lit progens

terpicu (btw, sejak kapan “terpantik” mulai membunuh “terpicu” pelan-pelan?) oleh post nike, aku juga jadi ingin bercerita tentang orang-orang (ada juga sih yang bukan orang) yang bikin aku jadi ingin membaca, entah mulai membaca, atau membaca sesuatu yang lain, atau membaca hal-hal yang sama dengan cara yang berbeda.

list berikut in no particular order:

1. penny joy

ini guru sma-ku di narrabundah college, canberra. sekolah ini sekolah eksperimental yang membolehkan murid-muridnya ngapain aja bahkan take drugs asal outside school grounds. jadi cricket oval di sebelah jadi tempat favorit buat punch cones atau munch on acid blots. kemudian kembali ke kelas untuk mengikuti lesson world lit bersama penny joy. penny wasn’t that good of a teacher sebenernya, i never really learnt anything from her. pas kelas dua dan harus ganti guru, namanya bev hamilton, guru tipe governess yang menyetir mobil fiat unonya pakai sarung tangan kulit dan who actually told us what modernism was, where pound got his idea for imagism from, what did mr darcy really represent, i was like, wow, i’m actually learning something! tapi i don’t know, i kinda liked penny’s attitude to literature. she was the one who dragged all her students to sit through a reading by another english teacher at the school, geoff page, di sebuah trip ke south coast untuk kelas theory of knowledge (narrabundah juga menyediakan kelas filsafat ini tiap kamis siang buat nerds yang terlalu malas ikut kelas olahraga). geoff was a nice guy, i liked his approaches to lit class, but i didn’t know then he was actually one of australia’s greatest poets! like ever! aku baru tahu itu setelah lulus dari narrabundah. i was totally stoned waktu dengerin geoff membaca puisi-puisinya dengan suaranya yang pelan dan logat aussienya yang kental buat standar canberra, but i remember i was kinda enyoing it. (temanku alex hampir menghentikan pembacaan ini dengan memecahkan kaca jendela shed tempat geoff membaca karena dia mengetoknya terlalu keras (he was so stoned dia pikir itu pintu).) penny juga yang dengan entengnya bilang dia nggak sepenuhnya mengerti objective correlatives dalam puisi-puisinya eliot sebenernya apaan. dia juga membiarkan aku bikin presentasi tentang paradigm shift dengan contoh penataran P4. dia juga yang mengajak anak-anak nonton aja telemovie chronicle of a death foretold daripada baca bukunya. dia juga yang mengajak anak-anak meneriakkan “things fall apart! things fall apart! things fall apart!” at the top of our lungs di dalam kelas. entah apa gunanya itu untuk lebih mengerti chinua achebe, tapi “things fall apart!” did become a catchphrase for us kids for the next two years, to be employed whenever we needed it, or whenever we didn’t. entah kenapa, penny justru membuatku ingin membaca buku-buku yang dia malas ajarkan. since she never told us what prufrock was all about, not only did i memorize the poem by heart, aku juga jadi mencari di perpustakaan buku-buku tentang objective correlatives eliot. dia juga membuat lit jadi sesuatu yang bukan-sakral, aku jadi bisa menonton film macbeth (versi polanski karena lady macbethnya so bae — it’s a playboy production no wonder!) tanpa merasa bersalah kenapa aku ga baca bukunya (dan akhirnya jadi ingin sendiri baca bukunya setelah menonton filmnya). that reading by geoff page juga akhirnya jadi momen penting dalam bagaimana aku mengembangkan pandanganku tentang puisi. it’s a lonely job, no one ever pays attention, but somebody’s gotta do it. penny juga pernah membawa anak-anak ke sebuah hutan pinus untuk menulis esei tentang i can’t remember what, tapi aku juga jadi belajar dari dia, there’s so much more to life than a desk, pen and paper (waktu itu kami belum selalu menulis semuanya di komputer). i don’t know, i suppose her blasé, and yes, joyless attitude about lit was just the thing i needed at an impressionable age when i was just starting to seriously think about taking myself too seriously.

2. andrew cox

andrew adalah vokalis band dari brisbane, the fauves. dari namanya aja kita udah tahu, pasti artsy, mungkin fartsy. tapi ternyata band-nya kocak, walaupun usahanya untuk ngepop secara kaffah sebenernya bentuk sebuah kehiperintelektualitasan juga. lirik-lirik lagunya memang poetic (“dogs are the best people”, “don’t get death threats anymore”, “understanding kyuss” — “crank it up i really like that bit, fuck that riff sounds really sick” (sing it in an aussie accent and the half-rhyme between “bit” and “sick” really jumps at ya)), tapi aku belajar banyak tentang menulis dan secara tidak langsung (atau langsung sih kalau kayak gini?) tentang membaca — if you know how to write then you know what to look for when you read — justru dari zine yang dulu dia produksi secara sporadis berjudul “shred” (judul ini ditulis dengan greek font di sampulnya). i used to spend every morning at the nsw state library before i began my research into my soon-to-be-abandoned phd reading shred and working out how andrew writes his sardonic reflections on band life. salah satu artikel di shred ada yang membahas tentang nicholson baker, penulis cerpen/novel amerika, yang terkenal dengan novel/la “the mezzanine” yang ceritanya cuma tentang seorang kantoran yang tali sepatunya lepas terus mau beli tali sepatu baru pas makan siang, tapi dipanjang-panjangin banget (i loved it). dari situ aku jadi baca hampir semua buku nicholson baker, selain the mezzanine ada juga novella lagi, “room temperature”, dengan strategi yang sama, cuma kisah seorang bapak berusaha menyusui anaknya pakai botol (ofkors) tapi berlembar-lembar. juga ada “double fold”, buku nonfiksinya tentang what we’re gonna miss when we digitize all books (!). (“double fold” adalah test yang dilakukan pengarsip buat menentukan kertas sudah terlalu fragile atau tidak, dilipat dua kali kayak waktu kita nandain halaman buku, ke depan dan ke belakang, kalau kertasnya robek berarti udah perlu didigitalisasi.) tapi yang akhirnya paling berpengaruh dalam hidupku adalah membaca “u & i”, tribute nicholson baker ke john updike, lit progenitor dia, di mana dia cerita tentang setiap kali dia mau menulis, terutama sebuah metafor atau figure of speech apalah, ternyata john updike udah pernah menulis hal yang sama. sebuah kisah horor tragedi and the individual talent, haha. nah di buku ini ada satu frase dari updike yang diquote oleh baker yang kemudian bukan hanya membuat gue obsessed with updike for years, tapi juga led me… to poetry! sampai sekarang aku masih inget: “vast dying sea of boredom”. awalnya aku, sama seperti baker, terobsesi dengan anatomi frase ini, sebuah laut yang gede banget, maybe a samudera, tapi dah mau metong, but not quite the dead sea, karena bosen. sebuah samudera busuk penuh kebosanan. sebuah samudera kebosanan yang dying. is that poetry? i didn’t know. but it made me obsessed with language, with trying to collect similar beautiful turns of phrase — aku masih inget dave eggers’ “parachute pants of your soul” — dan, eventually, with making ones of my own. later on, aku sadar, poetry is not about making up stuff, let alone making up pretty phrases (hello adimas immanuel), tapi i wouldn’t have gotten here without sailing slowly through this vast dying sea of boredom of being obsessed with purple prose.

3. anya rompas

my wife. lewat dia aku menemukan kembali ketertarikan akan theory. gara-gara tiga tahun belajar filsafat yang entah kenapa dalam ingatanku isinya filsuf jerman semua (that dill dilthey! zzz hermeneutics germ-eneutics!), aku lama jadi alergi dengan theory. a crock of shit lah. tapi mendengarkan kadang-kadang istriku yang tidak banyak bicara di meja sarapan dengan tenang dan dengan suaranya yang melodious dan pikirannya yang runut membedah anything dari sekar ayu asmara sampai jakarta dengan teori-teori gothic aku nggak bisa tidak terpesona. she so pretty. eh. she showed me how important theory can be bahkan, atau malah especially, in a world so chaotic like the one i’m living in right now. (hello ciledug, hello cemput.) jadi aku baca aja semua buku-buku gothic theory dia, dari primer “gothic” fred botting sampai “the dead mother: the work of andré green”. yang terakhir ini lebih psychoanalysis sih, dan ternyata anya punya banyak banget buku tentang psychoanalysis, “on private madness” salah satu kaporitku. aku juga jadi baca banyak novel gothic yang jadi bacaan wajib dia waktu kuliah s2 (the monk! more madness!). aku pikir lucu waktu itu wah ternyata istriku yang cantik mempesona is obsessed with madness, the ugly, unseen side of us peeps. tapi ini ternyata sangat membantuku mengerti dia saat years later she had a nervous breakdown, sampai masuk ugd dua kali, dan kemudian didiagnosa dengan bipolar, awalnya non-spesifik, kemudian type 2. it all makes sense, her fall into madness, when it happened, reminded me so much of all the crazy stuff that happened to matilda in the monk. but one thing, maybe this is a bit of an exaggeration, but having tried to work out how her mind works while reading all the books she has in her collection, terutama buku-buku teori dan novel gothic dan teori-teori psychonalysis, sangat membantuku mengerti dia waktu mengalami breakdown, dan strangely, membuatku calm dan tidak merasa takut menghadapi kondisi yang gilak gilak gilak itu (pun always already intended). no worries, i’ve seen all this happened in the monk!

4. superdenim

it’s a denim forum on superfuture. aku pernah bekerja buat majalah a+ di tahun 2000-an dan aku ingat pernah bikin tulisan tentang superfuture, tentang the brave new world of supershoppers (ngekos kamar mandi luar di setiabudi, tapi tiap tahun ke nagri). years later, dalam my eternal search for the perfect pair of denim, i ended up on this forum. sebenernya asiknya dari forum ini adalah aku jadi bisa lari dari dunia buku, buku, buku, musik, film, buku, buku yang mendominasi hidupku. aku bisa vague out for hours just looking at pics of denim fadez. selain itu aku juga jadi develop skills membaca majalah lightning in japanese tanpa pernah belajar kanji wkwkwku. dan selain itu semua, yang paling penting mungkin aku jadi membaca banyak, mengerti, dan mempercayai konsep wabi-sabi dan mono no aware. a bit trendy, tapi buatku yang konsumeristik (that supershopper was moi!) ini beneran membantu. aku pernah punya vespa warna biru telur metalik yang kunamai tante sophie dan tadinya aku hampir jadi gila (dan bangkrut) mencoba menjaganya agar tetap kinclong (sama kayak tante sophie berusaha setengah mati menjaga kemurnian darah belanda-perancis dinastinya!) padahal setiap hari commute ciledug-blok m (mono, not aware! sama kayak tante sophie yang hobinya dipijet dan makan rujak di kasur). setelah aku melihat sendiri the evolution of a pair of jeans from raw to “habis darahnya” is inevitable, aku jadi gak sesetres itu lagi.

5. endang johani

my mum. waktu aku kecil, sampai umur 9, dia seorang dokter umum di kajang kemudian jogobayan di madiun coret. dia berlangganan bobo, bimba, femina, kartini, dan tempo. favoritku cerita si ipul di bimba, cerita-cerita curhat di kartini (yang aku paling ingat seorang suami yang mengeluh dia memergoki dari balik jendela istrinya yang sedang hamil ngewi sama cowok lain, tapi dia gak berani negur. (mending kirim aja surat pembaca ke kartini!) kemudian kolom kriminal tempo, omg, best writing ever. remember misteri pembunuhan peragawati dietje oleh mystery man “pakde”? selain itu ibuku, aku memanggilnya mama, juga membawaku naik jip jimny biru donker berstrip kuning di atapnya, nyetir sendiri, ke sebuah toko atk di pasar kawak di madiun kota yang menjual cuma satu judul buku, seri rumah kecil. waktu itu seri ini baru mulai diterjemahkan (halo djokolelono mai laf) dan diterbitkan oleh bpk gunung mulia, jadi setelah membeli rumah kecil di rimba besar kami suka datang ke toko itu berharap-harap bahwa judul selanjutnya sudah sampai ke madiun dan kalau ternyata belum terus beli pensil 2b atau setip. sebagai anak ndeso yang sekolah di kota aku super relate banget dengan segala insecurities laura ingalls. lucunya, bertahun-tahun kemudian aku membeli lagi semua buku di seri rumah kecil ini, masih dengan sampul yang sama, dari toko buku pusat bpk gunung mulia di kwitang (buku-bukunya disimpan di bagian bacaan sekolah minggu), dan setelah membaca semuanya kembali aku baru sadar, laura! all those insecurities turned you into such a bitter bitch! *ngaca*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s