osean

goddess white-armpitted seepanas tapi masih maumungkin nanti mampir papaya beli eclairyour nose pockmarked beautytinggal dikerok masuk anginchild-rearing magnifico hipsaku temukan rumah pohon untukmusungai dingin dahan onesieat half trot kena lampumaghrib bau lavenderrattled by the lushpagar hitam menungguudah lama nggak ke pand’ora sonnet to contain a hole

hut

aku datang untuk menonton tebu orang lain tiba menjadi orang-orangan ada burung menggenggam udara dan ulat-ulat kecil di langit udara setipis kertas ada kepala-kepala berterbangan emas meleleh di dalam dada membeku menjadi punggung ada bocah menunggu dinosaurus ular melintas punggung kakinya jalan lumpur perak purnama siapa tahu besok malam ia seorang pengkhayal kawakan strip kuningContinue reading “hut”

tidak ada poetry

sebuah lorong di bawah rel kereta api yang bukan tempat tinggalku, sampah yang menghitam dari api dan sikap acuh pejalan kaki, semprotan DDT yang sebentar aku kira asap sate, tidak ada poetry. aku berjalan tegap lurus ke depan, sol sepatuku kulit, hand-made, mengetuk aspal seperti bosan, tidak ada poetry. aku berjalan menggandeng anakku perempuan, menghindariContinue reading “tidak ada poetry”

classical rhetoric for the modern student

kelelahan cuma buat menunda waktu untuk mengakui kekalahan seperti payung dibentangkan untuk melindungi punggung yang terlanjur basah sosokmu melintasi kuburan di bawah awan yang menggerayang kesedihan père lachaise yang membusuk di petamburan tidak ada lagi jalan, hanya badan badan yang ditumpuk bagai bantal di ibukota yang enggan memberikan ruang bagi gunting rumput dan air mataContinue reading “classical rhetoric for the modern student”