PEREMPUAN BERMATA BESAR YANG DONGENGNYA TELAT AKU DENGAR

Sebenarnya, aku yang mendongeng kepadanya lebih dulu. Di bangku keras di luar Burger King Djakarta Theatre, suatu malam yang luar biasa panas. Susah sekali bernapas. Dia duduk di sampingku, tapi aku tidak tahu. Tiba-tiba dia bilang, ‘Dongengi aku sesuatu!’

Poninya dipotong pendek menutupi dahi yang kelihatannya besar. Bando emas. Aku melihatnya dari sudut mataku.

Dan berceritalah aku tentang Oom Slokop dan Bibi Titi Teliti dan cinta mereka yang pudar. Sekali-sekali aku melirik ke poninya yang lengket di dahinya yang mengkilat. Malam itu sungguh panas.

Sekali-sekali dia tertawa kecil, tangan di mulutnya. Tapi lebih banyak diam. Menarik kaki ke atas bangku, begitu mungil, mungkin muat dua kali dia. ‘Kupanggil kau Coreng saja ya,’ kataku.

Dia pergi malam itu tanpa mengucap selamat tinggal. Bersama teman-teman lain yang juga tidak mengucap selamat tinggal. Habis itu hujan deras, seperti pancang-pancang air ditancapkan dari angkasa. Aku tinggal di situ, menikmati hawa yang tiba-tiba sejuk dan percakapan tentang Joni Mitchell, ‘those fuckin aksara kids’, dan rencana masa depan bersama teman-teman yang sama-sama malas pulang.

Besoknya di facebook-ku sudah menunggu undangan berteman dari dia. Dia menulis kisah pertemuan yang panjang dan lucu. Aku ingat ‘we met randomly’, ‘he drank all the beer at Café Au Lait’, dan ‘then we chatted wearily in front of a Burger King’. Di foto profilnya dia terlihat pucat dengan mata yang luar biasa besar.

Kedua kali kita bertemu di d’place, bar murahan dengan pitcher Anker kemahalan, house band yang bising. Aku bilang, ‘Aku ingin menulis dengan hati seperti kamu.’ Dan dia bilang, ‘In this city, what do you need a heart for?’ Dan malam itu kuhabiskan menatap ke luar jendela dan ingin sekali menangis. Lewat tengah malam dua pria temannya datang, satu dengan pin metal di dalam bahunya gara-gara kecelakaan motor. Dia pulang dengan pria berpin metal itu.

Sementara aku melanjutkan malam ke sebuah kedai bubur babi di Mangga Besar.

Ketiga kali ketemu, kita sudah akrab lewat berjam-jam percakapan virtual dan saling mengirim hadiah nakal di facebook. We made a baby, she named her Geluduk. I bought him a hat. Dia memanggilnya anak setan. Karena rambutnya oranye, merah yang luntur dari genetic profile-ku.

Kita minum sembilan pitcher bir dengan beberapa teman dan Saut Situmorang, seorang penyair besar yang tak mau bayar. Di HK Café, restoran bingung konsep dengan pitcher Heineken termurah di sekitar Sarinah. 65 ribu.

Kita naik taksi ke Menteng tapi BB’s tutup jadi aku bermain ayunan dengannya di Taman Menteng. Ayunannya terlalu rendah jadi aku berhenti saja, mendengar dia bicara tentang posting-postingnya di multiply. Dan aku membalas dengan cerita tentang posting-postingku di multiply. Dia bermain ayunan dengan kedua kaki terangkat lurus ke depan. Sepatunya Jack Purcell warna emas. Dia berhenti sebentar untuk berkata, dengan kaki menyilang di bawah pantatnya, ‘I want to live in a tree house.’

Malam itu kita harus mengantar teman yang mabuk gila-gilaan ke kamarnya di Rusun Kebon Kacang. ‘We’ll take him home and then I’ll take you home, yes?’ kataku. Kita naik taksi Putra. Di tangga turun dari lantai dua aku menonton kakinya yang dibalut stocking hitam dari belakang dan rasanya aku ingin memeluknya saja. Tapi aku tidak mengatakan apa-apa.

Di taksi dia bilang, ‘Where were we?’ dan kita berblablabla lagi tentang hidup dan keinginan sepanjang jalan ke Tebet Dalam IX. Sebelum dia turun aku memeluknya, rambutnya ringan dan harum, bau apel, di ujung hidungku, kemudian menciumnya di pipi, sekali saja. Agak terlalu lama.

Waktu taksi berjalan pergi aku menempelkan tanganku di kaca jendela dan dia tidak kelihatan terlalu terburu-buru membuka pagar. Aku melihatnya sedang tersenyum, dan setiap kali dia tersenyum dadaku rasanya seperti dibuka lebar-lebar.

Besoknya kita bertemu lagi karena harus dan dia menunjukkan sebuah cerita berjudul Anak Lelaki yang Tidak Mempunyai Hati. Cerita itu tentangku. Ternyata selama ini hati itu kusimpan di bandul kalung yang melelehkan air waktu aku membukanya. Aku termenung lama di depan monitor laptop seorang teman dan dia berkata, ‘Don’t tell me you’re crying!’ Dan aku menjawab, ‘Remember, I haven’t got a heart.’

Malam itu kita tidak minum dan rasanya suntuk. Kupinjamkan dia iPod-ku, ‘Kau bosan, Coreng?’, dan semalaman di DimSum Festival dia duduk merengut sambil mendengarkan koil.

Kita pulang menebeng teman yang pergi ke semua penjuru arah dan dia satu-satunya yang kucium sebelum kita berpisah. Kemudian dia mengatakan sesuatu yang tidak begitu aku dengar tapi aku iya iya saja sampai kemudian aku sadar dan dia mengulangi, ‘Sebelum aku pergi, aku mau ke Kebun Raya.’

Besoknya aku kirim pesan kalau cuaca ramah kenapa kita tidak pergi saja hari Minggu, tapi hari Minggu dia harus ke gereja. ‘wadebout mandei,’ katanya, dan aku tentu bilang oke saja.

Tapi besoknya lagi dia bilang wah mandei ternyata malam Natal dan tanggal 26 maksa mungkin tanggal 27. Kemudian kupikir kita berdua sok-sok lupa meneruskan diskusi tentang rencana ini.

Besoknya lagi aku tidak tahan tidak bertemu dia jadi aku bilang di YM kenapa aku tidak ke Tebet saja. Dia bilang terserahmu pun dan aku menjemputnya dengan taksi di gang depan rumahnya. Kita pergi ke Cizz dan dia bilang ‘I can’t believe you worked in Tebet for a year and you never ate at Bebek Ginyo (Gino?).’

Aku makan Truffle Torte dan dia Black Forest Cheesecake dan kita ngobrol tentang Beatrice di postingan multiplyku siang tadi dan kenapa Beatrice. Kemudian dia bilang, ‘Can we talk about your posts but not the Beatrice ones?’ Kemudian dia bilang lagi, ‘Ha, I just love bringing you back to reality!’

Kita ngobrol begitu lama sampai diusir kemudian aku bilang what should we do I kinda wanna drink dan dia mengusulkan why not go to Circle K and drink it at my house.

Di rumahnya aku disambut Laika chihuahuanya dan selamat malam tante dan langsung menuju lotengnya di lantai tiga. Ada sofa, spare mattress, buku tentang Roh Kudus dan poster Yesus dari kulit kambing. Kemudian aku bercerita tentang temanku di Palbatu yang punya loteng juga di lantai tiga tapi terbuka jadi aku menghabiskan begitu banyak waktu di sana hanya untuk melihat lampu Electrolux berubah warna dan dia bertanya well do you wanna go outside to the balcony?

Balkoninya lebih nyaman daripada loteng temanku dan di situ kita menonton bulan yang hampir sempurna. Langit Jakarta begitu bersih kita tidak mau percaya. Ada satu dua bintang menampakkan muka dan kita menyesal kita tidak tahu apa-apa soal rasi dan sebagainya.

Di sekitar bulan ada cincin besar yang seperti bukan terbuat dari awan dan kita bertanya-tanya apa nama ilmiahnya.

Kemudian awan mulai datang dan kita mengarang-ngarang bentuk mereka menyerupai apa. Pertama-tama seekor serigala dan dia ingat tentang dongeng-dongengnya tentang tidur dengan serigala. Kedua seekor celeng dan aku bilang mungkin dagingnya akan terlalu keras kalau dibikin panggang. Ketiga seekor kelinci dengan tato angka empat di pipinya.

Kemudian adiknya yang masih SMU datang dan bercerita panjang lebar tentang rencananya besok malam Natal mau ke Mal Taman Anggrek main ice skating. Kata-kata seperti bah dari mulutnya. Kepalaku tenggelam. Sekali-sekali kupalingkan muka untuk melihat anting bintang di cuping kanan hidungnya. Leherku berat seperti beton.

Akhirnya adiknya pamit untuk tidur dulu dan kelihatannya dia juga lega dan kita kembali ke dalam duduk di sofa. Memandang kartu Natal lama yang dia tempel di tembok, bergambar babi dan berjudul ‘HAPPY CIRCUS’. Kartu itu tersusun dari puzzle tapi aku tak tahu sampai dia memberi tahuku.

Dari tadi dia sudah menguap, waktu aku bilang seharusnya kita beli lebih dari dua botol besar Heineken, dia bilang, but I’m soo sleepy already sambil menutup mulutnya dengan tangan. Sekarang, setelah dia bertanya ‘What’s so happy with a circus full of pigs?’ dan aku tidak menjawab kita diam beberapa saat. Kemudian aku bilang, ‘I should let you go to sleep.’

‘Gimme a hug.’

Dan aku memeluknya lama, rambut ringan bau apel yang sama, dan setelahnya bibirku menuju ke bibirnya. Dia lebih pendek dariku jadi aku harus agak membungkuk. Aku tahu ciuman pertama aku yang memulai. Tapi aku tak tahu apakah ciuman yang kedua dia yang membalas ciumanku atau aku yang tak puas dengan hanya sekali. Bibirnya terasa kaku. Telaga berkecipak antara mata dan dadaku.

‘I knew this was gonna happen,’ katanya sambil melepaskan diri dari pelukanku.

Kemudian dia berdiri dan pergi ke arah botol bir di meja di bawah babi-babi HAPPY CIRCUS, memasukkan satu botol ke kantong plastik Circle K yang putih bersih, membenamkan kedua tangannya ke kantong celana, dan berjalan kembali ke arahku di sofa. Mukanya tersenyum dan aku ingin sekali tahu apa artinya.

‘This is when I start to think about all those girls. I know your girlfriend, she’s nice.’ ‘Yah, I know. She is nice.’ Apalagi yang bisa kukatakan, apalagi yang bisa dikatakan siapa pun dalam keadaan seperti ini? Aku berpikir tentang Bunga, pacarku yang berhati emas, dua gigi depannya yang seperti gigi terwelu, begitu lucu, rahangnya yang sekotak rahangku, dan waktu itu kami berdua pergi ke kraton Mangkunegaran dan mbak-mbak guide yang berambut panjang sampai ke pantat bilang, ‘Muka kalian sama, pasti jodoh.’

Dan sekarang aku sedang mengkhianatinya.

Aku hanya diam saja lama. Dia juga diam saja lama. Kemudian setengah mengarang aku bilang, ‘You’d better kick me out of the house.’ Dan dia tetap tidak mengatakan apa-apa, hanya bangkit dan mulai berjalan ke arah pintu. Hatiku robek menontonnya.

Dia menungguku di depan pintu dan sesampai di sana kusambar pinggangnya dan kupeluk dia. Karena dia lebih pendek dariku aku sekali lagi harus menunduk untuk mengangkat dagunya ke bahuku. Belum juga aku puas merasakan lancip dagunya di bahuku dia mendesah terlalu keras dan melepaskan pelukannya. Aku hanya bisa menyaksikan kedua tanganku jatuh ke samping tubuhku.

Dia mengantarkanku sampai ke bawah, melewati rumah yang mulai gelap, mencari-cari sepatu dengan ujung jari kakiku. Dia mengantarku sampai ke pagar, tapi dia tidak ikut keluar pagar. Dia hanya mengucapkan ‘Bye’ dan waktu aku bertanya ‘Keluarnya ke arah sana, kan’ sambil menuding ke arah kanan mukanya sudah tidak kelihatan karena dia sibuk menunduk mengunci pagar. Mungkin dia setengah berteriak ‘Ya’ mungkin juga ‘Tidak’, tidak apa-apa, aku sudah tahu juga sebenarnya harus jalan ke mana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s