Stop asking is this puisi, no one’s interested in your answer

Ditulis untuk Kongkow Jawara Puisi di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Dewan Kesenian Jakarta 14 Desember 2016 Sebuah sayembara puisi hanyalah een rimpeltje in de oceaan, a ripple in the ocean, sebuah riak di tengah samudra usaha kanonisasi Puisi Indonesia, proses yang tak bosan-bosannya berlangsung sejak skena Pujangga Lama sampai sekarang skena Pujangga Hallmark. TermasukContinue reading “Stop asking is this puisi, no one’s interested in your answer”

tidak ada poetry

sebuah lorong di bawah rel kereta api yang bukan tempat tinggalku, sampah yang menghitam dari api dan sikap acuh pejalan kaki, semprotan DDT yang sebentar aku kira asap sate, tidak ada poetry. aku berjalan tegap lurus ke depan, sol sepatuku kulit, hand-made, mengetuk aspal seperti bosan, tidak ada poetry. aku berjalan menggandeng anakku perempuan, menghindariContinue reading “tidak ada poetry”

cultuurstelsel

after a great pooling/unspooling of energy, the room tried to contain xerxes, music in hyper slo-mo, no music but the afternoon light, propeller blades bouncing off each other. listen to intelligent, oversmart/obtuse, dance music. what do you do exactly when you reappropriate the ancients? after a great pooling/unspooling of energy, a hand gesture there, aContinue reading “cultuurstelsel”

canto cxviii (i forget the most important things)

#15, jakarta   in medias what res ? ‘i am happiest when i follow how things sound.’ — im startin to get patterns tics repetitions the ferris wheeloff yr mindi get you cherry cherry cola i get you lil raccoon of my hearth in 1876 Rimbaud set sail for Java in August Batavia flayed his boots along MolenvlietContinue reading “canto cxviii (i forget the most important things)”

classical rhetoric for the modern student

kelelahan cuma buat menunda waktu untuk mengakui kekalahan seperti payung dibentangkan untuk melindungi punggung yang terlanjur basah sosokmu melintasi kuburan di bawah awan yang menggerayang kesedihan père lachaise yang membusuk di petamburan tidak ada lagi jalan, hanya badan badan yang ditumpuk bagai bantal di ibukota yang enggan memberikan ruang bagi gunting rumput dan air mataContinue reading “classical rhetoric for the modern student”

maksi

jadi mau makan apa, rawon, mandala, memandangi lalu lintas saja sambil meremas bantalan kursi? rawon mandala would be great, tapi apakah dunia sudah seadvanced itu? aku sudah lama tidak memperhatikan apa-apa, begitu pula rambutmu. apakah catokan yang lagi panas-panasnya masih sering menjatuhi betismu? jadi mau makan apa, belok kanan aja. high tea tak pernah terasaContinue reading “maksi”