An(n)a Kar(en)ina

pour Edo Wallad   kau orang sunda, bahasamu seperti burung bernyanyi di pucuk angsana pohon penyembuh segala, masih tersisa satu di pojok kota tua ingatkah dulu waktu kita sering nongkrong di pinggir molenvliet mengenang rimbaud dan sepatu yang lepas kulitnya, liburan di pusuk buhit di sini kita hanya punya gunung salak, senja di beranda denganContinue reading “An(n)a Kar(en)ina”