CXVIX

Ini mungkin tidak akan menjadi sesuatu yang utuh:

Aku hanya ingat tentang kau di beranda rumah orang tuamu di Lismore
pohon mangga di sudutnya masih kuncup, banjir belum lama surut
tanah masih berdarah seperti langit sebelum jam enam.
Bau pohon gum. Knalpot ute yang mendentam.

Kau seperti sedang bersenam tai chi, atau falun gong, atau hanya salah satu
Broadway numbers yang kau hapalkan dari kaset-kaset VHS dari Harry’s.
Rambutmu sudah abu-abu. Berandamu sekarang tertutup kasa nyamuk,
Tidak seperti dirimu dulu yang senang dengan angin semriwing dari kutub.

Kau sedang memandang ke luar, ke pinto Co-Op yang masih tertutup,
muka Rosalind tua yang tergambar di sekelilingnya. Hidung yang bercuping lebar
tepat di atasnya. Aku masih ingat waktu kau tiba-tiba bilang di kali ketiga kita bertemu, “Berarti selama ini orang-orang masuk keluar lewat mulutnya.”

Kau meleleh di mataku. Udara seperti menekan ujung-ujung jarimu
untuk melengkung, membulat, membentuk tinju. Betapa susah
untuk mengenang kenangan seperti aslinya. Tidak seperti mengagumi foto hitam putih
Jendral Sudirman ditandu Oerip Soemohardjo di buku sejarah anakku.

“The smoke-flowers are blurred over the river,” ya, ya, terus apa lagi
yang kau lihat di seberang sana? B&B mungil bercat biru di Watego’s
satu unit lagi kali ini dengan pemandangan satu juta dolar di utara jembatan,
pensiun awal dengan super-annuation yang super dermawan.

Kenapa kita pernah heran kenapa kita tidak pernah bisa utuh?

Lebih kedat ke tahi

hey moorie, mungkin akhir-akhir ini ini memang blog yang paling mewakiliku. memang awalnya aku memulai blog yang paling mewakiliku akhir-akhir ini ini dengan tema «lebih dekat ke hati.» hati siapa dan lebih dekat bagaimana dan bagaimana caranya itu lain soal lagi. aku pilih trope lorrie vollmann karena, karena aku tidak bisa berpikir tanpa trope lagi. seperti keluar rumah tanpa bowler hat di film bisu hitam putih tahun ’30-an bikinan sutradara retro tahun ’90-an. mana tahan? aku sedang terobsesi dengan film temanku, judulnya, ssssst, it’ll win the palm d’or in the cannes of our mind!, 3 hari untuk selamanya. sebelum itu judulnya 3 hari sebelum selamanya. sebelum itu hanya aku menulis surat padanya mengatakan mengerti kalau dia tidak terima aku menumpang begitu saja di proyek terpenting di hidupnya. hehe. begitu saja. jadilah ia satu lagi proyek terpenting di hidupku yang tak pernah jadi. aku sering berpikir tentang ide bagus yang tak pernah terwujudkan, apakah benar-benar bagus? dibandingkan dengan ide biasa-biasa saja yang kemudian dikolaborasikan menjadi shake, rattle & roll? apa arti kolaborasi? apakah dua kepala lebih ciamik daripada satu kepalan? kalau ada setan lewat, is it you baby, or just a breeze in disguise? inilah isi kepalaku moorie, lebih dekat sedikit ke hati.

Broken english social scene

seperti kalau kau membuka multiply orang yang tak kau kenal kecuali lewat mugshot mereka yang lama kau hiraukan kemudian kau berpikir wow! hidup mereka begitu modern dan mengerikan. mengerikan karena aku berpikir, aku ingin juga seperti mereka, bermain tenis wii one-on-one di tv layar lebar, tapi mungkin aku tak akan pernah bisa. aku benci orang lain. dan kau juga sebenarnya kenal beberapa dari mereka, kenal orang yang kenal mereka, dan kau ingin sekali percaya bahwa yang paling mengesankan dari mereka hanya dandanannya. suruh mereka mengeja narsisisme, atau berhenti berbicara dengan broken english yang tak disengaja, dan kau yakin mereka tak bisa. tapi ya itu, kau jadi bertanya-tanya, apakah otak itu semuanya? toh mereka kalau mau bisa, ini misalnya, «juntaian», kapan terakhir kau menggunakan kata ini untuk menemani upil? dan «kacamata di dasar akuarium ubur-ubur», kapan terakhir kali kau punya mata setajam itu? dan kau juga ingin sekali percaya, ini pasti benar, mungkin mereka hanya kaya. seperti gadis yang pergi ke galeria do rock! di sao paulo dan menghabiskan waktunya untuk membeli kacamata yang tak akan ada di jakarta. atau ibunya hanya seorang dokter gigi dari universitas indonesia. not even a real doctor. tapi kalau kau hidup di dunia ketiga dan memainkan kartumu seperti maradona, sudah terbukti kok, kau bisa keliling dunia, atau paling tidak sebuah gedung pertemuan futuristik di brasilia, asal kau tidak keberatan dengan pandang kasihan dari orang-orang yang kau tahu, lebih pintar darimu. hanya karena mereka lebih kaya dan lebih sering harus mempertahankan disertasi mereka di seminar internasional. aku hanya ingin seperti lorrie, tinggal di midwest dan menonton musim berganti. kau yang ingin seperti vollmann, mencari sepi di pat pong, di antara dentuman meriam di herzegovina. kenapa tak bisa di sini saja?

aku suka kok.

aku suka, banyak hal yang tak dijelaskan di situ. tak berlanjut. tak ke mana-mana. heavy stupid conversations yang mengambang bersama asap lints, kemudian lenyap begitu saja. ditelan postcard bergambar pantai, daun pisang, dan tumpukan kelapa. lirikan yang tak dibalas. nona napitupulu genit yang ngambek nangis kemudian berhenti begitu saja. you see dead people and you move on. ragam cakapan baks yang tak ada artinya, tapi di bibir-bibir basah itu, kedengarannya lucu-lucu saja.

aku suka, aku suka.

nico bagus juga, comedic timing seperti rolex anna kournikova. setelah that bioprick gie, what a guy. biarkan saja dia tengil ya. nona napitupulu, don’t know how much time she spent with you, but when she smiles and shows her gum she kinda looks like you.

mereka kelihatan dan terdengar terlalu tua, dan di cambridge spring adalah lent, tapi yah, apalah arti waktu, ketepatan terma, dan sebagainya.

ESORAIS M’HOS EKDIKA PASKHO!

maksud lo?

tigs

hars

baks

unts

slams

good they you do.

Akhir dari awal segalanya

restoran murahan yang baru dibuka itu menyajikan menu tiruan yang di daerah aslinya disajikan pagi-pagi untuk orang-orang yang datang bersepeda lengkap dengan jeroan dan rajangan bawang yang mengapung-ngapung seperti kantong plastik dan mayat orang di sungai berair kuning kental. dia biasanya akan memesan pisahan dan menyeka hidung yang keringatan dengan sapu tangan kotak-kotak coklat murahan. di daerah aslinya semua hal bisa dibilang murahan. waktu itu dia belum mengenal lorrie baru sepuluhan tahun lagi dia akan membaca vollmann untuk pertama kali hidupnya hanya penuh dengan kesenangan. mengayuh sepeda rakitan melewati tanah kritis dan alas roban sekali ke sangiran di jalanan menurun berhenti memedal dan membiarkan rambut berdiri dan tubuh rasanya terbang kemudian berhenti sama sekali di tepi sebuah waduk yang di pagi yang bersih dengan langit yang hanya sudut-sudutnya putih terasa begitu indah begitu indah. waktu dia mulai merasa bersalah setelah mengetahui apa yang terjadi dengan desa itu supaya bisa ada waduk itu itulah awal dari akhir segalanya. sekarang di restoran murahan dengan menu tiruan itu dia ingat semua ini dan ingat juga sesuatu yang pernah dia pikirkan satu malam di kamar seseorang yang tak begitu dia kenal: kita tidak pernah bisa meniru kesenangan.

3 Tahun Sebelum 3 Hari Sebelum 3 Hari Untuk Selamanya

Mungkin hanya kau yang tahu surat ini ditujukan untukmu.

Semuanya sudah hampir punah dari ingatanku. Danau itu. Anak-anak berbawahan abu-abu, nasi gila, air mancur jam dua, udara yang rasanya bergetar dengan keheningan yang sempurna. Kita di jantung kota, dan di sini masih ada sepi rupanya.

Di situlah, di balkoni rumah nenekmu, di meja sempit yang dipenuhi monitor komputer merek nondescript, kaleng Bintang, dan tumpukan kotak Marlboro Lights, Ambar dan Yusuf lahir. Aku menyaksikan semuanya dari balik jendela yang patah daunnya, memegang pensil dan notepad spiral di pangkuanku. Berusaha melahirkan anak-anakku sendiri.

Aku tak pernah berhasil. Otakku tak sesubur otakmu. Atau mungkin semuanya tak ada hubungannya dengan otak. Hanya aku yang menganggapnya begitu.

Aku tak pernah suka dengan skripmu. Aku katakan bukan waktu itu, ini semua hanya anekdot-anekdot yang meledak di kepalamu. Dan kau cukup puas hanya memunguti serpihan-serpihannya kembali. Seni tidak selalu harus punya arti, jawabmu.

Aku akan sabar menunggu. Sudah. Tinggal tiga hari lagi. Akan kita lihat, siapakah yang benar. Setelah draft ke-32 kau menolak menunjukkan skripmu padaku, jangan ketawa, begitu sergahmu, ini karyaku.

Oke. Bahuku naik tanpa dipandu. Kalau itu yang kau mau. Aku sendiri tak pernah peduli dengan nasib anak-anakku. Aku tak pernah memanggil mereka ‘karyaku’.

Aku selalu berpikir, bekalmu dalam hidup adalah mimpi. Dan mimpi-mimpi orang lain yang bergandengan tangan dengan mimpimu. Sementara aku lebih bersemangat memenggal lengan-lengan mimpi itu, dan mengaspal jalan dengan kelakar dan makian. Aku tak percaya pada seni maupun keindahan hidup ini.

Kau percaya pada begitu banyak hal. Termasuk bualanmu sendiri. Aku? Aku terlalu pintar untuk percaya. Itu saja.

Di SMP kita diajari bukan, dua garis yang sejajar tak akan pernah bertemu. Itulah kita.

Selamat,

Elvis Travis.

kepal terbang

dia ingin sedih seperti lorrie. tetap menebar canda dan membuat orang lain tertawa terpingkal-pingkal biar sebuah pemakaman sedang berlangsung di dadanya. you’re funny. aren’t i just. sambil mengerlingkan mata dan menuangkan lagi sesekop tanah ke atas peti yang mengkilat di bawah. tapi dia, dia hanya menggantungkan satu lagi t-shirt hitam basah di ujung-ujung bulu matanya dan berjalan dengan muka dan jemuran itu menyeret kerikil dan sampah. mungkin dia akan mencoba menulis, tapi dia selalu membenci tulisan yang dia tulis saat kepalanya rasanya seperti terbang. padahal yang dia ingini hanya diam di kamarnya dan tak pernah ke mana-mana lagi. dia membaca banyak blog orang-orang yang setengah dia kenal, tentang petualangan mereka di turki, kl, khmer, vientienne, dan tentu saja ada semacam rasa iri, sekali lagi dia bertanya, apakah hidupku sebenarnya masih perlu lebih banyak party?, tapi kemudian selalu seperti ada yang memaksanya membayangkan wajah orang-orang yang benar-benar dia kenal, bagaimana mereka, sama seperti dia, juga tidak pernah ke mana-mana, dan dia bertanya, apakah karena itu aku benar-benar kenal mereka? karena mereka tak pernah pergi? kadang-kadang bertanya-tanya seperti ini membuatnya merasa lebih baik, dan kepalanya pun mendarat dengan sempurna. kadang-kadang tak ada yang terjadi, dia akan menyeret-nyeret jemuran, sampah, kerikil dan sepeda yang lampunya mati dengan bulu-bulu matanya yang mulai pegal lebih jauh lagi menyusur malam kota yang dia cintai ini dan dia akan ingat tentang vollmann dan sebuah kutipan yang dia tak ingat pas, sesuatu seperti «setiap kali kau pergi, kau semakin mendekati mati,» dan dia akan membuka mulut untuk mengucapkan «hey» diikuti dengan penggalan namanya dan «aku suka kau juga masih di sini.»

Seandainya Lorrie dan Vollmann adalah dia dan dia

dia tidak tahu juga apakah dia masih iri dengan kehidupan yang lebih fun dan penuh dengan party. kadang-kadang dia berpikir, i’ve had all that. i’ve had it with all that. tapi kadang-kadang dia juga berpikir, dia baru 31 tahun dan dia sudah terlalu banyak menghabiskan waktunya untuk takut. takut seperti ini. takut seperti waktu itu dia menyepi di sebuah miniatur huitieme arrondisement dan di lantai dua yang sepi dia duduk di meja makan untuk menulis sebuah puisi di mesin tik brother hadiah bekas pacarnya yang kedua dari terakhir dan tombol-tombol itu rasanya berat sekali dan dia terus memaksa diri dan dia tidak menangis tapi dadanya rasanya terbuat dari besi dan setelah semuanya selesai dia cukup puas dengan apa yang ditulisnya tapi tetap saja di dalam besi itu ada rongga yang membuat udara yang dihirupnya seperti lewat begitu saja sehingga dia terpaksa harus menarik nafas begitu kerap kemudian dia baru sadar, dia sedang terengah-engah seperti beberapa minggu yang lalu waktu dia putus dengan pacarnya yang terakhir dan dia—dan ini tak pernah dilakukannya—menerobos ke dalam kamar praktek ibunya dan menangis sesenggukan di lututnya dan ibu memanggilnya lé seperti waktu dia masih SD dan saat itulah rasanya air matanya benar-benar habis dan yang bisa dia lakukan untuk melupakan jurang di hatinya hanyalah berusaha memakan udara di depan mulutnya. berkali-kali dan rasanya seperti tak akan pernah kenyang. dia takut seperti itu lagi. tapi sekarang dia berpikir, seandainya saja dia lebih kuat sedikit, dia akan mengarang sebuah negara tanpa jurang dengan pantai-pantai yang terbuat dari balon dan bola-bola plastik, tempat dia dapat tenggelam sebentar tanpa harus berhenti menarik nafas dan bersenang-senang, dan dia yakin semangka pun akan berhenti berair di hatinya. tapi, semua ini hanya seandainya.