Jolly time

Who has eaten pop corn since 1914

Do you feel good about the impending revolution

I might at Zee & Milo’s hideout

Contempo Kids without a doubt

I only have 3001 hidden rivets in the back of my mind gardens

We’re gonna see Flo at the anti-Jardin de Luxembourg

The top of the Louvre shining like a bacon in the tropical dusk

floater

i had a really great pie in toowoomba. nice line for a poem. but i don’t feel like poetry. ingin rasanya meneruskan otobiografiku, broken, part 1. tapi tidak merasa punya tenaga. pagi ini berangkat kantor pukul 6, ke tebet pukul 3, ke permata hijau pukul 4, pulang ke ciledug pukul 6. pantes banyak kata pukul, rasanya emang kayak habis dipukulin sekarang. *sigh* dapat salam dari morrissey, si tukang keluh.

namun rasanya harus ngomong sesuatu tentang toowoomba. aku melewati kota itu en route to outback australia. in the end i was spending whole days just travelling in a car on unending dirt roads and not seeing another single car. it was like travelling on the moon, torrent film walkabout deh untuk mendapatkan visualnya kira-kira bagaimana. brrr, aku masih merinding membayangkan betapa out of this world-nya outback australia.

suatu sore (maghrib mungkin) aku melihat giant red kangaroos yang disinari matahari senja di kejauhan. mereka terlihat surreal/so real seperti cezanne.

pagi ini aku menonton video di sydney morning herald, upload-an youtube tentang banjir bandang di toowoomba. not that scary by ciledug indah standard, but scary juga. actually, i dont know if scariness is quantifiable. it just made me think of toowoomba, that soft, yielding, minced lamb pie floater. how everything was grey that day. like my heart/life.

aku ingin bercerita tentang bagaimana hari itu pun punya ramifikasinya sendiri buat hidupku. tapi aku hanya ingin memukuli dinding rasanya sekarang. bye.

broken, bab 1

saya meninggalkan jakarta pada umur 16. saya ingat waktu itu sore-sore, saya hampir jatuh terpeleset lumpur merah habis hujan di depan rumah. coba saya beneran jatuh terus kepala saya bocor kena batu taman, dan saya tidak jadi pergi ke australia, mungkin saya tidak akan jadi orang seperti saya yang sekarang.

saya pertama kali pindah ke canberra. ke rumah tante saya. saya tinggal di kamar suaminya, yang saya baru tahu setelah pindah ke situ, ternyata sudah pindah rumah karena tidak tahan lagi menjadi suburban husband. oom saya ini berhenti dari kerja nyamannya sebagai speech writer di parliament house dan menjadi komunis. like, komunis beneran. ia dan teman-temannya dulu suka menampung pelarian (entah politik, entah asmara) dari indonesia dan mengajari mereka 100 halaman lenin setiap hari.

nama oom saya itu max lane. dia penerjemah bahasa inggris pramoedya. saya tinggal di kamarnya selama dua tahun. sebenarnya kamar itu sebuah library kecil, dengan matras ditumpuk dua di sudut buat saya tidur. matras bersarung velvet murahan dari tahun 70-an. sakit buat tidur karena nggak ada keras-kerasnya, melengkung seperti apa saya malas memikirkan sebuah simile.

di matras itu saya membaca mungkin hampir semua buku pram. kebanyakan dalam bentuk naskah ketikan untuk diterjemahkan. dari tetralogi buru sampai nyanyi sunyi seorang bisu. saya ingat saya nggak begitu suka gadis pantai, tapi berkali-kali onani membayangkan annelies di bumi manusia yang saya bayangkan mungkin wajahnya mirip-mirip arumi bachsin.

setiap kali saya mulai bercerita tentang hidup saya di australia, ceritanya selalu terasa akan menjadi panjang sekali, dan saya tidak tahan menulis lagi. kenapa ya. saya tinggal dua tahun sama tante saya, akhirnya tidak tahan karena dia sering tiba-tiba masuk ke kamar malam-malam sambil teriak menyuruh lampu dimatikan padahal saya lagi seru-serunya baca arus balik. ah, tapi kasihan dia, waktu itu masih sedih ditinggal suaminya, tapi mana saya mau mengerti waktu itu, abege labil.

saya pindah ke asrama di kampus australian national university yang dipenuhi country jocks. saya benci tempat itu. ada satu cewek country yang saya sempat naksir, sering ketemu di ruang tv, pas you am i main (band alterna-rock paling hip waktu itu, sempat tur bareng sonic youth padahal musiknya sih seperti the who) saya sengaja beli tiket dua dan di ruang tv itu saya beranikan diri menyapa dan mengajaknya nonton bareng. ‘i think i’ve already got something planned with my friends.’ tentunya saya bukan salah satu dari her friends, hahaha. saya berjalan pelan balik ke kamar dan di dalam berbaring lama menatap eternit. malu rasanya. tambah lupa sebenarnya mau nonton seinfeld dan tentunya nggak bakalan bisa balik ke tv room untuk beberapa saat karena pastinya memalukan. ew.

saya masih virgin waktu itu. pernah sih menyedot puting cewek (orang indonesia) yang saya sempat naksir, tapi sebelum terjadi hal lebih jauh adiknya keburu kebangun di kamar sebelah jadi ya nggak jadi. mungkin pernah juga terjadi hal lain lagi tapi saya takut saya jadi membohongi diri saya sendiri kalau saya teruskan karangan ini, atau membohongi anda, pembaca setia saya. pret.

saya kehilangan keperjakaan saya (ew bahasanya totally wewww), saya berhubungan sex pertama kali, halah, saya akhirnya tung-tung pertama kali umur 21. tua ya. menyedihkan juga. dengan seorang cewek scottish berjembut merah. saya ingat itu terjadi enam bulan setelah saya menyerah mencari pacar. ya, saya waktu itu merasa, mungkin sedang membohongi diri sendiri juga, kalau yang saya inginkan bukan losing my virginity, atau gang bangs, tapi menemukan seseorang yang benar-benar bisa dekat dengan saya.

i was looking to connect with someone.

anyone.

sentimental abis. biarin. saya bahkan pernah berpikir mungkin saya cong. tapi saya secara seksual tidak pernah tertarik dengan cowok. penis bagi saya adalah hal paling tidak indah di dunia. saya pernah mencoba mencintai salah satu teman cowok saya, tapi ya tetap tidak bisa. jadi semua orang yang selama ini menyangka saya cong, tuh jawabannya, saya bahkan pernah mencoba jadi gay, cyiiin.

kemudian saya pacaran dengan cewek australia lama juga. empat tahunan lebih. saya tidak bahagia sebenarnya, karena dia begitu berbeda. saya suka beli barang mahal-mahal kapan pun juga, dia suka closing down sale. saya suka oxford st, dia suka target. pokoknya beda deh.

jadinya saya lari ke obat-obatan. kayaknya untuk melupakan kepengecutan saya tidak berani memutuskan pacar pertama saya itu. saya sayang padanya. pertama kali saya pernah benar-benar merasa connected dengan orang lain, ya dengan dia. baru setelah pacaran dengan dia saya sadar betapa lonely-nya hidup saya sebelum itu. selama 21 tahun saya benar-benar tidak pernah punya connection dengan satu orang lain pun, tanpa saya tahu saya mungkin sudah hampir gila. saya ingat waktu saya baru beberapa bulan sekolah di australia, seorang gadis yang sekelas di kelas bahasa inggris menghampiri saya dan mengajak ngobrol di halte bus. setelah dia pergi saya bingung kenapa lengan saya berdarah. ternyata saya begitu nervous bercakap-cakap, ya, berhubungan dengan another human being, saya dengan tidak sadar menggerus lengan sendiri dengan kuku tangan yang satunya.

saya ingat saya bangun pagi-pagi, suatu hari di bulan juni 1997 kalau tidak salah ingat. winter. saya bangun pagi dan, masih di tempat tidur, saya tiba-tiba merasa begitu lega. ya sudah, mungkin aku tidak akan pernah menemukan seorang pun untuk dijadikan pacar. atau teman dekat. seseorang yang punya connection yang benar-benar real dengan aku. yah, so what? saya ingat berpikir saya sudah lelah mencoba terus. saya ingat saya menyerah kalah. saya lelah, saya tidak punya kekuatan untuk mencoba lagi. maafkan ya, aku.

hehe, justru setelah pagi itu saya seperti tertransformasi menjadi seseorang yang hampir baru. saya jadi begitu relaxed, di house party-house party canberra yang notorious saya jadi merasa begitu at home, melucu kanan-kiri, pulang pas saya pengen pulang, tidak merasa harus tidak pulang hanya karena mungkin ada kemungkinan akan bertemu dengan the one i was looking for. since i was no longer looking. i was tired of looking.

enam bulan setelah itu saya menemukan pacar pertama saya itu. di sebuah klub malam bernama ‘club asmara’. beneran.

tapi ya begitu. dia begitu berbeda. tatkala bulan madu pacaran usai, rasanya seperti half of my mind was connected to her, and the other half is running around inside my head like crazy. jadi saya sembunyi-sembunyi memakai lsd, e, coke, pot, mushroom, apapun asal the other half of my mind tadi bisa running around even crazier. sembunyi-sembunyi karena dia juga tidak suka drugs. tapi saya tidak pernah pakai heroin, jadi saya hampir tidak pernah ketahuan.

saya juga jadi music addict. saya akan menyukai satu artis, kemudian membeli semua albumnya. on vinyl, kalau bisa. dulu belum ada torrent, jadi proses menemukan semua album dari satu artis bisa memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. saya ingat saya melakukan hal ini dengan morrissey dan guided by voices. sampai sekarang saya masih menyimpan album vinyl morrissey yang berjudul education in reverse. kalau mencari album itu di daftar album morrissey tapi tidak ada ya jangan bingung, karena itu sebenarnya album viva hate, tapi beberapa kopi versi vinyl sempat salah print dengan nama itu di australia. saya juga punya ‘suitcase: failed experiments and trashed aircraft’, box set 4 cd guided by voices yang isinya b-sides semua. totally unlistenable hahaha. dan saya ingat waktu itu harus mail-order dari chicago.

kayaknya tulisan ini harus bersambung.

stacks and whispers

you broke me in

like a pair of jeans you broke me

just say what you feel

forget about combs whiskers stacks contrast fades

just soak everything in dettol

pour hot water every 30 minutes

you broke me in

good like a pair of flat head 3001

you crushed me

into ataris

forgetting the era had marched on

to sega mega drive

SNES 64-bit

you broke me in mademoiselle

your cunt up in the air

will this flying fuck ever end

sesuatu afrizal malna*

ledakan-ledakan kecil jadi kebakaran dalam tubuh saya.

saya adalah orang yang percaya dengan referensi. abad yang berlari bukan puisi saya, itu puisi indonesia. di senen, di dunia saya, telinga bisa dijadikan kuping.

hidup adalah getaran lantai bis kota. dada datang dari dunia yang tidak bernama. saya kembali ke tubuh saya.

saya percaya dengan pekerjaan-pekerjaan fisik, untuk keluar dari puisi indonesia. tubuh sayalah yang mencipta bahasa.

bahasa indonesia tidak menerjemahkan saya, tapi menggantikan saya.

menjadi manusia begitu repot. banyak hal yang keliru dengan eksistensialisme. yang paling sulit justru bagaimana menjadi tidak ada, menjadi nothing. itu mengharukan.

saya mengerti kenapa orang pakai drugs. bagaimana keluar dari cengkeraman hotspot? saya nggak cocok pakai drugs. saya pakai pekerjaan-pekerjaan rumah, betulin genteng bocor. itu yang paling mudah untuk lupa, untuk hidup murni.

saya merasa tidak wajib untuk menulis puisi.

puisi sekarang mengindekskan dirinya sendiri. puisi tentang puisi itu sendiri dan soal kepenyairan. puisi mengalami krisis identitas. prosa sekarang pesta pora. puisi ketakutan. kesibukan menjaga identitas. lari ke lirisisme dan romantisme. memakai bentuk klasik tapi reinteriorisasi saja.

reinteriorisasi tidak terjadi di dunia penyair yang kuper. yang cuma suka puisi.

ruang dalam dan ruang luar kata itu produk jakarta. di jogja saya hidup tanpa koran. saya cenderung curiga kepada bahasa lisan.

setelah teman-temanku dari atap bahasa, titimangsa saya buang. saya ingin merasakan waktu.

saya tidak bisa merasakan waktu, padahal saya sudah berusaha hidup dengan sepeda.

ruang-ruang di jakarta itu cacat, luka. saya menyembuhkan luka dengan naik sepeda.

bahasa membuat saya jadi seekor anjing.

repetisi adalah kedalaman.

saya seorang komunis yang tidak menyatakan diri.

saya menakuti kekerasan karena saya tidak tahu cara-caranya.

sampai sekarang saya tidak tahu kuburan ayah-ibu saya.

saya sering menyerahkan diri pada sesuatu yang saya anggap gelap. saya berusaha terbuka kepada yang tidak terduga, kepada momen.

tidak bisa hidup di jakarta tanpa performance. masjid dulu rumah nothing, untuk menangis, berdagang, atau tidur.

kadang-kadang saya mencuci pakaian teman, untuk keluar dari ego.

*mashup of afrizal malna’s speech at “bincang tokoh”, taman ismail marzuki, 17 december 2010.

kau dan aku, slightly mobilized

semua tergantung pada jari-jari yang tenang melinting papier yang katamu lucu, seperti kulit kentang. angin sedang bersahabat pada tembakau yang ruwet, seperti pubic hair. pacarmu bulan depan datang dari brighton, three hours on the tube. itu kalau ingatanku tak salah, katamu sambil mengecap bibir yang tak sabar. tentang brighton, jauhnya dari london, atau jadwal kedatangannya? tanya udara di puncak gedung femina. jangan tanya apa-apa lagi. aku tahu, kita hanya berdiri di pinggir kuningan, tapi rasanya seperti on top of the world! aku ulurkan tanganku, kubelai semangka yang mulai berair di matamu. aku setuju, yang kurang sekarang hanya parasol, yang tak akan menyembunyikan melankoli buah-buahan di kafeteria tempat kita nanti makan siang.