I am a sensitive artist. Nobody understands me because I am so deep. In my work, I make allusions to books that nobody else has read, Music that nobody else has heard, And art that nobody else has seen. I can’t help it, because I am so much more intelligent and well-rounded Than everyone elseContinue reading “Gogon Figure!”
Category Archives: On literature
FUCK SASTRA INDONESIA
tahun 2019 saya ikutan london book fair, setelah beberapa bulan sebelumnya ke norwich buat ikutan program mentorship buat penerjemah. sudah lama sebenarnya saya pengen nulis tentang pengalaman waktu itu yang menunjukkan betapa busuknya orang2 yang selama ini pura2 kelihatan begitu murah hati mempromosikan sastra indonesia, betapa para penulisnya juga lebih mementingkan mempromosikan diri sendiri daripadaContinue reading “FUCK SASTRA INDONESIA”
crawling to voice
some of my earliest memories of australia were of western sydney. summer of 92/93. a democratic socialist party conference at the university of western sydney (i’ve noticed it’s now the wsu – western sydney uni). i had no idea who trotsky was, what was his beef with lenin, were they in different indie bands? soContinue reading “crawling to voice”
Madame la directrice, I 💘 You
Sebagai penulis yang sering dipertanyakan kenapa “ngehek”, “nyinyir”, “borjuis”, “keminggris”, saya berhutang banyak kepada puisi-puisi Toeti Heraty (Rest In Eternal Cocktail Party) sehingga akhirnya saya berani menjadi diri saya sendiri yang sepenuhnya—ngehek, nyinyir, borjuis, keminggris. Kalau penyair laki-laki sok kosmopolitan segenerasinya seperti Goenawan Mohamad, misalnya, membuat kota-kota di luar negeri sebagai latar belakang eksotis puisi-puisiContinue reading “Madame la directrice, I 💘 You”
an image of noemetan
beberapa soal di luar isi cerpen “keluarga kudus” sunlie thomas alexander yang baru saja ditahbiskan sebagai cerpen pilihan kompas 2022 — terutama kemungkinan cerpen itu mengapropriasi cerita lisan istri sunlie sendiri, yonetha rao yang berasal dari timor (“cerpen di atas sebagian bahan ceritanya dari saya”, tulisnya sendiri di sebuah pembahasan cerpen tersebut di sebuah fbContinue reading “an image of noemetan”
rums
rumah. aku hendak pindak rumah. rumah kata. sebuah bangunan yang terus berubah dari rangkaian patahan lidi. kunci. kakus menabuh kamar koran minggu. rumah daging. rumah pikiran. gudang. di mana tempatmu dalam sastra indonesia, mikael? mau bertamu ke rumahnya atau puas saja melempari batu ke atapnya? tapi aku bukan teman dari atap bahasa? siapa yang mauContinue reading “rums”
Sastra Indonesia tidak perlu makelar-makelar kulit putih
oleh Theodora Sarah Abigail diterjemahkan oleh Mikael Johani Penulis Indonesia sudah lama diwakili makelar-makelar kulit putih di panggung internasional. Masalahnya, apakah sebenarnya kita perlu mereka? Banyak orang asing menyimpan gambaran di dalam kepala tentang Indonesia yang primitif, penuh kampung kumuh, sungai-sungai kotor dan gunungan sampah. Jikapun mereka punya bayangan baik tentang Indonesia, paling terbatas gubukContinue reading “Sastra Indonesia tidak perlu makelar-makelar kulit putih”
Kebaya or bolero: which one is more English?
Kebaya or bolero: which one is more English? investigates – after Said – the “configurations of power” between an Indonesian editor and his (American) English translator, and the effects their struggle for power had on the voice of the original author. Keywords: bowdlerization, commercialism, editing, Indonesian, mistranslation, orientalism. Cet article, intitulé « Kebaya ou Bolero:Continue reading “Kebaya or bolero: which one is more English? “
Stop asking is this puisi?
Ditulis untuk Kongkow Jawara Puisi di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Dewan Kesenian Jakarta 14 Desember 2016 Sebuah sayembara puisi hanyalah een rimpeltje in de oceaan, a ripple in the ocean, sebuah riak di tengah samudra usaha kanonisasi Puisi Indonesia, proses yang tak bosan-bosannya berlangsung sejak skena Pujangga Lama sampai sekarang skena Pujangga Hallmark. TermasukContinue reading “Stop asking is this puisi?”
MADAME BOVARY
Gustave Flaubert After seeing the restored version of Usmar Ismail’s Lewat Djam Malam, I realized that Emma Bovary and Laila share the same tragic failing: both longing to transcend their world but fail miserably because they pin the wrong things on their Pinterest ancien’s boards.