bulan tak kusam ketika malam purnama*

<div style="text-align: center;
“>
malam tak peduli makin bulan makin terang
makin memang di kota ini makin lama makin
jarang kita mendongak makin menunduk
sehingga seperti bom yang meledak di hati
waktu makin akhirnya tanpa sengaja makin
menengadah dan di atas sana bulan bulat
sempurna makin sempurna dengan cincin
putih mengurungnya makin gila karena awan
malas pula makin muncul makin membuat
kita makin yakin sesuatu pasti makin akan
terjadi di ujung malam ini makin yakinlah kita
makin lama awan pun tak tahan makin dan mereka
riang makin gembira membentuk serigala
celeng kelinci dengan tato angka 4 di pipinya
makin balkonilah malam ini makin dingin lantai
di punggungku makin deras bah keluar dari
mulut malam makin hilang cairan kuning makin
berbusa di botol botol yang makin hijau
makin kosong makin bergetar kuping berbuluku
makin merah mata delimaku makin putih
bulu bulumu makin bergetar di bawah sinar
makin purnama makin perak makin basah makin
             hitamlah moncongmu makin serigalalah kamu makin aku             

<div style="text-align: left;
“><span style="font-style: italic;
“>*dicuri dari catatan pinggir goenawan mohamad, ‘cermin’, tempo 13 januari 2008