ante scriptum

—terdampar lagi di kamar ini
wallpaper motif trellis
mengelupas di sana sini
dua lampu sorot
tepat di atas kepala
lubang angin berbentuk hati
layang layang tanpa ekor
di langit sana

—langit di sini selalu biru
Pantone 292

—bukan misteri juga
sebenarnya seandainya
aku bisa mencegah menciumnya
di pojok bar gelap
dan seminggu kemudian
bilang ya saja
waktu dia menuntut
kita tidak bisa begini terus
kan gila

—tapi memang
sekali layang layang putus tali
tak ada yang mau benar benar tahu
siapa kini menaikkannya kembali

—mungkin juga tinggal rangka
gering di pucuk angsana

—kejar mengejar ada mangsanya
sekarang telah tiba
musim instan
benang telah digelas
layang layang berekor
bertelinga

—kalau hidup bisa seperti berburu
bukit hijau padang savanna
Afrika Sumbawa

—berhenti
(begitu saja)
peluru menembus kepala
atau hati ?

—belajarlah anatomi !

—semua hanya khayal semata
dan kata orang
32 waktunya beranjak dewasa

—aku pun sadar itu

—ada saatnya
turunkan ayunan
menggantung dasi
sebagai gantinya

—mana mungkin ada
hidup tanpa autopsi
hanya penyembelihan
diikuti makan pesta pora
di depan api unggun
tangan tangan merah hitam
diusapkan ke celana

—tidak!
hidup penuh post-mortem
segalanya
perhitungan gono gini
siapa yang membayar liburan ke Bali
siapa yang waktu itu ragu ragu pergi
cinta siapa yang lebih sejati ?

—baik kau biasakan
aku biasakan
naik banding
ke Mahkamah Percintaan
dengan kau sebagai
Hakim Ketua
Hakim I
Hakim II
Jaksa
Pembela

—aku sekedar pesakitan
di kursi berpunggung rotan

—di laporan koran esok hari
hanya foto punggungku yang diedarkan

—penjahat memang harus dihindari

—takut menular !

—Dewan Hakim Yang Mulia
ampunilah aku
karena aku tak tahu pun
apa yang telah kulakukan
aku tahu ini bukan alasan
apalagi alibi yang tak bisa dibantahkan
aku hanya menuntut
belas kasihan-Mu
karena aku manusia
tak tahu malu

—seandainya hidup
sesentimentil bayanganku !

—sekarang, ingat ingat ini,
catat kalau bisa
di blocnoot murahan pun tak apa
asal ‘kwaliteit baik’ :
kau sedang duduk duduk di Popi’s
kedai kecil di Gondangdia Lama
menonton kereta Bogor
melintasi bulan
lengan lengan
menggantung keluar
dari pintunya
dan hidup rasanya
seperti inilah seharusnya
selamanya

—masukkan Selected Poems
Williams-mu ke dalam tas
tak usah kunci tutupnya
ini kan hanya simbolik saja
toh kau sudah hapal
di luar kepala
The Widow’s Lament in Springtime
atau apapun dari
Journey to Love
(bukankah manis
epigrafnya:
’For My Wife’
—’the whole process is a lie’ !—
this whole poem

(—unless, paling tidak di kota ini
kau selalu kembali ke rumah
walau kau juga yang merusaknya)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s