Opera Jawir (Extremely Intertextual & Incredibly Close Reading)

Opera Jawa

Sutradara: Garin Nugroho

Ditonton di: Blitz Megaplex, Grand Indonesia

DRAMATIS PERSONAE

Siti: penari, muda, 20-an, Miss Indonesia material
Suami Siti: saudagar, perajin gerabah, 40-an awal, kolektor topeng
Mas-mas Gondrong #1: penari, murid salsa Vena Melinda, tato motif Transformers mengelilingi udel
Mas-mas Botak: PA Siti, Hindu (kelihatannya, karena bawa sesajen terus), jelas banci walaupun tak pernah secara eksplisit ditunjukkan
Satria Ber-ukulele aka Slamet Gundono sebagai Dirinya Sendiri: trubadour obese bertopi Marlboro, Anna Nicole Smith would’ve killed for those tits!
Ibu: ibu Mas-mas Gondrong #1, guru tari, Katolik, pintar menyulam
Mas-mas Gondrong (Gerombolan): preman, preman pasar, breakdancers

ACT I

Siti menikah dengan Suami. Diramal di tengah alun-alun oleh Slamet Gundono dan ukulelenya, pakai medium hati babi. ‘Inilah cerita Rama dan Sinta,’ katanya. Jadi Siti = Sinta di cerita Ramayana, Suami = Rama, Mas-mas Botak = Lesmana. Means nothing to non-Javanese.

Rama pergi menjual gerabah naik gerobak warna-warni ditarik sapi. Pesan kepada Lesmana, ‘Jaga istriku.’ Lesmana manggut-manggut bertanya dalam hati, kenapa dia menyanyikan semua ini? Di cerita Ramayana asli, Rama diminta Sinta memburu rusa yang cantik sekali (umpan Rahwana aka Dasamuka, raksasa bermuka sepuluh—musuh Rama, yang bernafsu merebut Sinta), jadi di Opera Jawa uang=rusa, dan Rama mengejarnya atas kemauan sendiri.

Cut to: Siti keluar dari bilik tempat tidur di sebuah rumah spartan bergaya Jawa dengan muka ketakutan, dikejar barongsai berbadan selimut batik dan berkepala topi bambu (lebih mirip tikus raksasa), kepala naga/tikus sempat melompat ke tiang dan bertengger di situ kira-kira lima detik disangga kaki-kaki yang lain. Seperti di film-film silat tapi tanpa special effects. Siti mengambil topi bambu/kepala naga/tikus tadi kemudian mendekapnya, memandang ke dalamnya lama-lama, kemudian memakainya untuk menutupi sepiring gado-gado dengan kerupuk merah.

Sejauh ini, kelihatannya barongsai tadi=sesuatu yang mengejar-ngejar Siti (ya iyalah, kan memang mengejar dia), tapi maksudku, sesuatu yang metafisikal, dia kelihatannya ingin menjadi bagian dari barongsai itu, ingin memasang topi itu di kepalanya sendiri.

Waktu Siti sendiri di rumah dia mengimprovisasi sebuah suite contemporary dance sebentar (karena Miss Indonesia sebenarnya tidak bisa nari), menempelkan topi di dadanya seperti susu, di mukanya seperti topeng, sementara PA-nya menutupi semua jendela dan pintu di latar belakang.

Agak lebih jelas sekarang, Siti kelihatannya dikurung di rumahnya sendiri, merpati di sangkar gerabah, tapi belum begitu jelas kenapa. Sampai seorang bapak tua datang dan menembangkan undangan supaya Siti MENARI LAGI. Setelah menghidangkan teh di cangkir porselen dan baki besi, PA berjalan melintasi kamera dan berhenti menutupi setengah layar, mendengarkan tawaran bapak tua. Timbul konflik batin dalam dirinya, sebagai the token banci di film ini tentu dia senang menari dan ingin Siti menerima tawaran itu, tapi dia sudah berjanji akan mematuhi pesan Rama untuk menjaga istrinya, yang tentu tanpa diucapkan sebagai orang Jawa dia tahu, itu termasuk mecegahnya menari lagi.

Cut to: Ibu menari dan menembang di antara orang-orang yang menyetrika dan menjahit pakaian (laundry? karena ini di Jawa, 5 a jour? a semaine? windu?) tentang bagaimana tubuhmu adalah jiwamu dan menari adalah hidupmu.

PA menenteng sesajen dan dupa sambil menari (gaya Hindu-Bali) berjalan keluar rumah diikuti Siti. Menuju ke pusat lingkaran labirin yang dibuat dari sabut kelapa. Siti ditinggal di situ. Tiba-tiba muncul segerombolan topi raksasa yang digerakkan penari-penari yang bersembunyi di bawahnya. Mereka kelihatan dan bergerak seperti tikus. Menuju pusat labirin. Siti menggebuk mereka dengan sampurnya (dia sudah mulai menari lagi!), tapi sia-sia, akhirnya salah seorang dari tikus/topi raksasa itu berhasil menjerat Siti di bawah topi/simbol tikus/kejahatan/spirit of the dance-nya.

ACT II

Rama kembali dan gerobaknya masih penuh dengan gerabah. Di pasar Gerombolan Mas-mas Gondrong menyerbu kios daging, memecahkan kaca dan mengambil daging yang bergelantungan di etalase.

Cut to Mas-mas Gondrong #1 muncul dari balik tubuh sapi yang sudah dikuliti, menggantung di rumah jagal, kemudian menari di lantai yang merah tersemir darah, dipenuhi topeng dan lilin-lilin besar berwarna merah (aromatherapy untuk menyamarkan bau darah?), diakhiri dengan menimang kepala sapi yang digeletakkan di antara topeng dan lilin-lilin itu. Meraup darah kental dari pangkal lehernya. No animals were harmed during the making of, etc.

Cut to Siti tidur dengan Rama di tempat tidur besi bertiang kelambu tapi tanpa kelambu. Tidak ada apa-apa lagi di kamar itu selain lemari tua dengan cermin oval di salah satu daun pintunya. Classic shot dari atas mereka. Siti merangkul Rama. Rama menepis tangannya. Siti membuka t-shirt Rama, mencoba mencium putingnya, Rama menarik t-shirtnya (warna merah, sama dengan warna baju Siti) sampai menutupi kepalanya, seperti topeng. Berdiri di tempat tidur dan menari (contemporary style) dengan jari-jari yang bergerak seperti kaki tikus. Siti berusaha menangkapnya. Rama menolak, melawan, menghindar. Bayangan mereka terlihat di cermin oval di daun pintu lemari tadi.

Rama turun dari tempat tidur. Siti menangis dalam tembang, sesuatu seperti, ‘Api (merah, tentunya) telah padam dari hidup kita, sekarang kita hanya binatang, bukan lagi manusia’ (hanya pakaian/topeng kita saja yang masih penuh api/berwarna merah).

Datanglah Mas-mas Gondrong #1! Ia melenggok masuk ke bawah kulot oversized Siti, kepalanya yang dibalut kulot meliuk-liuk di selangkangan gadis yang lagi horny ini, tangan Siti menuntunnya ke titik-titik yang tepat.

Rama berbalik badan, dan bergabung dalam menage a trois bisu ini. Mas-mas Gondrong keluar dari kulot Siti dan mulai menciumi kakinya. Ketiganya naik ke kasur dan bercinta secara simbolis dalam gerakan-gerakan akrobatik yang akan membuat hati penulis Kamasutra mendidih karena iri.

Dalam Ramayana, Rama menolak untuk bercinta lagi dengan Sinta setelah menyelamatkannya dari tangan Rahwana karena dia curiga untuk menyelamatkan nyawanya mungkin Sinta telah membiarkan dirinya dijamah Rahwana. Di sini dia tadi menolak bercinta karena kelihatannya stres karena gerabahnya tidak laku (mungkin karena krisis ekonomi, dus gerombolan pencuri daging), mungkin dia jadi impoten!, kemudian baru bergairah lagi setelah melihat cunillingus istrinya dengan seorang mas-mas gondrong yang lebih muda, rambut masih panjang tergerai lepas, perut six-pack bertato. Pertanyaan untuk para ilmuwan queer: apakah Rama bisa ngaceng lagi setelah melihat adegan cunnilingus itu, melihat istrinya begitu terangsang, atau melihat mas-mas gondrong (brondong?) yang begitu menawan itu?

Bayangan mereka berakrobat ranjang terlihat di cermin oval di daun pintu tadi.

Exit Mas-mas Brondong #1/Rahwana. Rama turun dari ranjang juga, bergerak/menari seperti tikus keluar pintu, di luar hujan, membiarkan dirinya kuyup. Too hot, baby! Too hot!

Cut to Siti di sebuh gazebo malam-malam dikelilingi lilin aromatherapy. Rahwana datang kemudian mengajaknya menari/bercinta. Tangannya bergerak-gerak terus seperti kaki tikus menuju selangkangan Siti. Siti mau, tapi malu-malu. Siti memepet Rahwana ke dinding gazebo yang berukiran naga dan ular kitsch warna-warni, matanya antara super mupeng dan jijik (kepada dirinya sendiri? Tentu). Foreplay yang berkepanjangan. Siti menembang, ‘Selingkuh, selingkuh.’ No climax. Selama itu mereka diintai oleh Mas-mas Gondrong generik yang bergerak/berbreakdance seperti kera (Hanoman?), dan hanya terlihat bayangannya.

Cut to Rama termenung di pendopo rumahnya, menembang tentang baru saja menjual sapinya, dan bagaimana sebagai kepala keluarga yang baik dia harus mencari uang bagaimanapun caranya, mungkin dia harus kembali mengolah tanah (=’lemah’=’siti’ dalam bahasa Jawa. Bukankah selama ini dia juga mengolah tanah, menjadi gerabah? Apakah berarti selama ini dia terlalu sibuk menggarap tanah menjadi gerabah, DAN LUPA MENGGARAP TANAH YANG SEHARUSNYA PALING PENTING BUATNYA, Siti(=’lemah’=tanah)!? Pastinya.

Kemudian vinyet Rama menari solo mencobai berbagai macam topeng: topeng cewek berambut kepang panjang dua, topeng pincuk daun pembungkus jajanan, topeng yang mula-mula terlihat seperti hanya sepotong kayu, baru kemudian setelah ia memutar kepalanya ke arah kamera kelihatan ternyata adalah topeng yang sedang ia buat sendiri dan baru setengah jadi. Ia mencoba berbagai macam topeng(=kepribadian=role) baru untuk keluar dari musibah yang menimpanya (dagangan tak laku, istri selingkuh, Viagra belum tersedia di Jebres). Topeng cewek? Satu pertanyaan lagi buat Mumu.

Cut to workshop gerabah Rama. Siti duduk berlumuran lumpur di meja putarnya. Rama berulang-ulang mengguyur Siti dengan lumpur cair memakai gayung dari batok kelapa bergagang panjang. Siti menembang, ‘Aku bukan tanah yang bisa kaubentuk seenakmu. Aku manusia.’ (Something like that.) Mulutnya tidak terlihat bergerak, atau lip-syncnya kurang synced. Badannya sama-sekali bergeming. SITI BENAR-BENAR TERLIHAT SEPERTI PATUNG. Rama semakin giat/bernafsu mengguyur Siti dengan lumpur. Rama terlihat terangsang, Berusaha memeluk Siti. Siti masih bergeming. Keduanya jatuh tertelungkup berlumuran lumpur di meja putar itu. Take that Patrick and Demi!

ACT III

Rahwana mengadu kepada Ibunya bahwa dia hanya berhasil menaklukkan Siti tapi tidak berhasil mendapatkan cintanya. Ia hanya ingin kembali saja ke rahim ibunya. Berbaring dalam posisi foetal dengan kepala di selangkangan Ibu/Retno Maruti. ibu menjawab, ‘Aku akan membantu.’

Ibu menyulam selimut merah. Ternyata selimut itu panjang sekali, menjulur ke luar rumah, lewat pematang sawah, candi, kali, jalan setapak, kebun bunga plastik, menuju: Siti.

Siti mengikuti selimut merah itu (di awal film, Retno Maruti menembang, ‘Ayunkan sampur selebar selimut’–inilah sampur/selimut itu!) naik sepeda Phoenix warna biru. (Phoenix=Siti rising from the ashes, bangkit dari kubur pernikahan/larangan menarinya.) Rahwana menunggu di kebun bunga, kemudian di pendopo rumahnya, layaknya pengantin. Siti berbaring di selimut/sampur raksasa itu, Rahwana berdiri mengangkanginya. Membelai muka Siti dengan jempol kakinya. Siti menepisnya. Lari keluar. Rahwana berusaha mengejar, tapi terjerat sampur/selimut raksasa merahnya sendiri yang tersangkut di tiang-tiang pendopo rumahnya (disangkutkan oleh penari-penari beksanya yang tadi mengiringi. Penari-penari beksa itu=whothefuckknows.)

Siti di rumah membuka kotak (Pandora!) berisi kostum tarinya. Memakainya, lenngkap dengan cundhuk mentul. Berlari keluar rumah, menembang, ‘Laki-laki berdada bidang, tapi tidak punya payudara yang bisa menghidupi bumi.’

Cut to rumah jagal tempat Rahwana pertama kali muncul tadi. Penuh dengan patung-patung manusia berkepala lilin merah karya Agus Suwage yang menggelantung dari langit-langit. Lilin meleleh (sumbunya di atas kepala) lewat muka, terlihat seperti air mata. Menetes seperti darah ke ujung jempol kaki.

Siti menari dengan kostum lengkapnya di bawah kain kuning berbentuk gunungan di Parangtritis. Rama bergabung. Memeluknya. Ikut menari. Mencabut cundhuk mentul Siti satu persatu. Menggenggam mereka di satu tangan. Menusukkan mereka ke punggung Siti. Suara angin pantai tiba-tiba hilang, hanya suara cundhuk mentul menembus punggung Siti yang terdengar, kemudian suara Rama berkali-kali menusuk perut Siti dengan cundhuk mentul tadi. Jreb. Jreb. Rama mengambil hari Siti (literally!), menimangnya di tangan, menembang, ‘Oh, inilah kau hati yang dari dulu kucari. Hanya bongkahan daging warna merah.’

Rama pergi. Rumput baru tumbuh di pasir hitam tempat Siti berbaring mati tadi.

Siti menolak cinta Rahwana, melanggar larangan Rama untuk menari, menemukan dirinya sendiri. Dia tidak pernah perlu memakai topeng. Karena dia (akhirnya) mengikuti kata hatinya (hatinya sendiri, bukan hati babi, atau hati orang lain yang ia cabut dari perut). Dan ini membawanya ke kematiannya sendiri. Tapi rumput tumbuh di tempat dia mati. Dia, perempuan berpayudara (sebelum menusuknya dengan cundhuk mentul Rama menyanyi dia ‘rindu menyusup payudaramu’) dan yang mengikuti kata hatinya itu, benar-benar mampu menghidupi bumi!

PA Siti (yang tadi waktu Siti bersepeda mengikuti sampur raksasa berusaha menghalangi, jatuh ke tanah, kemudian menembang dengan suara cempreng untuk pertama kalinya dan terakhir, ‘Aku sudah menunaikan tugasku.’ (Typical Lesmana dan Lesmana-type characters.) menempatkan sesajen di kaki candi di atas batu volkanik yang diukir jadi TV Polytron 14 inci. Suara pembawa berita: ‘Rama (actually, I think his name is Setyo) ditangkap kemarin sore setelah membunuh istrinya dan mengambil hatinya. Waktu ditangkap, tersangka sempat berteriak, “Cinta (atau kebenaran?) hanya bisa ditemukan dalam hati.”’

Kemudian aku lupa bagaimana tapi film ini diakhiri dengan adegan perang di Parangtritis yang mengingatkanku akan adegan perang kolosal di Saur Sepuh: Satria Madangkara, dan bayangan wayang Rama bertempur melawan Rahwana in the foreground. Rama menang. Rahwana muncul lagi. Rama kalah. Exit Rama. Rahwana diam di layar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s