modus ponens

<!–[if gte m so9]>

Normal 0

false false false EN-US

X-NONE X-NONE Micro

softInternet

Explorer4 <![endif]–><!—

[if gte m so9]> <![endif]–>

 <!–[if gte m so10]> <! /* Style Definitions */

table.M soNormal

Table {mso-style-name:“Table Normal”;

mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0;

mso-style-

noshow:yes;

mso-style-priority:

99; mso-style-qformat:yes;

mso-style-parent:“”; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;

mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:

10.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:

widow-orphan;

font-size:11.0pt; font-family:“Calibri”,“sans-serif”;

mso-ascii-font-family:Calibri;

mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:“Times New Roman”;

mso-fareast-theme-font:

minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;} –>

<!–[end

if]–>

Calamus, Calamus, will you do the Fandango? (The manly love of comrades)*

Selamat datang di pantai plastik. Selamanya memang pantai ini terbuat dari plastik. Tidak seperti pantai-pantai lain yang biasanya terbuat dari gerusan kerang, nyiur yang masih mampu melambai maupun yang sudah sekarat, dan teriakan-teriakan anak balita menuntut disewakan ban pelampung. Pantai ini plastik, karena itu selalu sunyi. Udara tidak tahan berada di sini. Nikmati liburan Anda, renang bersama kemasan-kemasan minuman botol. Jauh lebih menyenangkan daripada berenang di dalam kubangan air seni. Bayangkan 5000 tahun mendatang, betapa indahnya pasir yang akan terbentuk dari hasil bio-degradasi tumpukan-tumpukan kemasan Mountea ini. Pikirku sinis. Aku memang selalu sinis, Apalagi terhadap orang yang bahagia. Aku selalu mencari-cari hal yang salah dalam hidup mereka. Jempol tangan yang bujel, kaki yang panjang sebelah, rambut yang mulai membotak dari belakang kepala. Tidak terpikir olehku, dulu, di satu malam aku pernah membenamkan kakiku ke dalam pasir dingin pantai ini. Itu karena aku bahkan sinis terhadap kebahagiaanku sendiri. Sudah lama kutimbun memori bahagia ini dengan ingatan (mungkin, sekarang aku sadar, hanya khayalan) tentang jempol kakiku yang waktu itu luka menginjak tutup Teh Botol yang berkarat. Aku paranoid tetanus, dan mengajaknya segera pulang.

Saat itu aku masih menggenggam tangannya. Bayangkan, sedang romantis-romantisnya. Karena itu pertama kalinya. Berminggu-minggu aku harus puas dengan menatap bibirnya yang mungil, pink, dan selalu basah, mengemut berbatang-batang rokok mentol. Kata-kata yang menghambur dari sela-sela giginya yang putih bersih dan rapi. Malam-malam mengocok di kamar membayangkan semua itu tadi. Fantasi-fantasi yang bertahan selama lagu-lagu The Ramones. Swallow My Pride. She’s The One. Now I Wanna Sniff Some Glue. Tapi sekarang. Muka kami memang sudah beraroma garam, tapi kami bisa bertahan sampai matari terbit. Tiba-tiba aku tidak sinis lagi. Perasaan yang aneh, dan tidak kusadari waktu itu. Aku hanya melihat balon warna-warni naik dari kaki langit, bersaing dengan matari yang masih pucat. Dan terus mengenggam tangan sampai baterai MP3-ku habis meski yang kami dengar hanya playlist pantai yang aku rangkai. Beach Boys, Souljah, Dick Dale, Tony Q, Fake Plastic Trees – Radiohead, We Own The Sky – M83. Aku pikir, pas sekali, memang kami penguasa langit pagi ini, menggenggam tangan di antara nyiur-nyiur plastik yang daun-daunnya kaku bagai penonton yang bosan.

Belum terlalu lama, sekitar sepuluh tahun lalu. Tapi rasanya seperti telah ada perang dunia dan apokalips antara waktu itu dan sekarang. Perasaan sinisku telah kembali, celanaku makin longgar di pinggangku, sekarang aku menggemari Philip Glass. Tapi sejak aku dan dia terpisah tujuh tahun, aku tidak berani datang lagi ke pantai ini. Itu satu-satunya hal yang tidak berubah. Semacam tiang perak yang bisa kujadikan pegangan sementara aku berdansa bugil di panggung hidup ini. Aku memutuskan untuk pindah ke sebuah desa nelayan di mana setiap pagi bisa kupandang matari muncul dari laut yang emas dari jendelaku. Keputusan yang drastis bahkan menurut diriku sendiri. Apalagi menurut teman-temanku. Mana mungkin kau tahan mendengarkan deru hatimu sendiri dalam sepi, begitu kira-kira kesimpulan komentar mereka. Deru yang selama ini diredam oleh kakofoni kehidupan urban.

Ya, aku memang pindah ke pantai, tapi bukan pantai ini. Aku belum segila itu, atau seputus asa itu, paling tidak menurutku. Walau sebenarnya aku memutuskan untuk pindah ke desa nelayan itu untuk sekadar membingkai kenanganku akan pantai ini. Curang, sebenarnya. Tapi tak apa, toh hidup juga sudah terlalu sering mencurangiku. Karena sejujurnya, tidak ada tempat di dunia ini yang ingin kukunjungi selain tempat ini. Pantai plastik ini. Yang dengan setia mempertahankan keplastikannya sejak tujuh tahun yang lalu. Langit yang plastik. Nyiur yang plastik. Mungkin warna-warnanya ada yang sedikit memudar dari tujuh tahun berjemur di bawah sinar matahari plastik. Hanya itu saja yang berubah. Wajar. Waktu mampu menggerus apa saja.

Menemuinya. Atau tidak menemuinya. Sesungguhnya aku bingung. Antara memecahkan batu amber dan mengambil lebah di dalamnya, atau membawanya ke tukang akik untuk dinilai berapa harganya sebagai batu mulia.

Namanya Daning. Paling tidak itu satu-satunya nama yang pernah ia berikan kepadaku. Aku begitu mempercayainya. Kami bertemu ketika kata-kata kami berpaut saling memagut di situs pertemanan. Zehr gut. So good. Memang patut. Daripada butut, ledek temanku. Baru kali itu aku begitu terpesona pada seorang gadis karena tutur kata yang muncul hanya lewat layar monitor. ICQ, and now I’ve found you, ketikku dalam hati.

Daning tidak menolak waktu kuajak ke pantai plastik. Agaknya ia tidak percaya dengan mitos bahwa laki-laki kadang-kadang adalah penjelmaan siluman buaya. Atau serigala. Tergantung jalan setapak mana yang salah kau ambil di tengah hutan belantara urban ini. Aku mengusulkan, bawa bir. Ia malah tertawa LOL dan bilang, I like my liquor like sex, hard. O_o. ICQ, and now I’ve found you. Kami bertemu di pantai itu beberapa kali sambil menyeruput bergelas-gelas Cointreau dan terus bertukar kata di email sampai satu hari dia menulis:

Aku lelah menunggu. Kamu terlalu gentle, kalau bukan genteel. Kadang aku berpikir kamu dilahirkan di abad 19. Dengan ketimun di antara selangkanganmu.

Aku ingin menjadi aroma di setiap nafas yang kau hela. Aroma yang akan membangkitkan amarah di setiap perempuan yang kau cium setelah aku. Racun yang mengalir di gula-gula ludahmu.

Aku ingin kau membawaku pergi. Jauh dari pantai plastik ini. Ke sebuah gubuk dengan pintu beton dan gerendel ganda.

Tiga kalimat singkat yang dia tulis lewat email itu menyadarkan aku bahwa aku tidak perlu menunggu terlalu lama lagi, karena permainan menunggu itu memang mengikis kesabaranku juga. Tapi sahabat lamaku itu, sinisisme, tiba-tiba kembali. Seperti lolongan serigala yang minta dikasihani. Gubuk itu bergerendel ganda, katanya, kau tak akan bisa lari-lari pagi lagi.

Di sebuah klab penuh asap, semua bergerak dengan lambat. Tangan-tangan yang berbagi selinting ganja. Ciuman yang mengambang di udara. Bartender yang menunggu botol yang tadi ia lemparkan ke udara sambil menulis novel di balik setumpuk tatakan gelas. Bahkan lagu dengan BPM 140 terdengar seperti Svefn-G-Englar di kupingku. Svefn-G-Englar seperti Forest of Equilibrium.

Sejak itu setiap aku menghela nafas, aku hanya mencium Calamus yang langsung menusuk syaraf relaksasi dan membuatku merasa seluruh sudut di dunia ini adalah tempat yang nyaman. Lebih nyaman daripada rahim ibu. Lebih nyaman daripada istana awan di buku-buku anak. Lebih nyaman daripada balon udara yang berisi gulali.

Klab yang penuh dengan orang dan keringat tua terasa lega buatku. Toilet yang pesing terasa seperti bau parfum apel di rambut sasak tante-tante mal. Aku mengecup matanya yang langsung terpejam. Terharukah ia? Takut? Jijik? Kecewa? Bosan? Pergilah, kau terlalu hitam, sahabatku. Kebahagiaan hanya buat orang-orang yang tubuhnya terbuat dari cahaya. Lalu merengkuh tubuhnya, bersatu dengan tubuhku. Layaknya cahaya, kami hanya akan bisa dipisahkan oleh prisma.

Tapi tiga tahun kemudian kami harus berpisah. Karena ujung segitiga selalu lancip. Karena bujur sangkar mengurung. Karena trapesium terlalu membingungkan. Karena semua terlalu indah dan selalu ada bagian dari cinta yang tidak bisa dimengerti. Seperti buku dalam bahasa yang asing namun memabukkan. Lengkap dengan ilustrasi-ilustrasi cat air yang indah. Calamus ternyata tidak bisa sepenuhnya menggantikan 02. Hukum substitusi ternyata tidak berlaku dalam hidup. Bahkan ketika paru-paruku dipenuhi cintaku pada Daning. Cinta itu lama-lama mendesak semua udara keluar dari dadaku. Aku menjadi sesak. Pantai plastik itu retak.

Aku rasa dia juga merasakan itu. Atau terlalu malas untuk merumuskan perasaannya sendiri. Karena kami cahaya yang satu, apa yang aku rasakan tentunya sama dengan apa yang dia rasakan. Cahaya dalam balon yang berada di ujung tanduk.

Kalau dada kami sedang sesak, kami hanya ingin saling menyakiti. Melubangi dada masing-masing sehingga tikus-tikus got dengan lendir di bulu-bulu hitam mereka lari keluar, saling menyerang. Aku akan berteriak kata-kata yang memekakkan telinganya dan dia akan membalasnya dengan menyingkap segala kekuranganku. Setiap kali pertempuran ini selesai, kami akan duduk dipisah sebuah meja, atau pecahan gelas, piring, mug, pigura, menatap wajah masing-masing dengan dada yang tersengal-sengal. Tikus-tikus itu telah kembali lewat lubang yang sama.

Kami memutuskan, kalau kami memang bisa bersama lagi, kami akan datang ke pantai ini di hari yang tidak ditentukan. Kami sudah tidak bisa mempercayai satu sama lain lagi, maka kami percayakan nasib kepada masa depan. Dan polypropylene olahan.

Hari ini aku datang. Aku pikir aku tidak akan pernah datang. Gengsi. Takut jika aku hanya akan mendatangi kehampaan. Tapi akhirnya aku datang juga. Suatu sore dengan matahari yang seperti gong. Tidak ada Daning. I seek you, and now you’re gone. Hanya plastik berserak, seperti hatiku.

Masa depan ternyata juga terbuat dari plastik. Sama sekali tidak bisa diandalkan.

*larding dari cerita @edophilia Calamus

kau dan aku dan aku dan kau dan atau kau aku

dia salah mengeja aku menjadi kau, dan selama beberapa saat kau merasa biasa2 saja karena kau tidak sadar kau adalah dia. kemudian kau tiba2 merasa ada danau meluas di perutmu. membuatmu ingin pergi ke toilet dan menangis atau kencing keras2. kau terlambat datang, dan dia sudah memutuskan untuk pergi. kau tidak akan pernah memilikinya dan seumur hidup kau akan memikirkan tentang bagaimana seandainya. mungkin lebih baik tidak memiliki apa2. mungkin lebih baik terjun ke jurang dan meneriakkan namanya keras2 sebelum pecah kepalamu. dia begitu lucu dan kau tidak bisa tidak jatuh cinta dengan perempuan dengan mata besar, hidung mancung, dan mulut yang tak bisa tidak bercerita semalaman. kau datang pas dongengnya sudah hampir mencapai denouement. aku hanya ingin memeluknya sampai aku puas. di mimpiku kita berciuman dan dia pergi beli anting2 setelahnya. aku tidak apa2 dia beli anting2 terus sampai dia mabuk. atau beli pria2 lain yg didiskon besar2an di hypermarket hidup ini. tapi aku hanya ingin bisa memeluknya dan itu pun tidak pernah. aku bukan kau.

7Down

pada akhirnya yang tersisa hanya tulisanmu bukan? bukan blurbs tentang betapa hebatnya, omongan di belakang punggung tentang betapa jeleknya, omongan di depan mukamu tentang betapa tidak menyentuhnya, bukan bio singkat tentang di mana kamu meneruskan menimba ilmu, di mana kamu besar, di mana kamu sekarang tinggal. ya hanya itu saja. kamu di depan laptopmu, merasa begitu sedih tidak ada yang benar-benar mengertimu, kecuali mungkin tombol create post itu; makanya jujurlah pada tombol itu; paling tidak; what have you got to lose; it’s the only thing left that means something to you; paling tidak dua bulan kemudian kamu bisa membacanya lagi dan tidak merasa seperti ada sumur di dada karena, sekali lagi, kamu telah membohongi dirimu sendiri. kamu jatuh dan lenyap di dalamnya dan sumur yang ini tidak dilengkapi dengan timba. mungkin akuilah juga kamu selalu ingin pujian orang sepanjang hidupmu, karena kamu selalu menyamakan orang yang setuju dengan orang yang mengerti. terima sajalah begitu. toh orang tidak akan berubah setelah dia mencapai umur tujuh.

Perempuan Bermata Ketimun

Ketimunmu ketinggalan, banyak orang berkata ketika berpapasan dengan Dala. Sisanya hanya memandangnya pergi sambil menahan nafas, lalu setelah jauh, tawa mereka pecah. Ia hanya bisa berjalan pergi dengan diam. Dala harus membiasakan diri. Inilah konsekuensi dari keputusan yang diambilnya enam…

susah pertama kali bagiku mencoba membaca lagi fiksi benar benar maxi seperti ini. attention span-ku rasanya sudah tak pantas lagi disebut span. maupun attention. tapi aku bersyukur aku tidak begitu saja menyerah – seperti yang sering sekali kulakukan dalam hidup ini (maafkan curcol) – dan membacanya sampai habis.

terima kasih telah mengangkat derajat ketimun dari sekedar pemanis piring menjadi apapun ini, it’s fucking great.

larilari dari: Perempuan Bermata Ketimun

Honesty is like a title

this is gonna be more abstract than the usual.

it’s gonna be about feelings.

or maybe it won’t be, more abstract or about feelings.

see if i actually know what i really want.

i had just finished watching nip/tuck, season 4.

it took me a whole weekend.

it ended with a lip-synced medley by the cast, of the submarines’ ‘brighter discontent’, a pleasant, jangly, post-grunge song, with a slightly depressive feel. it’s the lyrics that make it really depressive.

the singer sounds a bit like liz phair if she’d smoked as much as marianne faithfull.

a couplet goes: ‘but is a brighter discontent / the best that i could hope to find?’

this season’s theme is honesty. escobar the colombian drug lord is back and he’s the voice of conscience: if you wanna live like a man, be honest. damn the consequences. (or in his case, shoot them in the head.)

otherwise, a brighter discontent would be just about the best you could hope to get in your life.

but, what is honesty?

escobar says it’s the key to happiness, so does dr. phil, and i’ve still got a copy of judge judy’s ‘don’t pee on my leg and tell me it’s raining’ on my self-help shelf.

but how do i know when i’m pissing myself?

i once wrote a list of women i’ve liked in my life, women i’ve fallen in love with even for just one second on a train, café, museum, pilates class, C01.

i just write ‘i like her because …’

the list ran for ten pages on my moleskine.

sample: ‘i like her because when we talked and talked and talked, and the more we talked, the more we didn’t stopped talking, the less and less i want from life. how little we really do want from life! perhaps this is it, life is just a series of conversations.’

or: ‘i like her because she looks like Rastapopoulos.’

was that honesty?

writing all these feelings down for myself, in my own note book, that only i can read, only i can understand, and two months later when i re-read them i found this ‘i like her because she keeps her head down’, and i don’t even remember who this entry refers to, or what i meant exactly by ‘keeping her head down’—

what was all that for?

if i was afraid that my girlfriend would read the list and get upset, does that mean that i wasn’t even being honest by writing them down?

was i in fact being even more dishonest by creating yet another secret and keeping it from the world?

i guess i was being honest with myself.

as i wrote the list i remember the girls’ faces, the moments when i saw them and fell in love with them, what i was feeling at those moments, what i was seeing, the colour of the couch, what i was thinking as they spoke and i wasn’t listening because i was too busy thinking—and i learned things about myself, i don’t know if they were important, say, how quickly i can fall in love, or paraphrasing a line from one of the nip/tuck episodes, how i’m so into connecting i’m probably destined to die alone, or how i like to please people because that pleases me, or i think that it pleases me, and only a year later did i realise i was actually in so much pain, but the pain was so acute that i needed to fool myself into thinking (i needed to lie! to be dishonest to myself!) that i was actually enjoying it (dapat salam dari lord von sacher-masoch); but i was remembering them, i was remembering them good.

i enjoyed writing the list.

was that happiness?

it didn’t feel like it was just a ‘brighter discontent’, but was that happiness?

i got really drunk one night and when i woke up i didn’t know where i was, i was sleeping on the floor, lying face down, pillowing my head with my arms, and as i raised my head slowly, i saw a glass of hot sweet tea right in front of me. i was in a friend’s room, a girl, we weren’t going out, i never did go out with her, we were best friends, and we never even talked to each other anymore. but, as i sipped on my hot sweet tea on her verandah, trying not to throw up from the neon-y morning sun—she wasn’t even there with me—i thought, how good is this glass of hot sweet tea, just what i needed, how kind she was to have it ready for me when i woke up, how beautiful is this city when, i don’t know how exactly, some days, on a day like this, there are no clouds and it just doesn’t look or feel polluted, and i thought again: i am so happy.

the next day, i felt like shit again. no, it was later that afternoon.

i write, that’s what i do. sometimes i get paid for it, most of the times i don’t. like now.

i think writing makes me happy.

once i’ve started on something, i usually like it.

but if i talked about ‘writing’, or ‘being a writer’, for me, the two phrases conjure up to me visions of witches on the racks, joan d’arc at the stake when her walkman was starting to melt.

when you start to get not an idea, but this feeling of i know i’m feeling anxious because i’m going to write something in the next week or month, i don’t know when, but i’m going to write something, i can feel it, but i don’t know what it is yet, and there’s nothing i can do but wait. and wait. and watch another disc of nip/tuck. and re-read toeti heraty’s ‘sajak-sajak 33’ for the gazillionth time. and wait some more.

it’s like someone’s promised you a porsche, or the first edition of lorrie moore’s ‘self-help’, for your birthday but they forgot to tell you when your birthday was.

when it happens, it’s fine. even when you ended up with something which could best be described as ‘mediocre’, or something that even you’re not satisfied with, and you sort of know it’s because you haven’t been totally honest with your feelings when you wrote it, a couple of jokes here and there when maybe you shouldn’t have said anything, or at least should’ve tried harder to work out what you felt behind the jokes first, or a few places where you don’t even know what you were doing, you were trying to get at something, or maybe you’ve given up trying to get at it and are just rambling, or bits that were just pretentious, that you think sound cool, or look cool, those are the most dangerous bits and ones that sound most fake later when you re-read the piece; even when what you get is imperfect, as long as you force yourself to go some way towards what it was that made you feel so anxious a week or a month ago, then you’ll have found out something either new or long-forgotten about yourself, that it felt like, at least for the first few minutes after it hit you that you’d just found out all these new/long-forgotten things about yourself, it was worth it, to go through all the wait, the dissatisfaction at the end result, the embarrassment when you re-read those few (many, more likely) fake bits.

then the whole cycle of wait, torture, struggle and a few spine-tingling minutes of release (closure?) starts again.

(sample: this. i didn’t know when i started the article why i began with my incredible childhood ability to remember names (‘monikers’, maybe since most of them are made up) of heavy metal band members. if you can bear it to the end of the article, and you read the last paragraph, you’d think that the whole thing was pre-planned, strategized, drafted and re-drafted. and i know people who actually do that. but trust me, i didn’t know why i began like that, and i didn’t know how i ended up with the kiarostami/erice call to go back to childhood, i only knew both things were somehow important, i’d been carrying them in my head for weeks once i felt that i was going to write something about the exhibition because it had moved me in a strange way (maybe i felt like i had to write about it so i can try to find out how it had moved me, what that ‘strange’ really means), but i didn’t know how i was going to put what where, and i had started, finally, after a few minutes of trying different openings, with cc deville & co just because it felt so strong—i believed in it so much more than all the other openings i tried. the end came as a sort of revelation. i suddenly realised why i had been carrying images of the kiarostami/erice back to childhood manifesto (white helveticas on a black wall) and why i had been thinking of how i still remember how to spell rikki rockett’s name at the same time. how the two are connected (one of the reasons would be what i wrote in the final paragraph) is probably the only reason why i wrote this piece, why i’ve been feeling so anxious. i didn’t know what that ‘anxious’ meant. what i was anxious about. if i was really anxious. and writing this whole fucking thing, which, let’s face it, is crap anyway—tried way too hard to be cute—is just a way of easing my anxiety.)

to be just that little bit happier than if i didn’t do anything about it.

but this is just what happens when i write. happiness comes from other places too, even in my life. from daydreaming in a hot C01, from watching enam djam di djogdja, from … maybe there aren’t so many other places.

but those are things that happened, happiness that comes, accidentally. that submarines song was about someone moving house, who ‘rearranged the place / A hundred times today / But the ordering of objects / Couldn’t hide what’s missing.’ someone who worked hard to (re)discover what was missing in his life (still is). i was going to say that happiness you work hard for feels so much better than accidental, serendipitous, happiness but perhaps that is not the real reason why people (or so they would like to say) like to work hard to be happy (‘nothing that’s easy to do is worth doing’). the real reason might be that people work hard for whatever happiness they can get so that the happiness they do get might appear more profound, more electrifying, more happy, than it really is! and if they fail to get it then either a) they can say that they’ve tried, their damnedest, and take solace (little, left-over happiness) in their effort or b) romanticise what they failed to get, ‘what’s missing,’ glorify their struggle for it (‘rearranged the place a hundred times today’), and rejoice in the pain.

i think, this is all honesty gets you. all this pain.

more self-knowledge, art maybe, more kicks in the guts definitely.

so why try to be happy?

(because if i could answer this question then i can get rid of the lesser question of ‘why try to be honest?’, since honesty seems merely to be a way (one of?) to happiness. if we don’t have to try to be happy then we don’t need to be honest with our feelings.)

i’ve been reading arthur waley’s book, ‘the no plays of japan.’ (no plays? what, only karaokes?—this is the kind of unnecessary, dishonest jokes i said earlier i often make for reason either unknown to me or so obviously to avoid talking about more important, deeper stuffs.) the plays are full of ghosts. ghosts who regret. for not giving his heir his magic flute, for not trying to stop a murder, for not committing seppuku when it was obvious he should have, for not having done a lot of things when they were alive. so they came back as ghosts. hantu penasaran.

i just don’t wanna be a ghost who regrets. or even worse, an old man who looks back on his life in his death bed and finally dies, not from his metastasizing prostrate cancer, but from the shock of realising (oh stop lying to yourself! as if you didn’t know already!) in this brief, chemo-fueled flashback, that his life was a crappy a montage of why the fuck didn’t i just do that, that, that, that, this, that.

if there are things in my life that are within my power to change, i want to change them. or conversely, if there are things in my life i should keep, lord give me strength to keep them.

honesty feels real good but it’s not enough in itself to make
anything change

honesty’s some sort of start but we gotta do more to build upon
the things that are true

honesty’s indispensable but don’t allow yourself to
think it’s all that we need

honesty’s not enough but it’s fuckin easy to convince yrself
it’s all you can do

– chris knox, ‘honesty’s not enough’, seizure, flying nun records, 1990.

by whatever means necessary, then.

Bangkit

Seperti waktu itu kita menonton Shortbus dan kau berkata,

This is gonna be a looong bus,

Dan anak2 bermain bola di lapangan voli di luar dengan kepala Che Guevara

Tiang gawang yang diganjal dengan butternut pumpkin

Dan semacam keyakinan

Bahwa tidak akan ada Vellfire yang lewat membuyarkan segala mimpi

Tentang Messi, Ponaryo, dan Adidas Torsion Darth Vader.

Sesungguhnya suburbia juga menawarkan paket hemat kebahagiaan,

Home delivery gratis dengan harga nett yang sudah di-markup

Pertengkaran dengan hotline yang tak pernah mengerti perbedaan antara

Saus sambal dan saus tomat

Tunggu saja di bengkel Kymco sebelah rumah

Langit akan pecah di antara neon-sign Pizza Hut dan Ramayana

Seakan Karna dan Arjuna sedang beradu nyawa di panggung Dahsyat.

Memang salah memutar Scott Matthew saat mendung

Do you speak my lang-

-uage?

We all get it in / the end, katanya. WHAT is IT in?

Seakan-akan semua orang jadi lupa tentang the end,

Memories of secret handshakes,

Everything that made up the world before Tumblr.

Shoo bee doo bee doo up / I overdid it at the Vespa shop,

 

Kau tidak akan pernah merasakan euphoria,

Selama kau lebih banyak merasakan kedamaian

Di dapur, mengiris-iris daun bawang dengan pisau yang tumpul.