MENULIS PUISI NIRWAN DEWANTO ITU GAMPANG

“gerinjam zarah zuhrah suluh ara-ara berjelatang timpas melur perigi terpiuh balam beting mirah menyigi lesung kalis mengumbai tusam kalibut pal akanan mengampu badam tohor nyiru kiambang mara malai bahang ungkai renyai temurui resam swami zahir bersulih gelagah limas ning-kuning jelai rami senarai suam miang saliara bengkarung lisut gergasi lencir aluh kana mencekuh bersinau-sinau menguar matraContinue reading “MENULIS PUISI NIRWAN DEWANTO ITU GAMPANG”

RT please (sebuah refleksi tentang @kopdarbudaya 3 yang membahas hegemoni social media)

@kopdarbudaya 3 malam ini (15 april) sangat menarik, walaupun saya tidak setuju dengan banyak poin pembicaranya, @okkymadasari. tentang pembicara yang satu lagi @kramput saya tidak punya banyak komentar, karena sepertinya dia tidak ngomong apa-apa sebenarnya, walaupun nada bicaranya seperti dia sedang ngomong sesuatu yang penting. @okkymadasari berbicara tentang hegemoni di twitterverse. siapa-siapa yang menjadi anggotaContinue reading “RT please (sebuah refleksi tentang @kopdarbudaya 3 yang membahas hegemoni social media)”

sesuatu afrizal malna*

ledakan-ledakan kecil jadi kebakaran dalam tubuh saya. saya adalah orang yang percaya dengan referensi. abad yang berlari bukan puisi saya, itu puisi indonesia. di senen, di dunia saya, telinga bisa dijadikan kuping. hidup adalah getaran lantai bis kota. dada datang dari dunia yang tidak bernama. saya kembali ke tubuh saya. saya percaya dengan pekerjaan-pekerjaan fisik,Continue reading “sesuatu afrizal malna*”

Juru Unyu

Beberapa waktu lalu Julian Aldrin Pasha, jubir Presiden RI, menulis artikel di Kompas menanggapi kritik Mochtar Pabottinggi terhadap Presiden SBY. Jika seperti George Orwell bilang, “good prose is like a window pane”, prosa (kalau bisa dikatakan begitu) Julian ini seperti daun jendela yang terlalu banyak ukirannya sampai lupa menyisakan lubang buat kacanya. Untuk memudahkan pembacaContinue reading “Juru Unyu”

Sesuatu Indonesia: Personifikasi Pembaca Yang Tak Bersih

oleh Afrizal Malna Yayasan Bentang Budaya, 2000 580 halaman (dapat salam dari War and Peace)     aku sudah beli buku ini lama, bertahun2, tapi tak pernah membacanya karena berat, like literally, this book is a doorstopper/brick/a ton of bricks. berat banget. kertasnya tebal, kertas sampulnya art paper tebal. makes me think mungkin ipad gakContinue reading “Sesuatu Indonesia: Personifikasi Pembaca Yang Tak Bersih”

Kunci: Himpunan Puisi

by TS Pinang   very interesting post-afrizal collection of poems. if afrizal’s poems contain words that serve as indexes of the world/semiotic relationships around them, ts (apa itu ts, tanya anak2 buma di antologi buma 1) pinang’s poems are like extended footnotes to these index entries. “kami membaca kulkas dan televisi di selebaran promo diskonContinue reading “Kunci: Himpunan Puisi”

sastra kesaksian atau romantika semata?

esei damhuri muhammad di kompas minggu (2/8/09), yang berjudul ‘romantika pasca-enam lima’, meminjam istilah pengarangnya sendiri adalah tulisan yang tidak ‘akan berdiri sebagai peristiwa yang mandiri’. kita perlu memperhitungkan ‘fakta-fakta’ di luar ‘esei’ ini. membaca esei ini saya jadi sadar, damhuri memang hidup di masa ‘pasca-65’ tapi mungkin bukan tahun 2009. begitu takutnya dia denganContinue reading “sastra kesaksian atau romantika semata?”

Tante Sophie

around the same time i decided to publish The Book, i bought a new vespa too. and by ‘bought a new vespa’ i meant buying a vespa that is new. 2007 issue. but the newness is not the point. what is the point. off all this shit. the shit is the relationship i had withContinue reading “Tante Sophie”

kritisisme anyar

dialog sing asale soko blog favoritku iki (tulisan nang ngisor iki luwih iso dinikmati nang kono): anggoro gunawan: ing basa jawa, tembung kriya (kata kerja) iku ora kaya basa inggris sing nduwèni wektu. tembung turu, mbok saiki, wingi, sesuk, utawa kapan waè tetep “turu.” beda karo sleep, slept, sleep. wong jawa mataraman sing akrab karoContinue reading “kritisisme anyar”

let’s judge a book by its cover

David=Saut’s Death=Apotheosis of Marat=Saut By 1793=2009, the violence of the [boemipoetra] Revolution dramatically increased until the beheadings at the Place de la Concorde=Salihara became a constant, leading a certain Dr. Joseph Guillotine=Saut Situmorang [Saut henceforth] to invent a machine that would improve the efficiency of the ax and block=Saut and therefore make executions more humane.Continue reading “let’s judge a book by its cover”