i’m gay and i’m sorry you’re not gay!*

film indonesia dimulai dari musikal. dulu namanya opera stambul. kemudian berevolusi jadi tonil. sandiwara yang dialognya dinyanyikan. lengkap dengan orkes berpartitur. keroncong, hawaii ukulele pop. (lihat pengaruhnya di bagian-bagian musikal tiga dara usmar ismail misalnya.) <— pelajaran sejarah seni buat @ulil

 

film indonesia pertama lutung kasarung mulanya juga sandiwara yang kemudian difilmkan. g. krugers sutradaranya mengorbankan beberapa ratus meter film untuk merekam pemain-pemain sandiwara ini bermain sesukanya kemudian baru melatih mereka  lagi berakting untuk kamera, bukan penonton sandiwara.**

 

kalau joko anwar, sutradara dan penulis skenario film, bikin onrop!, sebuah musikal, itu sebenarnya adalah sebuah langkah mundur dalam sejarah indonesia. napak tilas if you will.

 

tapi kelihatannya model onrop! bukan opera stambul, tonil, maupun reinkarnasi modernnya seperti teater koma, tapi broadway musicals. les mis, west side story, rent, wicked, etc. 

 

onrop! seperti tipikal musikal broadway maupun off-off-off (dst.) broadway dibagi jadi dua act. act 1 dengan setting di jakarta dan act 2 kebanyakan di pulau onrop. tiap act dibagi jadi scenes. ext. int. exeunt omnes. plokploklok.

 

cerita onrop! adalah klasik banishment/exile story. penduduk jakarta tahun 2020 hidup dalam teror, karena yang kedapatan melanggar UU anti-onropgrafi dan onropaksi diancam diasingkan ke pulau onrop. (di tahun itu patung pizza man di depan ratu plaza yang sekarang masih pakai kancut sudah dikasih baju toga, tentunya sindiran visual tentang patung tiga gadis di bekasi yang dikasih baju oleh FPI di tahun 2010.)

 

mereka yang dihukum (ada pengadilannya, walaupun mungkin penuh mafia hukum) mulanya ketakutan menghadapi pengasingan di pulau yang katanya penuh kanibal, binatang ganas  dan kehidupan tanpa moral (ditunjukkan dengan animasi yang ditembakkan ke layar di panggung yang terlihat seperti mashup antara halo dan patapon). 

 

tapi ternyata, setiba mereka di sana, ternyata pulau onrop telah penuh dengan onropians yang hidup penuh toleransi dan cinta karena di situ tidak ada polisi moral yang merongrong seperti di jakarta. di akhir cerita, onropian yang sudah dicerahkan tentang indahnya hidup onrop! kemudian balik ke jakarta, seperti arjuna-arjuna yang telah selesai wiwahahaha. balik di kampung megaylopolis ini mereka dengan giat mengadvokasi penduduk jakarta lain supaya tidak lagi takut beronrop! dan melakukan revolusi (anti-)moral. kampanye advokasi mereka begitu berhasil sehingga polisi-polisi moral dan hakim-hakim korup yang dulu mengasingkan mereka ke pulau onrop! terpaksa gantian mengasingkan diri. 

 

bandingkan dengan ur-banishment story macam kisah bani israil diusir dari yerusalem. diaspora israel yang dulu diasingkan ke seluruh penjuru dunia pun sekarang telah pulkam. pengasingan telah membuat mereka jadi lebih kuat, dan sekarang the new and improved, harder, better, faster, stronger bani israil gantian mengasingkan orang palestina dari kampung mereka. 

 

banishment story ini dipakai sebagai plot sebuah—katanya—satir tentang keadaan indonesia masa kini. tidak sulit untuk mengidentifikasi karakter onrop! mana memparodikan karakter republik straight indonesia mana. bram antyo=amalgamasi antara hanung bramantyo dan habiburrahman al shirazy, seorang penulis novel religi. polisi moral=satpol pp. sari=banci taman lawang.

 

nenek-nenek bugil (yang pastinya akan dibuang ke pulau onrop!) juga tahu bahwa onrop! adalah walikan dari porno! kenapa harus diwalik? apakah 2020 sebenarnya adalah 2010? is the pope a morally conservative old man in a tutu?

 

seperti juga film-film joko anwar sebelum ini, onrop! juga dilandasi kemarahan akan keadaan sosial indonesia masa kini, yang paling pas diungkapkan dengan motto musikal ini sendiri yang sudah didengar orang berkali-kali di twitter dari akun @jokoanwar sendiri: ini cuma cinta, kalian takut apa?

 

saya sendiri:

 

1. takut akan pastiche off-off-off broadway numbers dari raja pastiche indienesia bemby gusti dan mondo gascaro. the musical numbers in onrop! sound as original as those OA (Original Artists) tape cassettes from the mid-eighties.

 

2. takut akan koreografi yang tidak berdialog dengan lirik lagu. dalam komedi stambul dan tonil, bahkan di teater koma, dialog yang dinyanyikan dirancang supaya musik dan gerakan memberikan counterpoint bagi dialog. sementara tari-tarian di onrop! lebih mirip tarian cheers pensi atau background dancers di gebyar bca. menonton komedi satir onrop! jadi seperti menonton mashup komedi satir srimulat dan… gebyar bca.

 

oh, maklum, ternyata koreografer onrop! adalah seorang bekas background dancer madonna bernama eko supriyanto.

 

3. takut dengan pesan moral/politik yang terlalu dipaksakan dan simplistis. seperti waktu ario bayu, gay icon nomor satu AGJ, yang memerankah tokoh amir (seorang “banci salon”, menurut salah satu polisi moral di onrop!) meneriakkan “I’M GAY AND I’M NOT SORRY!” 

 

apakah aku berada di sebuah seminar advokasi LGBTIQ atau mereka mengundang aktivis LGBTIQ?

 

pesan moral/politik seperti di no. 3 tentu penting bagi @tifsembiring dan 99.000 bidadari followernya, namun bagi gay scene jakarta, yang sudah menikmati Q! film festival sejak tahun 2002 dan bisa kapan saja menonton hedwig & the angry inch di subtitles, pesan ini mungkin lebih cocok untuk indonesia tahun 2002 daripada 2020.

 

benar bahwa if you’re gay you shouldn’t feel sorry for yourself and you don’t have to say sorry even to your mum, but isn’t that, morally at least, terutama bagi para gay, dan non-gay but gay-friendly hipsters jakarta, pretty obvious already? c’mon, in this gay and age, if i need affirmation for my gay/gay-friendly lifestyle i just go get myself an iphone and download Grindr!

 

mungkin beda jika pertunjukan onrop! ini dibawa ke pelosok aceh dan propinsi-propinsi (katanya) syariah lain yang (katanya) penduduknya tidak akan menoleransi pandangan gay-friendly. mungkin di sana akan banyak kaum LGBTIQ yang memerlukan afirmasi yang diteriakkan tokoh amir tadi. 

 

namun onrop! dipertunjukkan di jakarta dengan harga tiket yang cukup mahal sehingga rata-rata penonton yang mau dan mampu menonton adalah kelas menengah jakarta yang always already gay-friendly. preaching to the converted? more like pengen jadi misionaris tapi malas keluar gereja. 

 

mungkin itu makanya satu lagi tagline onrop! yang dicetak di poster dan buku programnya berbunyi “sebuah komedi satir bagi yang masih percaya akan kekuatan cinta”, bukan “sebuah komedi satir bagi habib rizieq dan anak SALAM UI”.

 

dari jaman juvenal sampai teater koma, satir ditujukan kepada yang dijadikan obyek satirnya. pagan rome, orde baru. onrop! memang sebenarnya satir yang ditujukan kepada FPI, @tifsembiring, dan SBY yang menoleransi mereka semua, namun apa boleh buat, kecuali habib rizieq sudah mau salaman juga sama michelle obama, yang akan menonton onrop! hanyalah orang yang memang sudah percaya akan kekuatan cinta dan tidak perlu diyakinkan lagi. 

 

bagi crowd ini, “i’m gay and i’m not sorry?” is lame. kenapa tidak “I’M GAY AND I’M SORRY YOU’RE NOT GAY!”?

 

seperti advokasi eLeSeiyM (ORNOP! :P), “i’m gay and i’m not sorry” sekaligus banal dan tidak real. hidup sebagai kaum LGBTIQ di jakarta tidak selamanya hunky dory seperti di pulau onrop! (atau seperti keguyuban menonton onrop! itu sendiri, yang menurut salah satu teman saya bisa dideskripsikan sebagai “local art scene group hug”.***)  gay club buat anak-anak gaul selatan sekarang tinggal heaven**** saja dan mas-mas gay tukang ojek mangga besar harus puas dengan ghetto ML mereka. i AM sorry i’m gay and have to live in this town!

 

oke, secara moral sebagian (banyak) kaum LGBTIQ mungkin perlu diberi semangat supaya seperti amir dan sari banci taman lawang tadi suatu saat dalam sebuah utopia yang diriilkan, mereka bisa bergandeng tangan dengan kaum-kaum marjinal lain untuk menyadarkan kaum moralis bahwa merekalah yang seharusnya bilang “I’M SORRY” karena selama ini telah menindas kaum LGBTIQ/ahmadiyah/OPM/TKW/4L4y.

 

dan mungkin onrop! adalah karya advokasi LGBTIQ yang lumayan berhasil. 

 

namun, dengan pesan moral bahwa being gay is okay, porn is in the eye of the beholder, might is not always right and love conquers all, onrop! sebenarnya lebih mirip film disney***** daripada komedi satir.

 

dan sebagai musikal, i’d rather watch the lion king. 

NOTES:

*judul diganti dari tadinya “gay means happy. until around mid-20th century” atas rekomendasi@JessieHuwae

**@ulil cyin, baca deh Sejarah Film 1900-1950: Bikin Film di Jawa oleh Misbach Yusa Biran

***witticism from @lollypoep

****ternyata heaven juga udah tutup, lihat komen @mumualoha di bawah

*****i owe this observation to @wunnybabbit 

about 2 years agoarddhe (Twitter) responded:
0cbc90a728bddc19e67988dcd7efd3b9_normal
sementara tari2an di onrop! lebih mirip tarian cheers pensi atau background dancers di gebyar bca
about 2 years agoariesaptaji (Twitter) responded:
Arie_normal
joni berjanji membacanya:
“@jokoanwar Joko Anwar
Selain review yg memuji, review yg mengkritik juga perlu dibaca supaya tetep inget bumi. 🙂
20 Nov Favorite Retweet Reply”
tapi, bakal dia RT gak ya?
about 2 years agooldeuboi (Twitter) responded:
102b299a85048e0cc74d379b97b535c3_normal
@ariesaptaji Ragu kalau dia bakal RT mas. *sigh* A very insightful review, anyhoo.
about 2 years agolollypoep (Twitter) responded:
E781bdcb4ab9897a6ef2c5e9bcecec10_normal
suka tulisan ini
about 2 years agoPugar Restu Julian (Facebook) responded:
Pugar Restu Julian

wah gue belom nonton nih…gara2x sakit typus…kalo gak gue bisa bikin review bandingan a la gue hehehe…

tapi mungkin baik jg disebarluaskan…jadi biar sudut pandang orang macem2x…

(ngomong apa sih gue?)

about 2 years agooomslokop responded:
oomslokop
thx for the com(pli)ments! 🙂
about 2 years agomumualoha (Twitter) responded:
4-1_normal
heaven juga udah lama tutup, cyinn…sempet pindah bentar ke menara jamsostek, pake management yg beda, tapi gak bertahan juga
about 2 years agota2surya (Twitter) responded:
9f5a22790449da5e8fac1624fa485fe7_normal

ya ampun.. bisa komen? #gaptek

“a nice review. Seriously” ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s