harry Dagoe nyempil di situ berarti mungkin sekali sudut pandang film memang sudah berubah dan dua jendela itu memang jendela di kamar si (mungkin) voyeur tadi. Kalau ada celdal yang nyempil? Berarti semua jadi lebih membingungkan lagi dan argumen-argumen saya patah semua hehehe. Tapi saya tidak ingat ada atau tidak ada celdal Harry Dagoe di adegan itu. Perlu nonton lagi.

makmal bah!

correspondances

instalasi abbas kiarostami & victor erice 

dilihat di: centre pompidou, paris, late 2007

dulu waktu kecil gue bisa ingat nama personil band favorit gue.

sampai sekarang pun gue masih ingat. coba, poison: rikki rockett, bret michaels, c.c. deville, bobby dall.

baru aja gue cek ke wikipedia bahkan spelling rikki rockett gue pun gak ada salahnya.

atau kalau gak gitu, gue juga hapal nama aktor film favorit gue, sutradaranya siapa, penulis skenarionya.

ah udahlah, preamble ini kelamaan.

poin gue, sekarang gue suka the shins misalnya, but fuck knows if i can mention the name of even one of their members.

atau gue suka banget film kiarostami yang tentang cowok yang menyamar jadi makmalbaf yang waktu itu gue tonton di subtitles dengan volume kegedean, tapi sampai sekarang pun gue gak inget itu film judulnya apa.

ya, vero, gue tahu lu tahu.

poin gue satu lagi, gue gak tahu apakah ini berarti gue sekarang sudah tak sefanatik dulu lagi atau sel-sel otak gue sudah banyak yg hilang tergelontor bir, baks, iprits, coke, shabu, hasish, acid, dll, gue udah gak inget lagi.

jadi waktu ngelihat di centre pompidou ada eksebisi “correspondances” antara kiarostami dan victor erice, gue gak yakin apakah gue sebenarnya pengen lihat.

takutnya, ini sekali lagi contoh seniman kemaruk melakukan diversifikasi usaha. films? why not installation arts?

tapi ini juga kelamaan, menulis tentang sesuatu dengan sok2 skeptis tapi udah jelas banget akhirnya gue bakal bilang gue seneng banget dengan sesuatu itu.

ya memang, gue suka banget dengan eksebisi ini. habis, emang bagus sih.

mengikuti sens de la visite-nya kita akan melihat bagian kiarostami dulu.

pertama, satu screen dibagi dua, dua-duanya film dokumenter lama yang dulu sering dia bikin untuk pekerjaannya sebagai apa gue lupa. sebelum dia meledak jadi sutradara persia favorit eropa. tapi mirip-miriplah gambar dan gayanya dengan scene pengadilan di film tentang makmalbaf itu.

cinema vérité? veritably boring.

(pas court scene itu gue juga ketiduran, padahal bantal subtitles kan banyak yg bau.)

kemudian habis itu footage dua orang di kasur, cowok cewek, berselimut putih, sprei putih, yang diproyeksikan ke lantai hitam. dekornya semuanya hitam by the way, dindingnya, langit-langitnya juga. cowok cewek ini lagi tidur. real time. ada keterangan instalasi video ini 90 menit panjangnya. mungkin 85 menit lagi mereka akan tung-tung doggy style, tapi place de clichy juga cuma 10 menit dari sini.

lanjut. habis itu satu seri foto-foto tentang iran yang lagi bersalju. biasa aja. indah sih. tapi agak-agak fotografer.net-ish. geometris banget.

habis itu, wow. ini dia baru. satu seri foto-foto yang dari jauh keliatannya seperti ceprotan warna-warna buram saja, tapi dari dekat ternyata foto-foto yang dia ambil dari dalam mobil dengan kaca tertutup pas hujan (dan wipernya gak dinyalain kalau fotonya diambil dari balik windshield).

they were fucking beautiful.

kadang-kadang gue merasa penasaran pengen tahu bayangan di balik bulir-bulir air hujan itu apa, tapi kemudian tiba-tiba sadar selama itu gue sebenarnya sedang terpukau dengan bulir-bulir air hujan itu sendiri.

atau gue sedang menikmati pola-pola yang dibuat air hujan itu di kaca mobilnya (tahu kan suka ada air yang meluncur turun dari atap mobil? jadi kelihatan seperti kanal di bulan), kemudian tiba-tiba dikejutkan oleh bola merah yang warnanya ngejreng banget, yang ternyata lampu merah.

akhirnya gue gak tahu lagi setiap kali gue melihat foto-foto itu sebenarnya gue sedang melihat apa. jadinya melihat semua ini dari dekat lama-lama seperti melihat mereka dari jauh tadi. ceprotan warna-warna yg buram tapi indah. seperti kanvas-kanvas rothko di lantai bawah.

kemudian setelah itu, beneran, a real installation. namanya “kiarostami garden”, “jardin du kiarostami”, kaya gitulah. sebuah ruang berdinding cermin dengan karpet hijau dan pilar-pilar seukuran pohon pinus yang ditempeli wallpaper (barkpaper?) warna hijau pupus yg kalau dilihat dari jauh seperti korengan dan kalau dilihat dari dekat ternyata memang berpola kulit pohon. lengkap dengan beberapa grafiti victorinox. “yuval heart assaf”.

ada kursi metal warna hijau di situ. persis kaya di jardin du luxembourg. gue dudukin. menghadap ke dinding cermin. jadi kaya gini tampang gue kalau lagi kesepian dan gak punya temen.

“excusez-moi, monsieur.” bah, ternyata ini kursi kru tv5 yang lagi liputan di situ.

setelah itu, la pièce de resistance, les correspondances. yang ternyata sepuluh(an—gak inget lagi persisnya berapa) video letters yang saling mereka kirim selama tiga tahunan (atau lima, whatever, katanya juga korespondensi ini sebenarnya masih berlangsung sampai sekarang). sahabat mpeg. hahaha.

contoh: kiarostami mengirim video tentang buah pir yang ia petik dari kebunnya, terus dibuang ke sungai, terus selama 10(-an) menit kita menonton pir itu melaju di sungai yang arusnya lumayan deras itu, sampai hampir bosen, walaupun gue jadi bertanya-tanya gimana caranya dia bisa mengikuti pir yang memantul-mantul cepat di permukaan air itu? sampai akhirnya seorang gembala muncul mengambil pir itu, yang kemudian digigitnya, kemudian disodorkannya ke mulut salah satu kambingnya, dan kambing itu kelihatan senang, dan kambing yang lain datang, dan ikutan menggigit pir itu, dan mereka juga kelihatan senang, dan kambing-kambing yang lain datang lagi, dan akhirnya si gembala tertawa dan membiarkan pirnya direbut kambing-kambingnya yang kesenangan.

kemudian kamera pans out memperlihatkan gembala itu berjalan meninggalkan kerumunan kambingnya yang lagi berebutan buah pir dan jalan aspal di kejauhan. ada sebuah mobil di jalan itu. karena dilihat dari jauh, mobil itu kelihatannya berjalan begitu pelan. semuanya berwarna coklat, coklat, coklat.

waktu si gembala itu tertawa dan kambing-kambingnya kesenangan gue juga ikut tertawa, padahal rasanya seperti ada seember air asin yang nyangkut di dada, tenggorokan, dan di sekitar mata.

dan jawaban erice adalah: memperkenalkan seorang gembala dan biri-birinya di country spanyol, yang coklat juga tapi lebih tak berumput, mengikutinya menggembala beberapa saat (nggak real time) kemudian kelihatannya gembala itu lagi bersender di pohon untuk makan siang tapi ternyata dia lagi menonton video kiarostami tadi di video ipod yang diberikan erice (pastinya, karena selama ini si gembala berbicara langsung dengan si erice di belakang kamera).

“ah, dia gembala yang baik, gembala yang baik,” kata gembala spanyol itu di akhir video.

“kamu tahu nggak itu di mana?” tanya erice.

“nggak.”

“iran.”

“____?” (nama tempat yang berima dengan iran tapi kelihatannya mungkin pasti nama sebuah desa di spanyol. obvious, karena gue yakin penonton yang lain juga gak tahu ____ itu di mana, tapi semuanya tertawa.)

(cheap shot, eh?)

(why didn’t he stop at “gembala yang baik”?)

begitulah seterusnya. erice melucu, dan kiarostami lucu tanpa berusaha melucu. dan membuat trenyuh tanpa gue tahu bagaimana tadi caranya.

setelah itu gue juga menonton film setengah panjang erice, hitam putih, yang tentang sekeluarga petani di sebuah desa spanyol. ada bayi lahir, anak-anak yang bermain di ayunan dengan kaki telanjang, dan bapak-bapak bermuka keras yang membabat rumput dengan sabit ayun besar. rasanya seperti sewaktu-waktu sabit ayun itu akan membabat kaki-kaki telanjang anak-anak itu.

juga ada penjelasan di dinding bahwa kiarostami dan erice dua-duanya menganggap masa kanak-kanak sebagai masa terpenting dalam hidup dan sebaiknya kita semua kembali ke situ.

mungkin kalau gue bisa kembali ke situ juga gue bakal bisa inget akhirnya apa judul film kiarostami yang beneran ada makmalbafnya di endingnya yg menerenyuhkan itu.