redwing

i don’t remember what we did between dinner and sleep. sometimes your mum would cook dinner sometimes i did. onion, garlic, courgette, eggplant, bits of what’s left of the meat. spices. sometimes italian most of the times indian. seeing the huge big red kangaroos made me feel there is a god somewhere in this world. like right here. i spent mornings and afternoons bowling to gum trees. but i don’t remember what we did between dinner and sleep. sometimes you would talk to the stars, so near to our heads in the vast expanse of the australian bush, sometimes i did. the milky way was really milky. the one tree hill where i took a dump that morning. but i don’t remember what we did between dinner and sleep. sometimes you would say to me, the abc had a writing contest to prevent outback children from topping themselves, sometimes i did. many times to myself while listening to the dreamtime murmuring complaints on my sony walkman. your dad’s basic two-man tent was cheap and cold. very cold. like that mandi we took that morning. the red earth burnt the soles of our feet. it was that cold. but i don’t remember what we did between dinner and sleep. sometimes you do.

canberra

dickson noodle house. memesan laksa dalam kenangan. lokomotif yang diam di dalam gelas bir. kamusta. dion magabut bersama malam di rambutnya. gerimis yang menyinari lampu jalanan. paginya ke cockington green. sebuah miniatur kesedihan raksasa. tanteku berjalan pakai krek dan menyetir mobil sendiri. holden too common. woden interchange. action buses. merambati kota tanpa ironi. cooleman court. the australian salute and a copy of picture. berjalan sendiri dalam oven. 300 derajat celcius, pre-heated, dua jam. tuggeranong. sizzler dan onta onta yang menghilang. kolam renang pribadi dan jam dinding. myfanwy tidak mau melepas kaosnya. bulu bulu merah di lengannya. cameron tidur di lantai penuh epiphones. bulu bulu pirang di lengannya. kaos kaki dan sausage and egg mcmuffin. belco. blue poles dan malas belajar. aku menunggumu di atas atap halte bus. 7.34. rute 231 menuju kesendirianmu. summernats. winter festival. menantimu di kap V8. chicks dig chicks. vogueing bukan madonna. house parties dan honda civic. masih mencari rangka. susu moove berperisa coklat dan kuliah pagi. susu moove berperisa coklat dan keledai emas apuleius. udara beku yang menyayat muka dan siaran tunda liverpool v. qpr. can you guys keep it down a little? yes, ma’am. sesuatu yang keras meleleh di eyeliner-nya.

1

tante sophie berteriak minta tolong. aku ingin jujur. tapi aku berada di belakang sebuah periskop. seperti ada sepotong atap di dadaku, menahan air yang bertetes ke selokan. ada tiga garis cakaran harimau di paha indo tante sophie yang putih dan mulus, melelehkan karat dan pernis. aku ingin jujur saja. ya, tante sophie. seperti menatap lubang AC dengan air mata mengambang. hari ini jae satu tahun, tante sophie. aku sangat berterima kasih kepada @violeteye karena ia telah merawat jae seberingas mama harimau merawat tiger cubs-nya. apalah kekonsistensian bahasa dibanding dengan akurasi menuturkan perasaan? namaku bukan joni, tante sophie. hidupku nyata, penuh kopi kapal api susu dan kekecewaan. tapi aku begitu berterima kasih kepada kehidupan sejak malam itu di d’place, dan aku menyentuh bahunya yang dingin dengan punggung tanganku. perasaanku seperti cat siram berharga 3 juta. sebotol vitasoy coklat dingin, dan kepalaku di pangkuanmu. jujur tante sophie, jangan gantungkan diri padaku.

haik

delapan tawanan perang ditugaskan mengubur delapan kawan mereka yang telah ditembak mati.

delapan tawanan perang yang masih hidup ini, yang ditugaskan mengubur delapan kawan mereka ini, terdiri dari 5 orang belanda totok, dua orang indo, dan satu orang inggris.

mereka masuk ke dalam hutan, masing2 memanggul satu kawan mereka yang telah mati dan telanjang bulat.

mereka masuk jauh ke dalam hutan, rasanya tidak mau berhenti, seandainya saja mereka tidak diberi deadline harus kembali lagi ke kamp tawanan sebelum matahari terbenam.

kamp tawanan ini terletak di sebuah pulau yang seluruhnya diliputi hutan kecuali tempat kamp mereka yang telah dibersihkan di pinggir pantai yang panas.

hutan ini terasa begitu sejuk sekarang, walaupun bahu mereka pegal memanggul kawan mereka yang mati.

mereka berjalan terus sampai salah satu di antara mereka, si orang inggris, berhenti dan berkata, “i reckon we should stop here.”

yang lain ikut berhenti dan untuk beberapa lama mereka lupa untuk menurunkan kawan2 mereka yang telah mati dari pundak mereka.

mereka mulai menggali delapan lubang (setelah meletakkan delapan mayat kawan mereka itu berjejer dengan rapi di bawah pohon trembesi besar) karena mereka pikir mengubur mereka dalam satu lubang besar sungguh tidak pantas.

pada saat mereka selesai menggali kedelapan lubang itu, matahari sudah lama terbenam.

mereka menyalakan api unggun dari ranting2 dan daun2 kering karena udara tiba2 menjadi begitu dingin.

kulit kawan2 mereka yang telah meninggal menyala2 merah disinari api unggun yang mulai membesar.

salah satu dari kedua tawanan indo berkata, “sepertinya tidak pantas kalau kita menguburkan mereka tanpa pakaian.”

tanpa berkata2 mereka semua melucuti pakaian mereka sendiri dan mengenakannya pada mayat kawan2 mereka yang tadi mereka panggul begitu jauh ke dalam hutan.

mereka menguburkan mayat2 kawan mereka yang telah kembali berpakaian (walaupun hanya pakaian sederhana tawanan kamp, celana pendek goni coklat kena tanah dan kemeja2 lusuh yang tidak seragam) dengan tangan yang disilangkan rapi di dada.

disinari api unggun, salah satu orang belanda totok itu berdoa lirih “souviens-toi que tu n’es que poussière et que tu retourneras en poussière”, sambil menaburkan tanah merah yang lengket di jari2nya ke dalam lubang kubur kawannya.

selesai menimbun kedelapan lubang dengan tanah yang mereka serok dengan tangan, kedelapan tawanan kamp itu mulai berjalan kembali ke kamp mereka.

di jalan salah seorang dari dua orang indo tadi yang dulu punya perkebunan besar di ambon memetikkan buah2 beri dan akar2 untuk mereka makan. sekedar untuk mengisi perut agar tidak pingsan.

matahari sudah panas waktu mereka sampai kembali di kamp. delapan laki2 telanjang dengan tangan2 merah berlepotan tanah.

mereka berbaris rapi menuju gudang, untuk menerima masing2 10 cambukan karena telat pulang.

aphrodite is a pub full of ayams in pasar festival part 1*

banyak yang percaya kepada bintang.

Quinamid misalnya

putra seorang ahli astrologi dari Dardan

yang malas menghiraukan nasihat bapaknya

dan pergi ke Troya naik taksi Putra.

puff

*

kata Odysseus kepada pasukan Yunani:

‘Hektor tidak pernah pergi berperang sejauh ini dari Troya.

kita harus pancing dia keluar lebih jauh lagi. kalau bisa lewat menara Raja Ilus.

pancing dia ke tengah medan perang, bunuh dia di sana,

ganyang Troya di sana!’

‘OK cyin!’

di balik perbukitan rendah itu terletak bukit Melati

tempat Paris memilih Afrodite.

‘Ambil,’ kata Hektor.

pasukan Yunani berteriak: ‘Cepetan!’

pasukan Troya berteriak: ‘Tungguin dong!’

*

lihatlah,

di kejauhan sana,

tiang tiang bendera di balik tembok benteng setengah jadi.

dan

lebih ke sini

sungai dangkal Skamander

dari situ naiklah ke atas

menuju medan perang

puing puing menara di tengah tengahnya.

*

surga.

dangdut koplo.

Ratu Hera mengefloss gusinya.

di balik jendela

si gadis Athena, anak emas Tuhan Yang Mahakuasa, berkata:

‘Yunani dalam bahaya.’

mereka pergi.

*

laut.

langit.

salju bersinar di bawah matahari.

dua pasukan di medan perang.

Hektor, dikusiri Lutie,

anak serani dan keponakannya,

dua duanya pangeran Troya:

‘Harus sampai kapal sebelum makan malam.’

*

puing puing menara.

di depannya—

umbul umbul dinaikkan satu persatu

satu demi satu, satu lagi—

50.000 tentara Yunani.

*

di atas bukit kecil di barisan depan

dua pahlawan mereka:

Ajax yang Agung dari Salamis

di balik tamengnya—

selagi 50 tameng Troya

dihiasi bulu bulu biru di pucuknya, tombak diputar putar di sampingnya,

mulai naik ke atas bukit—

Kanjeng Teucer (tinggi 5 kaki, lebar 5 kaki)

menarik anak panahnya

mengintip dari balik tameng Ajax,

membidik bulu biru Troya yang itu, kemudian yang itu,

mengkomando pasukan panahnya untuk tiarap,

menjanjikan kambing kurban sebanyak banyaknya bagi Tuhan Yang Mahakuasa

jika ia diizinkan menancapkan satu anak panah menembus leher Hektor.

*

govinda jaya jaya!

di bawah langit biru, dikelilingi laut dan salju, Hektor berdiri

menyerahkan helm seorang prajurit yang baru saja ia bunuh

kepada prajurit Troya yang menyangka Yunani banci itu tadi mati di tangannya.

mata Kanjeng Teucer/leher Pangeran Hektor

namun Tuhan Yang Mahakuasa belum merestui. busur Kanjeng Teucer putus berantakan.

(bersambung)


*terjemahan bebas dari terjemahan bebas Christopher Logue atas The Iliad, dalam buku Cold Calls: War Music continued.

DONALD 
BARTHELME – ONE STORY

MS D NAKOVA’s milk-white Russian cheek blushed red broken maps of Australia every time she took me to bed. The sandstone walls of her basement apartment coughed up dust and the red flush moved to the tip of her hooked nose, transported by the IGA brand tissues she wiped her allergy-borne mucus with. She read until she fell asleep, or until her nose ran two unstoppable lines of salty water and then she could not stand it anymore. She would turn off the naked bulb of her reading lamp, blow her nose in a final, violent hmmmpf! and put on her silk SARS mask to go to bed.

MS D NAKOVA liked my stories; she would wake up at six, listen to the trap-trap-ing of horses and carts training for the afternoon races at the hard sand track next to her house and then she would read some more. She liked Conversations With Goethe and The Genius, my sillier stories, because they made her laugh and forget about her runny nose. But after three days she decided a funny man would not make her happy.

On the night of the third day MS D NAKOVA came home at two o’clock, giggling and smelling of sweet vodka drink. She introduced me to MR M JOHANI, a brown man with a foot-high Elvis quiff on his square head. He said it was really a Morrissey hair and told MS D NAKOVA that he too had read, and liked, Conversations With Goethe. He said this after running his eyes quickly up and down my Contents page when MS D NAKOVA went to the bathroom and he saw the faint Nike swoosh of pencil tick next to the title. MS D NAKOVA was pleased; she told MR M JOHANI how she liked boys who read and how cute he was with his Morrissey quiff and do you want to go to bed now.

In the morning MS D NAKOVA made weak white tea for herself and strong black tea with no sugar for her new lover. They sat in bed under the naked bulb and drank from MS D NAKOVA’s mismatched Target teacups. They read Conversations With Goethe together, he making up bad German accent for the direct quotes and she covering her nose and mouth with the fluffy edge of her Bonds pillow when she laughed. “You’re funny,” she said.

I knew by the morning’s end MS D NAKOVA would no longer want me in the house. That was five hours ago. Now I am standing with my back to to the world and MS D NAKOVA’s Adult Self-Check Receipt hidden inside the accidental pocket of my front sleeve. It says DUE DATE: 05/03/2001 in red ink. The electronic calendar on the wall says 5 MAR in big black letters. She had never done this before. I was returned on time.

Abdoh Rinbo’s Odyssey

pulang gampang bagimu al-wajid
yang selalu menemukan detik ini juga apa yang ingin kau temukan

jalan pulang menembus semak belukar
telur paskah bercat ungu menempel di lebam mata

kau tak punya alasan untuk bermurah hati al-mu’akhkhir
kau yang maha bisa menggagalkan segalanya

tapi sudilah berikan kami kapal portugis
dengan layar setengah terbakar pun tak apa

asal tak kau cat langit malam dengan tinta cina
o al-dhar kau yang maha penyiksa

biarkan angin dan konstelasi bintang
menuntun kami pelan-pelan, ke ithaka

AL-SHU’ARAA’

“Lihatlah, penyair selalu dibuntuti oleh orang-orang yang kalah
lihatlah mereka terseok-seok di setiap ngarai yang mereka lewati
menjual obat yang tak pernah mereka minum sendiri.”

Tapi Al-Mudhill, Tuhanku Yang Maha Penghina
pilihan apa lagi yang kupunya
kalau kau telah berkomplot dengan Plato dan mengusir kami dari blueprint surga?

Selain kata-kata yang mengalir di benang-benang optik antar dunia
9 to 5 Waraney di sana, siesta sepanjang hariku di sini
O Al-Qabidh, Tuhanku Yang Maha Membatasi?

Memang enak kau punya paling tidak 99 nama
kami hanya punya satu
itu pun sering salah dieja.

HIKAYAT USMAN BIN AFFAN VOL. 1

di sudut tendanya usman bin affan menghitung merjan mengkilap
upeti kurir yang mengantar pesan menyerah dari raja-raja sejazirah arab

tahun depan, kordoba! pikirnya. dielusnya janggut yang keriting seperti sulur anggur
dibelainya kuran dari kulit onta, percikan-percikan darah di sudutnya

ya muhammad, jalan pedang membawa kejayaan lebih cepat
daripada badai gurun melenyapkan pucuk tenda pedagang kurma!

di paris akan aku tegakkan, scimitar dan bulan sabit
di puncak bukit montmartre, akan kubangun masjid di sana

dengan hamam gratis di basement-nya, buka 24 jam
bagi kita laki-laki yang selalu berkeringat darah!

sebentar lagi ya muhammad, akan kusempurnakan kitabmu
dengan tinta emas dan sampul kulit manusia-manusia kafir

lailahaillallah muhammaddarrasulullah
biarkan aku menyulap mukjizat atas nama-namamu.

the devil’s karaoke*

the song of the devil screams and echoes all through the country and zombies in masks of newborn babies dance and party under a moon the colour of fire. the smell of burning fresh human flesh rotten gas blood and tears like a shroud of thick poisonous clouds hot air burning your lungs and trees die and birds die and all different colours of insects die and earthworms die. the song of the devil screams and echoes all through the country, the country cursed for seven generations by mpu gandring, the country of baratayudha where brothers massacre brothers, a country full of wounds of blood of pus blighted by a plague from the gods, the gods of adam the gods of abraham the gods of moses the gods of ishmael and isaac. the song of the devil screams and screams and echoes and echoes never stopping and zombies of the gods dance and dance and party and party drunk on blood drunk on tears drunk on the sound of drums the sound of burning buildings the sound of broken bones the terrified screams of children who have lost their mothers. waves of hate and anger obliterate cities of salted fish and shrimp paste chilies, drowning and pummeling memories of childhood, neighbours and friends who have turned enemies, degenerates!, nameless enemies and intruders who have disturbed the peace of last night’s dreams. the song of the devil bounces into the air, straight through your eardrums, ripping the cloudless godless unforgiving tropical skies. sharpened machetes, spears and sickles tremble in wait to slash open skin and flesh and muscles of brown and yellow as newly freed ingrate slaves scream “reformasi” without knowing what it means and flatulent cowards and parasites lick the greasy balls of yesterday’s dictator. the song of the devil a karaoke of possessed zombies screams and screams and echoes and echoes never stopping leaving bottles empty of tears tables empty of tears chairs empty of tears stages empty of tears buildings empty of tears and a country empty of tears on a map empty of tears burnt to the ground burnt to the ground burnt to the ground…

*Saut Situmorang, ‘karaoke setan’.