Opera Jawir (Extremely Intertextual & Incredibly Close Reading)

Opera Jawa

Sutradara: Garin Nugroho

Ditonton di: Blitz Megaplex, Grand Indonesia

DRAMATIS PERSONAE

Siti: penari, muda, 20-an, Miss Indonesia material
Suami Siti: saudagar, perajin gerabah, 40-an awal, kolektor topeng
Mas-mas Gondrong #1: penari, murid salsa Vena Melinda, tato motif Transformers mengelilingi udel
Mas-mas Botak: PA Siti, Hindu (kelihatannya, karena bawa sesajen terus), jelas banci walaupun tak pernah secara eksplisit ditunjukkan
Satria Ber-ukulele aka Slamet Gundono sebagai Dirinya Sendiri: trubadour obese bertopi Marlboro, Anna Nicole Smith would’ve killed for those tits!
Ibu: ibu Mas-mas Gondrong #1, guru tari, Katolik, pintar menyulam
Mas-mas Gondrong (Gerombolan): preman, preman pasar, breakdancers

ACT I

Siti menikah dengan Suami. Diramal di tengah alun-alun oleh Slamet Gundono dan ukulelenya, pakai medium hati babi. ‘Inilah cerita Rama dan Sinta,’ katanya. Jadi Siti = Sinta di cerita Ramayana, Suami = Rama, Mas-mas Botak = Lesmana. Means nothing to non-Javanese.

Rama pergi menjual gerabah naik gerobak warna-warni ditarik sapi. Pesan kepada Lesmana, ‘Jaga istriku.’ Lesmana manggut-manggut bertanya dalam hati, kenapa dia menyanyikan semua ini? Di cerita Ramayana asli, Rama diminta Sinta memburu rusa yang cantik sekali (umpan Rahwana aka Dasamuka, raksasa bermuka sepuluh—musuh Rama, yang bernafsu merebut Sinta), jadi di Opera Jawa uang=rusa, dan Rama mengejarnya atas kemauan sendiri.

Cut to: Siti keluar dari bilik tempat tidur di sebuah rumah spartan bergaya Jawa dengan muka ketakutan, dikejar barongsai berbadan selimut batik dan berkepala topi bambu (lebih mirip tikus raksasa), kepala naga/tikus sempat melompat ke tiang dan bertengger di situ kira-kira lima detik disangga kaki-kaki yang lain. Seperti di film-film silat tapi tanpa special effects. Siti mengambil topi bambu/kepala naga/tikus tadi kemudian mendekapnya, memandang ke dalamnya lama-lama, kemudian memakainya untuk menutupi sepiring gado-gado dengan kerupuk merah.

Sejauh ini, kelihatannya barongsai tadi=sesuatu yang mengejar-ngejar Siti (ya iyalah, kan memang mengejar dia), tapi maksudku, sesuatu yang metafisikal, dia kelihatannya ingin menjadi bagian dari barongsai itu, ingin memasang topi itu di kepalanya sendiri.

Waktu Siti sendiri di rumah dia mengimprovisasi sebuah suite contemporary dance sebentar (karena Miss Indonesia sebenarnya tidak bisa nari), menempelkan topi di dadanya seperti susu, di mukanya seperti topeng, sementara PA-nya menutupi semua jendela dan pintu di latar belakang.

Agak lebih jelas sekarang, Siti kelihatannya dikurung di rumahnya sendiri, merpati di sangkar gerabah, tapi belum begitu jelas kenapa. Sampai seorang bapak tua datang dan menembangkan undangan supaya Siti MENARI LAGI. Setelah menghidangkan teh di cangkir porselen dan baki besi, PA berjalan melintasi kamera dan berhenti menutupi setengah layar, mendengarkan tawaran bapak tua. Timbul konflik batin dalam dirinya, sebagai the token banci di film ini tentu dia senang menari dan ingin Siti menerima tawaran itu, tapi dia sudah berjanji akan mematuhi pesan Rama untuk menjaga istrinya, yang tentu tanpa diucapkan sebagai orang Jawa dia tahu, itu termasuk mecegahnya menari lagi.

Cut to: Ibu menari dan menembang di antara orang-orang yang menyetrika dan menjahit pakaian (laundry? karena ini di Jawa, 5 a jour? a semaine? windu?) tentang bagaimana tubuhmu adalah jiwamu dan menari adalah hidupmu.

PA menenteng sesajen dan dupa sambil menari (gaya Hindu-Bali) berjalan keluar rumah diikuti Siti. Menuju ke pusat lingkaran labirin yang dibuat dari sabut kelapa. Siti ditinggal di situ. Tiba-tiba muncul segerombolan topi raksasa yang digerakkan penari-penari yang bersembunyi di bawahnya. Mereka kelihatan dan bergerak seperti tikus. Menuju pusat labirin. Siti menggebuk mereka dengan sampurnya (dia sudah mulai menari lagi!), tapi sia-sia, akhirnya salah seorang dari tikus/topi raksasa itu berhasil menjerat Siti di bawah topi/simbol tikus/kejahatan/spirit of the dance-nya.

ACT II

Rama kembali dan gerobaknya masih penuh dengan gerabah. Di pasar Gerombolan Mas-mas Gondrong menyerbu kios daging, memecahkan kaca dan mengambil daging yang bergelantungan di etalase.

Cut to Mas-mas Gondrong #1 muncul dari balik tubuh sapi yang sudah dikuliti, menggantung di rumah jagal, kemudian menari di lantai yang merah tersemir darah, dipenuhi topeng dan lilin-lilin besar berwarna merah (aromatherapy untuk menyamarkan bau darah?), diakhiri dengan menimang kepala sapi yang digeletakkan di antara topeng dan lilin-lilin itu. Meraup darah kental dari pangkal lehernya. No animals were harmed during the making of, etc.

Cut to Siti tidur dengan Rama di tempat tidur besi bertiang kelambu tapi tanpa kelambu. Tidak ada apa-apa lagi di kamar itu selain lemari tua dengan cermin oval di salah satu daun pintunya. Classic shot dari atas mereka. Siti merangkul Rama. Rama menepis tangannya. Siti membuka t-shirt Rama, mencoba mencium putingnya, Rama menarik t-shirtnya (warna merah, sama dengan warna baju Siti) sampai menutupi kepalanya, seperti topeng. Berdiri di tempat tidur dan menari (contemporary style) dengan jari-jari yang bergerak seperti kaki tikus. Siti berusaha menangkapnya. Rama menolak, melawan, menghindar. Bayangan mereka terlihat di cermin oval di daun pintu lemari tadi.

Rama turun dari tempat tidur. Siti menangis dalam tembang, sesuatu seperti, ‘Api (merah, tentunya) telah padam dari hidup kita, sekarang kita hanya binatang, bukan lagi manusia’ (hanya pakaian/topeng kita saja yang masih penuh api/berwarna merah).

Datanglah Mas-mas Gondrong #1! Ia melenggok masuk ke bawah kulot oversized Siti, kepalanya yang dibalut kulot meliuk-liuk di selangkangan gadis yang lagi horny ini, tangan Siti menuntunnya ke titik-titik yang tepat.

Rama berbalik badan, dan bergabung dalam menage a trois bisu ini. Mas-mas Gondrong keluar dari kulot Siti dan mulai menciumi kakinya. Ketiganya naik ke kasur dan bercinta secara simbolis dalam gerakan-gerakan akrobatik yang akan membuat hati penulis Kamasutra mendidih karena iri.

Dalam Ramayana, Rama menolak untuk bercinta lagi dengan Sinta setelah menyelamatkannya dari tangan Rahwana karena dia curiga untuk menyelamatkan nyawanya mungkin Sinta telah membiarkan dirinya dijamah Rahwana. Di sini dia tadi menolak bercinta karena kelihatannya stres karena gerabahnya tidak laku (mungkin karena krisis ekonomi, dus gerombolan pencuri daging), mungkin dia jadi impoten!, kemudian baru bergairah lagi setelah melihat cunillingus istrinya dengan seorang mas-mas gondrong yang lebih muda, rambut masih panjang tergerai lepas, perut six-pack bertato. Pertanyaan untuk para ilmuwan queer: apakah Rama bisa ngaceng lagi setelah melihat adegan cunnilingus itu, melihat istrinya begitu terangsang, atau melihat mas-mas gondrong (brondong?) yang begitu menawan itu?

Bayangan mereka berakrobat ranjang terlihat di cermin oval di daun pintu tadi.

Exit Mas-mas Brondong #1/Rahwana. Rama turun dari ranjang juga, bergerak/menari seperti tikus keluar pintu, di luar hujan, membiarkan dirinya kuyup. Too hot, baby! Too hot!

Cut to Siti di sebuh gazebo malam-malam dikelilingi lilin aromatherapy. Rahwana datang kemudian mengajaknya menari/bercinta. Tangannya bergerak-gerak terus seperti kaki tikus menuju selangkangan Siti. Siti mau, tapi malu-malu. Siti memepet Rahwana ke dinding gazebo yang berukiran naga dan ular kitsch warna-warni, matanya antara super mupeng dan jijik (kepada dirinya sendiri? Tentu). Foreplay yang berkepanjangan. Siti menembang, ‘Selingkuh, selingkuh.’ No climax. Selama itu mereka diintai oleh Mas-mas Gondrong generik yang bergerak/berbreakdance seperti kera (Hanoman?), dan hanya terlihat bayangannya.

Cut to Rama termenung di pendopo rumahnya, menembang tentang baru saja menjual sapinya, dan bagaimana sebagai kepala keluarga yang baik dia harus mencari uang bagaimanapun caranya, mungkin dia harus kembali mengolah tanah (=’lemah’=’siti’ dalam bahasa Jawa. Bukankah selama ini dia juga mengolah tanah, menjadi gerabah? Apakah berarti selama ini dia terlalu sibuk menggarap tanah menjadi gerabah, DAN LUPA MENGGARAP TANAH YANG SEHARUSNYA PALING PENTING BUATNYA, Siti(=’lemah’=tanah)!? Pastinya.

Kemudian vinyet Rama menari solo mencobai berbagai macam topeng: topeng cewek berambut kepang panjang dua, topeng pincuk daun pembungkus jajanan, topeng yang mula-mula terlihat seperti hanya sepotong kayu, baru kemudian setelah ia memutar kepalanya ke arah kamera kelihatan ternyata adalah topeng yang sedang ia buat sendiri dan baru setengah jadi. Ia mencoba berbagai macam topeng(=kepribadian=role) baru untuk keluar dari musibah yang menimpanya (dagangan tak laku, istri selingkuh, Viagra belum tersedia di Jebres). Topeng cewek? Satu pertanyaan lagi buat Mumu.

Cut to workshop gerabah Rama. Siti duduk berlumuran lumpur di meja putarnya. Rama berulang-ulang mengguyur Siti dengan lumpur cair memakai gayung dari batok kelapa bergagang panjang. Siti menembang, ‘Aku bukan tanah yang bisa kaubentuk seenakmu. Aku manusia.’ (Something like that.) Mulutnya tidak terlihat bergerak, atau lip-syncnya kurang synced. Badannya sama-sekali bergeming. SITI BENAR-BENAR TERLIHAT SEPERTI PATUNG. Rama semakin giat/bernafsu mengguyur Siti dengan lumpur. Rama terlihat terangsang, Berusaha memeluk Siti. Siti masih bergeming. Keduanya jatuh tertelungkup berlumuran lumpur di meja putar itu. Take that Patrick and Demi!

ACT III

Rahwana mengadu kepada Ibunya bahwa dia hanya berhasil menaklukkan Siti tapi tidak berhasil mendapatkan cintanya. Ia hanya ingin kembali saja ke rahim ibunya. Berbaring dalam posisi foetal dengan kepala di selangkangan Ibu/Retno Maruti. ibu menjawab, ‘Aku akan membantu.’

Ibu menyulam selimut merah. Ternyata selimut itu panjang sekali, menjulur ke luar rumah, lewat pematang sawah, candi, kali, jalan setapak, kebun bunga plastik, menuju: Siti.

Siti mengikuti selimut merah itu (di awal film, Retno Maruti menembang, ‘Ayunkan sampur selebar selimut’–inilah sampur/selimut itu!) naik sepeda Phoenix warna biru. (Phoenix=Siti rising from the ashes, bangkit dari kubur pernikahan/larangan menarinya.) Rahwana menunggu di kebun bunga, kemudian di pendopo rumahnya, layaknya pengantin. Siti berbaring di selimut/sampur raksasa itu, Rahwana berdiri mengangkanginya. Membelai muka Siti dengan jempol kakinya. Siti menepisnya. Lari keluar. Rahwana berusaha mengejar, tapi terjerat sampur/selimut raksasa merahnya sendiri yang tersangkut di tiang-tiang pendopo rumahnya (disangkutkan oleh penari-penari beksanya yang tadi mengiringi. Penari-penari beksa itu=whothefuckknows.)

Siti di rumah membuka kotak (Pandora!) berisi kostum tarinya. Memakainya, lenngkap dengan cundhuk mentul. Berlari keluar rumah, menembang, ‘Laki-laki berdada bidang, tapi tidak punya payudara yang bisa menghidupi bumi.’

Cut to rumah jagal tempat Rahwana pertama kali muncul tadi. Penuh dengan patung-patung manusia berkepala lilin merah karya Agus Suwage yang menggelantung dari langit-langit. Lilin meleleh (sumbunya di atas kepala) lewat muka, terlihat seperti air mata. Menetes seperti darah ke ujung jempol kaki.

Siti menari dengan kostum lengkapnya di bawah kain kuning berbentuk gunungan di Parangtritis. Rama bergabung. Memeluknya. Ikut menari. Mencabut cundhuk mentul Siti satu persatu. Menggenggam mereka di satu tangan. Menusukkan mereka ke punggung Siti. Suara angin pantai tiba-tiba hilang, hanya suara cundhuk mentul menembus punggung Siti yang terdengar, kemudian suara Rama berkali-kali menusuk perut Siti dengan cundhuk mentul tadi. Jreb. Jreb. Rama mengambil hari Siti (literally!), menimangnya di tangan, menembang, ‘Oh, inilah kau hati yang dari dulu kucari. Hanya bongkahan daging warna merah.’

Rama pergi. Rumput baru tumbuh di pasir hitam tempat Siti berbaring mati tadi.

Siti menolak cinta Rahwana, melanggar larangan Rama untuk menari, menemukan dirinya sendiri. Dia tidak pernah perlu memakai topeng. Karena dia (akhirnya) mengikuti kata hatinya (hatinya sendiri, bukan hati babi, atau hati orang lain yang ia cabut dari perut). Dan ini membawanya ke kematiannya sendiri. Tapi rumput tumbuh di tempat dia mati. Dia, perempuan berpayudara (sebelum menusuknya dengan cundhuk mentul Rama menyanyi dia ‘rindu menyusup payudaramu’) dan yang mengikuti kata hatinya itu, benar-benar mampu menghidupi bumi!

PA Siti (yang tadi waktu Siti bersepeda mengikuti sampur raksasa berusaha menghalangi, jatuh ke tanah, kemudian menembang dengan suara cempreng untuk pertama kalinya dan terakhir, ‘Aku sudah menunaikan tugasku.’ (Typical Lesmana dan Lesmana-type characters.) menempatkan sesajen di kaki candi di atas batu volkanik yang diukir jadi TV Polytron 14 inci. Suara pembawa berita: ‘Rama (actually, I think his name is Setyo) ditangkap kemarin sore setelah membunuh istrinya dan mengambil hatinya. Waktu ditangkap, tersangka sempat berteriak, “Cinta (atau kebenaran?) hanya bisa ditemukan dalam hati.”’

Kemudian aku lupa bagaimana tapi film ini diakhiri dengan adegan perang di Parangtritis yang mengingatkanku akan adegan perang kolosal di Saur Sepuh: Satria Madangkara, dan bayangan wayang Rama bertempur melawan Rahwana in the foreground. Rama menang. Rahwana muncul lagi. Rama kalah. Exit Rama. Rahwana diam di layar.

The Intern

The Photograph

Sutradara: Nan Achnas (what happened to the T.?)

Ditonton di: Megaria 21 sebelum dipugar jadi XXI, mid-2007

Seorang pelacur diusir dari kosnya dan berjalan terseok-seok di gang-gang sempit dan becek menyeret laundry bags plastik berisi semua hartanya di dunia ini, menemukan kamar kosong penuh sampah dan kecoa yang kemudian ia sewa dengan uang panjer setengahnya karena uangnya sudah habis untuk dikirimkan ke anak dan neneknya yang bertempat tinggal di sebuah tempat berkode area telpon lain yang mestinya jauh karena dia sudah bertahun-tahun tidak ketemu anak dan neneknya yang sakit-sakitan dan harus masuk rumah sakit makanya dia bulan ini harus kirim uang lebih dan waktu si pelacur ini menelpon dia minta maaf berkali-kali sama anaknya harus nelpon malam-malam harusnya dia sudah bobok tapi malam lewat jam sembilan tarif telpon baru murah dan maaf uang ibu habis, nak, dan sebelum dia sempat say goodbye kepada anaknya germonya sudah menggedor-gedor pintu kaca wartel itu dan menyeretnya ke sebuah kamar di “hotel purnama” dan di situ dia diperkosa tiga pria sampai wajahnya lebam dan berdarah-darah, begitu siuman dari pingsannya dia melarikan diri ke rumah kosnya dan duduk di sumur dengan pose erotis dan sibin dengan loofah kasar yang dia harapkan akan mengeruk semua dosa dan najis dari kulitnya, malam itu dingin tentu dan dia hanya mengenakan jarik tipis yang mulai basah dan pas dia mulai menggigil kedinginan datanglah bapak kosnya menyelimutinya dengan jarik baru yang masih kering, bapak ini juga yang kemudian mengijinkannya bekerja jadi pembantu, bersih-bersih, ngepel, di rumahnya yang juga merangkap jadi “roemah photo”, bapak ini sangat rajin sembahyang tiap hari dia membakar hio dan memberikan sesajen tiga butir apel dan tiga butir lemon di piring plastik tapi anehnya bukan di klenteng tapi di rel kereta yang ditumbuhi bambu dan semak-semak, dia seorang cina tua dengan jenggot beruban dan jalannya lambat dan terseok-seok juga seperti terkena rematik atau tbc tulang, dia juga di hari-hari tertentu menuntun sepeda tua yang dimuati kotak kayu di belakangnya yang berisi pigura bergambar foto-foto keluarga hasil jepretannya, kamera, dan kursi lipat kecil, sepeda ini terlihat begitu berat dan benar saja, tiba-tiba si bapak cina ini jatuh karena tak kuat lagi menggeretnya dan tentu saja si pelacur berhati mulia tadi ada di dekat si cina tua berhati emas dan taat beribadah ini dan menangkap badannya pas sebelum jatuh terhempas di lantai gang yang kotor kemudian membantunya mendorong sepeda tadi ke sebuah sudut pasar yang dindingnya bercat merah dan ada kotak-kotak hitam di permukaannya tempat si cina tua ini entah sudah berapa puluh tahun menggantungkan pigura-pigura yang dia simpan di kotak kayu di atas sepedanya tadi, si pelacur membantunya menggantungkan pigura-pigura itu, mereka berdebat sebentar pigura mana di paku yang mana karena tentu saja si cina tua ini juga seorang perfectionist bahkan mungkin pula seorang artiste karena kalau tidak untuk apa dia memotret dengan kamera kotak kayu kuno dan nikon slr yang sarungnya masih terbuat dari kulit dan menyediakan background bergambar berbagai macam imaji kitsch seperti istana cina tua, taman firdaus, dan yang paling besar yang suatu hari dia bersihkan bersama si pelacur tadi, background raksasa bergambar tembok raksasa cina, karena, tentu saja, si cina tua ini sebenarnya masih punya impian untuk kembali ke negara asalnya, dia sampai di kota tua ini berpuluh tahun yang lalu dan dia masih ingat hampir terjatuh kecebur ke air pelabuhan yang hitam waktu melompat turun dari kapal, oh betapa banyak penderitaan yang dialami karakter-karakter utama film ini, tapi sekarang dia sudah tua dan berkali-kali dia menyebutkan, “saya harus menyelesaikan tugas-tugas saya,” dengan logat aneh yang membuat kita merasa tegang begitu ada firasat dia akan bicara, dan tugas apa itu dia tidak pernah mau memberi tahu si pelacur tadi yang sampai di sini sudah jadi begitu setia (ada erotic undertones tentunya, seperti di scene mandi junub setelah diperkosa tadi, tapi tentu tidak pernah diijinkan menjadi overtones karena that would be norak) hanya dia suatu hari mengajaknya menempelkan flyers tulisan tangan yg menawarkan siapa yg mau magang di roemah photonya dengan bayaran makan 3x sehari, sampai di sini tentu penonton sudah ingin sekali menjambak jenggot si cina tua ini dan berteriak, “n/kek, kelihatannya udah jelas deh siapa orang yang paling pantas jadi anak magang ini, gimana sih,” tapi kemudian ada scene audisi anak magang yang dipenuhi cameo selebriti papan atas yang dengan senang hati memerankan stereotipe mereka sendiri, dan kemudian ternyata si cina tua ini hanya mempercayai laki-laki untuk meneruskan usahanya dan kita pun menjambak rambut sendiri, kok bisa, kok bisa gajah di pelupuk mata tidak kelihatan, etc, tapi ternyata si anak magang baru yang bekas tentara ini tenyata matanya mungkin sedang mengalami gejala awal glaukoma dan dalam tugas pertamanya sebagai wedding photographer semua foto yang dia ambil gak ada yg fokus dan karena itulah sebenarnya dia dibebastugaskan, karena matanya cacat, dan sampai di sini, kita berpikir, geez, just give the goddamn internship to her already, she’s already cooking you lunch, dan pecahkan semua problema di cerita ini dengan satu kali dayung, si pelacur perlu uang dan si cina tua perlu menyelesaikan tugasnya (sampai di sini kita berasumsi tugasnya adalah menemukan penerus roemah photonya), tapi oh dunia di sini tidak segampang atau selogis itu, ingat si cina tua ini mungkin seorang artiste dan tentu dia akan sering mengambil keputusan bisnis yang tidak masuk akal, jadi ya, terpaksa si pelacur melacur lagi dan waktu dia masuk ke sebuah mobil mercy dia sempat melihat si cina tua menontonnya dari depan rumahnya, si pelacur tidak begitu kelihatan senang ketahuan telah kembali ke jalan yang tidak benar tapi kalau tidak mau ketahuan kenapa juga dia nongkrong menunggu lelaki hidung belang pas di depan kosannya, minta digaruk banget, dan besok paginya dia menyambangi si cina tua tempat penyembahannya di tepi rel kereta api dan berceramah dengan logat jawa yang dicengkok-cengkokkan, “yang penting itu yang hidup, bukan yang mati,” si cina tua hanya diam dan terus mengangguk-anggukkan ujung hionya, dan kemudian mereka berdua pergi berplesir ke pelabuhan naik kereta ekonomi karena ternyata ini termasuk salah satu “tugas yang perlu saya selesaikan” tadi (dan dia mengaku, “saya sudah lama sekali nggak naik kereta”), tugas yang enak, di pelabuhan dia bercerita tentang waktu dia hampir kepeleset kecebur ke laut waktu turun dari kapal yang membawanya dari cina ke kota ini tadi dan tentang impiannya berlayar kembali ke cina, dan siapa tahu kalau seperti yang pernah dia dengar si pelacur beneran jadi penyanyi karaoke di kapal pesiar mungkin dia bisa ikut jadi fotografer di kapal itu walaupun, “nggak bisa keliling,” (pake sepeda tua tadi maksudnya) dan di perjalanan pulang mereka berdua duduk di kursi sempit di pinggir pintu kereta yg terbuka dan angin sepoi-sepoi membuat si cina tua ngantuk dan kepalanya terkulai jatuh ke pundak si pelacur dan si pelacur mengubah posisi duduknya sedikit supaya mereka berdua lebih nyaman dan membelai dahi si cina tua itu dengan tangannya yang langsing dan berkuku rapi, tangan yang sama yang setelah sampai rumah membuka kotak kecil yang disimpan di kotak besar yang sudah diwanti-wanti tidak boleh dibuka oleh si cina tua, dan ternyata di dalam kotak kecil itu tersimpan segepok foto-foto tua hitam putih yang diikat dengan karet gelang merah, foto rel kereta yang melengkung ke pojok atas (portrait mode), kursi studio dan kamera di sisinya, dan foto-foto yang tadinya kelihatan seperti patung-patung papier mache tapi ternyata memang patung-patung papier mache berbentuk potongan kaki, tangan, badan tanpa kepala, kepala tanpa badan, i must admit these photos look kinda cool, walaupun sangat terganggu dengan pikiran bahwa ketebak banget sih, pasti dulu istrinya ketabrak kereta api makanya dia suka sembahyang di rel itu, dan ternyata memang benar karena si tua tiba-tiba keluar dari kamarnya dan memergoki si pelacur dengan foto-foto seram yang tersebar seperti cacahan (haha) puzzles di atas kotak besar dan kali ini tidak marah atau merajuk malah membantu si pelacur menyelesaikan puzzle film ini: ya itu tubuh istri saya dan anak saya, saya yang memotretnya, pagi itu saya memutuskan untuk meninggalkan mereka karena saya muak dengan kewajiban meneruskan usaha roemah photo ini dan kemudian beralihlah film ini seakan-akan belum cukup kurang forward momentum ke sebuah flashback si tua muda memandang istrinya yang cantik sedang menyetrika kemejanya dan anaknya bermain pesawat-pesawatan di sampingnya dan tentu saja roman wajah si tua muda itu penuh dengan permintaan maaf dan istrinya seakan-akan tidak punya mata di belakang kepalanya kemudian si tua di gerbong kereta yang sama dengan yang ia tumpangi dengan si pelacur tadi dengan slr tergantung di lehernya dan kereta melaju kencang tapi tiba2 gluduk!, kereta melindas sesuatu dan seseorang menarik tuas rem darurat dan semua penumpang turun termasuk si tua muda dan dia jongkok mengamati sepotong tangan yang darahnya terlihat terlalu terang seharusnya mereka pakai heinz jangan abc, menarik gelang di pergelangannya dan sadar, ya itu tangan isterinya, kemudian bangkit dan mulai memotret potongan-potongan, cacahan-cacahan tubuh itu supaya nan tanpa t achnas bisa membuat sebuah sinetron penuh hipermelodrama dan orang tertabrak kereta dengan kedok sebuah art movie ultra indie tentang kesendirian, tekanan meneruskan bisnis keluarga, apa efeknya menyimpan rahasia terlalu lama, dan sebuah hubungan cinta lintas budaya yang tak jadi terjadi, atau apa sudah terjadi tapi mereka tidak menyadarinya?, ya pokoknya bikinlah sedikit ambigu biar gotheborg dan hubert bals fund menurunkan dananya.

negeri di bawah jagal

membandingkan negeri di bawah kabut (the land beneath the fog) karya shalahuddin siregar dengan jagal (the act of killing) karya joshua oppenheimer mungkin terdengar seperti usaha yang mengada-ada kalau tidak sia-sia. selain genre-nya yang sama-sama dokumenter, setting-nya yang sama-sama di indonesia dan judulnya yang sama-sama bilingual :p, rasanya tidak ada lagi hal yang sama atau mirip pun di antara kedua film ini. namun mari kita lihat lebih dalam lagi.

pertama-tama, jagal dan negeri di bawah kabut kedua-duanya dihantui oleh konsep abstrak yang namanya sendiri tidak pernah disebutkan sepanjang film. dalam kasus jagal, konsep abstrak itu, yang disebutkan berulang-ulang di review, op-ed, esei, tweets, status updates facebook yang membahas film ini, adalah impunitas. impunitas di sini berarti lolosnya para jagal ‘65 dari jeratan hukum, baik hukum formal maupun, kalau memakai bahasa berita-berita kriminal di majalah dan koran indonesia, hukum preman “diadili oleh masyarakat.” seperti kata adi zulkadry, salah satu jagal di film itu, “seperti diizinkan… kita bunuh orang, kita nggak dihukum.”

sementara itu, sebuah konsep abstrak juga menghantui negeri di bawah kabut (dan kehidupan karakter-karakter di dalam film ini). namanya juga disebutkan di diskusi-diskusi tentang film ini tapi tentu kita tidak mendengarnya sesering kita mendengar kata “impunitas” akhir-akhir ini: climate change. frase “climate change” tidak ada dalam kosa kata penduduk desa genikan di kaki gunung merbabu, yang berbicara memakai bahasa jawa smorgasbord yang susah dimengerti oleh orang jawa priyayi kauman macam saya. mereka cuma bisa bingung dan bertanya-tanya ketika kalendar jawa mereka yang biasanya akurat memprediksi musim tiba-tiba mulai meleset, panen mereka jadi gagal, dan kehidupan mereka jadi terancam.

kedua film ini berargumen bahwa negara berperan banyak untuk melestarikan hantu impunitas dan climate change. orde baru membagi kuasanya kepada jagal-jagal ’65 seperti anwar congo di seantero nusantara, kuasa yang juga datang dalam bentuk uang (“bukan jadi gila, jadi kaya mereka,” komentar seorang teknisi TVRI medan tentang anwar congo & co), sehingga mereka mampu menjaga ketotalan impunitas mereka, baik dalam hukum, masyarakat, sejarah, maupun di dalam kepala mereka sendiri.

sementara itu, genikan menjadi saksi bagaimana pemerintah post-orba telah merusak kehidupan petani desa dengan di satu sisi mengimingi mereka dengan mimpi-mimpi indah kapitalisme seperti kredit murah motor tiger, sementara di sisi lain mengutuk mereka menjadi petani miskin tujuh turunan dengan membiarkan harga panen mereka terjun bebas dengan tidak memberikan proteksi sedikit pun terhadap jeratan-jeratan kapitalisme global (kita bisa melihat climate change sebagai salah satu efek jangka panjang dari kapitalisme dan revolusi industri sejak akhir abad 18).

negeri di bawah kabut tidak secara langsung (tidak selangsung jagal paling tidak) memberitahu penonton tentang peran busuk negara dalam menghancurkan kehidupan masyarakatnya. namun dengan sedikit pengetahuan umum dan kemampuan membaca ironi/reading between the lines, tentu kita bisa menyimpulkan bahwa harga wortel petani genikan bisa terjun bebas salah satunya karena pemerintah selama ini telah tanpa ampun membanjiri pasar lokal di seantero nusantara dengan wortel impor. mereka juga tidak melakukan apa-apa untuk membantu petani membeli pupuk dan obat yang makin banyak mereka butuhkan karena iklim yang berubah, sehingga biaya produksi makin naik, sementara harga jual makin turun, dan keuntungan makin tipis, malah rugi!

dalam salah satu adegan paling menyindir tapi halus dan puitis ala jawa di film ini (i.e., jadi gampang kelewatan maksudnya :p), petani-petani genikan menyewa mobil pickup untuk mengangkut hasil panen mereka ke pasar. jalan yang dilalui mobil itu masih jalan tanah bergelombang. salah satu dari petani itu menyeletuk, pemerintah dulu berjanji mengaspal jalan itu, tapi janji itu belum ditepati. penonton yang cermat akan diingatkan kepada adegan pemilu (pilkada?) sebelum adegan itu, waktu partai yang akhirnya menang (PDI-P?) berjanji akan mengaspal jalan itu tadi. satu-satunya andil pemerintah di genikan adalah menebar janji kosong!

walaupun cara mereka berbeda—jagal dengan cara yang frontal, negeri di bawah kabut dengan cara yang halus, bahkan puitis—kedua film ini sama dalam satu hal: dua-duanya adalah sebuah j’accuse terhadap NKRI.

hal yang kedua yang menarik untuk diperbandingkan adalah format kedua film ini—dan reaksi penonton terhadapnya. keduanya adalah film dokumenter, namun dengan gaya yang sangat berbeda.

yang sering dibahas tentang jagal adalah muatan sejarah dan politiknya yang sangat serius dan mengerikan, namun ironisnya format film jagal justru berhutang banyak pada format bercanda mockumentaries. pertama kali menonton jagal, saya diingatkan kepada waiting for guffmann, mockumentary karya christopher guest, berformat “teater di dalam film” (atau film di luar teater?), mirip sekali dengan format “film di dalam film” (atau film di luar film?) di jagal. waiting for guffmann dinarasikan sebagai sebuah film doku(mocku)menter tentang proses pembuatan sebuah pertunjukan (mock) teater amatir yang distutradarai corky st. clair (diperankan oleh christopher guest) di sebuah kota red-neck udik di missouri, sementara jagal diceritakan sebagai sebuah film dokumenter tentang pembuatan film amatir “arsan & aminah” karya anwar congo & co (actual, real people di medan kota). kedua film ini, seperti layaknya mockumentaries, mentertawakan kebodohan tokoh-tokoh di dalamnya. dramatic irony berterbaran di mana-mana di kedua film ini. penonton sadar setiap kali herman koto (anak buah anwar congo) atau corky st. clair bertindak bodoh dan/atau egois dan/atau dua-duanya, tapi karakter-karakter itu sendiri tidak sadar, dan penonton pun tertawa, atau meringis miris.

di dekat akhir film jagal, anwar congo, yang menurut film ini mungkin sudah membunuh lebih dari 1000 orang dengan tangan sendiri, bertanya kepada joshua oppenheimer yang sedang mewawancaranya, “apa mungkin, saya itu sudah berdosa?” bukankah sebuah ironi yang mahabesar jika seseorang di negeri yang walaupun di bawah kabut tapi masih berketuhanan yang maha esa ini, masih juga bisa mempertanyakan ia sebenarnya berdosa atau tidak, lebih dari 40 tahun setelah ia membunuh beribu-ribu orang!?

waktu saya mengupload link trailer jagal dari youtube di wall facebook saya, beberapa teman saya dari luar indonesia yang akrab dengan format mockumentaries berkomentar, “wow, gotta see this, i can’t work out if it’s for real though,” dan semacamnya. yang ironis di sini adalah bahwa format yang dipilih joshua oppenheimer untuk menyajikan jagal—sebuah film non-fiksi yang menceritakan bagaimana pelaku-pelaku sejarah menciptakan fiksi tentang kehidupan mereka sendiri, dan yang ingin mengungkap bagaimana imaginasi mereka telah berhasil membuat mereka bingung sendiri mana yang fiksi dan mana yang non-fiksi—berhasil membuat penonton atau calon penonton bingung tentang batasan antara fiksi dan non-fiksi itu sendiri. format jagal ikut membantu menyampaikan argumen sutradaranya kepada penonton secara langsung, dengan membuat mereka bingung.

sementara itu, negeri di bawah kabut adalah sebuah film dokumenter bergaya fly-on-the-wall/cinéma direct yang menghilangkan kamera dari benak penonton dan seperti yang dijelaskan shalahuddin siregar setelah pemutaran film ini di kineforum suatu siang beberapa bulan lalu, dari benak subyek film ini sendiri. ia dan kameranya (dan seorang soundman) telah tinggal begitu lama dengan para penduduk desa genikan, dan telah mengambil begitu banyak footage, sehingga para penduduk desa itu lama-lama sudah lupa mereka sedang difilmkan. sangat berbeda dengan jagal yang menjelaskan dengan eksplisit lewat teks di awal film (bukan di luar film itu sendiri—lewat wawancara dengan sutradaranya misalnya:)) bahwa film ini akan berisi hasil pendokumentasian kru film joshua oppenheimer atas proses pembuatan film arsan & aminah oleh kru film anwar congo & co. dalam jagal, penonton dibikin super-sadar akan kehadiran kamera, sutradara, dan “film (dokumenter)” itu sendiri dalam “kenyataan” yang dipaparkan di layar.

sampai-sampai seorang teman saya di facebook, sebut saja namanya anonimus :p, menulis status update, “kalau yang bikin jagal bukan bule, anwar congo & co. actingnya bakal lain nggak ya?” tidak perlu ngomong tentang kemungkinan jawaban pertanyaan ini dulu (walaupun di edisi khusus majalah tempo yang meniru jagal mewawancarai algojo-algojo ’65 di tempat-tempat lain di indonesia (dengan wartawan yang non-bule, saya asumsikan), kita bisa melihat kalau kebanyakan algojo-algojo itu sama gung-ho dan antusiasnya menyombongkan kekejaman mereka). yang penting di sini adalah bahwa yang mendorong teman saya menulis status update ini (antara lain) adalah kesuper-sadarannya akan film jagal sebagai sebuah “film”, lengkap dengan kru dan segala tetek bengek perfilman yang lain, termasuk struktur narasinya. di dalam jagal sendiri, berkali-kali dipertontonkan alat-alat yang dipergunakan untuk membuat film arsan & aminah, dari clapper sampai kamera yang di satu adegan dikendarai oleh anwar congo sendiri, sebagai semacam verfremdungseffekt untuk mengingatkan penonton bahwa ada bangunan film dalam kenyataan yang sedang mereka tonton dan bahwa setiap penonton harus sadar akan efek dari bangunan film itu terhadap kenyataan yang dikemasnya.

sementara itu, di sesi wawancara dengan shalahuddin siregar yang sudah saya ceritakan tadi, ada beberapa orang yang justru mempertanyakan ke-vérité-an (pun intended, i’m drawing a distinction between cinéma direct vs. cinéma vérité—hubungi @yuki_aditya untuk wiki entry lebih lanjut :p) film negeri di bawah kabut, yang setengah menuduh mempertanyakan apakah subyek di film dokumenter ini benar-benar subyek yang “pasif”, sekedar diobservasi, atau aktor yang diarahkan oleh si sutradara.

kita bisa menyalahkan diet film “dokumenter” penonton indonesia untuk pertanyaan-pertanyaan macam ini. mereka terlalu terbiasa dengan gaya “dokumenter” ala eagle award (lucunya, shalahuddin siregar adalah salah satu finalis eagle award pertama di tahun 2005) yang harus mendeklarasikan dengan lantang ke-“dokumenter”-annya, ke-“non-fiksi”-annya, biasanya dengan (harus) adanya wawancara langsung dengan subyek menghadap kamera dan suara pewawancara di belakangnya.

namun yang penting di sini adalah bahwa dengan teknik narasi yang berbeda pun—bisa dibilang bertolak belakang dengan jagal—negeri di bawah kabut juga diragukan ke-“real”-annya oleh sebagian penonton. apakah memang benar keadaan di genikan separah itu? dan kalaupun separah itu, apakah genikan bisa menjadi mikrokosmos pengkorupsian negara kesatuan republik indonesia oleh pemerintahnya sendiri?

menurut saya, kesulitan sebagian penonton untuk menerima kenyataan yang disodorkan baik negeri di bawah kabut maupun jagal pada akhirnya tidak disebabkan oleh dilema teoretis dalam kepala mereka tentang mana yang lebih vérité—mockumentary atau documentary, cinema vérité yang memplot sebuah set-up bagi subyeknya (mempersilahkan anwar congo & co memproduksi arsan & aminah bisa dilihat sebagai set-up seperti ini) atau cinéma direct yang strictly observational—tapi lebih karena kenyataan yang disodorkan oleh negeri di bawah kabut maupun jagal kedua-duanya terlalu mengerikan.

jagal memaksa kita menerima kenyataan bahwa negara ini diperintah dan dibully oleh pa’-skip-pap-pa’ preman-preman yang tidak tersentuh hukum, sementara negeri di bawah kabut dengan puitis dan mengharukan membuat kita menyadari bahwa pem-bully-an ini tidak selalu berbaju loreng-loreng oranye, tapi juga bisa berkedok mimpi-mimpi indah kapitalisme (kredit motor tiger, DP hasil panen, bunga uang sekolah anak). kedua-duanya adalah j’accuse terhadap NKRI yang membuat penonton bingung dan takut menerima kenyataan yang memang sepertinya terlalu mengerikan.

MENULIS PUISI NIRWAN DEWANTO ITU GAMPANG

“gerinjam zarah zuhrah suluh ara-ara berjelatang timpas melur perigi terpiuh balam beting mirah menyigi lesung kalis mengumbai tusam kalibut pal akanan mengampu badam tohor nyiru kiambang mara malai bahang ungkai renyai temurui resam swami zahir bersulih gelagah limas ning-kuning jelai rami senarai suam miang saliara bengkarung lisut gergasi lencir aluh kana mencekuh bersinau-sinau menguar matra segantang tersadai masin sawan duli buli-buli selekeh semenjana”

di atas adalah daftar kata-kata arkaik dan atau plain obscure yang sering digunakan nirwan dewanto dalam himpunan ya himpunan ya bukan kumpulan! puisinya jantung lebah ratu. gak perlu obrak-abrik kbbi daring untuk cari artinya apa, belungsing nanti. tinggal tambahi kata ganti orang pertama kedua atau ketiga, verbs, adverbs, adjectives, dll, sesuka anda (asal jangan lupa pakai “menjelma” tanpa “jadi”!) dan susun dalam bentuk prosa biar gak dituduh cuma nulis puisi karena sebenarnya gak bisa nulis prosa. jangan lupa dedikasikan buat seseorang yang dari namanya pasti jelas nggak mungkin salah seorang penyair très obscure dari sebuah negeri poskolonial. contohnya seperti ini:

MANGGIS
—Bongekile Joyce Mbanjwa

sembilan puluh sembilan depa di sana gerinjam zarah menyulut zuhrahmu, o semangka. tapi kau hanya suluh, paduka, dan aku hanya ara-ara berjelatang yang timpas, melur di hadapan perigimu yang agung. hanya. terpiuh aku oleh balammu, paduka, sejuta beting, sekian mirah yang menyigi lesung, kalis oleh tusammu, paduka.

biar aku mengumbai kalibut dalam pal akanan, mengambu badam tohor yang nyiru dalam kiambangmu, o lembu jantan. maramu yang malai, bahangmu yang ungkai, biarkan renyai dalam telur biru yang menjelma matamu. lembu jantan, terima kasih. temuruilah resam swamimu, biarkan para zahir bersulih dalam gelagas limas yang mencekam tandukmu.

restoran turki, terima kasih. aku akan selalu mengingat limasmu yang ning-kuning, jelai roti tangkupmu yang bertabur rami. biarkan senarai marzipan menjelma suam dalam miang saliaramu. bengkarung, terima kasih. jantungku memang lisut gergasi yang lencir hanya dalam aluh kanamu. sekali lagi bengkarung, terima kasih. hanya.

seratus depa di sana, paduka, aku masih mencekuh jubah tanjung yang bersinau-sinau dan menguar matra segantang demi masin yang tersadai dalam kaki besi beranimu. mukaku masin, paduka. sembuhkan sawan yang mencengkeram duliku, timpaskan buli-buli selekeh dalam dada segi enamku! aku tak lagi semenjana, paduka. hanya.

ayo ayo! make your own jantung lebah ratu! yang paling keren dapat belungsing semenjana!

aku dan zakarta

aku tidak bisa menulis dalam bahasa indonesia karena.

sore ini aku dan zakarta menonton sebuah film tentang papua dan lanskap geometris pikiranku yang berbanding terbalik dengan sinergi kepalsuan dan kebimbangan zakarta.

aku dan zakarta berjalan dalam naungan payung esprit menuju kehangatan yang dipaksakan di lobby eks-eks-wan.

aku dan zakarta senang menemukan blog yang puitis tanpa membuat merapal: aku ini binatang cyin aku ini binatang cyin.

aku dan zakarta teringat akan mbak twosmokingbarrrels sebelum hatinya terbelah dua dan di antara kedua pecahannya sekarang ada pohon oak yang malas tumbuh meranggas.

kata orang aku dan zakarta dan kami semua manusia urban borjuis, nggragas.

sungguh aku dan zakarta ingin seperti dia, dia, dan dia, yang setia menunggu kopaja ac di tepi pantai lasiana.

aku dan zakarta sungguh suka menulis tanpa spasi karena dengan begini memberi kami ilusi tentang depth, dan pake ati.

aku dan zakarta suka waiting for mimpi, tentang kardus-kardus mie sedaaap yang prosais.

sudah lama tidak ada waktu untuk puisi yang memerlukan kedalaman, jelasku dan zakarta kepada jilbabnya yang terlalu sadis.

aku dan zakarta menganggap semua ini hanyalah sebuah latihan untuk melemaskan kembali jari-jemari, dalam usaha membebaskan otak kanan yang ingin ke kiri, dan bahasa indonesia yang tak lagi ingin berlari.

art bitch

sumtimes methinks my progress as a poet (yakali) has been severely curtailed/put to a deadstop by my addiction to good conversations. i’ve met some amazing artists, dancers, poets, trapeze artists, and some of them are such boring conversationalists but they produce such amazing work! i feel only despair when later on i find their amazing work after thinking man, what a boring cunt, when trying to engage them in a conversation over beer/coffee/roti bakar. why do i put so much importance in having good conversations? it’s as if i feel there is something wrong in someone if s/he cant make me laugh/intrigue me. and it is as if i’d rather spend all my energy prepping for crazy conversations rather than working on my own art.