The Intern

The Photograph

Sutradara: Nan Achnas (what happened to the T.?)

Ditonton di: Megaria 21 sebelum dipugar jadi XXI, mid-2007

Seorang pelacur diusir dari kosnya dan berjalan terseok-seok di gang-gang sempit dan becek menyeret laundry bags plastik berisi semua hartanya di dunia ini, menemukan kamar kosong penuh sampah dan kecoa yang kemudian ia sewa dengan uang panjer setengahnya karena uangnya sudah habis untuk dikirimkan ke anak dan neneknya yang bertempat tinggal di sebuah tempat berkode area telpon lain yang mestinya jauh karena dia sudah bertahun-tahun tidak ketemu anak dan neneknya yang sakit-sakitan dan harus masuk rumah sakit makanya dia bulan ini harus kirim uang lebih dan waktu si pelacur ini menelpon dia minta maaf berkali-kali sama anaknya harus nelpon malam-malam harusnya dia sudah bobok tapi malam lewat jam sembilan tarif telpon baru murah dan maaf uang ibu habis, nak, dan sebelum dia sempat say goodbye kepada anaknya germonya sudah menggedor-gedor pintu kaca wartel itu dan menyeretnya ke sebuah kamar di “hotel purnama” dan di situ dia diperkosa tiga pria sampai wajahnya lebam dan berdarah-darah, begitu siuman dari pingsannya dia melarikan diri ke rumah kosnya dan duduk di sumur dengan pose erotis dan sibin dengan loofah kasar yang dia harapkan akan mengeruk semua dosa dan najis dari kulitnya, malam itu dingin tentu dan dia hanya mengenakan jarik tipis yang mulai basah dan pas dia mulai menggigil kedinginan datanglah bapak kosnya menyelimutinya dengan jarik baru yang masih kering, bapak ini juga yang kemudian mengijinkannya bekerja jadi pembantu, bersih-bersih, ngepel, di rumahnya yang juga merangkap jadi “roemah photo”, bapak ini sangat rajin sembahyang tiap hari dia membakar hio dan memberikan sesajen tiga butir apel dan tiga butir lemon di piring plastik tapi anehnya bukan di klenteng tapi di rel kereta yang ditumbuhi bambu dan semak-semak, dia seorang cina tua dengan jenggot beruban dan jalannya lambat dan terseok-seok juga seperti terkena rematik atau tbc tulang, dia juga di hari-hari tertentu menuntun sepeda tua yang dimuati kotak kayu di belakangnya yang berisi pigura bergambar foto-foto keluarga hasil jepretannya, kamera, dan kursi lipat kecil, sepeda ini terlihat begitu berat dan benar saja, tiba-tiba si bapak cina ini jatuh karena tak kuat lagi menggeretnya dan tentu saja si pelacur berhati mulia tadi ada di dekat si cina tua berhati emas dan taat beribadah ini dan menangkap badannya pas sebelum jatuh terhempas di lantai gang yang kotor kemudian membantunya mendorong sepeda tadi ke sebuah sudut pasar yang dindingnya bercat merah dan ada kotak-kotak hitam di permukaannya tempat si cina tua ini entah sudah berapa puluh tahun menggantungkan pigura-pigura yang dia simpan di kotak kayu di atas sepedanya tadi, si pelacur membantunya menggantungkan pigura-pigura itu, mereka berdebat sebentar pigura mana di paku yang mana karena tentu saja si cina tua ini juga seorang perfectionist bahkan mungkin pula seorang artiste karena kalau tidak untuk apa dia memotret dengan kamera kotak kayu kuno dan nikon slr yang sarungnya masih terbuat dari kulit dan menyediakan background bergambar berbagai macam imaji kitsch seperti istana cina tua, taman firdaus, dan yang paling besar yang suatu hari dia bersihkan bersama si pelacur tadi, background raksasa bergambar tembok raksasa cina, karena, tentu saja, si cina tua ini sebenarnya masih punya impian untuk kembali ke negara asalnya, dia sampai di kota tua ini berpuluh tahun yang lalu dan dia masih ingat hampir terjatuh kecebur ke air pelabuhan yang hitam waktu melompat turun dari kapal, oh betapa banyak penderitaan yang dialami karakter-karakter utama film ini, tapi sekarang dia sudah tua dan berkali-kali dia menyebutkan, “saya harus menyelesaikan tugas-tugas saya,” dengan logat aneh yang membuat kita merasa tegang begitu ada firasat dia akan bicara, dan tugas apa itu dia tidak pernah mau memberi tahu si pelacur tadi yang sampai di sini sudah jadi begitu setia (ada erotic undertones tentunya, seperti di scene mandi junub setelah diperkosa tadi, tapi tentu tidak pernah diijinkan menjadi overtones karena that would be norak) hanya dia suatu hari mengajaknya menempelkan flyers tulisan tangan yg menawarkan siapa yg mau magang di roemah photonya dengan bayaran makan 3x sehari, sampai di sini tentu penonton sudah ingin sekali menjambak jenggot si cina tua ini dan berteriak, “n/kek, kelihatannya udah jelas deh siapa orang yang paling pantas jadi anak magang ini, gimana sih,” tapi kemudian ada scene audisi anak magang yang dipenuhi cameo selebriti papan atas yang dengan senang hati memerankan stereotipe mereka sendiri, dan kemudian ternyata si cina tua ini hanya mempercayai laki-laki untuk meneruskan usahanya dan kita pun menjambak rambut sendiri, kok bisa, kok bisa gajah di pelupuk mata tidak kelihatan, etc, tapi ternyata si anak magang baru yang bekas tentara ini tenyata matanya mungkin sedang mengalami gejala awal glaukoma dan dalam tugas pertamanya sebagai wedding photographer semua foto yang dia ambil gak ada yg fokus dan karena itulah sebenarnya dia dibebastugaskan, karena matanya cacat, dan sampai di sini, kita berpikir, geez, just give the goddamn internship to her already, she’s already cooking you lunch, dan pecahkan semua problema di cerita ini dengan satu kali dayung, si pelacur perlu uang dan si cina tua perlu menyelesaikan tugasnya (sampai di sini kita berasumsi tugasnya adalah menemukan penerus roemah photonya), tapi oh dunia di sini tidak segampang atau selogis itu, ingat si cina tua ini mungkin seorang artiste dan tentu dia akan sering mengambil keputusan bisnis yang tidak masuk akal, jadi ya, terpaksa si pelacur melacur lagi dan waktu dia masuk ke sebuah mobil mercy dia sempat melihat si cina tua menontonnya dari depan rumahnya, si pelacur tidak begitu kelihatan senang ketahuan telah kembali ke jalan yang tidak benar tapi kalau tidak mau ketahuan kenapa juga dia nongkrong menunggu lelaki hidung belang pas di depan kosannya, minta digaruk banget, dan besok paginya dia menyambangi si cina tua tempat penyembahannya di tepi rel kereta api dan berceramah dengan logat jawa yang dicengkok-cengkokkan, “yang penting itu yang hidup, bukan yang mati,” si cina tua hanya diam dan terus mengangguk-anggukkan ujung hionya, dan kemudian mereka berdua pergi berplesir ke pelabuhan naik kereta ekonomi karena ternyata ini termasuk salah satu “tugas yang perlu saya selesaikan” tadi (dan dia mengaku, “saya sudah lama sekali nggak naik kereta”), tugas yang enak, di pelabuhan dia bercerita tentang waktu dia hampir kepeleset kecebur ke laut waktu turun dari kapal yang membawanya dari cina ke kota ini tadi dan tentang impiannya berlayar kembali ke cina, dan siapa tahu kalau seperti yang pernah dia dengar si pelacur beneran jadi penyanyi karaoke di kapal pesiar mungkin dia bisa ikut jadi fotografer di kapal itu walaupun, “nggak bisa keliling,” (pake sepeda tua tadi maksudnya) dan di perjalanan pulang mereka berdua duduk di kursi sempit di pinggir pintu kereta yg terbuka dan angin sepoi-sepoi membuat si cina tua ngantuk dan kepalanya terkulai jatuh ke pundak si pelacur dan si pelacur mengubah posisi duduknya sedikit supaya mereka berdua lebih nyaman dan membelai dahi si cina tua itu dengan tangannya yang langsing dan berkuku rapi, tangan yang sama yang setelah sampai rumah membuka kotak kecil yang disimpan di kotak besar yang sudah diwanti-wanti tidak boleh dibuka oleh si cina tua, dan ternyata di dalam kotak kecil itu tersimpan segepok foto-foto tua hitam putih yang diikat dengan karet gelang merah, foto rel kereta yang melengkung ke pojok atas (portrait mode), kursi studio dan kamera di sisinya, dan foto-foto yang tadinya kelihatan seperti patung-patung papier mache tapi ternyata memang patung-patung papier mache berbentuk potongan kaki, tangan, badan tanpa kepala, kepala tanpa badan, i must admit these photos look kinda cool, walaupun sangat terganggu dengan pikiran bahwa ketebak banget sih, pasti dulu istrinya ketabrak kereta api makanya dia suka sembahyang di rel itu, dan ternyata memang benar karena si tua tiba-tiba keluar dari kamarnya dan memergoki si pelacur dengan foto-foto seram yang tersebar seperti cacahan (haha) puzzles di atas kotak besar dan kali ini tidak marah atau merajuk malah membantu si pelacur menyelesaikan puzzle film ini: ya itu tubuh istri saya dan anak saya, saya yang memotretnya, pagi itu saya memutuskan untuk meninggalkan mereka karena saya muak dengan kewajiban meneruskan usaha roemah photo ini dan kemudian beralihlah film ini seakan-akan belum cukup kurang forward momentum ke sebuah flashback si tua muda memandang istrinya yang cantik sedang menyetrika kemejanya dan anaknya bermain pesawat-pesawatan di sampingnya dan tentu saja roman wajah si tua muda itu penuh dengan permintaan maaf dan istrinya seakan-akan tidak punya mata di belakang kepalanya kemudian si tua di gerbong kereta yang sama dengan yang ia tumpangi dengan si pelacur tadi dengan slr tergantung di lehernya dan kereta melaju kencang tapi tiba2 gluduk!, kereta melindas sesuatu dan seseorang menarik tuas rem darurat dan semua penumpang turun termasuk si tua muda dan dia jongkok mengamati sepotong tangan yang darahnya terlihat terlalu terang seharusnya mereka pakai heinz jangan abc, menarik gelang di pergelangannya dan sadar, ya itu tangan isterinya, kemudian bangkit dan mulai memotret potongan-potongan, cacahan-cacahan tubuh itu supaya nan tanpa t achnas bisa membuat sebuah sinetron penuh hipermelodrama dan orang tertabrak kereta dengan kedok sebuah art movie ultra indie tentang kesendirian, tekanan meneruskan bisnis keluarga, apa efeknya menyimpan rahasia terlalu lama, dan sebuah hubungan cinta lintas budaya yang tak jadi terjadi, atau apa sudah terjadi tapi mereka tidak menyadarinya?, ya pokoknya bikinlah sedikit ambigu biar gotheborg dan hubert bals fund menurunkan dananya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s