PEREMPUAN BERMATA BESAR YANG DONGENGNYA TELAT AKU DENGAR

Sebenarnya, aku yang mendongeng kepadanya lebih dulu. Di bangku keras di luar Burger King Djakarta Theatre, suatu malam yang luar biasa panas. Susah sekali bernapas. Dia duduk di sampingku, tapi aku tidak tahu. Tiba-tiba dia bilang, ‘Dongengi aku sesuatu!’

Poninya dipotong pendek menutupi dahi yang kelihatannya besar. Bando emas. Aku melihatnya dari sudut mataku.

Dan berceritalah aku tentang Oom Slokop dan Bibi Titi Teliti dan cinta mereka yang pudar. Sekali-sekali aku melirik ke poninya yang lengket di dahinya yang mengkilat. Malam itu sungguh panas.

Sekali-sekali dia tertawa kecil, tangan di mulutnya. Tapi lebih banyak diam. Menarik kaki ke atas bangku, begitu mungil, mungkin muat dua kali dia. ‘Kupanggil kau Coreng saja ya,’ kataku.

Dia pergi malam itu tanpa mengucap selamat tinggal. Bersama teman-teman lain yang juga tidak mengucap selamat tinggal. Habis itu hujan deras, seperti pancang-pancang air ditancapkan dari angkasa. Aku tinggal di situ, menikmati hawa yang tiba-tiba sejuk dan percakapan tentang Joni Mitchell, ‘those fuckin aksara kids’, dan rencana masa depan bersama teman-teman yang sama-sama malas pulang.

Besoknya di facebook-ku sudah menunggu undangan berteman dari dia. Dia menulis kisah pertemuan yang panjang dan lucu. Aku ingat ‘we met randomly’, ‘he drank all the beer at Café Au Lait’, dan ‘then we chatted wearily in front of a Burger King’. Di foto profilnya dia terlihat pucat dengan mata yang luar biasa besar.

Kedua kali kita bertemu di d’place, bar murahan dengan pitcher Anker kemahalan, house band yang bising. Aku bilang, ‘Aku ingin menulis dengan hati seperti kamu.’ Dan dia bilang, ‘In this city, what do you need a heart for?’ Dan malam itu kuhabiskan menatap ke luar jendela dan ingin sekali menangis. Lewat tengah malam dua pria temannya datang, satu dengan pin metal di dalam bahunya gara-gara kecelakaan motor. Dia pulang dengan pria berpin metal itu.

Sementara aku melanjutkan malam ke sebuah kedai bubur babi di Mangga Besar.

Ketiga kali ketemu, kita sudah akrab lewat berjam-jam percakapan virtual dan saling mengirim hadiah nakal di facebook. We made a baby, she named her Geluduk. I bought him a hat. Dia memanggilnya anak setan. Karena rambutnya oranye, merah yang luntur dari genetic profile-ku.

Kita minum sembilan pitcher bir dengan beberapa teman dan Saut Situmorang, seorang penyair besar yang tak mau bayar. Di HK Café, restoran bingung konsep dengan pitcher Heineken termurah di sekitar Sarinah. 65 ribu.

Kita naik taksi ke Menteng tapi BB’s tutup jadi aku bermain ayunan dengannya di Taman Menteng. Ayunannya terlalu rendah jadi aku berhenti saja, mendengar dia bicara tentang posting-postingnya di multiply. Dan aku membalas dengan cerita tentang posting-postingku di multiply. Dia bermain ayunan dengan kedua kaki terangkat lurus ke depan. Sepatunya Jack Purcell warna emas. Dia berhenti sebentar untuk berkata, dengan kaki menyilang di bawah pantatnya, ‘I want to live in a tree house.’

Malam itu kita harus mengantar teman yang mabuk gila-gilaan ke kamarnya di Rusun Kebon Kacang. ‘We’ll take him home and then I’ll take you home, yes?’ kataku. Kita naik taksi Putra. Di tangga turun dari lantai dua aku menonton kakinya yang dibalut stocking hitam dari belakang dan rasanya aku ingin memeluknya saja. Tapi aku tidak mengatakan apa-apa.

Di taksi dia bilang, ‘Where were we?’ dan kita berblablabla lagi tentang hidup dan keinginan sepanjang jalan ke Tebet Dalam IX. Sebelum dia turun aku memeluknya, rambutnya ringan dan harum, bau apel, di ujung hidungku, kemudian menciumnya di pipi, sekali saja. Agak terlalu lama.

Waktu taksi berjalan pergi aku menempelkan tanganku di kaca jendela dan dia tidak kelihatan terlalu terburu-buru membuka pagar. Aku melihatnya sedang tersenyum, dan setiap kali dia tersenyum dadaku rasanya seperti dibuka lebar-lebar.

Besoknya kita bertemu lagi karena harus dan dia menunjukkan sebuah cerita berjudul Anak Lelaki yang Tidak Mempunyai Hati. Cerita itu tentangku. Ternyata selama ini hati itu kusimpan di bandul kalung yang melelehkan air waktu aku membukanya. Aku termenung lama di depan monitor laptop seorang teman dan dia berkata, ‘Don’t tell me you’re crying!’ Dan aku menjawab, ‘Remember, I haven’t got a heart.’

Malam itu kita tidak minum dan rasanya suntuk. Kupinjamkan dia iPod-ku, ‘Kau bosan, Coreng?’, dan semalaman di DimSum Festival dia duduk merengut sambil mendengarkan koil.

Kita pulang menebeng teman yang pergi ke semua penjuru arah dan dia satu-satunya yang kucium sebelum kita berpisah. Kemudian dia mengatakan sesuatu yang tidak begitu aku dengar tapi aku iya iya saja sampai kemudian aku sadar dan dia mengulangi, ‘Sebelum aku pergi, aku mau ke Kebun Raya.’

Besoknya aku kirim pesan kalau cuaca ramah kenapa kita tidak pergi saja hari Minggu, tapi hari Minggu dia harus ke gereja. ‘wadebout mandei,’ katanya, dan aku tentu bilang oke saja.

Tapi besoknya lagi dia bilang wah mandei ternyata malam Natal dan tanggal 26 maksa mungkin tanggal 27. Kemudian kupikir kita berdua sok-sok lupa meneruskan diskusi tentang rencana ini.

Besoknya lagi aku tidak tahan tidak bertemu dia jadi aku bilang di YM kenapa aku tidak ke Tebet saja. Dia bilang terserahmu pun dan aku menjemputnya dengan taksi di gang depan rumahnya. Kita pergi ke Cizz dan dia bilang ‘I can’t believe you worked in Tebet for a year and you never ate at Bebek Ginyo (Gino?).’

Aku makan Truffle Torte dan dia Black Forest Cheesecake dan kita ngobrol tentang Beatrice di postingan multiplyku siang tadi dan kenapa Beatrice. Kemudian dia bilang, ‘Can we talk about your posts but not the Beatrice ones?’ Kemudian dia bilang lagi, ‘Ha, I just love bringing you back to reality!’

Kita ngobrol begitu lama sampai diusir kemudian aku bilang what should we do I kinda wanna drink dan dia mengusulkan why not go to Circle K and drink it at my house.

Di rumahnya aku disambut Laika chihuahuanya dan selamat malam tante dan langsung menuju lotengnya di lantai tiga. Ada sofa, spare mattress, buku tentang Roh Kudus dan poster Yesus dari kulit kambing. Kemudian aku bercerita tentang temanku di Palbatu yang punya loteng juga di lantai tiga tapi terbuka jadi aku menghabiskan begitu banyak waktu di sana hanya untuk melihat lampu Electrolux berubah warna dan dia bertanya well do you wanna go outside to the balcony?

Balkoninya lebih nyaman daripada loteng temanku dan di situ kita menonton bulan yang hampir sempurna. Langit Jakarta begitu bersih kita tidak mau percaya. Ada satu dua bintang menampakkan muka dan kita menyesal kita tidak tahu apa-apa soal rasi dan sebagainya.

Di sekitar bulan ada cincin besar yang seperti bukan terbuat dari awan dan kita bertanya-tanya apa nama ilmiahnya.

Kemudian awan mulai datang dan kita mengarang-ngarang bentuk mereka menyerupai apa. Pertama-tama seekor serigala dan dia ingat tentang dongeng-dongengnya tentang tidur dengan serigala. Kedua seekor celeng dan aku bilang mungkin dagingnya akan terlalu keras kalau dibikin panggang. Ketiga seekor kelinci dengan tato angka empat di pipinya.

Kemudian adiknya yang masih SMU datang dan bercerita panjang lebar tentang rencananya besok malam Natal mau ke Mal Taman Anggrek main ice skating. Kata-kata seperti bah dari mulutnya. Kepalaku tenggelam. Sekali-sekali kupalingkan muka untuk melihat anting bintang di cuping kanan hidungnya. Leherku berat seperti beton.

Akhirnya adiknya pamit untuk tidur dulu dan kelihatannya dia juga lega dan kita kembali ke dalam duduk di sofa. Memandang kartu Natal lama yang dia tempel di tembok, bergambar babi dan berjudul ‘HAPPY CIRCUS’. Kartu itu tersusun dari puzzle tapi aku tak tahu sampai dia memberi tahuku.

Dari tadi dia sudah menguap, waktu aku bilang seharusnya kita beli lebih dari dua botol besar Heineken, dia bilang, but I’m soo sleepy already sambil menutup mulutnya dengan tangan. Sekarang, setelah dia bertanya ‘What’s so happy with a circus full of pigs?’ dan aku tidak menjawab kita diam beberapa saat. Kemudian aku bilang, ‘I should let you go to sleep.’

‘Gimme a hug.’

Dan aku memeluknya lama, rambut ringan bau apel yang sama, dan setelahnya bibirku menuju ke bibirnya. Dia lebih pendek dariku jadi aku harus agak membungkuk. Aku tahu ciuman pertama aku yang memulai. Tapi aku tak tahu apakah ciuman yang kedua dia yang membalas ciumanku atau aku yang tak puas dengan hanya sekali. Bibirnya terasa kaku. Telaga berkecipak antara mata dan dadaku.

‘I knew this was gonna happen,’ katanya sambil melepaskan diri dari pelukanku.

Kemudian dia berdiri dan pergi ke arah botol bir di meja di bawah babi-babi HAPPY CIRCUS, memasukkan satu botol ke kantong plastik Circle K yang putih bersih, membenamkan kedua tangannya ke kantong celana, dan berjalan kembali ke arahku di sofa. Mukanya tersenyum dan aku ingin sekali tahu apa artinya.

‘This is when I start to think about all those girls. I know your girlfriend, she’s nice.’ ‘Yah, I know. She is nice.’ Apalagi yang bisa kukatakan, apalagi yang bisa dikatakan siapa pun dalam keadaan seperti ini? Aku berpikir tentang Bunga, pacarku yang berhati emas, dua gigi depannya yang seperti gigi terwelu, begitu lucu, rahangnya yang sekotak rahangku, dan waktu itu kami berdua pergi ke kraton Mangkunegaran dan mbak-mbak guide yang berambut panjang sampai ke pantat bilang, ‘Muka kalian sama, pasti jodoh.’

Dan sekarang aku sedang mengkhianatinya.

Aku hanya diam saja lama. Dia juga diam saja lama. Kemudian setengah mengarang aku bilang, ‘You’d better kick me out of the house.’ Dan dia tetap tidak mengatakan apa-apa, hanya bangkit dan mulai berjalan ke arah pintu. Hatiku robek menontonnya.

Dia menungguku di depan pintu dan sesampai di sana kusambar pinggangnya dan kupeluk dia. Karena dia lebih pendek dariku aku sekali lagi harus menunduk untuk mengangkat dagunya ke bahuku. Belum juga aku puas merasakan lancip dagunya di bahuku dia mendesah terlalu keras dan melepaskan pelukannya. Aku hanya bisa menyaksikan kedua tanganku jatuh ke samping tubuhku.

Dia mengantarkanku sampai ke bawah, melewati rumah yang mulai gelap, mencari-cari sepatu dengan ujung jari kakiku. Dia mengantarku sampai ke pagar, tapi dia tidak ikut keluar pagar. Dia hanya mengucapkan ‘Bye’ dan waktu aku bertanya ‘Keluarnya ke arah sana, kan’ sambil menuding ke arah kanan mukanya sudah tidak kelihatan karena dia sibuk menunduk mengunci pagar. Mungkin dia setengah berteriak ‘Ya’ mungkin juga ‘Tidak’, tidak apa-apa, aku sudah tahu juga sebenarnya harus jalan ke mana.

flower crotch

I was woken up by the phone ringing. It was loud. I had thought of setting the ringer volume lower for months. But I’m afraid my mother would get angry. She wants it loud. So does my father. I had set the volume lower one time and my mother couldn’t hear a call from one of her patients and she got really angry. She’s an ophthalmologist. Very conscientious. Always said that she only knew one thing when she was growing up: that she was going to be a doctor.

The phone was in my dad’s room. The door to my room was shut. My dad’s room is across the living room. Maybe 10 metres away. There are five air vents in my room, two covered with thin glass and three with mosquito nets. The ringing had gone straight through the wall.

I got off the bed and ran to the phone. Just before I got to the phone I looked out to the front windows and I could see my mother’s white doctor’s robe. And her arm lifted in a V to hold her mobile phone to her ear. I didn’t pick up the phone. “Yeah! Okay!” and ran to the door and turn the key once. “Shouldn’t have locked the door, I needed to go to the toilet for ages.” “Yeah. Okay.”

I walked back to the living room. Looked at the clock on the wall. 9.30. I had wanted to watch a replay of the New Zealand v. Australia Rugby World Cup Semifinal 2003, it was on at 9. I sat down and turned on the TV, set it to AV1, the decoder, and pressed 3 and 6 for the channel number. That took maybe a minute. The game was already on. 25 minutes into the first half. NZL 0 – 10 AUS.

Four years ago. I was walking with Claire to her birthday party at an Indian restaurant on Crown Street, Sydney. We were walking up a hill in the late afternoon and the sun was shining and I was starting to sweat, but I didn’t mind. She was wearing a long olive-green velvet skirt that I knew had a stain near the hem but you couldn’t see it. The skirt was ruffled and your eyes would get distracted by the pretty embroidered red and yellow flowers near the crotch anyway.

Nick Agafonoff had left a message on our answering machine earlier that afternoon saying that rugby was very important to him and that he couldn’t come to the party because he couldn’t possibly miss Australia playing New Zealand in the semifinal of a Rugby World Cup and he was going to have to watch that on TV instead of coming to Claire’s party. She said fuck him, he’s so self-centred. I said, don’t worry, he’s just a child. I set the VCR to record the game at 7.30, then we took the bus to the restaurant.

The party was fine. There was pretend belly-dancing, piles of naan, six-packs of beer, sweaty bottles of cheap wine. Even Matt, who had also wanted to watch the game and came late so he could watch the haka and the first few minutes (“Australia scored first, they were smashing the All Blacks, I can’t believe it”) and kept checking his mobile phone for time, didn’t go home too early. Wasn’t even the first one to leave.

Back at home (“That was fun, wasn’t it”) I sat on the divan with my shoes still on, turned on the TV, VCR and pressed Play. It was NZL 0 – 10 AUS. I had set the VCR half an hour too late.

Now I was watching the replayed game, but I wasn’t really watching. Bodies falling into the ground, not wanting to fall to the ground, a guy with his trainer holding a handkerchief over his nose, I was looking for the blood but couldn’t see it, he had red tattoos along his lower arm, the player. “This is not the All Blacks we’ve seen carried all before them in in this tournament!” I turned off the TV, the decoder.

A couple of hours ago. I was in my room reading Robert Olen Butler’s From Where You Dream. From where? Then I jerked off thinking about Holiday. A girl I met once at a book launch I invited her to. I was working as an editor at a small but rich publishing company and I’d come up with the idea of rereleasing a short novel written in the ’70s about a young rich girl from Jakarta who went to college in Bandung, got pregnant and committed suicide. It was narrated by her ghost. Written by a former nun. Holiday’s favourite book.

She had stood up at the discussion and asked a question, or offered a comment, I wasn’t really listening. I had not met her before but seeing this girl in dark green t-shirt and brown cargo shorts, speaking with her head tilted to the right, a rope of hair falling over and over her face, I knew that was her. Later I looked and found her near the Biography shelves at the bookstore (owned by the publishing company) where the launch was held. “Intan, yes?” I had used her real name. I forget what we talked about. Books. I told her to wait and grabbed her a copy of Lorrie Moore’s Self-Help that I’d been telling her about. She told me about this guy in Jogja who sold cheap second-hand books online. She held her mobile phone up to my face so I can copy his number. I remember his name. Homerian. And her fingers wrapped around the buttons on her mobile.

Now I was jerking off thinking about her fingers. They were soft. So was her body. Untoned. She had dark nipples. Soft breasts. Soft tummy. Folds on it as she lifted her legs to receive me. I called out her name. “Oh, Holiday.”

I fell asleep after that. I always do. Now I’m in the same bed. The blue Grove book next to my laptop. I’m watching highlights of the game on YouTube. The first try was an intercept. The pictures were blurry.

minor poet

why copy the masters

becuz the night becuz the princess of peacocks got syphilis

off a french boulangerie patisserien

‘masa ini ann demeleumeester ?’

‘no way fuck you mister !’

becuz i got nuthin to say

apart from a thin description

of a pack of everest

and a fascimile of Gedong Lami

define : cut//copy

sastra kesaksian atau romantika semata?

esei damhuri muhammad di kompas minggu (2/8/09), yang berjudul ‘romantika pasca-enam lima’, meminjam istilah pengarangnya sendiri adalah tulisan yang tidak ‘akan berdiri sebagai peristiwa yang mandiri’. kita perlu memperhitungkan ‘fakta-fakta’ di luar ‘esei’ ini.

membaca esei ini saya jadi sadar, damhuri memang hidup di masa ‘pasca-65’ tapi mungkin bukan tahun 2009. begitu takutnya dia dengan ‘stigma PKI’ sehingga dia susah2 mencoba membuktikan bahwa tulisan2 martin aleida ‘tidak perlu dicurigai mengusung tendensi tertentu.’ bahkan dia bilang ‘tendensi tertentu’! apakah orde baru masih berkuasa? kenapa damhuri tidak bilang saja PKI/marxisme/komunisme etc.?

kelihatannya yg dimaksud damhuri dengan ‘pasca-65’ adalah tahun 1980-an, setelah film pengkhiatan g30s/pki dirilis dan kata ‘PKI’, ‘marxisme’, ‘komunisme’, etc. menjadi sama mengerikannya dengan ‘Sundel Bolong’, ‘Nyi Roro Kidul’, ‘Bayi Ajaib’.

sementara martin aleida sudah lama ‘boldly gone where no mas has gone before’ dan justru ingin kepro-PKI-annya terlihat jelas di seluruh cerita2nya. martin menyebut tulisan2nya sebagai ‘sastra kesaksian’, klaim yang diakui oleh damhuri dalam ‘esei’ ini dengan menyebut martin sebagai ‘penggerak sastra kesaksian’ !

namun dalam eseinya damhuri melawan argumen katrin bandel dalam kata penutup kumcer martin terakhir, ‘mati baik-baik, kawan’, bahwa ‘tampak jelas martin bukan sekadar ingin menceritakan peristiwa 65 dari perspektif yang berbeda, ia juga punya misi untuk melawan pemalsuan sejarah.’ menurut damhuri, argumen katrin ini adalah ‘cara menimbang yang agak berlebihan dalam konteks pembacaan teks sastra.’

perlawanan ini sama sekali tidak menghiraukan bertumpuk2 bukti dalam kumcer ini maupun dalam cerita2 martin yang lain bahwa martin memang punya misi yang disebutkan katrin tadi. sekedar contoh, dalam cerpen ‘malam kelabu’, disebutkan nama desa soroyudan, mojo dan laban, ketiga2nya basis PKI di tepi bengawan solo. saya sempat berpikir bahwa nama2 desa ini adalah nama samaran. ibu saya berasal dari bekonang, kecamatan mojolaban, di seberang bengawan solo kalau dari arah kota solo (juga tempat asal arswendo asmowiloto dan jujuk srimulat). saya pikir desa mojo dan desa laban yang disebutkan martin dalam cerpennya adalah nama samaran untuk satu desa ‘mojolaban’, tapi setelah saya cek dengan ibu saya, desa mojo dan desa laban memang dua2nya ada, dan dua2nya basis PKI.

jadi bahkan martin pun berusaha melawan propaganda geografis orba, melawan pemalsuan sejarah yang di masa orba sering mengambil bentuk pemalsuan atau penyamaran nama tempat yang menjadi latar cerita tentang PKI dan orang2nya. (coba ingat-ingat, di manakah sebenarnya dukuh paruk?)

dalam eseinya, damhuri memakai pendekatan yang sangat sempit untuk membaca cerpen-cerpen martin, memvonisnya dari awal sebagai (sekedar) ‘romantika’, dan segan mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan selain itu. sayangnya hal ini sering sekali terjadi. banyak penikmat maupun kritikus sastra indonesia yang sepertinya lebih nyaman menempatkan sastra sebagai sesuatu yang oh so suci dan tidak sepantasnya dikotori dengan hal-hal yang tidak sastrawi macam sejarah, apalagi politik (apalagi tendensi tertentu). jika anda menghadiri diskusi buku martin yang dibahas ini di pds hb jassin beberapa bulan yang lalu, anda akan bisa menyaksikan kecenderungan ini secara langsung.

salah satu kemungkinan yang seharusnya bisa dipertimbangkan damhuri adalah membaca karya sastra sebagai ‘historical documents’, seperti yang dilakukan salah satunya oleh robert darnton dalam buku klasiknya, ‘the great cat massacre’. satu lagi kemungkinan adalah memakai pendekatan new historicism, atau versi abal2nya di sini, ‘sastra kontekstual’. namun ironisnya, esei yang dimuat di kolom ‘sastra’ kompas minggu dan memakai gaya pseudo-akademis ini (termasuk memakai catatan kaki, eg, ‘terj. Akhadiati Ikram, 1991’) justru malah menunjukkan tendensi (pun intended) alergi kepada pendekatan-pendekatan akademis.

jadinya, esei ini seperti menderita split personality: di satu pihak nadanya santun dan berhati-hati, namun di lain pihak isinya menghakimi dengan sepenuh hati kalau tidak bisa dikatakan agresif. hal ini menghasilkan ironi-ironi lain yang sepertinya tidak sepenuhnya disengaja, seperti mengutip asvi warman adam—sejarawan kiri indonesia yang sering menulis tentang kekerasan ’65—yang mengatakan bahwa cerpen2 martin aleida adalah ‘upaya mengejek dan menertawakan nasib orang2 yang tergetahi stigma PKI… [yang] peruntungan mereka lebih ditentukan oleh stigma PKI itu’, tapi kemudian hampir dalam nafas yang sama bilang bahwa nasib kamaluddin—protagonis cerpen martin ‘malam kelabu’ di buku ‘mati baik-baik, kawan’ yang bunuh diri di tepi bengawan solo begitu tahu pacarnya partini dibunuh oleh massa karena bapaknya adalah pemimpin Barisan Tani Indonesia cabang Soroyudan—’dipastikan tak ada hubungannya dengan peristiwa2 berdarah pasca-65′.

di dalam cerpen itu, martin menceritakan dengan gamblang bahwa kamaluddin bunuh diri karena patah hati (‘romantika’-nya di sinikah?) pacarnya partini dibunuh massa karena dituduh PKI seperti bapaknya. klaim damhuri bahwa bunuh diri kamaluddin ‘tak ada hubungannya dengan peristiwa2 berdarah pasca-65’ jadi susah diterima karena ia tidak memberikan alasan yang lebih kuat selain klaimnya sebelumnya bahwa semua cerpen martin dalam kumcer ini memang ‘romantika’ semata. klaim yang dibuktikan dengan klaim.

contoh lain pembuktian klaim dengan klaim ini adalah waktu damhuri kemudian mengutip apa yang terjadi pada dewangga dan abdullah ‘dua sejoli sehidup-semati’ dalam novel martin ‘leontin dewangga’. damhuri mengatakan bahwa ‘tabu setangguh apa pun, tiada bakal berkutik di hadapan cinta sejati.’ ini setelah menceritakan kembali bagaimana abdullah adalah ‘mantan tapol yang dimusuhi banyak orang dan hidup menggelandang demi menghindari kejaran’ dan bahwa dewangga ‘juga pernah ditahan’ dan baru ‘bebas setelah merelakan tubuhnya ditiduri oleh seorang komandan militer.’ damhuri seperti mengajak pembaca untuk menghiraukan saja klaim-klaim ala ‘sastra kesaksian’ martin dalam cerpen-cerpennya. lebih baik mempercayai klaimnya sendiri bahwa semua itu hanya bagian dari kecenderungan ‘romantika pasca-65’.

damhuri sepertinya ingin membaca cerpen dan novel martin sebagai ‘romantika pasca-65’ di mana kekerasan politik macam apapun ‘tiada bakal berkutik di hadapan cinta sejati’.

walaupun para pemilik cinta sejati itu semuanya mati tersiksa dalam penderitaan.

happily dead ever after.

semacam gabungan antara mills & boon dan american psycho.

memodifikasi sedikit kata katrin dalam kata penutupnya tadi menjadi sebuah pertanyaan retorik, seorang pengarang kritis, apalagi kritikus, di tahun 2009 pasca-65 ini seharusnya tidak lagi bertanya, mengapa cerpen2 martin aleida dicurigai mengusung komunisme/marxisme/PKI-isme/BTI-isme (ie, ‘tendensi tertentu’) tapi apa rupanya yang salah dengan itu? with that out of the way, mungkin damhuri justru akan bisa lebih fokus mencari bukti tekstual yang lebih dari sekadar klaim untuk membuktikan bahwa yang ditulis martin sebenarnya adalah romantika, bukan sastra kesaksian.

express yourself, water babe

I entertain the thought of not being able to see my water babe grow big enough to swim across the arctic waters

So does my wife

In her ladybug bikini

How will the red of the ladybugs’ wings run in the cold black water ?

I say, thank you Clovique, for fast-forwarding my life to a grassless hill in Karawang

A modest river in the non-existent trees

Flowing slowly

What will you do to remember your mother and father, child ?

Your mother’s slumped doll head fast asleep feeding you through a cracked teat ?

Her backbreaking determination to express herself in the middle of the night

Her tireless understanding of a husband dozing off to dreams of MadAss Kymco Trend Spartan

I can’t expect you to remember things you don’t yet understand, child

But be good to your mother

She of the Casper-arms and eyes

I will pray in my own secular way so she can witness you bloom into an angel with the widest wing-span in the adult universe

So she can guide you through your first trip across all the points in all possible and impossible universes

You owe her, child, your life

You don’t owe me anything

(Except a kiss on my cold cheek when I’m dead. I’ve always wanted to know if the dead can still feel things they desperately want to.)

Tante Sophie

around the same time i decided to publish The Book, i bought a new vespa too. and by ‘bought a new vespa’ i meant buying a vespa that is new. 2007 issue. but the newness is not the point. what is the point. off all this shit. the shit is the relationship i had with this city, capital city of oompapa. i’ve always caught taxis, and other forms of public transport all my life. taxi is not public transport you stupid ass. i’ve never got my feet on the ground. my heels are shiny and spotless, like my new azzurro sky lx150 with red italian leather seats (treated with natural wax) and red aluminium handgrips (in my dreams). but now i’m ready. as never. a wife-in-training for a pillion. a zen still space between a waste disposal truck and a mayasari bakti. P06. get into it. and out as quick. The Book is a sort of Honda Astrea ‘86 in a gallery of New Mios. a couple of Royal Thai Finos thrown in. it’s a 2-stroke wonder aberration in a world dominated by 4-stroke killing machines. head-check! left. right. crash into yr afterlife. death. that’s what im prepared for. preparing for. death by slow whirring of National Library of Australia-approved air-conditioner-cooled air, leaning at 35 degrees on Maïakovskii’s magnum opus (whichever one that is), untouched by human hand since its mechanical appropriation by a nit-picking buyer from the Australia Indonesia Institute.

quit whinging.

QUIT WHINGING as the new QUIT SMOKING.

you’ve had quite a nice life. unlived that’s true. but on Tante Sophie* anything, even the examination of an unexamined life is possible. so said not socrates.

drifters are not cool. easy, vespinoy.

*Tante Sophie Hortense Cecile Doblijn, née De Pauly, the full unexpurgated name of my standard azzurro sky LX150 with factory-issue leatherette blue seat, also the name of the sullen matriarch in Breton de Nijs’s Vergeelde portretter: Uit een Indisch familie album.

After Lunch

After Po Chü-i

After eating lunch, I feel so 3.0.
Waking later, I sip two Ventis of green tea frappuccino,

then notice the Sarinah building aslant, the sun
already low behind Tenabang again.

Joyful people resent Twitterless days.
Sad ones can’t bear the slow connection at their offices.

It’s those with no joy and no Gizmodo—
they trust whatever Palm Pre brings.