prambors poetry attack sabtu-minggu ini

Start:      Jan 12, ’08 11:00a
End:      Jan 13, ’08 12:00a
Location:      sebelah ratu plaza 102.2 fm

me and gratiagusti chananya rompas sabtu dan minggu 12 dan 13 januari 2008 jam 11 sampai 12 pagi siang menyanyikan lagu-lagu di bawah ini (temanya kali ini PELARIAN) (some of the original poems’ formatting is lost, say, anya’s 3 nenek sihir sdve been centre-aligned, since the word processor in this schedule event thing is totally retarded):

THE BOOK OF FARCE
mikael johani

if i send you a roomee
would you send me a reindeer

if you send me the sun
should i send you a fireplace

let’s make a baby you and i
and let it grow into a xmas tree

send me those happy pills
and i will pluck you a platinum quill bling bling pimps!

’tis the season to be jolly
joyeux noël! les super walls!

describe me
in naughty gifts

tag me in an album
never let me go

pass me le puff puff
in our incredibly beautiful snow globes

panty raid lick hug super poke me
you secret friend real gift rockst*r you

warhol me
a super puppy

in my solar system
there’s only you me and 97 other requests

FIE!

BABY FALUDA
mikael johani

suatu malam sehabis nonton pan’s labyrinth aku duduk bersama pacarku di kursi bar di komala’s

dia memesan baby faluda, aku teh masala

dan kita ngobrol wek wek wek dua jam-an tentang salesman setengah baya, ibu-ibu india yang menjepit bawang bombay mentah dengan ujung jarinya, dan brondong-brondong di oh la la di seberang yang mencoba menyembunyikan cardigan murahan mereka di balik

tawa.

kita tertawa ha ha ha dan dia menggodaku kenapa begitu gampang menangis menonton pan yang berkulit kayu dan berbau tanah, dan aku menggodanya kenapa daya kritisnya hilang begitu nama gael garcía bernal muncul di layar.

‘tapi kan tadi tidak ada gael garcía bernal?’

ha ha ha ha ha. ‘kukira tadi sutradaranya juga benicio del toro!’

selagi mencengkeram perutku yang tegang tertawa

aku ingat waktu aku umur 10 tahun, duduk di atap rumahku di badran, jogja

menonton rumpun, gepeng, asep, githil, lilik, mas kelik, trio

membela gawang rt 6 dari serangan ganas nanang, bomber rt 12

buku pspb kelas empat terbitan tiga serangkai di pangkuanku

gambar jenderal oerip soemohardjo dengan epaulet-nya yang tak sempat disetrika

dan tangan yang menuding entah kopral siapa

di halaman 42.

besok ulangan.

waktu itu faluda hanya nama tante yang naik haji baru sekali tapi sudah lima kali umrah

(karena angka ganjil dikasihi allah)

dan masala, aku yakin waktu itu aku belum tahu ada sesuatu di dunia yang bernama seperti itu

ada kasti, ada gobag sodor, ada benthik, ada dhelikan, ada lèk lèk-an,

tapi belum ada masala.

sekarang pacarku menusuk-nusuk baby faludanya yang tinggal sepertiga, mencari vermicelli yang mungkin sembunyi di balik air susu yang putih seperti hatinya,

dan aku memutar-mutar sendok di teh masala-ku, memecah kerak lemak yang menggumpal di permukaannya:

waktu itu, juga belum ada dia.

FORGIVE ME FORGIVE ME NOT
mikael johani

bosan bukan perasaan yang patut diingkari
serupa jatuh cinta
maupun pikiran malas untuk bunuh diri

atau keinginan menato seluruh tubuhmu
dengan karakter karakter le petit prince
si rubah si pemabuk si pangeran kecil yang pergi begitu saja
setelah menaklukkan hati

semuanya

rasa rasanya wajar dan rasional
menganggap bosan sekedar khayalan

tapi akhir akhir ini aku berpikir
bosan bisa jadi senyata
kemuraman radikal* seorang kapten kapal

semua ini karena aku tiba tiba teringat pertama kali kita bertemu
di sebuah pertemuan keluarga besar di margaux
kau datang sebagai pacar seorang sepupu

di tengah tengah aku bercerita tentang rencana tunanganku
kau tiba tiba menyela:
‘kau kedengaran begitu yakin, nih, have some more ragout!’

garpu garpu berhenti di sekitar dagu
pacarmu, sepupuku, menepuk bahumu

sedikit terlalu keras

hahaha, aku tertawa ringan
hahahahahaha, aku tertawa lebih keras

dan meja berguncang dengan perasaan lega dan sisa cemas

you’re a funny one

you’re The Funny One

You’re The Funny One For Me, Funny

sekarang setelah entah berapa kali main kucing kucingan
dengan sepupuku yang sekarang suamimu
bertangkai tangkai mawar di tempat sampah

sekarang yang tersisa adalah menonton Oprah
dalam diam, kepalamu di dadaku
dan kepalaku penuh dada dada baru

bukan sejarah yang bisa dihiraukan
maupun saling memahami yang mampu dicampakkan
tidak seperti di film film antonioni:

we understand each other
and we get to keep our clothes on

bosan bukan perasaan yang patut diingkari
rasa rasanya wajar dan rasional
kepalamu di dadaku dan kepalaku penuh dada dada baru

*dicuri dan dimodifikasi dari ‘kemurungan radikal’ di Goenawan Mohamad, Tuhan & Hal-hal yang Tak Selesai, KataKita, Jakarta, 2007, hlm. 133.

YANG TAK PERNAH KETEMU
gratiagusti chananya rompas

apa yang kau cari di siang seperti ini ketika gerai-gerai makanan cepat saji riuh rendah oleh piring-piring yang bersentuhan dengan nampan dan orang-orang kelaparan yang begitu kikuk menggunakan pisau dengan garpu, oleh cerita-cerita tentang hari yang baru setengah berjalan sementara pengeras suara mengumandangkan lagu-lagu pop yang katanya lokal tapi sebenarnya hanya mengulang kejayaan lagu-lagu asing, oleh bermacam-macam bunyi lain yang selalu terdengar salah di telingamu dan selalu saja kau cemooh, oh, mungkin karena mejamu terlampau

sunyi

?

TURIS ADALAH HANTU
gratiagusti chananya rompas

turis adalah hantu
gentayangan dari satu tempat ke tempat yang lain

kau singgah di kedaiku,
habiskan kopi sambil membaca koran berisi berita-berita asing,
tinggalkan tip sebelum menghilang di balik pintu,
tertawa ceria,
terpesona bangunan-bangunan tua,
ambil gambar sana-sini
lalu janji kembali
walau tahu tak akan datang lagi

aku juga ingin berlibur
lalu jadi hantu

—selesai 22oct2005, diperbaiki lagi 1feb2006

3 NENEK SIHIR
gratiagusti chananya rompas

aku, dia, dan dia
duduk melingkar seperti 3 nenek sihir
meracik ramuan untuk mengubah kodok jadi pangeran

sebuah baskom
sebotol besar vodka
secukupnya sari anggur
dan tentu saja es batu, banyak tapi jangan kebanyakan

sim
sala
bim

aku, dia, dan dia
duduk melingkar seperti 3 nenek sihir
menunggu saat-saat indah kodok jadi pangeran

mereka bilang semuanya berawal dari cerita
lalu jadi tangis
lalu jadi tawa
tetapi urutannya dapat berubah-ubah

sala
bim
sim

aku, dia, dan dia
duduk melingkar seperti 3 nenek sihir
kini bingung karena kodok tak jadi pangeran

mungkin takarannya kurang pas
tidak, mungkin vodkanya yang murahan
tidak, tidak, mungkin mantranya yang salah

bim
sim
sala

aku, dia, dan dia
duduk melingkar seperti 3 nenek sihir
setelah lama kini tahu mengapa kodok tak jadi pangeran

kodok memang diciptakan untuk sesama kodok

BERLIBUR KE RUMAH NENEK
holiday_sendiri

pulangnya ia duduk tenang-tenang di jok belakang. kaki goyang-goyang mata menerawang. lalu tertawa kecil menyadari rima murahan yang terbentuk dalam pikirannya barusan. haha murahanbarusan, satu lagi rima kacangan. dan kata itu mengingatkannya akan dirinya. maka tangannya berusaha mengalihkan pikiran dengan mengaduk-aduk keripik kentang lay’s. kres. dan rasa asin pecah di mulutnya. rasa asin yang klasik, begitu tertulis di bungkusnya. selain rasa asin, rasa apalagi ya yang bisa klasik? rasa kecewa yang klasik rasa puas yang klasik rasa terbuang yang klasik rasa dicintai yang klasik rasa gagal yang klasik. lalu ia membayangkan pergi ke supermarket membeli beberapa stoples rasa bahagia yang klasik. ia akan berjinjit, menukarkan puluhan uang logam dari celengan bart simpsons-nya untuk sestoples bahagia yang klasik. petugas kasir menepis uang logamnya dengan kasar. clang. clang ketika permukaan uang logam berdaki membentur tepi meja kasir yang dingin. heh ingat ya sestoples bahagia bukan untuk dimiliki anak-anak sepertimu. dan clang di hatinya. dengan gugup ia memasukkan uang logam ke saku. kaki kanannya bergerak sendiri menendang pelan kursi sopir. ia tersentak bangun karena rasa gigil yang terlalu, yang ia sendiri tidak tau namanya. oh ya barangkali ini rasa sedih yang klasik, pikirnya. dan ia memilih untuk memejamkan kedua matanya kembali.

La Doncella de Salta*

girl with coca leaves stuck to her lips
eternal friend of mountain fairies

her mouth locked forever
in a kiss

uncross your legs
defrost what’s left
in the wine rack

because there will be

no more chicha
for the golden child
of the last capacocha

*sesungguhnya terjemahan dari puisi ney, tapi dia tak sukanya.

sometimes it turns out something you’ve abandoned is way more interesting than the thing you’ve abandoned it for, for real*

jogja bagiku adalah badran
bermain dhelikan di sisa kuburan
cerita tentang kepala, atau perut yang meledak
di krematorium sebelah pesta perak, dan pertanyaan dalam hati
banci mana yang akan mengajar ngaji di masjid ppp malam ini?

atau mungkin juga bertemu ‘sang pemabuk’ christine ay tjoe
di antara s. teddy d. dan athonk di gudang galeri cemeti
menanyakan, ‘berapa ini?’
kemudian lari tanpa membeli karena dijawab, ‘apa anda suka mengikuti seni?’

bisa juga salon putra, ‘untuk putra dan putri’
handuk panas yang dijemur di panci di belakang kursi
slamet tua yang bermata sipit dan suka merapikan poni

jogja i hate u
memori tentangmu

seperti ujung peniti lepas menusuk peli

*jawaban untuk puisi malaikat kecil berjudul ‘di sini’ di milis buma. i wrote this first but then wrote another reply ‘di sindang’ which i thought was better and posted it in buma but in retrospect what goddamn use is fuckin retrospect.

Limitations (Doggerel Remix 2003)

Ceramic cups crack on tables
Lowell would rewrite in a fable
of bored urbanites instead of mammals.
O he’d begin, soft, to intimidate
with the Greek vocative, long obsolete.
I’d gawk at the brightness of his diction
laugh at the arrogance of his fiction
And my jaw would drop. I think of my head
whence my ambitions, a farce, should have fled.
The steam-engine sound of hot white vapours
dances around the fat barista’s breasts.
She pours hot milk on black Sumatran brew
and spills white froth on her camel jodhpurs.
Lowell would give her a name, grand and old,
like De Witt Clinton, Hoes, or Vanderpoel
Of strange origins and split-second force
hung heavy on history’s family tree.
The sound of morning, meaning still far-fetched,
begins here. The date on the wall, Roman,
smiles and nods its dark head: Lowell is dead.

lettres choisis #711 (arides the bashful)

ARIDES

The bashful Arides
Has married an ugly wife
He was bored with his manner of life,
Indifferent and discouraged he thought he might as
Well do this as anything else.

Saying within his heart, “I am no use to myself,
“Let her, if she wants me, take me.”
He went to his doom.

(il miglior fabbro)

But what exactly did Arides give up in marrying his wife, that her, that other world that wanted him and was willing fukkknowswhy to take him? He was bashful, so probably spent most of his time in his room playing Ragnarok. Couldn’t he hack the loneliness anymore? The solitude?

We know there is something that eats away at the artist, Hank. And it is everything you said it was, an obsession, an affliction. But those are abstract nouns you use to describe a condition of the soul. Let’s get concrete, what the fuck is it?

I want to harness that obsession, that flaw, into the Juan Roman Riquelme in my arsenal of writing tools.

But how when I don’t even know what it is?

Is it loneliness?

Is it solitude?

Denise Levertov thinks there’s a difference between loneliness and solitude. That what an artist needs is solitude.

It’s fucking hard work to get all the solitude you want without getting lonely!

Generally speaking, artists do hurt other people. A lot. It is the duty of the artists to accept the fact that they do. Remember Tom & Viv? Lowell and his history of girls?

Because if you don’t accept that fact, if you continuouslydesperately struggle to make people think you are a good person who never hurts anyone but yourself, then you hurt yourself even more. Too much.

You don’t want that.

You don’t wanna meet your doom. Not just yet.

I think I remain,

Superchunk! Society!

lettres choisis #712 (l’amour est plus épaisseur qu’oublier)

hey you,

sebelum aku lupa. bayangkan gambar sore yang standar. kecuali awan yang bentuknya seperti tisu yang tak sengaja kau pilin di sebuah restoran, di pojok kiri atas sebuah layar, semuanya standar, kecuali awan itu berwarna kuning telur. di bawahnya, jauh di bawah awan-awan lain yang berwarna antara abu abu dan jingga seperti biasa, di dasar layar, ada siluet atap, antena, mungkin menara masjid, aku sudah lupa. aku hanya memperhatikan awan kuning telur itu. setelah itu sore yang lain di kota yang kira kira sama. kali ini agak terang sehingga kau bisa melihat rel kereta yang melengkung ke kanan layar, sebuah stasiun yang menunggu di depan. cukup terang, kau bisa melihat batu batu di antara rel dan bantaran kayu. kemudian sebuah langit yang lebih dekat, siluet rumah yang tumbuh begitu cepat, seperti mulut mulut gelap yang ingin menelan mukamu bulat bulat. tapi masih tersisa awan awan di atasnya seperti wig yang kelewat pirang. mulut mulut gelap jadi tak begitu mengerikan, kau masih bisa merasakan kedamaian.

itu semua. mungkin setelah mengejar mas mas berjalan sepertiga. aku membayangkan r dan m yang sekarang jadi editornya juga, di ruang editing yang dingin, gelap, bau rokok yang menempel di daun telinga. di situ tak pernah ada sore, siang, malam, kau hanya bisa menandai waktu dengan rasa lapar. dan mereka sudah lama di situ. entah berapa lama. mungkin sudah lima kali makan malam. dan mereka sampai di bagian ini. cukup banyak yang telah terjadi. dan sekarang seseorang akan meninggalkan seseorang lagi, atau paling tidak berniat begitu. karena itu ada stasiun, ada rel, ada perasaan seakan akan tempat dudukku sedang melaju ke depan. kemudian mereka melihat awan kuning telur itu. awan itu indah. kalau aku berpikir tentang sore aku akan berpikir tentang itu. begitu yang kupikir waktu melihatnya. dan sebelum itu aku belum pernah melihat awan warna kuning telur.

mungkin mereka belum pernah pula melihatnya. tapi mereka setuju, awan itu memang indah. karena itu mereka biarkan ada di situ. juga sore. dan sore yang selanjutnya. dan awan yang dekat, mulut mulut hitam yang menerkam. karena semuanya indah. mungkin mereka ingin istirahat, setelah semuanya yang terjadi. aku tak tahu. mungkin tak sesentimentil itu. tapi aku lebih suka membayangkannya sesentimentil itu. aku hanya ingat berpikir, inilah sebabnya orang tidak bisa tidak mencipta sesuatu yang mungkin tak ada gunanya. seperti seni, sebuah film, novel, puisi. mungkin awalnya tidak sengaja, seperti manusia purba yang pertama kali memasukkan benang ke dalam rongga sebuah tulang dan wow, lucu juga, kemudian mengalungkannya di leher. tapi kemudian ketagihan. setelah awan kuning telur itu, siapa yang bisa menyalahkan rel kereta, stasiun tua, mulut mulut hitam menganga? mungkin mereka jadi berpikir tentang sore itu mengambil gambar di sana. rasanya seperti itu. seperti awan yang kuning telur. rel yang tak menuju ke mana mana. dan mereka menggambarnya. dan menggambarnya lagi. berusaha membuat melankolia itu abadi.