BANGKIT DARI LAPAK: Abdullah Harahap Dalam Kanon Sastra Indonesia

Artikel tentang Abdullah Harahap biasanya akan dimulai dengan membicarakan statusnya sebagai pengarang cerita-cerita horor murahan—dime novels-lah, stensilan-lah, picisan-lah, sastra kaki lima-lah—yang buku-bukunya dibungkus sampul bergaya ersatz Basoeki Abdullah yang murahan juga dan sampai sekarang di tukang loak pun masih dihargai murah pula. Seperti karakter-karakter malang dalam cerita-ceritanya sendiri yang biasanya tidak bisa membebaskan diri dari kutukan walaupun sudah mengunjungi berapa banyak dan jenis dukun (magi putih maupun hitam), Abdullah Harahap sepertinya juga tidak bisa melepaskan diri dari kutukan status murahan ini.

Namun upaya merestorasi nama Abdullah Harahap sudah dimulai. Februari 2010 lalu, Intan Paramadhita, Eka Kurniawan, dan Ugoran Prasad menerbitkan kumpulan cerpen (masing-masing menulis empat cerita) Kumpulan Budak Setan yang, katanya, “dengan menggunakan tema dan motif yang kerap muncul dalam karya-karya Abdullah, … menelusuri dan memaknai ulang horor dalam produksi kebudayaan di Indonesia sembari bermain di batas antara sastra dan budaya populer.”

Ketiga pengarang ini dalam pembukaan buku mereka berbicara dengan bersemangat tentang “ruang-ruang subversif” (bukan cuma ruang-ruang bawah tanah), “apropriasi modus realisme Barat”, dan “distopia” dalam cerita-cerita Abdullah Harahap (unsur-unsur sastrawi yang mungkin tidak disangka/seharusnya ada dalam karya sastra kaki lima) dan dengan cara masing-masing berusaha menghidupkan kembali unsur-unsur tersebut dalam cerita mereka sendiri (dan jika berhasil, saya rasa mungkin harapannya adalah paling tidak membuktikan bahwa sastra dan genre horor tidak mutually exclusive).

Tapi pembuktian ini untuk siapa? Siapa yang perlu pembuktian bahwa Abdullah Harahap sebenarnya adalah penulis yang baik, selain juga populer? Tentu bukan masyakarat umum/pembaca biasa/pelanggan taman bacaan. Mereka sudah lama menggemari Abdullah Harahap, tidak perlu pembuktian lagi.

Bahkan, akhir-akhir ini Abdullah Harahap kembali hip, sebagai salah satu merek kitsch cool yang digemari kaum menengah terutama di Jakarta. Seperti juga anak-anak indie Jakarta yang sudah kehilangan akal plat tujuh inci Pavement mana lagi yang akan menakjubkan pengunjung Parc di tahun 2004, kemudian memutuskan untuk bergerilya di Jalan Surabaya mencari plat-plat Tetty Kadi, Titiek Sandhora dan Anna Mathovani—bintang-bintang pop mainstream dalam masanya—penggemar buku di Jakarta sekarang juga suka mengobrak-abrik lapak-lapak buku bekas (di bawah tanah!) di Blok M Square (dulu Blok M Mall) dan mengunggah hasil buruan mereka di Twitpic. Yang mereka anggap harta karun dalam kegiatan yang sering masuk dalam agenda ‘80s revival anak gaul Jakarta ini adalah  roman-roman ala Mills & Boon Fredy S. dan Maria Fransiska serta kumpulan cerpen dan novel Abdullah Harahap. (Ketiga pengarang ini statusnya masih di bawah Enny Arrow tentunya.)

Sebagai sebuah pernyataan counterculture (atau kadang-kadang cuma gaya), bagi mereka punya koleksi Abdullah Harahap lebih cool daripada punya rak berisi Saman, Bilangan Fu, atau Jantung Lebah Ratu.

Karya-karya Abdullah Harahap, seperti juga hasil komodifikasi (bukan cuma produksi) horor lain di Indonesia, memang berada dalam posisi yang sulit. Di satu sisi (publik), selalu disukai, di sisi lain (kritik), selalu dicaci. Dalam dunia film Indonesia sekarang misalnya (jangan lupa cerita Abdullah Harahap juga pernah diangkat menjadi film bioskop di tahun ’80-an), film-film seperti Tiren (Mati Kemaren), Tiran (Mati di Ranjang), dan Suster Keramas—yang seperti Abdullah Harahap juga menggabungkan ramuan maut horor dan seks (dan komedi), dianggap akan menjerumuskan dunia film Indonesia kembali ke dalam kematian. (Sering diiringi asumsi bahwa film-film yang lebih arthouse macam Babi Buta Ingin Terbang, Rumah Dara, dan Pintu Terlarang akan menyelamatkannya, dan lupa menyebutkan bahwa ketiga film ini pun mengeksploitasi horor, kekerasan, dan seks!)

Ironis bukan jika yang mencaci mengkomodifikasi hal yang sama dengan yang dicaci?

Jadi apa yang menyebabkan cerpen-cerpen Abdullah Harahap disebut picisan sementara, misalnya, kumpulan cerpen Intan Paramadhita yang pertama, Sihir Perempuan, disebut sastra. Apa hanya karena Intan diterbitkan oleh KataKita sementara Abdullah sering diterbitkan oleh Gultom Agency?

Bagi saya, pernyataan bahwa Kumpulan Budak Setan “bermain di batas antara sastra dan budaya populer”, menimbulkan pertanyaan yang ternyata susah dijawab. Di mana batas itu sendiri?

Untuk menulis pengantar singkat ini saya membaca tujuh novel Abdullah Harahap, dua kumpulan cerpen, dan satu novel karya Nasrullah Harahap dan satu karya Tara Zagita. Semacam crash course dalam novel horor Indonesia ’80-an.

Dari membaca sedikit dari sedemikian banyak karya Abdullah Harahap tadi (ada berapa sebenarnya?), saya beranggapan bahwa status picisan/stensilan/murahan/sastra kaki lima Abdullah Harahap bukanlah salah karya-karyanya sendiri namun salah dunia sastra Indonesia. Tepatnya, salah dunia sastra Indonesia sendiri kenapa tidak punya kanon(isasi) sastra yang jelas. Kenapa dalam dunia perbukuan Indonesia hanya ada sastra dan bukan sastra (yang sering disebut dengan eufemisme itu tadi, “budaya populer”)?

Kalau Abdullah Harahap orang Inggris atau Amerika maka akan banyak sekali genre atau subgenre sastra yang siap menerima karyanya dengan tangan (berkuku runcing) terbuka. Horror, fantasy, weird fiction (ala Lovecraft), cosmic fiction, mystery fiction, macabre fiction (ala Poe), gore (ala DVD-DVD terbitan Troma dan Mondo Macabre yang juga merilis ulang film-film horor klasik Indonesia dari tahun ’80-an macam Leak (dengan judul Mystics in Bali), dan tentunya, Gothic.

Ternyata cerita-cerita Abdullah Harahap banyak memakai tema, motif, tropes, mise-en-scène, karakter, plot dari genre-genre di atas. Sastra Barat tidak usah susah-susah menciptakan genre jadi-jadian macam sastra kaki lima bagi Abdullah Harahap. Tinggal pilih. Walaupun kadang-kadang susah juga menemukan kategori atau genre yang pas bagi satu cerita Abdullah. Dari sedikit cerita yang saya baca di atas pun, jelas bahwa Abdullah adalah penulis mash-up yang handal. Ia bisa menggabungkan mise-en-scène gothic klasik puri misterius di atas bukit dengan plot Melayu tradisional mencari kesembuhan dari dukun, dengan luwes (dalam novel Nyai Banjarsari), yang juga melibatkan persembahan manusia ala macabre dan gore fiction sekaligus kisah cinta sentimentil ala Fredy S. Abdullah sama ahlinya dalam hal genre mash-up dengan 2 many DJs!

Jika memang perlu sebuah umbrella term untuk karya-karya Abdullah Harahap, mungkin yang paling pas (dengan modifikasi di sana-sini) adalah Gothic fiction. Seperti Abdullah, Gothic fiction juga mencampur unsur-unsur horor dan roman. Dan memang, selain menulis cerita-cerita horor (biar gampang sementara kita sebut saja begitu) berjudul seperti Penunggu Jenazah, Dalam Cengkraman Iblis, atau Perawan Tumbal Setan, Abdullah juga pernah menulis roman ala Fredy S. berjudul antara lain Gemas-Gemas Disayang, Ketika Burung Camar Terbang Lalu, dan Rinduku di Antara Desah Nafasmu.

Banyak elemen-elemen dalam karya Abdullah Harahap yang sama dengan ciri-ciri Gothic fiction. Soal arsitektur misalnya. Seperti kita tahu, Gothic fiction tumbuh bersamaan dengan Gothic revival architecture. Puri, reruntuhan, gereja penuh gargoyle, kuburan. Novel yang memulai genre Gothic sendiri ber-setting di sebuah kastil, The Castle of Otranto. Tokoh-tokoh antagonis dalam cerita Abdullah Harahap pun sering bertempat tinggal dalam versi modern (’80-an) dari sebuah puri, biasanya berbentuk rumah mewah di atas bukit (novel Nyai Banjarsari dan Perawan Tumbal Setan), atau rumah besar bertembok tinggi yang memencil dari rumah-rumah lain (cerpen Koridor dalam kumcer Suara dari Alam Gaib).[1]

Atau unsur Gothic excess. Gothic fiction melawan tren naturalisme ala Enlightenment yang  mewajibkan sastra merepresentasikan kehidupan senatural mungkin dengan mem-fantasikan kehidupan nyata dengan imajinasi yang liar. Bangsawan aneh berkulit pucat di puri itu bukan cuma lelaki yang kesepian tapi seorang drakula penghisap darah! Lorong bersarang laba-laba itu tidak menuju ke tempat penyimpanan anggur tapi ke ruang penyiksaan! Pendeta itu bukan saja munafik dan jahat, tapi ia sudah menjual jiwanya kepada iblis! Cerita-cerita Abdullah juga penuh excess: Harlas tidak hanya meringis ketakutan mendengar cerita tentang leluhur dedemit desa Rawabangke yang terkutuk(novel Dalam Cengkraman Iblis), ia terkencing-kencing. Bukan cuma rumah berkamar tidur 32 juragan Badra Kartadireja (novel Perawan Tumbal Setan) yang runtuh di akhir cerita, namun daerah perbukitan di sekitarnya pun ikut porak poranda.[2] Penunggu jenazah Kurdi tidak sudi membunuh lalat sekalipun (asketisme yang excessive), tapi dengan sadis menggagahi mayat yang ditunggunya (nekrofilia, by definition sudah excessive).

Nekrofilia juga sebuah contoh Gothic transgression. Tokoh-tokoh dalam cerita-cerita Abdullah Harahap melanggar batas-batas moral dan rasio, seakan-akan batas-batas itu tidak pernah ada.[3] Badra Kartadireja mengorbankan anak perempuannya sebagai tumbal pesugihan bagi siluman berang-berang raksasa dan selama berpuluh-puluh tahun ia bisa hidup kaya-raya dan polisi tidak pernah bisa mengungkap kejahatannya. Penunggu jenazah Kurdi merasa layak sesekali meniduri mayat perempuan yang mati muda karena ia telah dikutuk tidak bisa beristri dan kebejatannya (dilihat dari moralitas mainstream—dilihat dari moralitasnya sendiri ini sekedar quid pro quo dengan takdir yang wajar-wajar saja) tidak pernah dipergoki. Larasati (Dalam Cengkraman Iblis) tidur dengan kedua pamannya (inses! satu lagi Gothic trope) dengan alasan untuk menghilangkan kutukan keluarga.

Seperti dalam Gothic fiction, excess dan transgression dalam cerita-cerita Abdullah Harahap adalah cara tersendiri untuk memberi ceramah tentang moral, walaupun moral yang ditawarkan bertentangan dengan moral mainstream pada masanya. Setelah Badra Kartadireja binasa (biji mata pecah, kulit robek—excess, gore), kehidupan keluarganya yang dulu teratur (walaupun di bawah teror—sindiran terhadap Orba Soeharto?) justru hancur dalam sengketa warisan (ingat plot Castle of Otranto juga tentang rebutan warisan). Setelah penunggu jenazah Kurdi mati, tidak ada lagi yang bisa mencegah ibu yang mati waktu melahirkan bayinya menjelma menjadi kuntilanak. Pemburu yang menembak kera di hutan mati ditembak memakai peluru yang sama oleh istri kera (jadi-jadian) tadi yang menjelma menjadi juru tik-nya (cerpen Dendam Roh Jejaden, satu lagi cerita horor pro lingkungan Abdullah Harahap—sustainable horror story? :)).

Masih banyak lagi elemen-elemen Gothic klasik dalam cerita-cerita Abdullah Harahap:  protagonis yang dipaksa hidup menyendiri oleh sebuah kutukan (bandingkan penunggu jenazah Kurdi dengan the Wandering Jew); tokoh femmes fatales seperti Nyai Banjarsari si dukun seksi, atau Ira Herawaty (Perawan Tumbal Setan) dan Larasati (Dalam Cengkraman Iblis) yang lewat vagina sama-sama bisa menyedot darah lelaki yang menyetubuhi mereka; macam-macam kutukan—dari kutukan menjadi penunggu jenazah sampai kutukan mengorbankan bayi perempuan sendiri kepada siluman berang-berang; dll.

Jadi, jika saja kanon sastra Indonesia terbentuk dengan benar,[4] seharusnya ia punya tempat untuk Abdullah Harahap sebagai (paling tidak) wakil sastra Gothic.

Mungkin Kumpulan Budak Setan, yang diterbitkan Gramedia, sedang memulai proses diterimanya sastra Gothic/Horor/Gore dalam kanon sastra Indonesia. Atau, kumcer ini sedang ikut membentuk kanon yang belum jelas itu, dan proses ini perlu waktu. Gothic fiction juga tidak langsung diterima oleh kanon sastra Barat. Horace Walpole harus berpura-pura The Castle of Otranto-nya adalah sebuah terjemahan dari manuskrip medieval berbahasa Italia karena ia tidak yakin ceritanya akan diterima oleh publik. The Monk karya M.G. Lewis dikritik oleh Coleridge sebagai roman yang tidak pantas dibaca oleh remaja. Jane Austen mencela novel gothic macam The Mysteries of Udolpho sebagai bacaan kacangan dalam parodi novel gothic-nya Northanger Abbey. Namun sekarang H.P. Lovecraft bisa bersanding dengan Henry James dalam satu antologi yang diterbitkan New York Review of Books. Dan The New Yorker pun mau menerbitkan cerpen Stephen King.

Atau yang namanya kanon sastra Indonesia itu juga makhluk jadi-jadian yang sebenarnya tidak pernah ada, karena tidak ada orang yang tahu parameternya apa. Sehingga Gramedia sebelum menerbitkan Kumpulan Budak Setan bisa lebih dulu menerbitkan novel gothic psycho-thriller Sekar Ayu Asmara (true heir Abdullah Harahap menurut saya), Doa Ibu, dan memajang buku itu di semua tokonya, di rak Sastra.

[1] Tadinya saya kira rumah besar bertembok tinggi dalam cerpen Koridor ini dimodernkan lagi dengan baik oleh Intan Paramadhita menjadi rumah megah “seperti kastil” di pinggiran kota di cerpennya yang berjudul Pintu dalam Kumpulan Budak Setan. Tapi Intan bercerita ternyata rumah ini diadaptasi dari rumah Pak Lurah dalam cerita Titisan Iblis Abdullah Harahap.

[2] Ini juga sindiran terhadap pembangunan rumah-rumah di daerah perbukitan sekitar Bandung yang menyalahi tata letak kota. Banyak cerita Abdullah Harahap yang mengandung sindiran pro lingkungan seperti ini.

[3] Deskripsi yang sepertinya juga pas bagi karya-karya Abdullah sendiri dalam konteks sastra Indonesia.

[4] Tentang intrik-intrik politik sastra Indonesia di balik pembentukan kanon sastra-nya, baca “Politik Kanonisasi Sastra” dalam buku kumpulan esai Saut Situmorang, Politik Sastra.

Yang Tidak Dibicarakan Dalam Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta

Sebenarnya aku cukup tertarik/bersimpati/relate dengan kegelisahan yang dirasakan @moulysurya. Bahwa di Jakarta ini hidup begitu bising, begitu penuh neon, begitu penuh omong kosong, sehingga sering jika kita tidak punya cukup uang untuk melarikan diri sejenak ke Bayah, atau Babel, atau Barcelona, kita sering berfantasi seandainya saja kita orang lain, yang hidup di dunia lain, yang tidak seperti dunia kita sekarang. Ini sebuah fantasi yang sering memenuhi kepala-kepala kita #kelasmenengahngehek Jakarta, saat kita dipaksa lembur tanpa batas, terbaring tak berdaya di ranjang RS International yang pelayanannya kampungan karena gaya hidup non-sustainable yang menyebabkan tifus kesekian, saat kita terjebak macet 5 jam hanya karena air turun dari langit. Fantasi mudah kita dapat, bisa kapan saja di mana saja, tidak sesukar ngendon di depan TV tengah malam menanti diskonan tiket AirAsia ke Orly yang tak kunjung datang. Kita tinggal menutup mata dan SHAZAM!: kau dan aku selalu bakslah selamanya di puncak Himalaya (jangan lupa mampir Shimla!).

Begitulah, WTDTAWTTAL adalah sebuah film tentang individu-individu yang mata, kuping, dan mulutnya tertutup. Sekelompok anak di sebuah SLB di antah-berantah yang tidak ada bedanya dengan Melawai Plaza dan sekitarnya. Sebuah conceit yang menarik sebenarnya untuk mengeksplorasi kegelisahan-kegelisahan tadi. Apa yang akan terjadi dengan perasaan-perasaan kita jika kita buta, bisu, tuli, atau ketiga-tiganya? Apa yang akan kita rasakan jika kita tidak bisa melihat reaksi orang lain akan perbuatan kita, tidak bisa mendengar jawaban orang akan pertanyaan-pertanyaan kita, tidak bisa membalas pernyataan-pernyataan orang lain? Seberapa pentingkah peran indera dalam merasa?

Sejauh ini bagus-bagus saja. Namun akhirnya WTDTAWTTAL ini terjerembab ke dalam problem yang sama seperti film-film produksi kaum borjuis Jakarta sekarang (ie, seluruh industri film Indonesia kecuali Postcards From The Zoo dan Nayato Fia Nuala dan seribu alteregonya): kemiskinan pengalaman hidup dan, seperti yang dikeluhkan JB Kris dalam mid-career analysisnya tentang Vino G., melodrama.

Karena perasaan-perasaan yang kemudian dieksplorasi dengan struktur film yang sangat menjanjikan ini ternyata perasaan-perasaan yang itu-itu juga: cinta, kekosongan hidup kaum petit titit bourgeois Jakarta, dan cinta lagi, coming of age, dan cinta lagi. Tema-tema yang sudah berkali-kali dibahas oleh film-film Indonesia yang katanya non-mainstream namun dibuat oleh pekerja-pekerja film yang dekat dengan kekuasaan realpolitik di Jakarta, sekelompok orang yang dihubungkan oleh Six Degrees Of Jajang C. Noer. Dari 3 Hari Untuk Selamanya (coming of age), Pintu Terlarang (the discreet emptiness of the bourgeoisie), sampai Postcards From The Zoo (everything in between)—aku sudah bosan menonton film tentang kelas menengah Zakarta dan kegelisahan-kegelisahan narsisistik mereka. Waktu nonton Negeri Di Bawah Kabut karya Salahuddin Siregar yang bercerita tentang alienasi penduduk sebuah desa di kaki Gunung Merbabu–dan bukan alienasi terhadap diri mereka sendiri tapi alienasi mereka oleh negara!—rasanya seperti menghirup udara segar pegunungan beneran setelah sekian lama menyedot knalpot Metro Mini.

Aku bosan menonton scene-scene yang fungsinya hanya seperti dokumenter terselubung tentang kehidupan kelas menengah aspirasional pembuatnya: sebuah kelas balet, lengkap dengan instrukturnya yang meneriakkan glosari jargon balet dari Allongé sampai Tombé (bandingkan dengan scene kelas berkuda di Berbagi Suami), interior sebuah Alphard berisi seorang tante-tante sosialita yang memberikan M.A.C-up tips kepada anaknya (bandingkan dengan Mama Talida yang overbearing di Pintu Terlarang), kemudian sebuah kos berisi pasangan muda yang berbincang sok filosofis padahal dangkal tentang cinta (bandingkan dengan Radit & Jani).

Apakah kegelisahan-kegelisahan kita hanya itu(-itu) saja? Buatku, Postcards From The Zoo jadi sangat mencengangkan karena struktur fallen peaceable kingdomnya ternyata mengusik dan mengulik banyak sekali problema masa kini yang tidak aku sangka sedang mempengaruhi hidupku. Seperti peran lagu soundtrack Kebun Binatang Ragunan dalam memori kolektif manusia Zakarta umur 30-an, peran mimikri dalam menundukkan kebinatangan Jakarta, kesepian individu-individu Jakarta jika dilihat dari sudut pandang seekor jerapah, paralel dan kontradiksi antara dunia binatang dan manusia (siapakah yang lebih binatang? Apakah sebenarnya kebinatangan itu?), petualangan seorang hetaira modern dalam sosok Lana, etc, etc. Bangunan film Postcards From The Zoo yang surreal/Uncle Boonmee-like itu jadi termanfaatkan maksimal karena masalah-masalah kemanusiaan yang ingin dibicarakan auteur-nya tidak kacangan.

Sementara @moulysurya sepertinya tidak bisa keluar dari kebanalan dan kedangkalan cara berpikir anak gaul Jakarta, di saat ia sepertinya berniat untuk memberikan semacam commentary tentang itu! Ironis ya. Kekurangan ini punya dua konsekwensi: satu, film ini setelah strukturnya yang sok njelimet ditelanjangi, jadi terasa dangkal dan, dua, si auteur jadi tidak sadar sepenuhnya akan potensi struktur sok njelimet tadi karena cuma digunakan untuk mengejar gol-gol yang terlalu gampang. Seperti memakai espresso machine untuk membuat Nescafe.

Menggunakan setting SLB untuk menginvestigasi permasalahan manusia able-bodied sebenarnya ruse yang menarik. Namun @moulysurya tidak menggunakan senjata ini dengan maksimal. Selama di SLB itu hanya dua kali kita menyaksikan dunia dari gaze anak-anak differently-abled itu. Sekali pas layar jadi kabur karena menjadi POV Diana yang clinically blind tapi masih bisa memakai kacamata loop untuk melihat bayangan cowok yang ia taksir. Dan sekali lagi waktu suara hilang dari bioskop karena kita diajak merasakan dunia dari sudut pandang (dengar?) seorang anak metal kampung yang terlalu cakep dan gagah untuk jadi anak metal kampung dan baju-bajunya terlalu Goods Dept dan terlalu ditriska pembantu. Seakan-akan kita diajak untuk mengamati dunia anak-anak SLB namun kemudian dipaksa untuk melihatnya dari mono-gaze si auteur saja. Bandingkan dengan Postcards From The Zoo, di mana kita berkali-kali diajak menyaksikan tingkah manusia dari sudut pandang binatang dalam kandang. Lumrah toh, kan kita lagi di kebun binatang!

Aku kira kesadaran untuk mengeksploitasi POV margasatwa dalam Postcards From The Zoo datang secara organik, karena Edwin benar-benar lebur dalam dunia rekaannya. Menjadi suatu hal yang alami jika ia kemudian mencoba melihat dunia dari sudut pandang margasatwa, karena yang ingin ia amati adalah pengunjung-pengunjung mereka. Dan ia juga terbantu karena investigasinya lebih ambisius, ia ingin tahu lebih banyak tentang problem-problem manusia daripada sekedar apa yang tidak dibicarakan ketika membicarakan cinta (apa yang tidak dibicarakan ketika membicarakan Prometheus, identitas, dan alienasi?), sehingga ia mungkin dipaksa juga untuk menggunakan semua jurus yang ia punya.

Seperti ada kemalasan atau ketakutan dalam WTDTAWTTAL untuk menggali lebih dalam permasalahan manusia. Alternate universes yang digembar-gemborkan/dibangga-banggakan itu semua menggambarkan milieu yang sama. Sevel Melawai di tengah malam tanpa balita gelandangan yang biasanya masih mengais sampah di depannya, pesta dansa RuRu yang ditransplant ke dalam SLB menjadi Malam Perpisahan, kaos-kaos @nicsap yang terlalu Portobello Market daripada Blok M Square. Karena gaze yang dangkal terhadap dunia, metafor-metafor visual film ini pun jadi klise pula: berbagi-bagi warna kepada anak-anak buta dalam bentuk rainbow cake (O delicious irony!), menyisir rambut sebagai metafor pursuit for beauty via mahkota wanita (rambut sebagai metafor selaput dara?), ballet sebagai metafor keborjuisgengsian kelas menengah Jakarta (kasihan ballet diseret-seret terus jadi metafor keborjuisan!).

Sebenarnya ada satu scene yang cukup menyentuh bagiku. Waktu alterego Anggun Priambodo naik motor tengah malam keluar dari terowongan (Senen?) dan ia menegakkan badannya berdiri di atas foot pegs motor bebek vintagenya. Sebagai seseorang yang naik motor juga keliling Jakarta, sering sekali kalau lagi naik motor tengah malam aku juga ingin lepas tangan saja dan berselancar di atas motorku membiarkan bau got dan angin dingin Jakarta menerpa wajah. Rasanya mungkin akan seperti kebebasan. Namun kenapa yang naik motor di film ini harus seorang anak hipster RuRu dengan helm dan motor bebek vintage? Kenapa tidak seorang bapak-bapak kurir berjas Ramayana Motor Ciledug di atas Honda Supradit? Apa gunanya alternate universes di film ini jika tidak ada alternatif selain kehidupan pseudo-hipster?

Rasanya, yang tidak dibicarakan ketika membicarakan cinta bukan cuma narsisisme kelas menengah Jakarta saja? Namun kemudian aku membaca ini di Twitter:

photo

Oke deh, mungkin life experience anak gaul Jakarta sekarang begitu miskinnya sehingga mereka harus mendapatkan makanan pengganti kehidupan dari film yang dibikin oleh teman-teman mereka sendiri. Semacam narsisisme solipsistik akut yang trada obatnya. Good luck.

Tambahan (16 Mei 2020): waktu menulis review ini aku belum membaca wawancara Mouly dengan Adrian “Pekerja Teks Komersil” Jonathan di Film Indonesia. Masih ragu dengan bourgeois-gaze Mouly? Silakan baca quote di bawah ini:

Tadi saya cerita ada anak yang senang banget sama ST12; itu bisa terjadi karena mereka sesenang itu sama musik. Hal itu yang saya coba suntikkan dalam Don’t Talk Love dalam sejumlah adegan semi-musikal. Pakai lagu Burung Camar karena musik pop. Kalau pakai lagu ST12, kok nggak enak ya didengarnya, makanya pakai lagu lawas. (Tertawa)”

(TERTAWA NGAKAK)

pemancar

marilah berbagi intertekstualiti. mari main rock paper scissors dengan oulipoem oulipoemmu. apakah kamu bahagia pernah memeriksa the state of public laundries di rue vilin? apakah perasaanmu saat melihat stiker air gabon di jendela hamam hamam yang tak berpintu? marilah berbagi hati instead. di manakah penjaringan? di manakah muara angke? di manakah tinja tinja yang mengambang di social media? hidup yang kusenangi adalah menanti makan malam bersama istriku yang berhati rock paper scissors. rock paper scissors. hubungan yang terlalu logis. persaingan dog eat dog yang terlalu bikin miris. egoku sekarang berbalut gulali, kau tak akan bisa melukainya dengan kapitalisme. rock paper scissors. kamu rock, aku pesan satu pitcher.

bahasa atap yang runtuh*

*i’ve found that if you change the order of the nouns or group of nouns in an afrizal malna poem, not only will you end up with a still totally comprehensible poem, you’ll have in your hand a still totally comprehensible afrizal poem! compare the scramble immediately below with the original after it:

 

sapi-sapi hitam itu keluar dari atap kening yang

runtuh. lubang yang tak punya merah.

batu kata di kalimat-kalimat kecil.

keringat asin dan bau rokok di

atas sarung. aku membawa apa saja

dari yang mereka punya. mereka tidak

melupakannya. ada puntung waktu yang

membungkus bahasa mereka, seperti

piring yang lembab. bayangan me-

reka, massa yang memamahi

gang-gang pendek. mereka yang

membuat senja pada kaki-kaki dengan

kulit telurnya yang bersayap.

sarung itu akan menarik sebuah kota

yang kandas di tengah kuku. mereka

adalah sepatu dan bajuku, atap dari massa

bahasa yang runtuh. mereka pernah

membuatkan ibu bapakku, sisa

bau mulut di tubuhnya mengantarku

ke rumah. mengajakku berenang

dalam telinga mereka yang dibanjiri oleh

telur. mereka menyimpan bau

bawang di lipatan massa mereka, uang

sewa sekolah bulanan, harga minyak

merah yang baru dikupas bersembunyi

di bawah kulit kapal.

rasa takut itu harus ditarik, seperti melepas-

kan kota dari manusia kelabu. kalau

tidak senja akan menjadi kalimat

yang penuh massa. mereka membawa

akhir musim panas yang panjang. upah

harian yang memanjang dari bulan mei

terakhir pintu masuk rumahmu

setelah menerima bayangan waktu.

batu itu menyambung bau satu per

satu, seperti menyambung kembali tali

langit dari seorang pekerja bangunan

hingga bulan yang lalu. mereka

pernah membuat pakaianku, mencuci

rumahku, dan kapal yang

bersembunyi di dalam piring.

mereka mulai menarik atap yang

kandas itu. tetapi sayap-sayap uang

tertancap dalam perut api. bau kapal

mengalir seperti keringat dan kota dalam

perut bahasa. baling-baling minyak me-

layang-layang dari kapal kota yang

runtuh itu. guru itu adalah massaku,

yang pernah membunuh rumahku,

tidak, di kaki-kaki pintu

kemerdekaan. tidak. piringnya tak

pernah hilang seperti atap bahasa,

tidak, di setiap massa msuk kota.

tidak. pintu itu. tidak. adalah halaman

belakang kata yang melihat kalimat telah

tersalib di gelas. luka dan

tembok kota telah berjalan meninggalkan

kota yang kandas itu, mencari kapal

baru: paman untuk semua makhluk.

memasang kembali akar rumput yang

runtuh itu, seperti memasang waktu

yang menyapamu di depan pesta.

 

atap bahasa yang runtuh

massa itu keluar dari atap bahasa yang

runtuh. senja yang tak punya merah.

kaki-kaki kata di gang-gang kecil.

kulit telur asin dan puntung rokok di

atas piring. mereka membawa apa saja

dari yang mereka punya. aku tidak

melupakannya. ada bau waktu yang

membungkus kening mereka, seperti

sarung yang lembab. bayangan me-

reka, sapi-sapi hitam yang memamahi

kalimat-kalimat pendek. mereka yang

membuat lubang pada batu dengan

keringatnya yang bersayap.

massa itu akan menarik sebuah kapal

yang kandas di tengah kota. mereka

adalah ibu bapakku, massa dari atap

bahasa yang runtuh. mereka pernah

membuatkan sepatu dan bajuku, sisa

bau telur di telinganya mengantarku

ke sekolah. mengajakku berenang

dalam tubuh mereka yang dibanjiri oleh

mulut. mereka menyimpan harga

minyak di lipatan sarung mereka, uang

sewa rumah bulanan, bau bawang

mereah yang baru dikupas bersembunyi

di bawah kulit kuku.

kapal itu harus ditarik, seperti melepas-

kan senja dari langit kelabu. kalau

tidak kota akan menjadi bulan mei

yang penuh batu. mereka membawa

akhir bulan yang panjang. bayangan

waktu yang memanjang dari kalimat

terakhir seorang pekerja bangunan

setelah menerima upah harian mereka.

massa itu menyambung tali satu per

satu, seperti menyambung kembali bau

manusia dari pintu masuk rumahmu

hingga musim panas yang lalu. mereka

pernah membuat rumahku, mencuci

pakaianku, dan rasa takut yang

bersembunyi di dalam piring.

mereka mulai menarik kapal yang

kandas itu. tetapi baling-baling kapal

tertancap dalam perut kota. bau uang

mengalir seperti minyak dan api dalam

perut kota. sayap-sayap keringat me-

layang-layang dari kapal bahasa yang

runtuh itu. massa itu adalah guruku,

yang pernah membunuh pamanku,

tidak, di halaman belakang pesta

kemerdekaan. tidak. lukanya tak

pernah hilang seperti akar rumput,

tidak, di setiap pintu masuk kota.

tidak. massa itu. tidak. adalah kaki-

kaki kata yang melihat waktu telah

tersalib di tembok kota. piring dan

gelas telah berjalan meninggalkan

kapal yang kandas itu, mencari kota

baru: rumah untuk semua makhluk.

memasang kembali atap bahasa yang

runtuh itu, seperti memasang kalimat

yang menyapamu di depan pintu.

i’m gay and i’m sorry you’re not gay!*

film indonesia dimulai dari musikal. dulu namanya opera stambul. kemudian berevolusi jadi tonil. sandiwara yang dialognya dinyanyikan. lengkap dengan orkes berpartitur. keroncong, hawaii ukulele pop. (lihat pengaruhnya di bagian-bagian musikal tiga dara usmar ismail misalnya.) <— pelajaran sejarah seni buat @ulil

 

film indonesia pertama lutung kasarung mulanya juga sandiwara yang kemudian difilmkan. g. krugers sutradaranya mengorbankan beberapa ratus meter film untuk merekam pemain-pemain sandiwara ini bermain sesukanya kemudian baru melatih mereka  lagi berakting untuk kamera, bukan penonton sandiwara.**

 

kalau joko anwar, sutradara dan penulis skenario film, bikin onrop!, sebuah musikal, itu sebenarnya adalah sebuah langkah mundur dalam sejarah indonesia. napak tilas if you will.

 

tapi kelihatannya model onrop! bukan opera stambul, tonil, maupun reinkarnasi modernnya seperti teater koma, tapi broadway musicals. les mis, west side story, rent, wicked, etc. 

 

onrop! seperti tipikal musikal broadway maupun off-off-off (dst.) broadway dibagi jadi dua act. act 1 dengan setting di jakarta dan act 2 kebanyakan di pulau onrop. tiap act dibagi jadi scenes. ext. int. exeunt omnes. plokploklok.

 

cerita onrop! adalah klasik banishment/exile story. penduduk jakarta tahun 2020 hidup dalam teror, karena yang kedapatan melanggar UU anti-onropgrafi dan onropaksi diancam diasingkan ke pulau onrop. (di tahun itu patung pizza man di depan ratu plaza yang sekarang masih pakai kancut sudah dikasih baju toga, tentunya sindiran visual tentang patung tiga gadis di bekasi yang dikasih baju oleh FPI di tahun 2010.)

 

mereka yang dihukum (ada pengadilannya, walaupun mungkin penuh mafia hukum) mulanya ketakutan menghadapi pengasingan di pulau yang katanya penuh kanibal, binatang ganas  dan kehidupan tanpa moral (ditunjukkan dengan animasi yang ditembakkan ke layar di panggung yang terlihat seperti mashup antara halo dan patapon). 

 

tapi ternyata, setiba mereka di sana, ternyata pulau onrop telah penuh dengan onropians yang hidup penuh toleransi dan cinta karena di situ tidak ada polisi moral yang merongrong seperti di jakarta. di akhir cerita, onropian yang sudah dicerahkan tentang indahnya hidup onrop! kemudian balik ke jakarta, seperti arjuna-arjuna yang telah selesai wiwahahaha. balik di kampung megaylopolis ini mereka dengan giat mengadvokasi penduduk jakarta lain supaya tidak lagi takut beronrop! dan melakukan revolusi (anti-)moral. kampanye advokasi mereka begitu berhasil sehingga polisi-polisi moral dan hakim-hakim korup yang dulu mengasingkan mereka ke pulau onrop! terpaksa gantian mengasingkan diri. 

 

bandingkan dengan ur-banishment story macam kisah bani israil diusir dari yerusalem. diaspora israel yang dulu diasingkan ke seluruh penjuru dunia pun sekarang telah pulkam. pengasingan telah membuat mereka jadi lebih kuat, dan sekarang the new and improved, harder, better, faster, stronger bani israil gantian mengasingkan orang palestina dari kampung mereka. 

 

banishment story ini dipakai sebagai plot sebuah—katanya—satir tentang keadaan indonesia masa kini. tidak sulit untuk mengidentifikasi karakter onrop! mana memparodikan karakter republik straight indonesia mana. bram antyo=amalgamasi antara hanung bramantyo dan habiburrahman al shirazy, seorang penulis novel religi. polisi moral=satpol pp. sari=banci taman lawang.

 

nenek-nenek bugil (yang pastinya akan dibuang ke pulau onrop!) juga tahu bahwa onrop! adalah walikan dari porno! kenapa harus diwalik? apakah 2020 sebenarnya adalah 2010? is the pope a morally conservative old man in a tutu?

 

seperti juga film-film joko anwar sebelum ini, onrop! juga dilandasi kemarahan akan keadaan sosial indonesia masa kini, yang paling pas diungkapkan dengan motto musikal ini sendiri yang sudah didengar orang berkali-kali di twitter dari akun @jokoanwar sendiri: ini cuma cinta, kalian takut apa?

 

saya sendiri:

 

1. takut akan pastiche off-off-off broadway numbers dari raja pastiche indienesia bemby gusti dan mondo gascaro. the musical numbers in onrop! sound as original as those OA (Original Artists) tape cassettes from the mid-eighties.

 

2. takut akan koreografi yang tidak berdialog dengan lirik lagu. dalam komedi stambul dan tonil, bahkan di teater koma, dialog yang dinyanyikan dirancang supaya musik dan gerakan memberikan counterpoint bagi dialog. sementara tari-tarian di onrop! lebih mirip tarian cheers pensi atau background dancers di gebyar bca. menonton komedi satir onrop! jadi seperti menonton mashup komedi satir srimulat dan… gebyar bca.

 

oh, maklum, ternyata koreografer onrop! adalah seorang bekas background dancer madonna bernama eko supriyanto.

 

3. takut dengan pesan moral/politik yang terlalu dipaksakan dan simplistis. seperti waktu ario bayu, gay icon nomor satu AGJ, yang memerankah tokoh amir (seorang “banci salon”, menurut salah satu polisi moral di onrop!) meneriakkan “I’M GAY AND I’M NOT SORRY!” 

 

apakah aku berada di sebuah seminar advokasi LGBTIQ atau mereka mengundang aktivis LGBTIQ?

 

pesan moral/politik seperti di no. 3 tentu penting bagi @tifsembiring dan 99.000 bidadari followernya, namun bagi gay scene jakarta, yang sudah menikmati Q! film festival sejak tahun 2002 dan bisa kapan saja menonton hedwig & the angry inch di subtitles, pesan ini mungkin lebih cocok untuk indonesia tahun 2002 daripada 2020.

 

benar bahwa if you’re gay you shouldn’t feel sorry for yourself and you don’t have to say sorry even to your mum, but isn’t that, morally at least, terutama bagi para gay, dan non-gay but gay-friendly hipsters jakarta, pretty obvious already? c’mon, in this gay and age, if i need affirmation for my gay/gay-friendly lifestyle i just go get myself an iphone and download Grindr!

 

mungkin beda jika pertunjukan onrop! ini dibawa ke pelosok aceh dan propinsi-propinsi (katanya) syariah lain yang (katanya) penduduknya tidak akan menoleransi pandangan gay-friendly. mungkin di sana akan banyak kaum LGBTIQ yang memerlukan afirmasi yang diteriakkan tokoh amir tadi. 

 

namun onrop! dipertunjukkan di jakarta dengan harga tiket yang cukup mahal sehingga rata-rata penonton yang mau dan mampu menonton adalah kelas menengah jakarta yang always already gay-friendly. preaching to the converted? more like pengen jadi misionaris tapi malas keluar gereja. 

 

mungkin itu makanya satu lagi tagline onrop! yang dicetak di poster dan buku programnya berbunyi “sebuah komedi satir bagi yang masih percaya akan kekuatan cinta”, bukan “sebuah komedi satir bagi habib rizieq dan anak SALAM UI”.

 

dari jaman juvenal sampai teater koma, satir ditujukan kepada yang dijadikan obyek satirnya. pagan rome, orde baru. onrop! memang sebenarnya satir yang ditujukan kepada FPI, @tifsembiring, dan SBY yang menoleransi mereka semua, namun apa boleh buat, kecuali habib rizieq sudah mau salaman juga sama michelle obama, yang akan menonton onrop! hanyalah orang yang memang sudah percaya akan kekuatan cinta dan tidak perlu diyakinkan lagi. 

 

bagi crowd ini, “i’m gay and i’m not sorry?” is lame. kenapa tidak “I’M GAY AND I’M SORRY YOU’RE NOT GAY!”?

 

seperti advokasi eLeSeiyM (ORNOP! :P), “i’m gay and i’m not sorry” sekaligus banal dan tidak real. hidup sebagai kaum LGBTIQ di jakarta tidak selamanya hunky dory seperti di pulau onrop! (atau seperti keguyuban menonton onrop! itu sendiri, yang menurut salah satu teman saya bisa dideskripsikan sebagai “local art scene group hug”.***)  gay club buat anak-anak gaul selatan sekarang tinggal heaven**** saja dan mas-mas gay tukang ojek mangga besar harus puas dengan ghetto ML mereka. i AM sorry i’m gay and have to live in this town!

 

oke, secara moral sebagian (banyak) kaum LGBTIQ mungkin perlu diberi semangat supaya seperti amir dan sari banci taman lawang tadi suatu saat dalam sebuah utopia yang diriilkan, mereka bisa bergandeng tangan dengan kaum-kaum marjinal lain untuk menyadarkan kaum moralis bahwa merekalah yang seharusnya bilang “I’M SORRY” karena selama ini telah menindas kaum LGBTIQ/ahmadiyah/OPM/TKW/4L4y.

 

dan mungkin onrop! adalah karya advokasi LGBTIQ yang lumayan berhasil. 

 

namun, dengan pesan moral bahwa being gay is okay, porn is in the eye of the beholder, might is not always right and love conquers all, onrop! sebenarnya lebih mirip film disney***** daripada komedi satir.

 

dan sebagai musikal, i’d rather watch the lion king. 

NOTES:

*judul diganti dari tadinya “gay means happy. until around mid-20th century” atas rekomendasi@JessieHuwae

**@ulil cyin, baca deh Sejarah Film 1900-1950: Bikin Film di Jawa oleh Misbach Yusa Biran

***witticism from @lollypoep

****ternyata heaven juga udah tutup, lihat komen @mumualoha di bawah

*****i owe this observation to @wunnybabbit 

about 2 years agoarddhe (Twitter) responded:
0cbc90a728bddc19e67988dcd7efd3b9_normal
sementara tari2an di onrop! lebih mirip tarian cheers pensi atau background dancers di gebyar bca
about 2 years agoariesaptaji (Twitter) responded:
Arie_normal
joni berjanji membacanya:
“@jokoanwar Joko Anwar
Selain review yg memuji, review yg mengkritik juga perlu dibaca supaya tetep inget bumi. 🙂
20 Nov Favorite Retweet Reply”
tapi, bakal dia RT gak ya?
about 2 years agooldeuboi (Twitter) responded:
102b299a85048e0cc74d379b97b535c3_normal
@ariesaptaji Ragu kalau dia bakal RT mas. *sigh* A very insightful review, anyhoo.
about 2 years agolollypoep (Twitter) responded:
E781bdcb4ab9897a6ef2c5e9bcecec10_normal
suka tulisan ini
about 2 years agoPugar Restu Julian (Facebook) responded:
Pugar Restu Julian

wah gue belom nonton nih…gara2x sakit typus…kalo gak gue bisa bikin review bandingan a la gue hehehe…

tapi mungkin baik jg disebarluaskan…jadi biar sudut pandang orang macem2x…

(ngomong apa sih gue?)

about 2 years agooomslokop responded:
oomslokop
thx for the com(pli)ments! 🙂
about 2 years agomumualoha (Twitter) responded:
4-1_normal
heaven juga udah lama tutup, cyinn…sempet pindah bentar ke menara jamsostek, pake management yg beda, tapi gak bertahan juga
about 2 years agota2surya (Twitter) responded:
9f5a22790449da5e8fac1624fa485fe7_normal

ya ampun.. bisa komen? #gaptek

“a nice review. Seriously” ^^