van der Tuuk you old goat

‘i am not here!’ 

ha you were never there

not in yr head Herman Neubronner

you lost it in a Rampokan Jawa 

                                                        some nautical miles off the margins of yr mind

skin the beast

chariot-break it

it’s one’s civilization that is always at stake

’tis always 

                            at the stake

nothing grows under the waringin tree

and how many acres are the old king’s universe pinned and nailed like a queer at the old vic?

‘kari sak megare payung’

you’d understand that Herr man

instantly

you’d only hv to do a bit of comparative philology

swot on yr Old Kawi

and you’re all set

leave the old goat bleating under yr balé-balé

leave it to yr Balinese njai                            Gusti Dertik you freak

Cimetière du du du du

du du du 
           du du 
du du 
       du du
du du
    du du
du du

du du

semakin lama semakin susah menemuimu
di antara segala macam hiper-keisengan kota ini
bayangkan beratnya menahan godaan
memesan moja whopper dan curly cries
bayangkan susahnya tidak mencari-cari kelucuan 
pada baliho the kingdom dengan jennifer garner yang kelihatan seperti edward said

mmm-a-l is this too personal?

duluakuseringmelihatmudisepanjangjalancikiniraya
dengan pisau di pinggang dan frank o’hara
—lunch poems, edisi city lights
menyembul di kantong belakang celana khaki gombrongmu
kadang-kadang kau lemparkan pisau ke tengah jalan
dan ujungnya akan mencungkil sebongkah aspal
kadangkadangkadangkadangkadangkadangkal
-a kau coba paksakan membeli hotdog dan coklat malt
bersama hantu maïakovski dan segumpal awan di celana dalam
-mu

du 
    du du
du du

du du
    du du
du du
    du du

du du 

du du

this poem could be about you
this p-p-p-
             oem
could be about
             
             who

aku hanya bisa bergantung pada sekali-sekali
tersesat di sebuah restoran ye olde
di dalam ruangan famili yang kosong melompong
melihat ke pojok, dan: 
kursi kayu tua berpunggung rotan
koyak-moyak

(seperti sebuah set film hantu
yang benar-benar dihantui
dan ditinggal (mati) semua kru)

kau meringkuk di atas kursi itu 
mengambil ancang-ancang
menerkamku!

 mmm-a-l 
            is this
                too
                                                                                                                    

                                                                                                                     phanta
                                                                                                                               smal?

TEMPO DOELOE

A collection of tempo doeloe-era short stories edited by Pramoedya Ananta Toer. In Melayu Pasar not Indonesian, presented in original Van Ophuijsen spelling. 

It reads like a cerita silat anthology with local characters. Full of penyamoen, boedak, fat sopi-drinkin Kandjeng Toean, baba-baba Tjina, cowardly politie, et al.

Settings are surprisingly more Batavia coret than downtown: Kalideres, Antjol, Tangerang, even Tjiledoek! First time I read Tjiledoek in a story (pitstop for two penyamoen en route to Kebajoeran to sell a stolen water buffalo).

DOUBLE FOLD

by Nicholson Baker

Read this during my Nicholson Baker phase. Which came right on the heels of my John Updike phase.

In hindsight, I only liked Baker’s non-fiction works–this, a tirade against microfiche which I thoroughly support, and his literary stalking of Updike in U & I.

I kept trying to read his micro-detailed fiction like The Mezzanine (ie, What I Think About When I Think About Other Random Things While Tying My Shoelaces During My Lunch Hour) thinking it must be genius ‘till I gave up thinking I don’t give a shit about genius if it’s this fucking boring.

P.S. “Double fold” is a brittleness test you perform on old paper by folding the dog ear of a page twice in opposite directions. If the dog ear falls off, digitize it.

BURUNG-BURUNG MANYAR

image

oleh Y.B. Mangunwijaya

Bildungsroman prajurit KNIL cemen yang cinta mati dengan teman masa kecilnya di Kraton Mangkunegaran yang sekarang bekerja sebagai asisten Syahrir di pihak Rikiblik.

Apa daya Konferensi Meja Bundar membuat kisah cinta mereka jadi pear-shaped.

Di waktu tua, saat Montague sudah menjelma dari Belanda menjadi Freeport dan Capulet menjadi keluarga sakinah beranak tiga, prajurit KNIL cemen bertemu lagi dengan Juliet yang cintanya masih membara dan tidak keberatan poliandri.

Tapi apakah prajurit KNIL cemen masih tetap akan cemen dan lari dari peluang berbahagia atau kali ini ia menolak menjadi burung Manyar jantan yang dengan pasrah merusak sarang yang sudah dibuatnya buat Manyar betina yang menolaknya semena-mena?

Hanya di !nsert Investigasi.

KUMPULAN BUDAK SETAN

oleh Intan Paramaditha, Eka Kurniawan, Ugoran Prasad

Intan’s three stories that were not already published in Koran Tempo are, suprisingly, the best.

Surprising since her previous short story collection Sihir Perempuan was a bit stiff, sounding more like a tome of recyled gothic THEORIES than deconstructed-then-rebuilt gothic stories some critics claimed it to be.

In these three stories, Intan not so much recycled Abdullah Harahap’s dime-novel gothic-horror mannerisms as got totally possessed by them. Same choppy cinematic descriptive sentences, same gallows humor.

Intan wrote her stories closer to the gothic templates than Harahap. If you think that’s a good thing then you could say Intan has improved on the original master’s work. As an example, in her story “Pintu” (cf. Harahap’s own “koridor”), the modernisation of gothic settings/characters/tropes from castle –> rumah gedongan, Translyvania –> kompleks perumahan Jakarta coret, Dracula –> a gay married man, hypocrisy of Victorian England –> of Jakarta, is taken to its logical conclusion sans Harahap’s characteristic digressions/plot holes.

But then again, one of the thing that’s great about the master Harahap’s work is how often it defies attempts (by critics) to fit them perfectly into a gothic template. The lack of perfect fit is unsettling, disturbing, terrorizing, some of his stories often terrify/horrify because of, not despite, those transgressions.

Intan’s stories make me smile and chuckle at how clever they are/she is. But that’s not why I like them. She’s just such a better story-teller now than she was in Sihir Perempuan.

7 kelahiran, 3 kematian, dan 1 imigran

Courtney Sina Meredith

terjemahan oleh Mikael Johani

 

Gaun 3 Euro di K Road

katun hitam tanpa beha.

 

Musuh bebuyutanku di ujung jalan

sementara laki laki yang menggenggam tanganku tadi malam

menambahku jadi teman di Facebook.

 

Kota ini telah menjadi tubuh yang lain

kulit yang membentang seperti kolam renang

kuterjun dan kucium seutuhnya.

 

Apakah ini sebuah remake Star Trek murahan

dibintangi empat juta tubuh

yang bergerak di frekuensi frekuensi yang berlainan?

 

Tak ada budak di ruang tamuku

hanya laki laki yang sedang menganggur dan karyawan call centre

bis hijau yang kembali dari Waitakere mengelupas aspal.

 

Aku mencoba mengerti CNN dan Assange

meskipun berita yang kudengar mengerikan seperti bor listrik dalam kelamin perawan.

 

Kutulis lirik untuk langkah tegap mereka

meski harus kukhianati egoku.

 

Aku melihat banyak hal

K Road telah tenggelam.

 

Sekarang tengah malam di Munich

jarak yang mereka ajarkan di sekolah

tak ada artinya lagi.

 

Tong sampah di seberang jalan

membeku di trotoar

selama aku pergi.

 

Seorang tentara berkaki telanjang

mengais sisa makanan di dalamnya tiap pagi. 

sepasang

Nostalgia = Transcendence
Toeti Heraty

Nostalgia is transcendence,
yes, it’s another play on words
and foreign words at that
but everything is foreign now
everything is an illusion
let’s get back to nostalgia
it is also, a loss,
shadows in our memory
which have lost their terror,
irony has pillowed them

the present in flashback
who knows what’s going to happen…
what’s happening now – yesterday – tomorrow,
all taken care of
isn’t that transcendence?

 

Apa Itu Puisi
John Ashbery

Kota abad pertengahan, berhias uliran
Pramuka dari Nagoya? Salju

Yang turun setiap kali kita minta?
Bayangan-bayangan yang indah? Mencoba menghindari

Gagasan, seperti dalam puisi ini? Namun gagasan itu
Bagai istri, selalu kita sambangi kembali. Yang kita tinggalkan

Justru selingkuhan yang lebih menggoda. Sekarang mereka
Harus percaya

Seperti juga kita harus percaya. Selama sekolah
Semua pikiran kita rontok

Yang tersisa hanyalah sebuah lapangan kosong.
Tutup matamu, dan kau bisa meraba permukaannya sejauh bermil-mil.

Sekarang bukalah matamu tepat di depan sebuah jalan setapak tegak lurus.
Di ujung jalan itu ada—apa?—serangkai bunga?