CXVIX

Ini mungkin tidak akan menjadi sesuatu yang utuh:

Aku hanya ingat tentang kau di beranda rumah orang tuamu di Lismore
pohon mangga di sudutnya masih kuncup, banjir belum lama surut
tanah masih berdarah seperti langit sebelum jam enam.
Bau pohon gum. Knalpot ute yang mendentam.

Kau seperti sedang bersenam tai chi, atau falun gong, atau hanya salah satu
Broadway numbers yang kau hapalkan dari kaset-kaset VHS dari Harry’s.
Rambutmu sudah abu-abu. Berandamu sekarang tertutup kasa nyamuk,
Tidak seperti dirimu dulu yang senang dengan angin semriwing dari kutub.

Kau sedang memandang ke luar, ke pinto Co-Op yang masih tertutup,
muka Rosalind tua yang tergambar di sekelilingnya. Hidung yang bercuping lebar
tepat di atasnya. Aku masih ingat waktu kau tiba-tiba bilang di kali ketiga kita bertemu, “Berarti selama ini orang-orang masuk keluar lewat mulutnya.”

Kau meleleh di mataku. Udara seperti menekan ujung-ujung jarimu
untuk melengkung, membulat, membentuk tinju. Betapa susah
untuk mengenang kenangan seperti aslinya. Tidak seperti mengagumi foto hitam putih
Jendral Sudirman ditandu Oerip Soemohardjo di buku sejarah anakku.

“The smoke-flowers are blurred over the river,” ya, ya, terus apa lagi
yang kau lihat di seberang sana? B&B mungil bercat biru di Watego’s
satu unit lagi kali ini dengan pemandangan satu juta dolar di utara jembatan,
pensiun awal dengan super-annuation yang super dermawan.

Kenapa kita pernah heran kenapa kita tidak pernah bisa utuh?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s