RT please (sebuah refleksi tentang @kopdarbudaya 3 yang membahas hegemoni social media)

@kopdarbudaya 3 malam ini (15 april) sangat menarik, walaupun saya tidak setuju dengan banyak poin pembicaranya, @okkymadasari. tentang pembicara yang satu lagi @kramput saya tidak punya banyak komentar, karena sepertinya dia tidak ngomong apa-apa sebenarnya, walaupun nada bicaranya seperti dia sedang ngomong sesuatu yang penting.

@okkymadasari berbicara tentang hegemoni di twitterverse. siapa-siapa yang menjadi anggota hegemoni ini, the usual suspects: @gm_gm, @ulil, @assyaukanie. tapi sepertinya @okkymadasari lebih membicarakan tentang hegemoni oligopoli ini di luar twitter, di alam realpolitik di sana. ia berbicara tentang kemampuan @gm_gm mempengaruhi realpolitik itu untuk keuntungannya sendiri-sendiri dan teman-temannya.

itu pendapat saya in hindsight. pada waktu @kopdarbudaya ini terjadi saya menganggap @okkymadasari sedang berbicara tentang twitterverse itu saja, dan masalahnya di timeline saya @gm_gm bukan siapa-siapa. bahkan saya tidak follow dia sama sekali (walaupun selalu dapat saja RT-annya).

saya pikir twitterverse @okkymadasari sempit sekali, dan ia tidak mempertimbangkan bahwa ada twitterverse-twitterverse lain yang tidak terpengaruh oleh hegemoni @gm_gm & co. bahkan sama sekali tidak kenal siapa @gm_gm itu (walaupun mungkin tetap dapat RT-annya :P).

berkali-kali @okkymadasari bertanya (“rhetorical question” kata @waraney) “baca kan waktu itu @assyaukanie/@ulil/@gm_gm ngomong apa?”, dan jarang sekali yang menjawab ya. karena anak-anak yang hadir di @kopdarbudaya malam ini memang kebanyakan tidak mem-follow mereka.

pada dasarnya @okkymadasari sedang berkuliah tentang media literasi dalam ber-twitter. sebaiknya “kita” harus sadar, bahwa “mereka” mungkin sekali mengetweet untuk mewakili berbagai macam kepentingan dengan tujuan untuk mengeksploitasi “kita” (dualisme “kita”/“mereka” ini berkali-kali dipakai @okkymadasari. walaupun sepertinya “kita” yang ia maksud tidak sama dengan “kita” dalam pengertian anak-anak @kopdarbudaya malam ini).

ini maksudnya baik, tidak bisa dipungkiri bahwa orang macam @gm_gm adalah seorang opinion leader yang hegemoni pendapatnya punya banyak kuasa dalam realpolitik indonesia. kadang-kadang, dalam kehidupan masyarakat kelas menengah jakarta, saya pikir @gm_gm-lah presiden republik indonesia yang sebenarnya. seperti kata @mumualoha, pentolan @kopdarbudaya, kalau sebuah tweet sudah di-retweet @gm-gm, selesai sudah semua urusan.

sayangnya, @okkymadasari tidak membedakan antara realpolitik-verse dan twitterverse. ia tidak menggunakan kasus twitterverse di mana @gm_gm (salah satunya) menjadi pemimpin sebuah hegemoni menjadi sekedar satu contoh kasus tentang kemungkinan pembentukan sebuah hegemoni di twitter. baginya, twitterverse siapapun di indonesia sudah pasti mengandung @gm_gm.

in hindsight (lagi), mungkin maksud @okkymadasari adalah setidak peduli pun twitterverse-twitterverse lain di indonesia akan kuasa hegemoni orang-orang yang ber-realpolitik macam @gm_gm, kehidupan mereka (uni-verse mungkin, bukan twitterverse) akan tetap dipengaruhi oleh kuasa itu, karena kehidupan sehari-hari kita (uni-verse) adalah sebuah kenyataan realpolitik. bukan cuma kenyataan timeline.

saya sebenarnya setuju dengan ini. namun saya kira perlu juga mempertimbangkan, dalam sebuah masyarakat poskolonial seperti indonesia, hibriditas universe dan twitterverse tadi. di timeline saya, misalnya, yang tidak mem-follow @gm_gm dengan sadar, karena saya tidak setuju dengan banyak pendapatnya, @gm_gm & co. bukanlah opinion leaders seperti yang digambarkan @okkymadasari. ia hanya noise saja, yang muncul sekali-sekali gara-gara RT-an orang dan sangat mengganggu.

itu baru soal hibriditas twitterverse. dari mengamati trending topics saja, bisa dilihat bahwa banyak juga twitterverse-twitterverse lain yang juga tidak mengenal hegemoni tweeps yang disebutkan @okkymadasari. briptu norman, ulat bulu, Hate Malaysia, Wasit Goblog, Peterporn—apakah ini trending topics godogan opinion-leading hegemoni @gm_gm & co.? (this is a rhetorical question :P) pernahkah #kultwit @gm_gm menjadi trending topic? (this is also a rhetorical question :P)

belum lagi soal hibriditas universe masyarakat Indonesia sendiri. saya masih mendapatkan kesan bahwa dalam universe @okkymadasari, hegemoni yang penting dan patut diwaspadai masihlah hegemoni yang bisa dibawa ke luar twitter, menjadi hegemoni opini di media mainstream, kemudian, jika bisa, menjadi hegemoni politik dalam pemerintahan negara ini. twitterverse tidak dianggap sebagai sebuah universe sendiri, tapi hanya sebuah bagian dari universe yang lebih besar.

try telling that to @PakBondan’s followers :P.

masalahnya, ketidaksadaran akan kemungkinan twitterverse/universe lain ini bagi saya, dalam konteks sebuah advokasi media literasi, jadi terasa lebih berbahaya daripada hegemoni macam apapun juga. interpretasi-interpretasi @okkymadasari akan insiden-insiden di twitter seperti PR campaign alanda kariza, jadi terasa sempit, karena selalu hanya dihubungkan dengan bisa-tidaknya tweet-tweet tentang peristiwa-peristiwa itu di-retweet oleh kuasa hegemoni yang ia sebutkan tadi. seakan-akan penting-tidaknya sebuah tweet hanya tergantung kepada bisa-tidaknya tweet itu menjadi sebuah leading opinion.

dalam soal PR campaign alanda kariza, misalnya. tanpa harus menunggu blog post alanda di-retweet @GunturRomli, seharusnya kita sudah bisa menyadari—dari waktu post itu di-publish (prime time 2.0 kata @waraney), dari argumentum ad-misericordiam-nya, dari siapa alanda kariza itu (just to name a few)bahwa hal ini bisa jadi sebuah hoax yang didesain untuk sebuah PR campaign untuk mempengaruhi opini publik (hakim?) agar bersimpati kepada ibu alanda yang sedang diadili dalam kasus korupsi bank century. dan bahwa tentu saja PR campaign ini akan ditunggangi oleh hegemoni-hegemoni realpolitik (yang pro dengan conspiracy theories bahwa kasus bank century hanyalah sebuah hoax tersendiri untuk menyingkirkan Sri Mulyani, misalnya, sehingga ibu alanda=korban=SMI) untuk kepentingan-kepentingan mereka sendiri.

tapi saya pada akhirnya cukup respek dengan @okkymadasari, karena di satu sisi ia stuck to her guns, baginya hegemoni yang penting ya memang hegemoni realpolitik, sementara di sisi lain ia juga tidak malu-malu mengakui bahwa dia “amazed” melihat bahwa banyak anak-anak @kopdarbudaya yang ternyata sudah media-literate.

sementara @kramput, i can’t even remember anything he said. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s