Calamus, Calamus, will you do the Fandango? (The manly love of comrades)*

Selamat datang di pantai plastik. Selamanya memang pantai ini terbuat dari plastik. Tidak seperti pantai-pantai lain yang biasanya terbuat dari gerusan kerang, nyiur yang masih mampu melambai maupun yang sudah sekarat, dan teriakan-teriakan anak balita menuntut disewakan ban pelampung. Pantai ini plastik, karena itu selalu sunyi. Udara tidak tahan berada di sini. Nikmati liburan Anda, renang bersama kemasan-kemasan minuman botol. Jauh lebih menyenangkan daripada berenang di dalam kubangan air seni. Bayangkan 5000 tahun mendatang, betapa indahnya pasir yang akan terbentuk dari hasil bio-degradasi tumpukan-tumpukan kemasan Mountea ini. Pikirku sinis. Aku memang selalu sinis, Apalagi terhadap orang yang bahagia. Aku selalu mencari-cari hal yang salah dalam hidup mereka. Jempol tangan yang bujel, kaki yang panjang sebelah, rambut yang mulai membotak dari belakang kepala. Tidak terpikir olehku, dulu, di satu malam aku pernah membenamkan kakiku ke dalam pasir dingin pantai ini. Itu karena aku bahkan sinis terhadap kebahagiaanku sendiri. Sudah lama kutimbun memori bahagia ini dengan ingatan (mungkin, sekarang aku sadar, hanya khayalan) tentang jempol kakiku yang waktu itu luka menginjak tutup Teh Botol yang berkarat. Aku paranoid tetanus, dan mengajaknya segera pulang.

Saat itu aku masih menggenggam tangannya. Bayangkan, sedang romantis-romantisnya. Karena itu pertama kalinya. Berminggu-minggu aku harus puas dengan menatap bibirnya yang mungil, pink, dan selalu basah, mengemut berbatang-batang rokok mentol. Kata-kata yang menghambur dari sela-sela giginya yang putih bersih dan rapi. Malam-malam mengocok di kamar membayangkan semua itu tadi. Fantasi-fantasi yang bertahan selama lagu-lagu The Ramones. Swallow My Pride. She’s The One. Now I Wanna Sniff Some Glue. Tapi sekarang. Muka kami memang sudah beraroma garam, tapi kami bisa bertahan sampai matari terbit. Tiba-tiba aku tidak sinis lagi. Perasaan yang aneh, dan tidak kusadari waktu itu. Aku hanya melihat balon warna-warni naik dari kaki langit, bersaing dengan matari yang masih pucat. Dan terus mengenggam tangan sampai baterai MP3-ku habis meski yang kami dengar hanya playlist pantai yang aku rangkai. Beach Boys, Souljah, Dick Dale, Tony Q, Fake Plastic Trees – Radiohead, We Own The Sky – M83. Aku pikir, pas sekali, memang kami penguasa langit pagi ini, menggenggam tangan di antara nyiur-nyiur plastik yang daun-daunnya kaku bagai penonton yang bosan.

Belum terlalu lama, sekitar sepuluh tahun lalu. Tapi rasanya seperti telah ada perang dunia dan apokalips antara waktu itu dan sekarang. Perasaan sinisku telah kembali, celanaku makin longgar di pinggangku, sekarang aku menggemari Philip Glass. Tapi sejak aku dan dia terpisah tujuh tahun, aku tidak berani datang lagi ke pantai ini. Itu satu-satunya hal yang tidak berubah. Semacam tiang perak yang bisa kujadikan pegangan sementara aku berdansa bugil di panggung hidup ini. Aku memutuskan untuk pindah ke sebuah desa nelayan di mana setiap pagi bisa kupandang matari muncul dari laut yang emas dari jendelaku. Keputusan yang drastis bahkan menurut diriku sendiri. Apalagi menurut teman-temanku. Mana mungkin kau tahan mendengarkan deru hatimu sendiri dalam sepi, begitu kira-kira kesimpulan komentar mereka. Deru yang selama ini diredam oleh kakofoni kehidupan urban.

Ya, aku memang pindah ke pantai, tapi bukan pantai ini. Aku belum segila itu, atau seputus asa itu, paling tidak menurutku. Walau sebenarnya aku memutuskan untuk pindah ke desa nelayan itu untuk sekadar membingkai kenanganku akan pantai ini. Curang, sebenarnya. Tapi tak apa, toh hidup juga sudah terlalu sering mencurangiku. Karena sejujurnya, tidak ada tempat di dunia ini yang ingin kukunjungi selain tempat ini. Pantai plastik ini. Yang dengan setia mempertahankan keplastikannya sejak tujuh tahun yang lalu. Langit yang plastik. Nyiur yang plastik. Mungkin warna-warnanya ada yang sedikit memudar dari tujuh tahun berjemur di bawah sinar matahari plastik. Hanya itu saja yang berubah. Wajar. Waktu mampu menggerus apa saja.

Menemuinya. Atau tidak menemuinya. Sesungguhnya aku bingung. Antara memecahkan batu amber dan mengambil lebah di dalamnya, atau membawanya ke tukang akik untuk dinilai berapa harganya sebagai batu mulia.

Namanya Daning. Paling tidak itu satu-satunya nama yang pernah ia berikan kepadaku. Aku begitu mempercayainya. Kami bertemu ketika kata-kata kami berpaut saling memagut di situs pertemanan. Zehr gut. So good. Memang patut. Daripada butut, ledek temanku. Baru kali itu aku begitu terpesona pada seorang gadis karena tutur kata yang muncul hanya lewat layar monitor. ICQ, and now I’ve found you, ketikku dalam hati.

Daning tidak menolak waktu kuajak ke pantai plastik. Agaknya ia tidak percaya dengan mitos bahwa laki-laki kadang-kadang adalah penjelmaan siluman buaya. Atau serigala. Tergantung jalan setapak mana yang salah kau ambil di tengah hutan belantara urban ini. Aku mengusulkan, bawa bir. Ia malah tertawa LOL dan bilang, I like my liquor like sex, hard. O_o. ICQ, and now I’ve found you. Kami bertemu di pantai itu beberapa kali sambil menyeruput bergelas-gelas Cointreau dan terus bertukar kata di email sampai satu hari dia menulis:

Aku lelah menunggu. Kamu terlalu gentle, kalau bukan genteel. Kadang aku berpikir kamu dilahirkan di abad 19. Dengan ketimun di antara selangkanganmu.

Aku ingin menjadi aroma di setiap nafas yang kau hela. Aroma yang akan membangkitkan amarah di setiap perempuan yang kau cium setelah aku. Racun yang mengalir di gula-gula ludahmu.

Aku ingin kau membawaku pergi. Jauh dari pantai plastik ini. Ke sebuah gubuk dengan pintu beton dan gerendel ganda.

Tiga kalimat singkat yang dia tulis lewat email itu menyadarkan aku bahwa aku tidak perlu menunggu terlalu lama lagi, karena permainan menunggu itu memang mengikis kesabaranku juga. Tapi sahabat lamaku itu, sinisisme, tiba-tiba kembali. Seperti lolongan serigala yang minta dikasihani. Gubuk itu bergerendel ganda, katanya, kau tak akan bisa lari-lari pagi lagi.

Di sebuah klab penuh asap, semua bergerak dengan lambat. Tangan-tangan yang berbagi selinting ganja. Ciuman yang mengambang di udara. Bartender yang menunggu botol yang tadi ia lemparkan ke udara sambil menulis novel di balik setumpuk tatakan gelas. Bahkan lagu dengan BPM 140 terdengar seperti Svefn-G-Englar di kupingku. Svefn-G-Englar seperti Forest of Equilibrium.

Sejak itu setiap aku menghela nafas, aku hanya mencium Calamus yang langsung menusuk syaraf relaksasi dan membuatku merasa seluruh sudut di dunia ini adalah tempat yang nyaman. Lebih nyaman daripada rahim ibu. Lebih nyaman daripada istana awan di buku-buku anak. Lebih nyaman daripada balon udara yang berisi gulali.

Klab yang penuh dengan orang dan keringat tua terasa lega buatku. Toilet yang pesing terasa seperti bau parfum apel di rambut sasak tante-tante mal. Aku mengecup matanya yang langsung terpejam. Terharukah ia? Takut? Jijik? Kecewa? Bosan? Pergilah, kau terlalu hitam, sahabatku. Kebahagiaan hanya buat orang-orang yang tubuhnya terbuat dari cahaya. Lalu merengkuh tubuhnya, bersatu dengan tubuhku. Layaknya cahaya, kami hanya akan bisa dipisahkan oleh prisma.

Tapi tiga tahun kemudian kami harus berpisah. Karena ujung segitiga selalu lancip. Karena bujur sangkar mengurung. Karena trapesium terlalu membingungkan. Karena semua terlalu indah dan selalu ada bagian dari cinta yang tidak bisa dimengerti. Seperti buku dalam bahasa yang asing namun memabukkan. Lengkap dengan ilustrasi-ilustrasi cat air yang indah. Calamus ternyata tidak bisa sepenuhnya menggantikan 02. Hukum substitusi ternyata tidak berlaku dalam hidup. Bahkan ketika paru-paruku dipenuhi cintaku pada Daning. Cinta itu lama-lama mendesak semua udara keluar dari dadaku. Aku menjadi sesak. Pantai plastik itu retak.

Aku rasa dia juga merasakan itu. Atau terlalu malas untuk merumuskan perasaannya sendiri. Karena kami cahaya yang satu, apa yang aku rasakan tentunya sama dengan apa yang dia rasakan. Cahaya dalam balon yang berada di ujung tanduk.

Kalau dada kami sedang sesak, kami hanya ingin saling menyakiti. Melubangi dada masing-masing sehingga tikus-tikus got dengan lendir di bulu-bulu hitam mereka lari keluar, saling menyerang. Aku akan berteriak kata-kata yang memekakkan telinganya dan dia akan membalasnya dengan menyingkap segala kekuranganku. Setiap kali pertempuran ini selesai, kami akan duduk dipisah sebuah meja, atau pecahan gelas, piring, mug, pigura, menatap wajah masing-masing dengan dada yang tersengal-sengal. Tikus-tikus itu telah kembali lewat lubang yang sama.

Kami memutuskan, kalau kami memang bisa bersama lagi, kami akan datang ke pantai ini di hari yang tidak ditentukan. Kami sudah tidak bisa mempercayai satu sama lain lagi, maka kami percayakan nasib kepada masa depan. Dan polypropylene olahan.

Hari ini aku datang. Aku pikir aku tidak akan pernah datang. Gengsi. Takut jika aku hanya akan mendatangi kehampaan. Tapi akhirnya aku datang juga. Suatu sore dengan matahari yang seperti gong. Tidak ada Daning. I seek you, and now you’re gone. Hanya plastik berserak, seperti hatiku.

Masa depan ternyata juga terbuat dari plastik. Sama sekali tidak bisa diandalkan.

*larding dari cerita @edophilia Calamus

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s