<div style="text-align: right;
font-family: arial,helvetica;
font-style: italic;
“>
Lucky that my breasts are small and humble
So you don’t confuse them with mountains
-Shakira
Eine kleine Mekifantasie
<div style="text-align: right;
font-family: arial,helvetica;
font-style: italic;
“>
Lucky that my breasts are small and humble
So you don’t confuse them with mountains
-Shakira
<div style="text-align: right;
“>
<div style="text-align: left;
“>i like mountains
from a distance
i even like going up them
in a car
but there’s nothing i like more
than this
going at 80ks/h
in a modern-day horse-powered cart
blue cloud-covered lawu on my left
the twins merapi merbabu on my right
the sun disappearing in its own rays
the possibilities of climbing
the reality of keeping yr feet on the ground
of never ever having the drive to get anything done
at nowhere near 13,000 thousand feet above sea level
| Start: | Mar 22, ’08 2:00p |
| Location: | Blitz Megaplex, Grand Indonesia Lt. 8, Jl. MH Thamrin No.1 Jakarta Pusat |
Start: Mar 22, ’08 2:00 pm
Location: Blitz Megaplex, Grand Indonesia Lt. 8, Jl. MH Thamrin No.1 Jakarta Pusat
Printemps des poètes / Bulan Puisi 2008
“ Eulogi untuk seseorang / Eloge de l’autre “
Sabtu, 22 Maret 2008, pk.14.00 – 20.00 (satu sesi pembacaan puisi setiap jam)
bersama Komunitas BungaMatahari (http://bungamatahari.org ) & Otak and Chair (http://www.myspace.com/otakandchair).
Blitz Megaplex, Grand Indonesia Lt. 8, Jl. MH Thamrin No.1 Jakarta Pusat. Tel. 235 80 200. http://www.blitzmegaplex.com
Puisi tiba !
Ya, bulan Maret akan menjadi puitis…
Di Jakarta, di tempat yang tak terduga,
Berani membaca puisi
Dan didengar oleh orang lain !
Telinga menyimak dan mata terbuka,
Jangan heran ketika tiba saatnya
Anda menjadi saksi
Kejutan dan hadiah misterius.
Ikutilah langkahnya…
Namun, tentunya Anda tahu…
Bulan Puisi telah hadir untuk Anda.
BungaMatahari (BuMa)
BungaMatahari (BuMa) adalah komunitas bagi siapa saja yang mencintai puisi dan ingin berbagi dalam suasana bebas dan bersahabat. Dengan semangat “semua bisa berpuisi”, BuMa mempromosikan puisi kepada masyarakat luas sambil bereksperimen dengan cara-cara segar untuk menjelajahi dan menikmati puisi. Pertama muncul pada 19 April 2000, BuMa yang berbasis mailing list (milis) aktif mengadakan dan berpartisipasi dalam berbagai acara di ruang publik. Awal tahun 2006, BuMa menerbitkan Antologi BungaMatahari. Pada tahun 2007, CCF Jakarta bersama BuMa menyelenggarakan « Banjir Puisi di Stasiun ! » di Gambir, Jakarta sebagai bagian dari perayaan Printemps des Poètes 2007.
===================
La poésie s’invite !
Oui Mars peut être poétique…
A Jakarta, partout où on ne l’attend pas,
Osez clamer des vers
Qu’un autre saura entendre !
L’oreille attentive et l’œil ouvert,
Ne soyez pas étonné, si à votre tour
Vous pourrez témoigner de ces
Evénements surprises et cadeaux mystères.
Laissez-vous faire…
Le Printemps des poètes, pourtant
Vous le savez : vous ne pouvez y échapper…
BungaMatahari (BuMa)
BungaMatahari (BuMa) est une communauté ouverte à tous les amateurs de poésie qui souhaitent librement et amicalement faire partager leur passion. Convaincue que “tout le monde peut faire de la poésie”, BuMa essaie de promouvoir la poésie au public tout en expérimentant des moyens inventifs pour découvrir et apprécier la poésie. BuMa, communauté poétique sur liste de diffusion électronique fondée le 19 avril 2000, organise et participe à de nombreux événements partout dans la ville.
En début 2006, BuMa a publié l’Anthologie de BungaMatahari. L’année dernière, BuMa collaborait déjà avec le CCF pour organiser le Printemps des Poètes 2007 « Gare à la Poésie ! » à la Gare de Gambir, Jakarta.
<div style="text-align: center;
“>
malam tak peduli makin bulan makin terang
makin memang di kota ini makin lama makin
jarang kita mendongak makin menunduk
sehingga seperti bom yang meledak di hati
waktu makin akhirnya tanpa sengaja makin
menengadah dan di atas sana bulan bulat
sempurna makin sempurna dengan cincin
putih mengurungnya makin gila karena awan
malas pula makin muncul makin membuat
kita makin yakin sesuatu pasti makin akan
terjadi di ujung malam ini makin yakinlah kita
makin lama awan pun tak tahan makin dan mereka
riang makin gembira membentuk serigala
celeng kelinci dengan tato angka 4 di pipinya
makin balkonilah malam ini makin dingin lantai
di punggungku makin deras bah keluar dari
mulut malam makin hilang cairan kuning makin
berbusa di botol botol yang makin hijau
makin kosong makin bergetar kuping berbuluku
makin merah mata delimaku makin putih
bulu bulumu makin bergetar di bawah sinar
makin purnama makin perak makin basah makin
hitamlah moncongmu makin serigalalah kamu makin aku
<div style="text-align: left;
“><span style="font-style: italic;
“>*dicuri dari catatan pinggir goenawan mohamad, ‘cermin’, tempo 13 januari 2008
<div style="text-align: center;
“>
ia menulis cerpen seperti danarto
ia menulis cerpen seperti danarto tapi judulnya seperti rendra
ia menulis cerpen seperti danarto tapi judulnya seperti rendra dan pendek seperti lydia davis
ia menulis cerpen seperti danarto tapi judulnya seperti rendra dan pendek seperti lydia davis tapi realis-marxis seperti gorki
ia menulis cerpen seperti danarto tapi judulnya seperti rendra dan pendek seperti lydia davis tapi realis-marxis seperti gorki dan sentimentil seperti nh. dini
ia menulis cerpen seperti danarto tapi judulnya seperti rendra dan pendek seperti lydia davis tapi realis-marxis seperti gorki dan sentimentil seperti nh. dini tapi tetap avant-garde seperti stephen dixon
ia menulis cerpen seperti danarto tapi judulnya seperti rendra dan pendek seperti lydia davis tapi realis-marxis seperti gorki dan sentimentil seperti nh. dini tapi tetap avant-garde seperti stephen dixon dan lucu seperti lorrie moore
ia menulis cerpen seperti danarto tapi judulnya seperti rendra dan pendek seperti lydia davis tapi realis-marxis seperti gorki dan sentimentil seperti nh. dini tapi tetap avant-garde seperti stephen dixon dan lucu seperti lorrie moore tapi juga liris seperti william t. vollmann
ia menulis cerpen seperti danarto tapi judulnya seperti rendra dan pendek seperti lydia davis tapi realis-marxis seperti gorki dan sentimentil seperti nh. dini tapi tetap avant-garde seperti stephen dixon dan lucu seperti lorrie moore tapi juga liris seperti william t. vollmann dan menohok seperti pram
ia menulis cerpen seperti danarto tapi judulnya seperti rendra dan pendek seperti lydia davis tapi realis-marxis seperti gorki dan sentimentil seperti nh. dini tapi tetap avant-garde seperti stephen dixon dan lucu seperti lorrie moore tapi juga liris seperti william t. vollmann dan menohok seperti pram dan fantastis seperti gogol
ia menulis cerpen seperti danarto tapi judulnya seperti rendra dan pendek seperti lydia davis tapi realis-marxis seperti gorki dan sentimentil seperti nh. dini tapi tetap avant-garde seperti stephen dixon dan lucu seperti lorrie moore tapi juga liris seperti william t. vollmann dan menohok seperti pram dan fantastis seperti gogol tapi gagal
<span style="font-weight: bold;
“>’cerita bunga / bunga m.’
<span style="font-style: italic;
“>oleh Alifia NW Kelas 1A2 SDN Sudimara 03
mawar mau berenang di
dekat sawah melati sudah
tidak mau berenang lagi
mawar mengadu melati tapi
melati bertanya gimana
kalo kita mengantar ma-
war tapi mawar tidak
mau begitu melati mau
ke puncak mawar kaget
mawar ikut ke puncak mawar
ingin berfoto-foto tapi melati
cuma mau mengantarkan kambo-
ja. mawar tak usah ikut HiH
melati mendengar suara ketukan
keras di pintu ternyata tulip
ada apa tulip ternyata kamboja
di ancol dan siapa yang mau
ikut mawar ya akhirnya semua
ikut oke berarti mawar se-
tuju semua tertawa
<br style="font-weight: bold;
“><span style="font-weight: bold;
“>’cerita bunga / baikan’
<span style="font-style: italic;
“>oleh Alifia NW Kelas 1A2 SDN Sudimara 03
anggrek mempunyai 10 butir kelereng
melati mempunyai 30 butir kelereng
sedangkan bugenvil tidak punya
kertas punya 14 butir kelereng
jatuh dari tangan bunga kertas
bugenvil mengambil kelereng ker-
tas kelereng kertas sekarang 13
kertas mencari-cari kelereng yang
hilang bugenvil punya 1 kelereng
kertas minta satu kepada bug-
envil (to be cont’d)
<span style="font-style: italic;
“>
white
as the carnation of yr hospital issued apron
o nightingale
u queen of king county !
<div style="text-align: right;
“>with the clarity of passion i go
under the union jack
his majesty’s tailor in his infinite wisdom
had embroidered in gold across yr racks !
<div style="text-align: center;
“>
SPEAK NOW
or forever hold yr grief.
<div style="text-align: center;
“>
yeh basically what ive been wanting 2 say 2 myself all nite since i completely fucked up in this thing*
wtfhyd
theres a why somewhere there 2
but who gives a fuck
who the fuck
<div style="text-align: left;
“>*for those who give a fuck about such things, the reason why i think i fucked up is not the same as the reason why people think i fucked up
setahun sebelum bapak saya meninggal (dua minggu yang lalu, hence the lack of posting) ia memesan salah satu temannya, pengamen di bus bianglala nomor 44 jurusan cileduk-senen, untuk menyanyikan lagu ilir-ilir saat ia nanti menghadapi sakratul maut.
tapi teman ini ternyata cengeng sekali dan menolak masuk ke kamar ICU bahkan sebelum bapak saya mulai kritis.
untung, ternyata bapak saya pernah mendownload lagu itu ke itunesnya dan secara tidak sengaja ikut terupdate ke ipod saya. jadilah, selama sejam terakhir sebelum bapak saya meninggal saya pasang lagu itu on continuous repeat di telinga kanannya (di sekitar telinga kirinya terlalu ribet dengan selang-selang mesin CCVH yang memompa darah langsung dari jantungnya karena ginjalnya sudah berhenti berfungsi).
saya orang jawa dan setengah hapal lirik lagu itu, tapi saya tidak pernah tahu artinya apa. seorang bude menjelaskan beberapa malam setelah bapak saya meninggal, setelah ia dan adik-adiknya termasuk ibu saya bersama-sama secara spontan menyanyikan lagu itu setelah teman bapak saya yang tadi sekali lagi gagal menyanyikan lagu itu setelah saya minta karena malah menangis tersedu-sedu.
ternyata arti lagu itu kira-kira begini (saya ambil dari sini, karena saya terlalu malas menulis kembali penjelasan bude saya):
Ilir-ilir, ilir-ilir
tandure wus sumilir
tak ijo royo-royo
tak sengguh temanten anyar
Bait di atas di atas secara harafiah menggambarkan hamparan tanaman
padi di sawah yang menghijau, dihiasi oleh tiupan angin yang
menggoyangkannya dengan lembut. Tingkat ke-muda-an itu dipersamakan
pula dengan pengantin baru. Jadi ini adalah penggambaran usia muda
yang penuh harapan, penuh potensi, dan siap untuk berkarya.
Bocah angon, bocah angon
penekno blimbing kuwi
lunyu-lunyu penekno
kanggo mbasuh dodot-iro
Anak gembala,
panjatlah [ambillah] buah belimbing itu [dari pohonnya].
Panjatlah meskipun licin,
karena buah itu berguna untuk membersihkan pakaianmu.
Buah belimbing yang seringkali bergigir lima itu melambangkan lima
rukun Islam; dan sari-pati buah itu berguna untuk membersihkan
perilaku dan sikap mental kita. Ini harus kita upayakan betapapun
licinnya pohon itu, betapapun sulitnya hambatan yang kita hadapi.
Anak gembala dapat diartikan sebagai anak remaja yang masih polos
dan masih dalam tahap awal dari perkembangan spiritualnya. Konotasi
inilah yang sering muncul seketika bila orang Jawa menyebut ‘bocah
angon’.
Namun pengertiannya dapat pula ditingkatkan menjadi
pemimpin, baik pemimpin keluarga, tokoh masyarakat, ataupun pemimpin
formal dalam berbagai tingkatan.
Dodot-iro, dodot-iro
kumitir bedah ing pinggir
dondomono, jlumatono
kanggo sebo mengko sore
Pakaianmu berkibar tertiup angin, robek-robek di pinggirnya.
Jahitlah dan rapikan agar pantas dikenakan untuk “menghadap” nanti
sore.
“Sebo” adalah istilah yang dipergunakan untuk perbuatan ‘sowan’
atau menghadap raja atau pembesar lain di lingkungan kerajaan.
Makna pakaian adalah perilaku atau sikap mental kita.
Menghadap bermakna menghadap Allah.
Nanti sore melambangkan waktu senja dalam kehidupan, menjelang
kematian kita.
Mumpung padhang rembulane
mumpung jembar kalangane
Manfaatkan terang cahaya yang ada, jangan tunggu sampai kegelapan
tiba. Manfaatkan keluasan kesempatan yang ada, jangan menunggu
sampai waktunya menjadi sempit bagi kita.
i just really like that line ‘pakaianmu berkibar tertiup angin, robek-robek di pinggirnya.’ and i wonder what the song would sound like if covered by say, slayer. would it be like:
Mumpung padhang rembulane
Solo King
mumpung jembar kalangane
Solo Hannemann
?