lettres choisis #712 (l’amour est plus épaisseur qu’oublier)

hey you,

sebelum aku lupa. bayangkan gambar sore yang standar. kecuali awan yang bentuknya seperti tisu yang tak sengaja kau pilin di sebuah restoran, di pojok kiri atas sebuah layar, semuanya standar, kecuali awan itu berwarna kuning telur. di bawahnya, jauh di bawah awan-awan lain yang berwarna antara abu abu dan jingga seperti biasa, di dasar layar, ada siluet atap, antena, mungkin menara masjid, aku sudah lupa. aku hanya memperhatikan awan kuning telur itu. setelah itu sore yang lain di kota yang kira kira sama. kali ini agak terang sehingga kau bisa melihat rel kereta yang melengkung ke kanan layar, sebuah stasiun yang menunggu di depan. cukup terang, kau bisa melihat batu batu di antara rel dan bantaran kayu. kemudian sebuah langit yang lebih dekat, siluet rumah yang tumbuh begitu cepat, seperti mulut mulut gelap yang ingin menelan mukamu bulat bulat. tapi masih tersisa awan awan di atasnya seperti wig yang kelewat pirang. mulut mulut gelap jadi tak begitu mengerikan, kau masih bisa merasakan kedamaian.

itu semua. mungkin setelah mengejar mas mas berjalan sepertiga. aku membayangkan r dan m yang sekarang jadi editornya juga, di ruang editing yang dingin, gelap, bau rokok yang menempel di daun telinga. di situ tak pernah ada sore, siang, malam, kau hanya bisa menandai waktu dengan rasa lapar. dan mereka sudah lama di situ. entah berapa lama. mungkin sudah lima kali makan malam. dan mereka sampai di bagian ini. cukup banyak yang telah terjadi. dan sekarang seseorang akan meninggalkan seseorang lagi, atau paling tidak berniat begitu. karena itu ada stasiun, ada rel, ada perasaan seakan akan tempat dudukku sedang melaju ke depan. kemudian mereka melihat awan kuning telur itu. awan itu indah. kalau aku berpikir tentang sore aku akan berpikir tentang itu. begitu yang kupikir waktu melihatnya. dan sebelum itu aku belum pernah melihat awan warna kuning telur.

mungkin mereka belum pernah pula melihatnya. tapi mereka setuju, awan itu memang indah. karena itu mereka biarkan ada di situ. juga sore. dan sore yang selanjutnya. dan awan yang dekat, mulut mulut hitam yang menerkam. karena semuanya indah. mungkin mereka ingin istirahat, setelah semuanya yang terjadi. aku tak tahu. mungkin tak sesentimentil itu. tapi aku lebih suka membayangkannya sesentimentil itu. aku hanya ingat berpikir, inilah sebabnya orang tidak bisa tidak mencipta sesuatu yang mungkin tak ada gunanya. seperti seni, sebuah film, novel, puisi. mungkin awalnya tidak sengaja, seperti manusia purba yang pertama kali memasukkan benang ke dalam rongga sebuah tulang dan wow, lucu juga, kemudian mengalungkannya di leher. tapi kemudian ketagihan. setelah awan kuning telur itu, siapa yang bisa menyalahkan rel kereta, stasiun tua, mulut mulut hitam menganga? mungkin mereka jadi berpikir tentang sore itu mengambil gambar di sana. rasanya seperti itu. seperti awan yang kuning telur. rel yang tak menuju ke mana mana. dan mereka menggambarnya. dan menggambarnya lagi. berusaha membuat melankolia itu abadi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s