IOU

the night is decrepit. tempus, fuck it. i needed to know, now, i know. come closer. justice for the nonce, meng? cor, blimey. quiz me on vices, orthodoxies, proprieties, o seed of love!

the pier is rotting, your pretty feet, a saving grace. banish me to the realm of letters, imbibe regret with every oxford comma. nona, je ne regrette rien. pick a closure, better yet, no, not yet. quick, to the zoo, the elephants are crushing foxes!

xanadu, what brings you? amazing pout you concoct out of thin air. why quit this play of shadows, i’m salivating still. thou shalt not, kill kill kill!

supren

let me please break down says the muzak the cockerel the bowls the green the beans the chicken porridge the plate the brie enjoy nothing regret nothing

chop chop chop the livers the gizzards the hearts the lungs chop chop chop the days the weeks hyperloop the years

the sun adamantine the deli adamantine the central bank adamantine the son the holy ghost atnas aisereht adamantine

it wasn’t a bee meeting i went to it was a wake why am i not cold blood sweat blood can you see my nipples under my tee shirt tee hee hee

chop chop chop the sun the bee the cold the sweat blood sweat can you hear the muzak under my tee shirt

it wasn’t the cockerel i ate from it wasn’t the green bean soup was it the chicken porridge was it you my love adamantine

the head can flake can ripple can lie did it ever occur to you the floor was icy cold did it ever occur to you the morning the cars the smell of exhaust smoke under my armpits

friday is the vilest day of the week inhale the rotten banana leaves exhale margarined pancakes does this touch you the smell of burnt meats

the son the sun the central deli adamant this is the cruelest deal of the year let me ripple lie break the head icy cold no

khob khun ka apa itu papa i want to watch kubo in the dark the witches are scary they’re going to take my soul why papa

the eyes the eye the one eyed monsters everything feels as if underwater the bar flap the tanker the street named after a bird kucluk kucluk kucluk

stay awake the economy loves you pak sumo nggak dateng nih nak how many ayams did you see them their feathers icy white

Stop asking is this puisi, no one’s interested in your answer

image2Ditulis untuk Kongkow Jawara Puisi
di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Dewan Kesenian Jakarta
14 Desember 2016

Sebuah sayembara puisi hanyalah een rimpeltje in de oceaan, a ripple in the ocean, sebuah riak di tengah samudra usaha kanonisasi Puisi Indonesia, proses yang tak bosan-bosannya berlangsung sejak skena Pujangga Lama sampai sekarang skena Pujangga Hallmark.

Termasuk juga Sayembara Manuskrip Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2015 kemarin. Bukan berarti itu hal yang buruk, tapi kita harus sadar sayembara ini dan sayembara-sayembara puisi lain yang ternyata banyak sekali jumlahnya hanyalah salah satu dari banyak usaha untuk mengkanonisasi Puisi Indonesia — yang sampai sekarang belum tersusun juga, wherefore art thou HB Jassin? Does the HB in yer name stand for Harold Bloom?

Ya, ada banyak Paus dalam Puisi Indonesia, ada Khatulistiwa Literary Award/Kusala Sastra Khatulistiwa, ada rak-rak best seller di Gramedia (yang jika kita percayai kuasanya berarti karya kanon saat ini bahkan tidak berbahasa Indonesia *show crowd Lala Bohang’s The Book of Forbidden Feelings*), ada Instagram dan Twitter yang melahirkan Instapoets dan beribu-ribu kalimat mutiara siap-retweet yang niscaya diakui sebagai puisi jika followersmu lebih dari 100K, ada juga kurator-kurator partikelir yang dengan tekun memilih puisi-puisi yang mereka anggap bagus, baik itu dari buku, jurnal, majalah, atau tong sampah buat direkomendasikan ke teman, ada juga kurator-kurator ambtenaar seperti Komite Buku Nasional yang dengan tekun memilih puisi-puisi teman-teman mereka sendiri tanpa kriteria yang jelas untuk dijual di bukalapak Frankfurt Book Fair, dan jangan lupa Goodreads, yang mewakili kurator sastra paling akar rumput itu — pembaca — yang baru saja mengkanonisasi buku movie tie-in pesanan dan pengrajinnya (Tidak Ada New York Hari Ini @hurufkecil) sebagai buku puisi dan penyair paling “it was amazing” di tahun 2016.

Semua Paus-Paus Puisi Indonesia di atas bersaing mengkanonisasi Puisi Indonesia tapi juga bekerja keroyokan sebenarnya. Aku ingin hidup seribu tahun lagi, biar tahu hasilnya. Tidak semua orang seberuntung Shakespeare, mati tanpa meninggalkan haterz. Kebanyakan dari kita adalah Geraldine Kim. Siapa itu? Exactly.

Lima belas tahun lalu, tahun 2001, terakhir kali Sayembara Puisi DKJ diadakan, pemenangnya 1, 2, 3 adalah Zeffry J. Alkatiri, Dorothea Rosa Herliany, dan Joko Pinurbo. Zeffry buat saya patut jadi Santo, bukan cuma dikanonisasi, tapi apakah pembaca Goodreads akan setuju dengan saya? Dorothea menang KLA juga di tahun 2006, tapi ada yang ingat dia menang untuk buku puisinya yang mana? Hanya Joko Pinurbo, yang sebenarnya sudah menerbitkan kumpulan puisinya Celana yang fenomenal itu dua tahun sebelum menang juara ketiga di sayembara puisi DKJ, namasarungnya masih berkibar sampai sekarang.

Singkat kata, menyitir Jokpin sendiri, kanonisasi Puisi Indonesia adalah ranjang yang rawan kekuasaan — tidak jelas siapa yang paling berkuasa, pembacakah? Gramediakah? Kompas dan Kortem Minggukah? — dan zonder kejelasan.

‘No man is listening’: Sergius Mencari Bacchus Norman Erikson Pasaribu dan absennya queer poetry dalam Sastra Indonesia

Buku ini tentang perjuangan seorang queer mencari payung rohani yang tepat untuknya.

Queer poetry bukan sub-genre yang gampang didefinisikan, para queer poets pun seringkali masih cat fight tentang definisinya, bahkan tentang pantas tidaknya label itu buat mereka sendiri.

Tapi jika melihatnya dari sisi teori, puisi queer bisa paling tidak dideskripsikan sebagai puisi yang menginvestigasi dan mengkritik konstruksi sosial dan moral yang (hetero)normatif dari perspektif seorang queer.

Dari sisi praktis, queer poetry sebenarnya tidak ada bedanya dengan puisi agamis, puisi négritude, puisi eksil — puisinya (harus) ada karena komunitasnya (selalu) ada.

Di Indonesia, komunitas queer (atau LGBT) selalu ada sehardcore apapun masyarakat atau NKRI berusaha merepresinya. Tapi dalam skena mainstream Puisi Indonesia, tidak seperti dalam film atau musik, atau bahkan cerpen dan novel, queer poetry sejak beberapa tembang dalam Serat Centhini (yang saya tahu, karena saya orang Jawir, tidak menutup kemungkinan ada syair-syair pra-Indonesia lain yang bertema queer) tidak pernah ada lagi.

Hingga Sergius Mencari Bacchus. Dengan segala kegalauan asmara, karir, dan rohani yang ditumpahkan dalam sebuah tragedi (reference ke sepuh tragedi Yunani Kuno Aeschylus, checked! — “Sebelum Aeschylus”) traveling dari Inferno ke Purgatorio lupa stopover di Paradiso, tapi dengan nada komik seperti “Serial TV Komedi”.

Investigasi psychoanalysis-lite tentang identitas LGBT si aku, hubungannya dengan keluarganya — the abusive emotionally absent father, the depressed mother, ke-Batak-annya, ke-Kristen-annya — yang ditulis menjadi pseudo-otobiografi/mock-memoir rasanya sangat kekinian. Ingat A Heartbreaking Work of Staggering Genius Dave Eggers? Sergius Mencari Bacchus mungkin bisa diberi subjudul A Heartbreaking Work of a STAN Genius.

Bentuk emo-memoar Sergius Mencari Bachhus menunjukkan Norman adalah bagian dari generasi penulis Indonesia yang besar dengan pengarang-pengarang alt-everything post-McSweeney’s seperti Miranda July dan Tao Lin, yang luwes menggabungkan kengehekan ala Puisi Mbeling dengan kegalauan emo ala Dashboard Confessionals. Ke dalam campuran itu, Norman menambahkan dimensi kereligiusan (e.g. “tuhan yang bercabang tiga — seperti pohon”, “Ia dan Pohon” — confessional confessionals?).

Referensi-referensi pop sekaligus high culture yang bertaburan di mana-mana (mengingatkan akan kumpulan puisi “Digest” Gregory Pardlo yang dikutip Norman di awal buku ini) memberikan petunjuk tentang tema-tema queerohaniannya, dari Summa Theologiae Thomas Aquinas (“Perihal Keagungan Puisi”) sampai film gay advocacy Prayers for Bobby (“Aubade”).

Gaya berpuisi Norman, free verse yang sangat terkontrol sehingga kadang-kadang bisa terasa mencekik — very Poetry Foundation — sebenarnya tidak baru-baru amat. Bahkan di tengah-tengah badai Awkarin x Young Lex x Roy Ricardo bisa terdengar agak old-fashioned. Sementara argumen-argumennya di beberapa tempat agak terlalu insular, seperti kebelet come out tapi juga keasyikan menyembunyikannya dalam kode-kode dan superstruktur yang asoy, tapi mungkin malah mengalienasi.

Tapi di tengah-tengah dunia Puisi Indonesia yang sangat heteronormatif, di mana bahkan penyair-penyairnya bisa permisif terhadap rapists, Sergius Mencari Bacchus menjadi buku puisi yang sangat penting karena ia mendobrak tabu tentang tema queer dalam Puisi Indonesia. A queer pioneer.

Tradisi dan suara individu dalam Kawitan Ni Made Purnama Sari

Buku ini tentang seorang penyair yang mencari asal muasal kepenyairannya dan berakhir dengan penemuan dirinya sendiri.

Kawitan adalah CSI: PUISI Purnama terhadap segala macam anxiety of influence-nya, puisi-puisi dalam sejarah Puisi Indonesia mana saja yang menjadi parent-poem puisi-puisinya, di manakah the beginning (Kawitan!) karir puisinya (karena sebelum sayembara DKJ tahun lalu, hanya Purnama yang bisa dibilang sudah punya karir sebagai penyair dalam skena mainstream Puisi Indonesia).

“Tak ada penyair… yang memiliki maknanya sendiri. Penting tidaknya dia, apresiasi atasnya, dilihat berdasarkan relasinya dengan para penyair… yang sudah mati. … Ini adalah prinsip kritik estetik, tidak sekedar kritik historis.” (T.S. Eliot, “Tradition and the Individual Talent”, terjemahan Saut Situmorang, “Tradisi dan Bakat Individu”, dalam Politik Sastra) Jadi, siapa/apakah/di mana(saja)kah kawitan Purnama?

Apakah mbok-mboknya di skena puisi Bali, penyair-penyair perempuan dari the Bali School yang salah satu ciri khasnya adalah intensitas emosi yang dalam?

Bandingkan:

“Sesekali hawa dingin mengembus wajah.
Aku ingin membenamkannya di jantungku.

Kurasakan udara tak lagi memberi nafas.
Kau sentuh kulitku. Dan kulitku
segera menghijau.” (puisi 15, dalam “Saiban” Oka Rusmini)

dengan

“mengapa selalu ada pertanyaan
tentang kesetiaan
mengapa selalu saja ada simpul mematikan
jika ikatan jadi menyakitkan” (“Sinta”, Ida Ayu Oka Suwati Sideman)

dengan

“Daunku yang hijau lebat
Dulu menaungi kumpulan sarang semut
Tidur berlindung di lelap akarku” (“Bayam Pasar Banjaran”, Ni Made Purnama Sari)

Atau Sitor, tempat Purnama menginap “cuma dua malam di Paslaan [Straat]”?

Kepada puisi simbolik a la Mallarmé Sitor yang terkenal, “Bunga”,

“Bunga di atas batu
Dibakar sepi

Mengatas indera
ia menanti”

Purnama menjawab (dengan teka-teki yang lebih metafisikal daripada simbolik):

“Bagaimana aku dapat melihat sekuntum bunga?

Lambat laun aku akan serupa batu-batu” (“Bunga untuk Sitor”)

Atau Chairil, parent-poet semua penyair Indonesia itu?

“Di stasiun karet aku menunggu bukan untuk chairil
…[yang] bercinta tak jemu di gerbong tua kereta

…[tapi] lalu kudengan kereta sayup mendekat
membuka pintunya di hadapanku
menampilkan ruang remang sepi penumpang” (“Doa Puisi”)

Seperti kita tahu, kereta adalah metafora Chairil untuk kematian, “gigi masa” yang jadwalnya lebih kacau lagi daripada commuter line, walaupun pasti, akhirnya, akan datang juga. Dan mungkin tradisi juga seperti kematian, yang tak akan bisa dihindari penyair siapapun, sepemberontak apapun (bahkan Afrizal Malna yang atap bahasanya sudah runtuh pun masih menulis pakai Bahasa Indonesia, masih sesuatu Indonesia!).

“Sisipkan arsip, siram tanaman, rawat kenangan”, tulis Purnama di “Salam Perpisahan dari Paslaan”. Purnama bukan Mbok Oka, bukan Sitor, bukan Chairil, tapi ketiga-tiganya. Mereka adalah “segugusan pakis dan rumput yang pelan-pelan melayu, melapuk jadi rabuk akar dahan, lalu tumbuh kembali sebagai pakis dan rumput yang lain” (“Matoa”). Sesuatu yang lain itulah suara individu Purnama.

Of woman born: domestic confessional poetry dari Toeti Heraty sampai Cyntha Hariadi

Buku ini adalah sebuah kelahiran kembali seorang perempuan dari menjadi seorang Ibu menjadi Aku lagi.

Seperti ditanyakan sendiri oleh penyairnya di puisi “Pertanyaan”: “Bila aku tak mampu lagi mencinta, bisakah aku hanya menjadi aku?”

Penyair perempuan adalah kaum yang (di)marginal(kan) dalam skena Penyair Indonesia, apalagi penyair perempuan yang menulis puisi tentang hal-hal yang dianggap sebagai hal-hal “perempuan”, dari mengurusi laundry, mengasuh anak, sampai mengurusi laundry lagi.

Di blurbs buku Nostalgi = Transendensi Toeti Heraty, tertulis klaim “penyair wanita Indonesia dapat dihitung dengan jari. Setelah berumah tangga, biasanya penyair wanita Indonesia memasuki ‘masa pensiun’ alias tidak menulis sajak lagi.”

Saya tidak percaya. Kemungkinan besar blurb seksis ini ditulis oleh seorang laki-laki yang tidak bisa menghitung jarinya sendiri. Isma Sawitri, Poppy D. Hutagalung, Rayani Sriwidodo, Toeti Heraty, Abidah El Khalieqi, Anil Hukma, Cok Sawitri, Dorothea Rosa Herliany, Medy Loekito, Nenden Lilis A., Oka Rusmini, Sirikit Syah, Dina Octaviani, Nur Wahida, Shantinned, Shinta Febriany, Putu Vivi Lestari. Itu sudah 17 nama! Dan baru yang dimuat dalam satu antologi Selendang Pelangi yang dikumpulkan Toeti Heraty sendiri.

Confessional poetry adalah puisi tentang kehidupan personal si “Aku,” jadi bukan (hanya) “Aku lirik”, tapi (juga) “Aku biopic”. Subyek confessional poetry adalah pengalaman-pengalaman pribadi, trauma, depresi, relationshits, yang diolah dalam gaya yang otobiografis.

Sajak-sajak confessional tentang pengalaman-pengalaman pribadi, depresi, trauma, histeria, sekaligus euforia menjadi Ibu dalam Ibu Mendulang Anak Berlari karya Cyntha Hariadi juga diolah dalam gaya otobiografis seperti ini. Banyak sekali puisi dalam buku ini ditulis dalam bentuk potongan-potongan jurnal, dongeng mini, to-do wejangan seorang Ibu tentang dan untuk anaknya, dialog antara Ibu dan Anak, atau lebih sering Ibu ngomong sendiri kepada anaknya yang belum bisa menjawab “segala kegelisahan si Ibu dengan kata-kata yang ia harapkan”. Sebuah Medela confessionals, if you will.

Secara filosofis cara Cyntha mengolah pengalaman-pengalamannya menjadi Ibu, menurut petunjuk yang diberikan dalam dua epigraf bukunya, dipengaruhi oleh Adrienne Rich, penyair dan feminis gelombang kedua legendaris yang juga menggunakan pengalamannya menjadi Ibu sebagai titik-loncat untuk mengkritisi ketimpangan antara pengalaman IRL menjadi Ibu dan idealisme tentang Ibu yang diciptakan dan dilestarikan oleh budaya yang patriarkal. Lebih Sylvia Plath daripada Female Daily!

“Darinya [hubungan Ibu-Anak] tumbuh akar kisah-kisah tentang
ketergantungan antar manusia yang paling dalam
dan keterasingan yang paling kelam.” (Adrienne Rich, Of Woman Born, diterjemahkan sendiri oleh Cyntha sebagai salah satu epigraf bukunya)

Of Woman Born adalah salah satu analisis feminis pertama tentang Ibuisme sebagai sebuah institusi. Seperti Ibu Mendulang Anak Berlari, Of Woman Born juga diawali dengan potongan-potongan jurnal Adrienne waktu membesarkan ketiga anaknya.
Bandingkan:

“My children cause me the most exquisite suffering of which I have any experience. It is the suffering of ambivalence: the murderous alternation between bitter resentment and raw-edged nerves, and blissful gratification and tenderness.” (Adrienne Rich, Of Woman Born)

dengan:

“Kepolosan yang selalu mengejutkan
seperti api disiram air meninggalkan ibu berasap.
Ibu berkata dalam hati
dekat bau tahi, jauh memang jadi wangi.” (“Hotel”)

atau

“… kau menjerit
seakan kau hendak kujerat.

… tubuhmu meronta
seakan aku hendak menyembelihmu.” (“Menghangatkanmu”)

Secara puitis, bisa ditarik benang merah dari puisi-puisi Toeti Heraty sampai ke puisi-puisi Cyntha. Keduanya menulis puisi-puisi confessional tentang kehidupan perempuan Jakarta kelas menengah (Cyntha) ke atas (Madame Toeti) dalam bahasa sehari-hari yang sarat ironi.
Bandingkan:

“hari ini minggu pagi kulihat tiga wanita tadi
berjalan lambat karena kainnya kain berwiru” (“Wanita”, Toeti Heraty)

dengan

“Wanita itu perkasa
rambutnya tak goyah menutupi mata…
pakaiannya licin dan berwibawa…
sepatunya lancip dan tinggi, ia sejajar dengan para lelaki.” (“Pergulatan”, Cyntha Hariadi — pergulatan dalam puisi ini sebenarnya antara superwanita/first-wave feminist di atas dengan sosok third-wave postcolonial femmo “perempuan baik [yang] rambutnya mengikuti arah angin, sepatunya datar, supaya dekat ke tanah dan sejajar dengan segala yang kecil…. Wanita itu dan perempuan ini orang yang sama”.)

Atau

“benda-benda mesra

bola usang dan beruang tercinta
sepatu merah yang telah lepas-lepas
kulitnya” (“Selesai”, Toeti Heraty)

dengan

“aneka boneka binatang ternak dan buas,
biskuit, separuh kepala, sebelah tangan
dan sebelah kakiku” (“Beres-beres”, Cyntha Hariadi)

Kedua penyair perempuan ini menulis tentang hal-hal dan peristiwa-peristiwa domestik yang tidak (dibolehkan) ambil bagian dalam dunia Puisi Indonesia, tentang cocktail party (Madame Toeti) dan spidol dan kertas (Cyntha), tentang cerita-cerita personal “remeh-temeh” yang mereka sulam/sulap menjadi kritik politik yang tajam terhadap (Puisi) Indonesia yang didominasi laki-laki. Cuplikan di bawah ini mungkin bisa dijadikan manifesto buat domestic confessional poets yang mengikuti jejak Toeti dan Cyntha di masa depan:

“Tulis apa saja yang ada di otakmu atau yang tak ada.
Aku pilih yang tak ada karena aku tahu sebenarnya ada.

lalu aku ingat: harus ambil cucian di bawah. (“Kosong”)

ramsay

hey, i went there again yesterday. about the same time we went there 11 years ago. same liquid yellow sun. same special fx glow on the leaves and the life of concrete around us. there is a flyover now where there was a railroad track. it was quiet there, unlike then when we visited. this time i was there to extend a life, we were there to end it. in the evening i imagined your soft breasts and floppy skin. i came, with regrets.

tewas 2

they’re all tevas to me. you might have a different name, but i have never remembered it.

do you think a bullet can bounce off a car window? the maître d’s cheong sam looked a bit dishevelled. two days ago.

she said my sentences run on to each other. some of them just don’t work. a crossing bridge collapses from a slowly alighting damp leaf.

i have never tried to work out the feelings i feel, writing in total darkness with my daughter’s leg akimbo over my belly. trust no bun.

thank you for the whisky. it helped me sleep in the middle of the night.

okay then, i should be off, searching for my imaginary lighter in the coin slots of your car. there was awkwardness, but we were chatting again on the dyke a couple of weeks later. all’s well that ends swells.

they’re all tevas to me. even your husband wears them. i heard he was too busy to notice you had decided not to wear your retainers anymore. the wind in the backyard blew the pages off your book.

i was dunny when i was depressed. yas, like dat. even the flashpackers french-kissing on the trottoirs refused to smile.

true blood at 9. laundry at 10. pick up the kid at half past, or quarter to, i am the only witness to my own life.

why am i cold. the water heater is turned up to ten. but this morning the news anchor delivered a red box with no pictures in it. have you woken up yet?

the trees look the same as they do in stockholm. the murray bros had kept their pistols wrapped up in old newspapers. the police discovered some of the pages were advertising old curtains.

the meadow has always been more fragrant than leatherwood. have you worked out the peat content? you should start taking your liver support twice a day to avoid zen burnout.

hayley is growing thinner and thinner soon there will be nothing left of her but an empty bottle of allure. eureka! you are disappearing into a terror. they are all tevas to me.

tidak ada poetry

sebuah lorong di bawah rel kereta api yang bukan tempat tinggalku, sampah yang menghitam dari api dan sikap acuh pejalan kaki, semprotan DDT yang sebentar aku kira asap sate, tidak ada poetry. aku berjalan tegap lurus ke depan, sol sepatuku kulit, hand-made, mengetuk aspal seperti bosan, tidak ada poetry. aku berjalan menggandeng anakku perempuan, menghindari tong sampah hijau, oranye, biru, organik, panik, ada atau tidak ada bajaj di depan, di belakang, tidak ada poetry. istriku takut sedih, takut lupa, takut daftar belanja luxola, rambutnya warna-warni seperti rumah gaudi, tidak ada poetry. aku berjalan menggandeng istriku, di sebuah lorong di bawah mall yang bukan poetryku, menghindari sampah warna-warni yang bosan, menghitam, tidak ada poetry.

cultuurstelsel

after a great pooling/unspooling of energy, the room tried to contain xerxes, music in hyper slo-mo, no music but the afternoon light, propeller blades bouncing off each other. listen to intelligent, oversmart/obtuse, dance music. what do you do exactly when you reappropriate the ancients? after a great pooling/unspooling of energy, a hand gesture there, a stalking posture there, the neon lights baulked at the calls to prayer. listen to the soft sound of propeller blades breaking off a crankshaft. rarefied the air, rarefied the pale green chairs stomped by military men’s steel-capped boots.

canto cxviii (i forget the most important things)

#15, jakarta

 

in medias what res ?

‘i am happiest when i follow
how things sound.’ —

im startin to get
patterns tics repetitions
the ferris wheeloff yr mindi get
you cherry
cherry
cola
i get
you lil raccoon
of my hearth

in 1876 Rimbaud set sail for Java
in August Batavia
flayed his boots along Molenvliet
jogged along Weltevreden
on the Kwitang Bridge:
Jules et Jacques debated the latest fashion in womens hats

Rue de la Paix

The Opéra were in their last run of (do more research)

Do you read
these things
lil raccoon
of my hearth ?

a lil bit of Marjorie
a dash of Hugh
a decade of pattern-makingin early Dec. R. got the first merchant ship out
Ireland!
you know whyNO-ONE cd hack the south bound procession of Casteel Batavia

Imagine me
w/out you

the gangrene has seeped into my crotch

c’est pour toi
DIONUSOS
let the bacchaeburn myrrh all nite long

KNOW what YOU want to DO

i wanna paint the sky-wide cloud
red
the red of yr labia (PANTONE do more research)

i want to be Catherine the Great
trail my train across the blood-red snow

No one misses you
‘cept Remus
one teat less to suck
(sure youve put that
into consideration)

Regardez toi!
thats what I tell myself
(not to do)Ive never ever tried to write Paradise
Oublié moi!In 1928 a bunch of louts descended into
the capital and decided on a lingua
franca strange

Something simple and malleable
for the (forget—do more research) grammata
common market-man Malay!

no c no j no v no x no u no you

’tis hopeless when I try to write Paradiso
like you me the rest of this
cunt tree

in 1945 a couple of louts in muslin declared
independence in real time and a mangy dog walked across the first
state-sanctioned
photo-op

Someone wore a suit bespoked out of old curtains
a jodhpurs cut off above the knees

Do you know the mythologoi simulacra simulacrae simulacri of this
our belovéd
cunt tree

Lil raccoon of my hearth ?

Do ya read
me ?

In 1965 a river of blood
“     “     “  heads
“     “     “  body parts (random)
“     “     “  i dont give a fuck anymore its boringlacking the moral fibre
of the average persons brain[see lil raccoon of my heart im now sittin in a pizzeria somewhere at the back of my mind next to me the three Magi (Chinois) theyre debatin the eco-friendliness of screen printin vs digital the image of choice wd be the standard portraits of Bung dan Bing Soekarno-Hatta]

Imagine that
lil big raccoon of my hearth !

in 2008 forget it
a rickshaw driver who was

DISAPPEARED

in 1996 leaves still
traces in the sand

Ishikoro!

Do ya read
moi ?

My heart broke when I saw yr last
YM! status why do ya

in 2009 pretend a general election
will ignore primary results
and go str8 up the caucus

Oublié libre seduis-moi!

classical rhetoric for the modern student

kelelahan cuma buat menunda waktu untuk mengakui kekalahan
seperti payung dibentangkan untuk melindungi punggung yang terlanjur basah
sosokmu melintasi kuburan di bawah awan yang menggerayang
kesedihan père lachaise yang membusuk di petamburan

tidak ada lagi jalan, hanya badan badan yang ditumpuk bagai bantal
di ibukota yang enggan memberikan ruang bagi gunting rumput dan air mata
kuhargai perjuanganmu mengutamakan sopan santun
di atas dendam kesumat yang menghangatkan tubuhmu dalam hujan

maksi

jadi mau makan apa, rawon, mandala, memandangi lalu lintas saja sambil meremas bantalan kursi?

rawon mandala would be great, tapi apakah dunia sudah seadvanced itu?

aku sudah lama tidak memperhatikan apa-apa, begitu pula rambutmu. apakah catokan yang lagi panas-panasnya masih sering menjatuhi betismu?

jadi mau makan apa, belok kanan aja.

high tea tak pernah terasa cukup high di kota ini. gerimis belum juga jadi longan.

tapi di atas bisa ngerokok.

belok kiri terus di depan belok kanan, ada jalan buntu.

aku baru mulai meraba-raba lagi. rasanya seperti memakai sarung tangan kulit kemudian membelai kucing angora.

it’ll come back. if i was a good friend, i would say that. but no, i hardly ever see you, anyone.

kok nggak ada ya? udah lama sih gak ke sini.

bagaimana menurutmu kecenderungan melucu saat ingin serius?

tergantung apakah kau sudah tahu apa itu yang ingin kau bincangkan dengan serius. humour never stands in the way of a good story.

udah entar juga ada.

dia terlihat tua. dan dia berjalan seperti sedang naik sepeda. kuperhatikan dia melaju menuju counter m.a.c. dari eskalator yang sunyi.

siapa? yang bukan temanmu itu? celana cargo tidak punya cukup kantong untuk menyimpan jiwa yang resah, bukan begitu katamu dulu? tentang dia kan.

jadi mau makan apa, rawon, mandala, minum kopi asam sambil menusuk-nusuk apple crumble sampai jadi ya… crumbles?

belok kanan aja, entar juga ada.