BANGKIT DARI LAPAK: Abdullah Harahap Dalam Kanon Sastra Indonesia

Artikel tentang Abdullah Harahap biasanya akan dimulai dengan membicarakan statusnya sebagai pengarang cerita-cerita horor murahan—dime novels-lah, stensilan-lah, picisan-lah, sastra kaki lima-lah—yang buku-bukunya dibungkus sampul bergaya ersatz Basoeki Abdullah yang murahan juga dan sampai sekarang di tukang loak pun masih dihargai murah pula. Seperti karakter-karakter malang dalam cerita-ceritanya sendiri yang biasanya tidak bisa membebaskan diri dari kutukan walaupun sudah mengunjungi berapa banyak dan jenis dukun (magi putih maupun hitam), Abdullah Harahap sepertinya juga tidak bisa melepaskan diri dari kutukan status murahan ini.

Namun upaya merestorasi nama Abdullah Harahap sudah dimulai. Februari 2010 lalu, Intan Paramadhita, Eka Kurniawan, dan Ugoran Prasad menerbitkan kumpulan cerpen (masing-masing menulis empat cerita) Kumpulan Budak Setan yang, katanya, “dengan menggunakan tema dan motif yang kerap muncul dalam karya-karya Abdullah, … menelusuri dan memaknai ulang horor dalam produksi kebudayaan di Indonesia sembari bermain di batas antara sastra dan budaya populer.”

Ketiga pengarang ini dalam pembukaan buku mereka berbicara dengan bersemangat tentang “ruang-ruang subversif” (bukan cuma ruang-ruang bawah tanah), “apropriasi modus realisme Barat”, dan “distopia” dalam cerita-cerita Abdullah Harahap (unsur-unsur sastrawi yang mungkin tidak disangka/seharusnya ada dalam karya sastra kaki lima) dan dengan cara masing-masing berusaha menghidupkan kembali unsur-unsur tersebut dalam cerita mereka sendiri (dan jika berhasil, saya rasa mungkin harapannya adalah paling tidak membuktikan bahwa sastra dan genre horor tidak mutually exclusive).

Tapi pembuktian ini untuk siapa? Siapa yang perlu pembuktian bahwa Abdullah Harahap sebenarnya adalah penulis yang baik, selain juga populer? Tentu bukan masyakarat umum/pembaca biasa/pelanggan taman bacaan. Mereka sudah lama menggemari Abdullah Harahap, tidak perlu pembuktian lagi.

Bahkan, akhir-akhir ini Abdullah Harahap kembali hip, sebagai salah satu merek kitsch cool yang digemari kaum menengah terutama di Jakarta. Seperti juga anak-anak indie Jakarta yang sudah kehilangan akal plat tujuh inci Pavement mana lagi yang akan menakjubkan pengunjung Parc di tahun 2004, kemudian memutuskan untuk bergerilya di Jalan Surabaya mencari plat-plat Tetty Kadi, Titiek Sandhora dan Anna Mathovani—bintang-bintang pop mainstream dalam masanya—penggemar buku di Jakarta sekarang juga suka mengobrak-abrik lapak-lapak buku bekas (di bawah tanah!) di Blok M Square (dulu Blok M Mall) dan mengunggah hasil buruan mereka di Twitpic. Yang mereka anggap harta karun dalam kegiatan yang sering masuk dalam agenda ‘80s revival anak gaul Jakarta ini adalah  roman-roman ala Mills & Boon Fredy S. dan Maria Fransiska serta kumpulan cerpen dan novel Abdullah Harahap. (Ketiga pengarang ini statusnya masih di bawah Enny Arrow tentunya.)

Sebagai sebuah pernyataan counterculture (atau kadang-kadang cuma gaya), bagi mereka punya koleksi Abdullah Harahap lebih cool daripada punya rak berisi Saman, Bilangan Fu, atau Jantung Lebah Ratu.

Karya-karya Abdullah Harahap, seperti juga hasil komodifikasi (bukan cuma produksi) horor lain di Indonesia, memang berada dalam posisi yang sulit. Di satu sisi (publik), selalu disukai, di sisi lain (kritik), selalu dicaci. Dalam dunia film Indonesia sekarang misalnya (jangan lupa cerita Abdullah Harahap juga pernah diangkat menjadi film bioskop di tahun ’80-an), film-film seperti Tiren (Mati Kemaren), Tiran (Mati di Ranjang), dan Suster Keramas—yang seperti Abdullah Harahap juga menggabungkan ramuan maut horor dan seks (dan komedi), dianggap akan menjerumuskan dunia film Indonesia kembali ke dalam kematian. (Sering diiringi asumsi bahwa film-film yang lebih arthouse macam Babi Buta Ingin Terbang, Rumah Dara, dan Pintu Terlarang akan menyelamatkannya, dan lupa menyebutkan bahwa ketiga film ini pun mengeksploitasi horor, kekerasan, dan seks!)

Ironis bukan jika yang mencaci mengkomodifikasi hal yang sama dengan yang dicaci?

Jadi apa yang menyebabkan cerpen-cerpen Abdullah Harahap disebut picisan sementara, misalnya, kumpulan cerpen Intan Paramadhita yang pertama, Sihir Perempuan, disebut sastra. Apa hanya karena Intan diterbitkan oleh KataKita sementara Abdullah sering diterbitkan oleh Gultom Agency?

Bagi saya, pernyataan bahwa Kumpulan Budak Setan “bermain di batas antara sastra dan budaya populer”, menimbulkan pertanyaan yang ternyata susah dijawab. Di mana batas itu sendiri?

Untuk menulis pengantar singkat ini saya membaca tujuh novel Abdullah Harahap, dua kumpulan cerpen, dan satu novel karya Nasrullah Harahap dan satu karya Tara Zagita. Semacam crash course dalam novel horor Indonesia ’80-an.

Dari membaca sedikit dari sedemikian banyak karya Abdullah Harahap tadi (ada berapa sebenarnya?), saya beranggapan bahwa status picisan/stensilan/murahan/sastra kaki lima Abdullah Harahap bukanlah salah karya-karyanya sendiri namun salah dunia sastra Indonesia. Tepatnya, salah dunia sastra Indonesia sendiri kenapa tidak punya kanon(isasi) sastra yang jelas. Kenapa dalam dunia perbukuan Indonesia hanya ada sastra dan bukan sastra (yang sering disebut dengan eufemisme itu tadi, “budaya populer”)?

Kalau Abdullah Harahap orang Inggris atau Amerika maka akan banyak sekali genre atau subgenre sastra yang siap menerima karyanya dengan tangan (berkuku runcing) terbuka. Horror, fantasy, weird fiction (ala Lovecraft), cosmic fiction, mystery fiction, macabre fiction (ala Poe), gore (ala DVD-DVD terbitan Troma dan Mondo Macabre yang juga merilis ulang film-film horor klasik Indonesia dari tahun ’80-an macam Leak (dengan judul Mystics in Bali), dan tentunya, Gothic.

Ternyata cerita-cerita Abdullah Harahap banyak memakai tema, motif, tropes, mise-en-scène, karakter, plot dari genre-genre di atas. Sastra Barat tidak usah susah-susah menciptakan genre jadi-jadian macam sastra kaki lima bagi Abdullah Harahap. Tinggal pilih. Walaupun kadang-kadang susah juga menemukan kategori atau genre yang pas bagi satu cerita Abdullah. Dari sedikit cerita yang saya baca di atas pun, jelas bahwa Abdullah adalah penulis mash-up yang handal. Ia bisa menggabungkan mise-en-scène gothic klasik puri misterius di atas bukit dengan plot Melayu tradisional mencari kesembuhan dari dukun, dengan luwes (dalam novel Nyai Banjarsari), yang juga melibatkan persembahan manusia ala macabre dan gore fiction sekaligus kisah cinta sentimentil ala Fredy S. Abdullah sama ahlinya dalam hal genre mash-up dengan 2 many DJs!

Jika memang perlu sebuah umbrella term untuk karya-karya Abdullah Harahap, mungkin yang paling pas (dengan modifikasi di sana-sini) adalah Gothic fiction. Seperti Abdullah, Gothic fiction juga mencampur unsur-unsur horor dan roman. Dan memang, selain menulis cerita-cerita horor (biar gampang sementara kita sebut saja begitu) berjudul seperti Penunggu Jenazah, Dalam Cengkraman Iblis, atau Perawan Tumbal Setan, Abdullah juga pernah menulis roman ala Fredy S. berjudul antara lain Gemas-Gemas Disayang, Ketika Burung Camar Terbang Lalu, dan Rinduku di Antara Desah Nafasmu.

Banyak elemen-elemen dalam karya Abdullah Harahap yang sama dengan ciri-ciri Gothic fiction. Soal arsitektur misalnya. Seperti kita tahu, Gothic fiction tumbuh bersamaan dengan Gothic revival architecture. Puri, reruntuhan, gereja penuh gargoyle, kuburan. Novel yang memulai genre Gothic sendiri ber-setting di sebuah kastil, The Castle of Otranto. Tokoh-tokoh antagonis dalam cerita Abdullah Harahap pun sering bertempat tinggal dalam versi modern (’80-an) dari sebuah puri, biasanya berbentuk rumah mewah di atas bukit (novel Nyai Banjarsari dan Perawan Tumbal Setan), atau rumah besar bertembok tinggi yang memencil dari rumah-rumah lain (cerpen Koridor dalam kumcer Suara dari Alam Gaib).[1]

Atau unsur Gothic excess. Gothic fiction melawan tren naturalisme ala Enlightenment yang  mewajibkan sastra merepresentasikan kehidupan senatural mungkin dengan mem-fantasikan kehidupan nyata dengan imajinasi yang liar. Bangsawan aneh berkulit pucat di puri itu bukan cuma lelaki yang kesepian tapi seorang drakula penghisap darah! Lorong bersarang laba-laba itu tidak menuju ke tempat penyimpanan anggur tapi ke ruang penyiksaan! Pendeta itu bukan saja munafik dan jahat, tapi ia sudah menjual jiwanya kepada iblis! Cerita-cerita Abdullah juga penuh excess: Harlas tidak hanya meringis ketakutan mendengar cerita tentang leluhur dedemit desa Rawabangke yang terkutuk(novel Dalam Cengkraman Iblis), ia terkencing-kencing. Bukan cuma rumah berkamar tidur 32 juragan Badra Kartadireja (novel Perawan Tumbal Setan) yang runtuh di akhir cerita, namun daerah perbukitan di sekitarnya pun ikut porak poranda.[2] Penunggu jenazah Kurdi tidak sudi membunuh lalat sekalipun (asketisme yang excessive), tapi dengan sadis menggagahi mayat yang ditunggunya (nekrofilia, by definition sudah excessive).

Nekrofilia juga sebuah contoh Gothic transgression. Tokoh-tokoh dalam cerita-cerita Abdullah Harahap melanggar batas-batas moral dan rasio, seakan-akan batas-batas itu tidak pernah ada.[3] Badra Kartadireja mengorbankan anak perempuannya sebagai tumbal pesugihan bagi siluman berang-berang raksasa dan selama berpuluh-puluh tahun ia bisa hidup kaya-raya dan polisi tidak pernah bisa mengungkap kejahatannya. Penunggu jenazah Kurdi merasa layak sesekali meniduri mayat perempuan yang mati muda karena ia telah dikutuk tidak bisa beristri dan kebejatannya (dilihat dari moralitas mainstream—dilihat dari moralitasnya sendiri ini sekedar quid pro quo dengan takdir yang wajar-wajar saja) tidak pernah dipergoki. Larasati (Dalam Cengkraman Iblis) tidur dengan kedua pamannya (inses! satu lagi Gothic trope) dengan alasan untuk menghilangkan kutukan keluarga.

Seperti dalam Gothic fiction, excess dan transgression dalam cerita-cerita Abdullah Harahap adalah cara tersendiri untuk memberi ceramah tentang moral, walaupun moral yang ditawarkan bertentangan dengan moral mainstream pada masanya. Setelah Badra Kartadireja binasa (biji mata pecah, kulit robek—excess, gore), kehidupan keluarganya yang dulu teratur (walaupun di bawah teror—sindiran terhadap Orba Soeharto?) justru hancur dalam sengketa warisan (ingat plot Castle of Otranto juga tentang rebutan warisan). Setelah penunggu jenazah Kurdi mati, tidak ada lagi yang bisa mencegah ibu yang mati waktu melahirkan bayinya menjelma menjadi kuntilanak. Pemburu yang menembak kera di hutan mati ditembak memakai peluru yang sama oleh istri kera (jadi-jadian) tadi yang menjelma menjadi juru tik-nya (cerpen Dendam Roh Jejaden, satu lagi cerita horor pro lingkungan Abdullah Harahap—sustainable horror story? :)).

Masih banyak lagi elemen-elemen Gothic klasik dalam cerita-cerita Abdullah Harahap:  protagonis yang dipaksa hidup menyendiri oleh sebuah kutukan (bandingkan penunggu jenazah Kurdi dengan the Wandering Jew); tokoh femmes fatales seperti Nyai Banjarsari si dukun seksi, atau Ira Herawaty (Perawan Tumbal Setan) dan Larasati (Dalam Cengkraman Iblis) yang lewat vagina sama-sama bisa menyedot darah lelaki yang menyetubuhi mereka; macam-macam kutukan—dari kutukan menjadi penunggu jenazah sampai kutukan mengorbankan bayi perempuan sendiri kepada siluman berang-berang; dll.

Jadi, jika saja kanon sastra Indonesia terbentuk dengan benar,[4] seharusnya ia punya tempat untuk Abdullah Harahap sebagai (paling tidak) wakil sastra Gothic.

Mungkin Kumpulan Budak Setan, yang diterbitkan Gramedia, sedang memulai proses diterimanya sastra Gothic/Horor/Gore dalam kanon sastra Indonesia. Atau, kumcer ini sedang ikut membentuk kanon yang belum jelas itu, dan proses ini perlu waktu. Gothic fiction juga tidak langsung diterima oleh kanon sastra Barat. Horace Walpole harus berpura-pura The Castle of Otranto-nya adalah sebuah terjemahan dari manuskrip medieval berbahasa Italia karena ia tidak yakin ceritanya akan diterima oleh publik. The Monk karya M.G. Lewis dikritik oleh Coleridge sebagai roman yang tidak pantas dibaca oleh remaja. Jane Austen mencela novel gothic macam The Mysteries of Udolpho sebagai bacaan kacangan dalam parodi novel gothic-nya Northanger Abbey. Namun sekarang H.P. Lovecraft bisa bersanding dengan Henry James dalam satu antologi yang diterbitkan New York Review of Books. Dan The New Yorker pun mau menerbitkan cerpen Stephen King.

Atau yang namanya kanon sastra Indonesia itu juga makhluk jadi-jadian yang sebenarnya tidak pernah ada, karena tidak ada orang yang tahu parameternya apa. Sehingga Gramedia sebelum menerbitkan Kumpulan Budak Setan bisa lebih dulu menerbitkan novel gothic psycho-thriller Sekar Ayu Asmara (true heir Abdullah Harahap menurut saya), Doa Ibu, dan memajang buku itu di semua tokonya, di rak Sastra.

[1] Tadinya saya kira rumah besar bertembok tinggi dalam cerpen Koridor ini dimodernkan lagi dengan baik oleh Intan Paramadhita menjadi rumah megah “seperti kastil” di pinggiran kota di cerpennya yang berjudul Pintu dalam Kumpulan Budak Setan. Tapi Intan bercerita ternyata rumah ini diadaptasi dari rumah Pak Lurah dalam cerita Titisan Iblis Abdullah Harahap.

[2] Ini juga sindiran terhadap pembangunan rumah-rumah di daerah perbukitan sekitar Bandung yang menyalahi tata letak kota. Banyak cerita Abdullah Harahap yang mengandung sindiran pro lingkungan seperti ini.

[3] Deskripsi yang sepertinya juga pas bagi karya-karya Abdullah sendiri dalam konteks sastra Indonesia.

[4] Tentang intrik-intrik politik sastra Indonesia di balik pembentukan kanon sastra-nya, baca “Politik Kanonisasi Sastra” dalam buku kumpulan esai Saut Situmorang, Politik Sastra.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s