Madeleine menungguku*

Aku baru selesai makan makan malam dengan temanku Jean Villeri, si pelukis. Sudah jam sebelas lebih. Aku sudah di dalam metro menuju rumah. Ganti kereta di Trocadero. Badanku terasa berat dan capek, namun aku merasa senang mendengarkan suara kakiku di terowongan stasiun. Tiba-tiba, seorang perempuan yang sedang berjalan ke arah berlawanan menyapaku, kelihatannya ia telah lama mengamati gerak-gerikku. “Maaf, apakah anda punya kertas untuk menulis sesuatu?” Aku menjawab tidak, sambil, sepertinya, tersenyum kecil. Perempuan ini berkata, “Ada yang lucu?” Aku menjawab tidak, tentu tidak, mana mungkin … kemudian dengan sedikit sedih aku berkata: “Ya, mungkin juga.” Perempuan ini kurus, pucat, tapi matanya jernih berkilat. Penampilannya agak aneh. Ia berjalan dengan santai, seakan-akan dunia ini bukan neraka. Sama seperti aku. Aku mencoba mencari keayuan dalam sosoknya yang menyedihkan. Percobaan yang gagal. Mukanya yang lonjong, dahinya, sorot matanya seharusnya menarik perhatianku. Namun aku malah mencoba menghindarinya. Begitu sampai di halte St. Cloud, aku langsung masuk ke dalam kereta. Ia ikut naik di belakangku. Aku berjalan terus di dalam kereta mencoba meninggalkannya. Tidak ada gunanya. Aku buru-buru turun di Michel-Ange-Molitor. Tapi langkahnya yang ringan menyusulku dan tahu-tahu ia sudah berada di depanku. Nada suaranya sekarang lain. Memohon, tanpa malu-malu. Aku mengatakan dengan singkat, semua ini harus berhenti sekarang juga. Ia berkata: “Ah, Anda salah mengerti. Bukan itu maksudnya! Anda salah.” Angin malam membuat kekurangajarannya jadi terasa anggun.  “Anda bertemu saya di sini, di terowongan stasiun yang kosong, dan Anda berpikir saya menawarkan sebuah petualangan?” “Di mana rumahmu?” “Jauh dari sini. Anda tak mungkin tahu.” Ingatan tentang petualanganku mengejar misteri di masa lalu, waktu aku pertama kali menemukan arti kehidupan dan puisi, memenuhi kepalaku. Ingatan ini sangat mengganggu, dan aku berusaha mengusirnya. “Aku tidak mudah tergoda (bohong) dengan kemustahilan, tidak seperti dulu. Aku sudah menyaksikan terlalu banyak penderitaan (sehina apapun).” Ia menjawab: “Berubah pikiran tidak akan menambah penderitaan. Coba saja. Anda tidak akan menyaksikan kematian Anda sendiri.” Ia menghela napas: “Malam ini rasanya basah sekali.” Aku pun merasakannya. Rue Boileau yang biasanya seperti jalan kampung yang tenang, malam ini putih berlapis es. Tapi di langit tidak ada bintang sama sekali, betapa pun kerasnya aku mencari. Aku melirik perempuan muda itu: “Siapa namamu, dik?” “Madeleine”. Aku tidak terkejut. Tadi siang aku baru saja menyelesaikan puisi yang kuberi judul Madeleine di Bawah Cahaya Lampu, diilhami lukisan Georges de La Tour. Menulis puisi ini rasanya seperti diinterogasi. Puisi inilah yang membuatku merasa begitu lelah. Perempuan inilah alasannya kenapa aku menulis puisi tadi. Bagaimana mungkin tidak? Dua kali hal yang sama telah terjadi begitu selesai menulis puisi yang hampir membuatku lumpuh. Aku tidak perlu meyakinkan diriku lagi. Perasaan dan ilham datang bersamaan dengan Kenyataan semesta. Ini tidak mungkin dicapai tanpa ijin Yang Mahakuasa. Kurasa aku belum gila. Aku bukan satu-satunya orang yang kadang-kadang dikaruniai bukti-bukti Ilahi ini. “Madeleine, kamu sudah begitu sabar, dan begitu baik, mari kita jalan sama-sama sementara.” Kami berjalan berdampingan di bawah langit malam yang terasa begitu dekat. Aku menggandeng tangan Madeleine dan merasakan sesuatu yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang sedang kelaparan. Perasaan itu timbul, kemudian segera hilang, meninggalkan kekosongan yang berat, dan pada saat yang bersamaan, kepuasan memuncak seperti yang aku rasakan setiap kali membubuhkan tanda titik terakhir dalam puisiku. Sekarang sudah setengah jam lewat tengah malam. Avenue de Versailles dan sinar lampu pucat dari stasiun metro Javel muncul dari bawah tanah. “Di sini kita berpisah.” Aku sempat ragu-ragu, namun tubuhnya yang kurus sudah telanjur melepaskan diri dari rangkulanku. “Cium aku, aku ingin berpisah selagi aku bahagia ….” Kupeluk kepalanya dan kucium matanya, rambutnya. Bagai lapangan berumput yang basah oleh embun malam. Madeleine lenyap, ditelan oleh tangga-tangga stasiun metro. Pintu-pintu besinya masih terbuka, dan sebentar lagi akan ditutup.

Aku bersumpah semua ini benar-benar terjadi kepadaku, tidak bisa dibilang tanpa meninggalkan semacam perasaan cinta, seperti yang telah aku kisahkan, malam ini, suatu malam di bulan Januari.

Kenyataan yang agung tidak akan menolak mempersembahkan diri kepada orang yang menghargainya, bukan kepada yang bermaksud menghina maupun memenjarakannya. Syarat yang jarang bisa dipenuhi oleh kita yang tak pernah suci ini.

*Rene Char, ‘Madeleine qui veillait’, diterjemahkan dari versi Inggris William Carlos Williams, ‘Magdalene waiting’, dengan sedikit bantuan dari versi aslinya.

Sinta*

: Oka Segara


and then

in these woods

is there anything greener

than a woman’s

cambium radiance

a single leaf drifted

to the ground

a bloodless wound

in the tree

dew on the surface

of the leaf

as salty as river sand

the language of life

eternal and immovable

:

how deep do roots go into the earth

how long can they keep the trunk alive

why is there always a question

of faithfulness

why is there always a noose

at the end of a rope

*oleh Ida Ayu Oka Suwati Sideman

akenuruba/kururu mono to wa/shiri nagara/nao urameshiki/asaborake kana*

hari masih subuh. aku tahu

malam bakal datang lagi,

aku benci hari ini.

*oleh Fujiwara No Michinobu, diterjemahkan dari versi Inggris Kenneth Rexroth: In the dawn, although I know/It will grow dark again,/How I hate the coming day.

anti-matter

not that it matters, but i want to know who did the bad bad georgia brown tattoo on the back of your neck

and the sickly montmarte whore in a top hat on the small of your back

not that it matters, but the bajaj was painted aubergine purple yesterday

and your skirt got stuck on the oversized exhaust pipe of this city

not that it matters, whatever that means

have you ever tried eating oranges laid out like a sushi plate on a girl’s bottom?

not that it matters where i stole the previous line from

not that it matter, nothing matters

not that the old rally 200 still had the old yellow paint under the primer

not that he’s painted over the keyhole on his pre-80s px headset

not that the colours of everything you own will fade with regular spin cycle and a dash of molto

not that

not even that

not even close

you stand at the front of your house

and wait for the pizza hut sign to flicker

you wait forever

you do it

because here, not that it matters

there are always things to do

broken things to fix

and not so many ways anymore to procrastinate

ghost ship

jadi dia tidak peduli dengan perasaan bekas suaminya?

sudah lamalah.

bayangkan perasaan bekas suaminya melihat progres desain kartu undangan pernikahannya dengan suaminya yang baru.

dan dekorasi bemo benhil sebagai mobil penganten mereka.

tapi tidak mungkin dia tidak peduli.

mungkin saja.

tidak mungkin dia tidak pernah memikirkan.

memikirkan mungkin iya, tapi dia pasti akan berpikir, ya, tapi selama ini aku tidak pernah mendapatkan apa yang aku inginkan. yang pantas aku dapatkan. gampang kok menemukan alasan untuk lupa.

Scholarships to the Harvard University School of Native Orientalists – Eligibility Requirements

Preference will be given to applicants who serve as sycophants at the Goenawan Mohamad Academy of Other Unfinished Things otherwise known as Komunitas Utan Kayu, Jakarta. Applicants will possess:

  • No degree, but absolute faith in Bernard Lewis
  • Disgust at own country or whatever the antonym is of chauvinism
  • A total lack of understanding of international cultures and a penchant to refer to selves as “the other” or “liyan” when it comes to dissecting own cultures
  • Demonstrated commitment to besmirching the name of Islam at every opportunity (or even if there isn’t one, just go loco)
  • A willingness to be a native informant for geriatric white academics in Ivy League universities upon completion of the Native Orientalists program
  • Rudimentary grasp of the English language (doesn’t matter, it’s cuter that way)

Please return to the Harvard University School of Native Orientalists your application package by the application deadline, or later – doesn’t matter, we know everything about your “jam karet” – that includes:

  • Incomplete application form. Don’t worry, we don’t expect you to know the difference between “scholastic” and “spastic”, or more pertinently (sorry, big word, ya J), between “eligibility” and “intelligibility” . This includes a badly written and overlong, verbose study objective full of purple prose (a la Goenawan Mohamad).
  • Copy of your most recent Madrasah Ibtidaiyah (Sore) score report.
  • One letter of reference, either from your Kyai or any of the following: Nirwan Dewanto, Sitok Srengenge, Jantung Lebah Ratu, or, of course, Goenawan Mohamad.
  • Copy of academic transcript (if any, in English translation if you wish, but Arab Gundul is preferred).
  • Copy of identity document (with photos, so we can be absolutely sure that you’re not actually Saut Situmorang).

bacin

i miss those days when i thought i sucked at everything i had no friend.

there seemed to be no way out of that kind of depression.

then i’d go for a walk.

or a ride on my specialized bike (RIP :().

and nothing would change.

i’ll read a book.

the ordeal of gilbert pinfold.

draw the red curtains in my tiny dorm room.

my feet would get cold from the lack of heating (it was winter).

i’ll think of some girl i secretly liked in high school.

jerked off.

wait for the cum to dry on my shorts.

thank you angela carter i don’t feel bad about switching tenses anymore.

maybe i’ll go to sleep.

sleep is the best for depression.

a nice deep sleep.

when all your worries turn into dragons.

BABY FALUDA

suatu malam sehabis nonton pan’s labyrinth

aku duduk bersama pacarku di kursi bar di komala’s

dia memesan baby faluda, aku teh masala

dan kami ngobrol wek wek wek dua jam-an

tentang salesman setengah baya,

ibu-ibu india yang menjepit bawang bombay mentah dengan ujung jarinya,

dan brondong-brondong di oh la la di seberang

yang mencoba menyembunyikan cardigan murahan mereka

di balik tawa.

kami tertawa ha ha ha dan dia menggodaku

kenapa begitu gampang menangis menonton pan yang berkulit kayu dan berbau tanah,

dan aku menggodanya kenapa daya kritisnya hilang begitu nama gael garcía bernal muncul di layar.

‘tapi kan tadi tidak ada gael garcía bernal?’

ha ha ha ha ha.

‘kukira tadi sutradaranya juga benicio del toro!’

selagi mencengkeram perutku yang tegang tertawa aku ingat

waktu aku umur 10 tahun, duduk di atap rumahku di badran, jogja

menonton rumpun, gepeng, asep, githil, lilik, mas kelik, trio

membela gawang rt 6 dari serangan ganas nanang, bomber rt 12

buku pspb kelas empat terbitan tiga serangkai di pangkuanku

gambar jenderal oerip soemohardjo dengan epaulet-nya yang tak sempat disetrika

dan tangan yang menuding entah kopral siapa di halaman 42.

besok ulangan.

waktu itu faluda hanya nama tante yang naik haji baru sekali

tapi sudah lima kali umrah (karena angka ganjil dikasihi allah)

dan masala,

aku yakin waktu itu aku belum tahu ada sesuatu di dunia yang bernama seperti itu

ada kasti, ada gobag sodor, ada benthik, ada dhelikan, ada lèk lèk-an,

tapi belum ada masala.

sekarang pacarku menusuk-nusuk baby faludanya yang tinggal sepertiga,

mencari vermicelli yang mungkin sembunyi di balik air susu yang putih seperti hatinya,

dan aku memutar-mutar sendok di teh masala-ku,

memecah kerak lemak yang menggumpal di permukaannya:

waktu itu, juga belum ada dia.