write petty

i want to write pretty
but i forget the whole thing is like muscles
i have to train
so the red stays red
and the white stays fat
and not turn into red
i worry about staying a half-beat behind
and enunciate every syllable as if it was the last
is that what they call phrasing?
i say to myself everyday:
today i’m going to lose it
the way i lost my petit javanaise
through lack of use.
but that’s not entirely true,
i can still speak it, perhaps
the problem is i was
never much good at it .
you know i want everything to be perfect
so i can’t ever think: oh, but the good
outweighs the bad.
to me the bad always outweighs the good!
sometimes i say, ah, let me just
paint pictures, as long as i have them
i will never run out of things to say.
i mean, don’t all intelligent people think in pictures?
or did he say only intelligent people think in pictures?
it’s only after that a whiff of words
flies past your nose
and you can only hope you catch all of it.
but they’re usually slippery as ghosts.
i’ll give you one:

i tilt my ipod
30 gigs for 30 years
of music geekery
so the angle
reveals to me
the white plastic
smooth to the touch
hides crop circles
of hairline scratches
that disappear again
when the sunlight
through the taxi window
hits.

see something’s wrong with the last line?
like it’s missing a word
and i know what’s missing
is a picture.
it was (scratches …) “lit by the sun”
is it the passive construction?
or the servility of by
that i hate?
i mean, i’m learning new things
shoot new pictures into my brain
like how up or down is always better
than moving forwards
or that when she had her hair cut
the next day the shadows of her old cut
refused to go still
or that we memorise
the kinds of wood
but not the names
of trees
or a helluva things about nightfruits.
i make notes so that i don’t have to remember anything.
and i have learned how to suffer
esorais m’ hos ekdika paskho!
so i don’t have to cry
but still i worry how
the pictures play in widescreen
without a sound.
my drama! ha!:

and i see her in her old swimsuit
with the blue leaves
of the nameless plant on her left breast
and she had on a new bracelet, brown suede,
the way she likes it,
to go with her old look:
when she stares into space
and it is as if
she looks through you.
(i don’t have to tell you that she was standing
right on the edge
of the row of friends
she had since high school,
a feet further apart from the others,
the way she always does)

or do i make notes so i don’t have to write?
there’s nothing real in practising
just as there should be no trace
of practice in the real thing.
i am sorry i take thunders away from you
as if i need more
and you never need one.
“even in the slow practice
of a fast kung fu move”
and that’s just a picture,
after i plug the words
which i drag
out from the cold, in. as
i cup my mouse
with the tenderness of a virgin lover
and feel the talc of dust
on its curves.

Second-rate Life

Saya membaca majalah Tempo pagi ini, ya, saya membaca majalah Tempo pagi ini, yang bertajuk ‘Pergulatan Demokrasi Liberal, 1950-1959: Zaman Emas atau Hitam’, kemudian saya berpikir tentang suatu sore kira-kira 10 tahun lalu waktu saya menerima bingkisan dari ibu saya berisi kaset-kaset pidato Bung Karno yang katanya ia beli di emperan Monumen Proklamasi. Dari seorang Soekarnois yang menjualnya dari bak Kijang. Ada dua atau tiga kaset, sampulnya berwarna tapi cetakannya murahan. Warna two-toned merah putih apa lagi, dengan potret Bung Karno berkaca mata hitam. Bentuknya mirip Ray-Ban klasik yang sekarang menjamur lagi, tapi jumlah pixel di sampul murahan itu tidak cukup menangkap merek di gagangnya, kalau memang ada.

Isi kaset itu berbagai macam pidato di berbagai tempat, yang saya ingat dua, satu di PBB berbahasa Inggris dengan suara seperti dalang, dan satu lagi ceramahnya di sebuah universitas di Malang, dengan nada yang lebih santai dan sempat ada tanya jawab, walaupun pertanyaannya tidak kedengaran, tapi dalam jawabannya Pemimpin Mimpi Besar Revolusi [mungkin Pemimpi Besar Revolusi lebih lucu?] itu sempat melucu.

Waktu itu saya senang dengan Bung Karno. Atau tepatnya, waktu itu saya bangga punya bekas presiden seperti dia. Walaupun sebenarnya, waktu itu, saya tidak begitu tahu juga tentang dia, dan, kadang-kadang, susah merekonsiliasi menonton footage Pinochet dalam sebuah acara kenegaraan berbaju militer lengkap dengan epaulet berumbai-rumbai kemudian berpikir, what an idiot, kemudian menonton footage BK berpeci, berkaca mata hitam yang sama, berbaju militer lengkap dengan papan tanda jasa seukuran alun-alun di dadanya, melambai-lambaikan tongkat komando kepada rakyat Amerika yang menyambutnya bermobil konvertibel bersama JFK, kemudian berpikir, what a fuckin cool guy.

Dalam berbagai artikel di Tempo tadi, ada banyak cerita tentang bagaimana Soekarno suka melakukan banyak hal yang tidak rasional, seperti mengkritik Menteri Keuangan yang dianggapnya terlalu sibuk mengurusi ekonomi, hahaha, daripada membebaskan Papua dari Belanda, memanggil TB Simatupang “poept” (tai), dan menyatukan Indonesia. Pokoknya Tempo edisi ini setuju dengan Herbert Feith yang menyebut pemimpin seperti Soekarno sebagai solidarity maker yang “pemikirannya sentimental dan kebijakan pemerintahnnya tak rasional” (Tempo, 17 Agustus 2007, h. 27) tapi tentu saja tak mau terang-terangan mengakuinya jadi mengutipnya saja sebagai pendapat Feith dalam sebuah laporan besar yang tak pelak seimbang dan obyektif.

Yang membuat saya jadi ingat bahwa waktu itu setelah mendengarkan kaset-kaset pidato Bung Karno saya sebenarnya kecewa, tapi tidak mau mengakuinya. Nada suaranya di podium PBB memang gagah, walaupun aksennya membuat beberapa bagian kedengaran seperti bahasa Belanda, atau tepatnya seperti aksen pemain ketoprak yang memainkan tokoh kopral Belanda di TVRI Jogja circa 1985, tapi isinya sebenarnya tidak lebih dari propaganda tentang gerakan Non-Blok dan Pancasila. Dan buat yang masih yakin Soekarno sebenarnya seorang komunis: buku pertama yang dikutipnya dalam pidato ini adalah Al-Quran. Dan yang kedua, Injil. Sementara yang saya ingat dari ceramahnya di Malang itu adalah leluconnya kepada mahasiswa penanya tadi, yang tidak lucu.

Kemudian saya berpikir, betapa banyak orang-orang seperti itu di negeri ini. Orang-orang yang kalau kita melihat gambar mereka, di koran, di TV, di kolom foto multiply, begitu menarik, mengesankan, ganteng, cantik, kece, keren, muda, berbakat, sophisticated, totally with it, kosmopolitan, membuat iri, gokil, nendang, dar!, lucu, anjrit, tuinggg!, tapi sebenarnya hanya dilletante second-rate.

Jimi Multhazam misalnya, orang menganggapnya lucu dan gokil sehingga dia laris manis sebagai MC. Tapi di panggung dan dalam interview-interviewnya saya bingung, dia hanya mengulang-ulang kata “fren” dan “Mars”, dan semua orang ketawa? Pengkultusan Jimi Upstairs sebagai l’homme gokil extraordinaire ini sebenarnya mengaburkan kenyataan bahwa mungkin dia sebenarnya adalah seorang penyair first-rate, lirikus terbaik Indonesia sejak Oddie Agam, sekaligus meyakinkan bahkan dia sendiri mungkin untuk, sejauh ini, menjalani karir sebagai Iggy Jagger second-rate dan Raja Pensi.

Kemudian Joko Anwar. Kebanyakan orang menganggapnya jenius setelah Kala. Tapi apakah sebuah film, karena dibangun di atas lelucon—yang harus diakui agak subversif, tapi subversif di negeri yang penuh dengan orang second-rate apakah benar-benar subversif?—bahwa Ratu Adil, the Queen of Justice, ternyata seorang Rice Queen, dan disusun dari kolase koleksi video Tarantino, otomatis bagus?

Atau Ayu Utami. Selain pemberontakan seksualnya yang lugu—lihat buku Katrin Bandel Sastra, Perempuan, Seks tentang vagina dalam Saman yang “haus”, butuh sperma untuk orgasme, vagina butuh sperma untuk orgasme???????—buku ini juga diakhiri dengan kalimat imperatif “Perkosalah aku” yang selain inversinya bisa ditebak, ya, yang mengucapkan itu Saman, seorang lelaki, efeknya juga kurang nendang karena itu diucapkan … dalam email.

Begitulah. Bulan lalu saya ke Ende, ternyata di situ ada rumah tua yang dirawat dengan baik, dengan pekarangan luas, pohon mangga, sumur dan halaman rumput di belakang, bekas tempat pengasingan Soekarno. Itu setelah seminggu mendengar cerita penuh semangat dari sopir bus, nakhoda kapal, kenek, preman pasar, tentang kesaktian Bung Karno yang membuat politisi-politisi lawannya tidak berani mengunjungi Ende. Politisi terakhir yang nekad adalah Adam Malik yang mengunjungi Danau Kelimutu, tempat Bung Karno bertapa, dan begitu pulang ke Jakarta dia langsung mati. Begitu cerita mereka. Di “kamar semedi” di rumah pengasingan itu penjaga rumah yang bermata satu menunjukkan tiga lingkaran lonjong mengkilat di lantai semen, katanya, “Itu bekas dahi, dan dua tangan Bung Karno waktu solat. Setiap kali kita pel, selalu muncul lagi.” Di sumur, pengunjung mengambil air sumur untuk cuci muka sambil berdoa (seorang gadis setengah berteriak, “Semoga jodoh lancar Bung Karno”) dan beberapa membeli botol Aqua di warung seberang jalan, membuang isinya, dan menggantinya dengan air sumur.

Saya mengamati semua itu sambil duduk di lantai beranda belakang yang dingin, rumah ini begitu isis, padahal Ende panas, penjaga rumah yang duduk di samping saya menatap saya dengan matanya yang cuma satu, “Bung Karno sempat punya istri juga di sini. Orang Flores asli. Anaknya dua.”

The life of a second-rate. Enak juga kelihatannya.


 

Purnama di Bukit Langit

Bunga rampai Purnama di Bukit Langit Zhou Fuyuan ini bukan bunga rampai puisi Tiongkok klasik yang pertama di Indonesia. Tahun 1949, Balai Pustaka pernah menerbitkan Himpunan Sajak Tionghoa susunan Mundingsari (harga f 1,60) yang berisi 39 sajak. Tahun 1962 (atau 1963?) sebuah badan bernama Komite Perdamaian Indonesia telah pula menerbitkan buku kecil berjudul Tu Fu (Rp 165) “dalam rangka memperingati 1250 tahun lahirnya pujangga besar Tiongkok Tu Fu yang sangat dicintai dan dihormati oleh Rakyatnya sendiri dan oleh Rakyat-rakyat lain di seluruh dunia” (huruf R besar untuk kata Rakyat memang asli dan disengaja dalam kata pengantarnya). Menurut sampulnya buku ini berisi terjemahan-terjemahan Amir Hamzah, Anas Ma’ruf, Ang Jan Goan, Mundingsari, Pramoedya Ananta Toer, Ramadhan K.H., dan sebuah kolektif misterius yang dinamakan Tiongkok Rakyat. Sayang Komite Perdamaian Indonesia ini mungkin terlalu sibuk menyiapkan pesta malam peringatan Tu Fu, atau mungkin terlalu asyik berpesta, (“23 Desember 1962 di gedung Lembaga Administrasi Negara Jakarta”), sehingga mereka lupa mencetak nama penerjemah setiap sajak. Selain lima sajak terjemahan Mundingsari yang diambil dari bunga rampainya di atas, 16 sajak yang lain masih menunggu detektif-detektif sastra untuk mengidentifikasi sidik gaya mereka. (Terjemahan Amir Hamzah (kalau memang ada) bukan sajak T(h)u Fu yang ia sertakan di kumpulan Setanggi Timur-nya.) Tahun 1976, giliran Budaya Jaya menerbitkan Puisi Cina Klasik, “dipilih dan diterjemahkan [dari versi bahasa Inggris Robert Payne dan Liu Wu-chi] oleh Sapardi Djoko Damono” (Sapardi juga menulis komentar untuk buku Zhou Fuyuan ini), yang berisi 56 sajak. Kemudian tahun 2001 lalu Wilson Tjandinegara menerbitkan Antologi Sajak Klasik Dinasti Tang, yang ia terjemahkan dari versi modern karya Xu Fang. Buku ini berisi 100 sajak. Cukup banyak, tapi bukan apa-apa dibanding 560 (!) sajak yang dihimpun dan dialihbahasakan Zhou Fuyuan (dari bahasa aslinya, Tiongkok Klasik) di bunga rampai Purnama di Bukit Langit ini.
Selain jumlah sajaknya yang jauh lebih banyak, perbedaan paling mencolok di Purnama di Bukit Langit adalah penyusunan dan gaya bahasanya. Bunga rampai ini dibagi menjadi dua bagian besar, yang pertama berisi sajak bergaya shi, dan yang kedua berisi sajak bergaya ci dan qu. Ini biasa saja. Li Po dan Tu Fu, mata kiri dan kanan puisi klasik Tiongkok itu, menulis puisi-puisi mereka dalam bentuk shi, dan karena itu Purnama di Bukit Langit bukan bunga rampai pertama yang memberi porsi lebih besar (kalau bukan semua) untuk puisi berbentuk ini. Dalam bunga rampai Zhou Fuyuan dua bagian besar itu masing-masing dibagi lagi menjadi bagian-bagian lebih kecil yang dihimpun berdasarkan tema, yang diberi judul seperti “Rembulan di Rantau”, “Keluhan Musim Semi”, dan “Reruntuhan Masa Silam”—dan tiap judul masih diurutkan lagi berdasarkan dinasti, dari yang paling awal, Zhou, sampai dinasti terakhir sebelum zaman modern, Qing.

Mengumpulkan puisi (atau esei, cerpen, seni apapun) berdasarkan tema mungkin langkah berani. Atau berani mati? Siapa bisa menjamin sebuah puisi tentang rembulan di rantau tidak juga mengeluh tentang musim semi dan reruntuhan masa silam? Bukankah menyimpulkan tema sebuah puisi sama saja dengan mencoba mencekik nafas puisi itu? Mungkinkah menghimpun puisi berdasarkan tema menunjukkan sempitnya cara baca penghimpunnya?

Kenapa misalnya tidak ada tema “Kematian”, padahal banyak sekali puisi di bunga rampai ini yang berbicara tentang itu? Apakah Zhou Fuyuan terpengaruh pengarang-pengarang tak bernama dalam Kitab Nyanyian yang begitu takut dengan kematian sehingga mereka berusaha sebisa mungkin tidak menyebut namanya?

Kelihatannya, tema-tema di buku Zhou Fuyuan tidak punya tujuan seserius (atau sesengaja) itu. Mereka sekedar memudahkan pembaca mencari puisi macam apa yang sedang ingin ia baca, seperti papan-papan tema di rak kartu Hallmark. Judul-judul temanya pun, seperti kartu Hallmark juga, sentimental. Selain tiga di atas tadi, juga ada “Buah Rindu”, “Senandung Air & Bukit”, “Derita Pengembara”. Melihat keinginannya memanjakan pembaca, termasuk kerakusannya mengumpulkan sebanyak mungkin puisi, penyair, dan dinasti, mungkin Zhou Fuyuan memang ingin bunga rampai ini menjadi semacam primer Puisi Klasik Tiongkok, mungkin seperti The Columbia Book of Chinese Poetry-nya penerjemah puisi Tiongkok (dan Jepang) legendaris Burton Watson—dan ia pun berhenti cuma sampai Dinasti Sung (abad 13)!

Bagaimana dengan mutu terjemahannya sendiri? Mungkin terjemahan Zhou Fuyuan tidak akan memodernisasi puisi Indonesia seperti Ezra Pound merontokkan bunga-bunga Victoria dari puisi (berbahasa) Inggris (menggantinya dengan colongan bahasa Yunani Kuno, Itali, Prancis, ideogram Cina!), sekaligus memelopori Imagisme, Vortisisme, Modernisme, etc., hanya dengan kumpulan tipis terjemahan puisi klasik Tiongkoknya, Cathay. Bahasa Zhou Fuyuan, diksinya, rimanya yang teratur bagai pantun, struktur barisnya, sekilas terdengar kuno, sangat Pujangga Baru. Lebih Amir Hamzah daripada Bunga Matahari.

Zhou Fuyuan juga memilih untuk menyamakan jumlah kata per baris terjemahannya dengan jumlah karakter per baris di puisi aslinya. Empat karakter di sebaris puisi dari Kitab Nyanyian, empat kata di baris terjemahan Zhou Fuyuan. Keputusan ini membuat proses penerjemahan Zhou Fuyuan jadi seperti sebuah permainan (belum lagi mengarang rimanya yang teratur). Kebetulan, ini cocok dengan semangat bermain-main penyair-penyair klasik Tiongkok, yang sering menulis puisi beramai-ramai, saling meniru rima (atau malah kata) yang dipakai temannya, bahkan mengundi rima apa yang akan mereka pakai.

Menerjemahkan karakter Tiongkok yang (walaupun tidak selalu) seperti sebuah gambar ke dalam sebuah kata bahasa Indonesia yang (kebanyakan walaupun tidak semua) berupa tanda untuk sebuah gambar bisa jadi permainan yang rumit. Contohnya baris terakhir dari puisi Wang Wei yang terkenal, “Lu zhai” (di bunga rampai ini diterjemahkan sebagai “Pesanggrahan Rusa”). Kalau diterjemahkan per karakter baris ini akan berbunyi “kembali-bersinar-hijau-lumut-atas” (lima karakter); Zhou Fuyuan menerjemahkannya menjadi “kembali menapak di atas hijau lelumutan”. Zhou Fuyuan memang terpaksa curang menganggap “di atas” sebagai satu kesatuan, satu kata, untuk memenuhi prinsip satu karakter satu kata tadi (dia juga mengganti rima puisi jue qu ini dari a-b-c-b menjadi a-a-b-b, tapi ini soal lain lagi), tapi, walaupun kadang-kadang dia melakukan kecurangan-kecurangan kecil seperti ini (poetic licence-lah) biasanya Zhou Fuyuan berhasil mematuhi aturan buatan sendiri itu tanpa mengurangi kepuitisan terjemahannya.

Perhatikan pilihan Zhou Fuyuan untuk mengganti kata “bersinar” dengan “menapak”. Bandingkan dengan, misalnya, terjemahan Kenneth Rexroth, “And gleam again on the shadowy moss”, atau Gary Snyder (dua duta puisi Tiongkok dalam bahasa Inggris), “Again shining/on green moss, above.” Puisi ini sudah sering sekali diterjemahkan (lihat buku 19 Ways of Looking at Wang Wei), dan ada dua masalah yang selalu diperdebatkan di baris terakhir ini, di mana “atas” itu, apakah lumut itu benar-benar di “atas”, menempel di cabang-cabang pohon, atau merekat di “atas” batu-batu (tentu saja di “bawah”, di tanah) dan seperti apa sebenarnya (apa artinya, apakah ini sebuah simbolisme Amida Buddha, seperti usul Octavio Paz) “kembali-bersinar” itu.

Di sini Zhou Fuyuan, seperti Rexroth, menghindari menyebutkan lumut itu ada di mana (di mana-mana?), tapi tidak seperti Rexroth dan Snyder yang memilih terjemahan standar “gleam again” dan “Again shining” untuk “kembali-bersinar”, Zhou Fuyuan mengusulkan “kembali menapak”. “Menapak” membuat sinar di Pondok Rusa Zhou Fuyuan, tidak seperti di “Deer Camp” Gary Snyder ataupun di “Deep in the Mountain Wilderness”-nya Kenneth Rexroth, bebas bergerak. Ke mana-mana. Ke atas, ke bawah, ke atas lagi. Di mana pun lumut itu ada. Personifikasi “menapak” mengubah frase garing “kembali-bersinar” menjadi gambar yang hidup—bukan sebuah personifikasi yang sekedar sok puitis.

Ini mungkin bukti bahwa Zhou Fuyuan bukan hanya seorang penerjemah, tapi juga seorang penyair. Yang bukan hanya mengalihkan kata-kata tapi juga gambar dan rasa, dan menciptakan kembali (merepatriasi?) apapun itu yang kita rasakan sebagai “puisi” dalam versi aslinya.

RINDU MALAM

Sinar purnama di depan pembaringan,
embunkah yang membeku di pelataran?
Tengadah menatap rembulan purnama,
tertunduk mengingat kampung halaman.

[Li Bai (Li Po)/Zhou Fuyuan]

SAMADI DI MALAM SEPI

Kusaksikan cahaya bulan bersinar di tempat tidurku,
Barangkali salju lembut telah melayang jatuh?
Kuangkat kepalaku menatap bulan di bukit,
Kemudian tertunduk kembali merenungi bumi.

[Li Bai (Li Po)/Sapardi Djoko Damono]

THOUGHTS IN NIGHT QUIET

Seeing moonlight here at my bed,
and thinking it’s frost on the ground,

I look up, gaze at the mountain moon,
then back, dreaming of my old home.

[Li Bai (Li Po)/David Hinton]

Hanya versi Zhou Fuyuan yang mempertahankan keabsenan “aku” yang menjadi salah satu ciri khas puisi klasik Tiongkok yang selalu berusaha keras menghapus diri penciptanya sehingga yang tersisa hanya puisi itu sendiri. (Pertimbangkan juga, tanpa “aku” pembaca bisa hadir langsung, menjadi “aku” yang tak disebut, dalam puisi itu.) Versi Sapardi mungkin terpengaruh imagisme, no ideas but in things!, sehingga hal terabstrak di puisi ini, “home”/”kampung halaman”, dia konkretkan menjadi “bumi” (satu-satunya yang pernah saya lihat dari banyak terjemahan puisi ini). Sementara versi David Hinton, terutama judulnya, terdengar hampir seperti bahasa Inggris pidgin. Mungkin dia berusaha mempertahankan kepadatan makna ideogram Tiongkok (see-moonlight-bed/think-frost-ground), hal yang sebenarnya juga telah dilakukan Zhou Fuyuan (mungkin) tanpa sengaja dengan strategi satu karakter satu kata tadi. Pengkupletan dua baris yang idenya bertentangan tapi strukturnya mirip (“tengadah-tertunduk”, “I look up-then back”) juga dipertahankan di versi Zhou Fuyuan dan David Hinton, malah Hinton terang-terangan memecah puisi empat baris ini jadi dua kuplet.

Kesetiaan pada puisi asli menghasilkan terjemahan yang baik, dan puisi yang buruk. Ini maksim yang sering terbukti kebenarannya. Tapi apakah sebaliknya juga pasti benar, bahwa ketidaksetiaan akan menghasilkan puisi yang baik? Mungkin (Cathay). Mungkin tidak (beberapa terjemahan puisi klasik Tiongkok William Carlos Williams—mungkin karena dia baru mulai di umur 74 tahun). Mungkin juga baik-buruknya sebuah puisi terjemahan tidak ada hubungannya dengan kesetiaan pada puisi asli. Mungkin hanya kepenyairan penerjemahlah yang menentukan mutu puisi terjemahan. Titik.

“Rindu Malam” Zhou Fuyuan saya rasa, sebagai puisi Indonesia, walaupun gayanya kuno, nyaris berpantun, adalah puisi yang bahasa dan gambarnya bersih serta isinya menyentuh (sehingga kita lupa dengan bahasanya yang kedaluwarsa). Di dua larik pertama, yang sekilas seperti lampiran pantun, pembaca menjadi “aku” yang tiba-tiba terbangun, mungkin dari tidur (karena dia berada di dekat “pembaringan”), mungkin juga dari mabuk berat (kita tahu Li Bai seorang pemabuk ulung). Antara sadar dan tak sadar, “aku” bingung, cahaya putih itu, sinar purnamakah? Atau embun yang membeku? (Atau embun beku yang memantulkan sinar purnama?). Kebingungan, keraguan abadi manusia akan mana yang nyata dan tak nyata tergambar, terasa, sangat menggigit di sini. Kebingungan itu hilang setelah “aku” “tengadah” menatap bulan, tapi segera diganti dengan sesuatu yang lebih mengerikan: kesepian dan keterasingan. “Aku” teringat akan kampung halaman, jauhnya diriku dari situ, dan perkongsian antara ingatan dan kenyataan itulah yang memaksaku kelu “tertunduk”.

Semua ini jelas terasa, bahkan tanpa catatan kaki yang disediakan Zhou Fuyuan di akhir puisi ini (dan menyertai banyak puisi yang lain). Tanpa kita tahu bahwa “bulan yang sempurna menjadi simbol bersatunya keluarga.”

Bandingkan dengan “Samadi di Malam Sepi” Sapardi Djoko Damono. Satu lagi pengaruh imagisme di sini adalah nada baris-barisnya yang (dibuat) mirip percakapan (atau monolog kali ini). Puisi ini, kecuali judulnya, terasa modern. Tapi kenapa “aku” di sini “tertunduk … merenungi bumi”? Gambar di sini sangat jelas, sinematik, si aku menunduk menatap lantai di dekat cagak kasurnya, tapi, selain kenapa dia merenung (dan kelihatannya dia sudah lama merenung, “cahaya bulan” itu merusak renungannya, sekarang dia “kembali merenung”), apa yang dia renungkan, apakah bumi itu sendiri (yang dirajam pemberontakan An Lu-shan dan memaksanya melarikan diri?), atau sesuatu yang lain yang diwakili oleh kata “bumi” itu (mungkin dia sedang bersamadi tentang bumi sebagai bagian dari kosmos Zen Buddhisme)? Apakah Sapardi sedang mengikuti petuah Wei T’ai, kritikus jaman Dinasti Sung yang mengatakan, “Puisi menyuguhkan benda untuk membangkitkan perasaan. Secermat mungkin tentang bendanya dan sehemat mungkin tentang perasaannya”? Kalaupun ini benar, puisi Sapardi ini begitu hemat dengan perasaannya sehingga hampir tidak ada rasa yang tersisa. Puisi ini menjadi sebuah puisi simbolik yang memerlukan, ya, catatan kaki semacam yang disediakan Zhou Fuyuan untuk puisinya.

Selain catatan kaki, Zhou Fuyuan juga menyediakan kata pengantar berisi sejarah singkat puisi klasik (dan politik dinasti) Tiongkok, dua komentar dari Sinologis Leo Suryadinata dan (sudah saya bilang) Sapardi Djoko Damono sendiri, serta biografi singkat ”16 Tokoh Penyair Penting”. Semua itu mungkin tidak begitu perlu. Terjemahan-terjenahan di bunga rampai Purnama di Bukit Langit ini, seperti “Rindu Malam” tadi, adalah puisi-puisi Indonesia yang cukup kuat untuk berdiri sendiri.

243 kartu pos bergambar (buat holiday)

langit2 merpati berembun. anak2 menempel dagu di pagar bandara. surfers australia berkaos bintang. belum ada orang2 berwajah melanesia. kirain bakalan udah banyak. pengen boker tapi toilet naudzubillahimindzalik. nanti aja di hotel/losmen/rumah penduduk. dvd 3 hari untuk selamanya udah keluar belum?

bima penuh kereta kuda. ‘parkir khusus benhur’. charlton heston is big. angin besar. tai kuda kalau masuk mata bisa tetanus nggak ya? c u in a week.

banyak toko bernama ‘arema’. ‘restoran arema’. buffet. gak ada makanan yg ‘khas bima’. mau cari insidal tanya ada apotik gak dekat2 sini? oh ada terus aja. jalan bisa? bisa. berapa jauh? paling dua kilo. ok, charlton. (toilet mungkin masih bisalah. tapi restoran. terlalu banyak traffic. terus terang, this town sux terus.)

bara memaksa mencari bir di kota yg katanya ‘99% muslim dan hanya 1% [ya iyalah mau berapa lagi you idiot] pendatang’ ini. ‘ada di warung yg sana. dekat apotik.’ emh. tuh kan nggak ada. udah deh, it’s a village, play the quaint game buddy. how can that stelivena girl afford to go to chile AND peru? FOR A WHOLE MONTH?

sepanjang bima-sape kering. seperti australia but smells like horseshit. it is horseshit. bring malaria tablets? what about a tetanus shot? (this tour guide guy i’m sure is totally dodgy. he’s got weird eyes. like he’s got cataracts. and it’s gone to his brain. masa dia pesen kijang yg tempat duduk belakangnya hadap2an terus gue disuruh duduk di situ. BERSAMA SEMUA BACKPACKS KITA. wait for the bill from my chiro u asshole!)

di luar jendela mobil ada desa nelayan miskin, tambak hitam setengah kering berbau busuk, anak kecil main the undertaker v.the undertaker di dalamnya, jalan tanah campur apalagi kalau bukan tai kuda, oh no, it IS SAPE. mummy, why did i refuse yr bekal of mitu and antisss!

damn, aren’t i clever? rumah penduduk it is. cheapskate. rumah panggung setengah di atas laut, correction, bungkus indomi, softex, kartu as. cek toilet. correction, lobang yg digergaji di lantai papan. paling tidak benar2 sudah di atas air. hmmm, begitu caranya. kamar mandi buat pipis masih di atas tanah/sampah, wc di atas air. biar bisa langsung hanyut. (tapi gak bakal kelihatan ini hitam gitu airnya.)

capek mengeluh. tempat jemur ikan di belakang rumah sebenarnya enak juga. panggung bambu seluas tiga lapangan voli. TIDAK sebau yg aku kira. semriwing amis ikan asin saja. pemandangan menjelang sunset. banyak burung gagak. burung GAGAK. teringat tony bourdain terkagum2 ttg rentetan adzan di sukabumi. kapal2 nelayan berderet sampai ke kaki langit. we’re gonna be in one those mulai besok pagi jam 3. hiii. burung GAGAK.

makan malam hanya menganggu tiduran sambil menonton bintang yg muncul satu2 seperti atlit2 di upacara pembukaan olimpiade. we need a bigger stadium! wow. sabuk kabut bima sakti pun kelihatan. bintang jatuh. here’s wishing for the pacific ocean.

tadi penduduk yg punya rumah itu membunuh seekor ayam putih (broiler?) dgn mengiris lehernya kemudian membiarkannya jumpalitan di pintu dapur sampai lemes. berarti nanti kalau masuk lagi ke rumah (lewat pintu dapur) harus hati2 biar gak nginjek darah. tapi tidak ada ayam di menu makan malam. hanya ikan. enak tapi walaupun sekali lagi, gak ada rasa ‘bima’-nya (whatever that is, if i ever find out). ini sih sama aja dengan ikan bakar belakang sudirman. hanya jauh lebih fresh.

(oya, tadi sore sempat berkeliling sape dengan kijang. mencari tempat utk bekri. losmen mutiara? pearls are made of dirt. akhirnya, masjid al-hilal! 15 tahun tidak menginjakkan kaki ke rumah allah sekarang, assalamualaikum, toilet ada? nice shy bima boy, nanti kasih sedekah ah. teteskan air rahmat ke bak yg gelap—sudahlah—setengah berdiri, close yr eyes, think of amanjiwo.)

nice shy bima toilet boy sudah pergi, masuk ke masjid proper hanya ada mas2 tiduran bertelanjang dada (untung masih sarungan). isn’t that makruh? nggak ada kotak sedekah. i live with guilt every day anyway. cabs.

di kamar ‘pak haji’ (sendiri, cewek2 di kamar sebelah). di atas lemari yg kosong (atau dikosongkan? pak haji suudzon!) ada koper vinyl tua berdebu. berlabel NAMA: MASLAH Bt. INGGI, NO KLOTER: 81, EMBARKASI: MATARAM, ALAMAT: DESA BUGIS KEC. SAPE KAB. BIMA INDONESIA.

tidur berkaus kaki dan bersyal ulos. TV keras di ruang tamu depan. laki2 bercakap. dinding hanya setengah, langit2 telanjang tanpa eternit. seperti ada TOA nempel di gendang telinga. ah sudahlah tinggal tiga jam ini. sebelum burung GAGAK.

dibangunkan tour guide who shall remain nameless while i’m preparing court briefs for his litigation, sikat gigi dengan aqua yang diludahkan ke satu lagi lubang di lantai dapur. seragam: sendal jepit daimatu (it’s back!), celana pendek kegedean yg melorot jadi 3/4 merek bonds, kaos oblong sonic youth goo, cardigan rajutan benang katun custom made, topi nelayan merek mambo (model’s own), syal martha ulos (gift from model’s girlfriend).

kapal kita sepanjang pohon kelapa. atap terpal oranye dan biru. lebar cukup untuk berbaring dengan kaki lurus. kukira kita akan naik/meloncat turun dari panggung tempat jemur ikan di belakang. tapi ternyata kita keluar rumah dan jalan ke arah pelabuhan. bulan setengah. sekumpulan lelaki bersarung di dalam bus yang berhenti. burung GAGAK. auman serigala di balik bukit. oh no that was just my heart.

seratus meter sebelum pelabuhan kita belok kiri ke samping satu lagi rumah panggung. kapal menunggu di belakangnya. mungkin saat yang tepat untuk bilang burung GAGAK, eh, sayonara.

laut kemericik. aku berdiri di anjungan melihat ke depan. quicksilver membuat laut seperti loyang perak. dingin. balik ke dalam, selimutan sarung batik. antimo? don’t be paranoid. times like this you wish you’ve signed up for twitter.

laut MENGGELORA. not funny. ninik di sebelahku minta antimo. i took two. tried to sleep. thought about amazing i shouldn’t be alive! episodes starring me. how long do i have to float in the open sea before a dolphin escort me to the national geographic channel?

laut FUCKING INSANE. i’m gonna sue that guy’s ass. dolphin or no dolphin.

said guy screamed out ‘sunrise!’ whatever. i’m all wet. bibirku terasa seperti ladang garam. mencoba bergerak tetapi rasanya seperti dipocong ketat gara2 antimo tadi. sempat menyingkap terpal sedikit utk melihat said sunrise. seperti telur muntup2 mau keluar dari pantat ayam. totally underwhelming.

bangun karena kapal berhenti. atau kakiku beku kedinginan. tapi wow. laut tenang seakan mengejek, seperti anak kecil yg pura2 bloon padahal habis ngemplang jajanan. fuck you. you are beautiful. kita di tepi sebuah pulau gersang. jangkar lepas kira2 dua metro mini dari pantai kerakal putih dengan pohon2 meranggas berdahan njelimet seperti di foto2 album band black metal. serasa di islandia tapi ada mataharinya. laut hijau gelap tapi transparan (memang aneh). nyebur. serem, karena laut begitu tenang, tapi aku tak percaya lagi padanya. kata ardin, salah satu anak buah kapal yang semuanya selalu bersembunyi di dok belakang, pulau ini yang paling angker (unk-care) di antara semuanya. namanya gili banta.

cabs setelah melongo melihat tebing berumput coklat yang menjulang di belakang pantai kerakal tadi. kosong. tidak ada manusia lain selain kita bersebelas di kapal reyot ini.

pulau tadi begitu beda dengan pulau2 di sumatra/jawa/bali/lombok bahkan sumbawa 6 jam yang lalu. christ. six hours in that kora-kora. kering kerontang. warnanya itu lho. seperti tiba-tiba lupa ijo royo-royo itu seperti apa. begitu total perubahannya. warnanya mungkin di tengah2 antara es krim mocca murahan dan you’ve guessed it, tai kuda kering.

i’m sort of happy. i like seeing something that doesn’t look like java. even if it’s the colour of horseshit.

i guess it sort of makes me feel like there’s a point all these islands are strung together into one country. i don’t know if it’s good or bad, right or wrong. right now, with the sun shining, god forgetting to paint clouds in the electric blue sky, the air so clean i wish i can bottle it like zam zam water, everything else is horseshit.

there are actually many of these islands. big ones. small ones. we sail close to the shoreline so we can make out things. a single tree on an otherwise completely bare hillside that my girlfriend said looks like the new cover i chose for raumanen. the face of a hill that actually looks like a face because the little trees and shrubs that managed to survive in this god-forsaken climate (it’s so dry!) conspire to draw two eyes, a nose and a mouth (unk-care!).

it was like this for three hours. it was like watching lord of the rings (oh no! not another magnificent wellington landscape!), i got bored and went to sleep but kept waking up and everytime i got up and looked some more at more islands that look almost exactly the same as the last one. it was like groundhog day for discovery t&l addicts. it was heaven.

just when i started to worry how on earth are they going to work out which island is komodo island, annoying tour guide guy screamed out, (he always screams) ‘loh liang!’ which from where we were looked like a dark patch on one end of a long stretch of white sand.

(end of batch #1)

The Cock*

I dreamed that dead, and meditating,
I lay upon a grave, or bed,
(at least, some cold and close-built bower).
In the cold heart, its final thought
stood frozen, drawn immense and clear,
stiff and idle as I was there;
and we remained unchanged together
for a year, a minute, an hour.
Suddenly there was a motion,
as startling, there, to every sense
as an explosion. Then it dropped
to insistent, cautious creeping
in the region of the heart,
prodding me from desperate sleep.
I raised my head. A slight young cock
had pushed up through the heart and its
green head was nodding on the breast.
(All this was in the dark.)
It grew an inch like a blade of grass;
next, one leaf shot out of its side
a twisting, waving flag, and then
two leaves moved like a semaphore.
The stem grew thick. The nervous roots
reached to each side; the graceful head
changed its position mysteriously,
since there was neither sun nor moon
to catch its young attention.
The rooted heart began to change
(not beat) and then it split apart
and from it broke a flood of water.
Two rivers glanced off from the sides,
one to the right, one to the left,
two rushing, half-clear streams,
(the ribs made of them two cascades)
which assuredly, smooth as glass,
went off through the fine black grains of earth.
The cock was almost swept away;
it struggled with its leaves,
lifting them fringed with heavy drops.
A few drops fell upon my face
and in my eyes, so I could see
(or, in that black place, thought I saw)
that each drop contained a light,
a small, illuminated scene;
the well-deflected stream was made
itself of racing images.
(As if a river should carry all
the scenes that it had once reflected
shut in its waters, and not floating
on momentary surfaces.)
The cock stood in the severed heart.
“What are you doing there?” I asked.
It lifted its head all dripping wet
(with my own thoughts?)
and answered then: “I grow,” it said,
“but to divide your heart again.”

*with apologies to Elizabeth Bishop.

The Cock*

I dreamed that dead, and meditating,
I lay upon a grave, or bed,
(at least, some cold and close-built bower).
In the cold heart, its final thought
stood frozen, drawn immense and clear,
stiff and idle as I was there;
and we remained unchanged together
for a year, a minute, an hour.
Suddenly there was a motion,
as startling, there, to every sense
as an explosion. Then it dropped
to insistent, cautious creeping
in the region of the heart,
prodding me from desperate sleep.
I raised my head. A slight young cock
had pushed up through the heart and its
green head was nodding on the breast.
(All this was in the dark.)
It grew an inch like a blade of grass;
next, one leaf shot out of its side
a twisting, waving flag, and then
two leaves moved like a semaphore.
The stem grew thick. The nervous roots
reached to each side; the graceful head
changed its position mysteriously,
since there was neither sun nor moon
to catch its young attention.
The rooted heart began to change
(not beat) and then it split apart
and from it broke a flood of water.
Two rivers glanced off from the sides,
one to the right, one to the left,
two rushing, half-clear streams,
(the ribs made of them two cascades)
which assuredly, smooth as glass,
went off through the fine black grains of earth.
The cock was almost swept away;
it struggled with its leaves,
lifting them fringed with heavy drops.
A few drops fell upon my face
and in my eyes, so I could see
(or, in that black place, thought I saw)
that each drop contained a light,
a small, illuminated scene;
the well-deflected stream was made
itself of racing images.
(As if a river should carry all
the scenes that it had once reflected
shut in its waters, and not floating
on momentary surfaces.)
The cock stood in the severed heart.
“What are you doing there?” I asked.
It lifted its head all dripping wet
(with my own thoughts?)
and answered then: “I grow,” it said,
“but to divide your heart again.”

*with apologies to Elizabeth Bishop.

playin detective

“… the queer light on his hands, neither warm nor cold,
of a temperature impossible to record in thermometers.”

Elizabeth Bishop, ‘The Man-Moth’, from North & South (1946), in Elizabeth Bishop: The Complete Poems 1927-1979, p. 14.

“Dingin tak tercatat
pada termometer”

Goenawan Mohamad, ‘Dingin Tak Tercatat’ (1971), in Goenawan Mohamad: Selected Poems/Puisi Pilihan, p. 32.

Di sindang

tahu nggak billie, aku tahu tulisanku di sini tidak bagus, bahkan aku tahu mungkin tulisanku di mana pun memang tidak ada yang bagus, tapi paling tidak di sini, aku tidak peduli. yang penting aku bisa berbicara denganmu. seperti berbicara dengan diriku sendiri. seperti tadi malam waktu aku lèk-lèkan tanpa disengaja dan besok paginya aku bangun jam 11 pagi dan di kamar mandi aku berpikir, wow, tak ada lagi kabut di otakku! kemudian siangnya aku berpikir dunia akan tetap selalu mengganggu, terserah kepada kita bagaimana caranya menutup pintu. aku pikir susah juga, mungkin hanya picasso, atau wittgenstein, yang bisa, karena ego mereka cukup besar untuk mengganjal daunnya. tapi ada beberapa periode dalam hidupku waktu aku mampu melakukan itu, sadar di mana tempatku di dunia dan seperti apa tempatku itu dan di mana batas antara halaman dan ruang tamu. seperti kata drpat, «we fill the bar, and the bar fills us.» untuk sampai ke situ, kau perlu tahu bar itu apa, dan siapa untukmu. kau perlu akrab. dengan kerumunan orang dan warna tembok di hatimu sendiri. sementara begitulah billie, tempat ini akan jadi satu-satunya tempat aku menulis memakai persona diriku sendiri. jaga baik-baik. di tempat lain, aku tak mau kau mengenali kumis palsuku.

SLOW NEWS DAY AT THE TRUTH

Shuffle Songs and Put Your Head Down

1. Old Battery – Guided By Voices

From the Devil Between My Toes album from the Box boxset. I bought it second-hand from this Hispanic looking guy at the Glebe Market sometime around two thousand something and two. It was still expensive. I think I might’ve waited three weeks before finally yeah okay I’ll give you the fucking money dick. And later that night I saw him drinking it away at his local pub. Or I assume it was his local pub, since it was located at the indie suburb I assumed he was living in.

2. What Are We Coming Up To – Oil Can Harry

Really Guided By Voices again. Part of the Suitcase boxset I mail-ordered from their Fading Series Captain. Was still living in Glebe. When it hadn’t come after two weeks got paranoid thinking someone had stolen the package because maybe the postman had left it outside the gate since the landlord was too cheapskate to let us have our own mailbox. Bastard.

3. You Can’t Hurry Love – The Supremes

I also mail-ordered this. From a music site in Australia that’s now closed down. Chaos music I think it was called. I had to borrow my friend Brendan’s address for them to deliver it to. Then he had to send it to me who was in Byron Bay for a last holiday with my then girlfriend before I had to go back to Jakarta and she find a real guy. She was sweet and decided not to find a real guy after all and flew all the way to Jakarta to be together with me again but since then I’ve fucked up everything so I hope she finds a real real guy this time.

4. Bathtub – Snoop Dogg

When I first met my girlfriend I was a bit worried about her friends. They listened to this thing. But then we went for a weekend to a wet Batemans Bay and spent the whole time inside listening to this and Dre. Maybe they should’ve been worried about me.

5. Gray – You Am I

Man, why all this music from when I was wasting my time in Australia?

6. Watch Me Jumpstart – Guided By Voices

I have a lot of GBV. I am forever guided by invoices.

7. Absolutely Cuckoo – Magnetic Fields

Remember CDNOW? I streamed samples of the 69 Love Songs album from the site on the old computer in the backroom of my house next to the ironing board, not knowing anything about the band but having read in the descriptions that this album actually contains 69 love songs. I listened to I Don’t Believe In the Sun and then entered my mom’s credit card details. It’s probably the only thing I remember from all the things I’ve bought using my mom’s credit card.

8. Is It Really So Strange? – The Smiths

A song I always skip on my iPod. I ripped it from the Louder Than Bombs comp. I probably have another 34257 same versions of it from the 46572 comps The Smiths released in the ’80s, when everyone was too busy hairspraying their ass hair to complain. Or notice.

9. Boxing – Ben Folds Five

I’ve never seen them live. Though I once got a free ticket to see them at my uni bar on the Underground tour. I let Henry, my best friend, carry it to the gig, thinking that the free ticket must have got a +1 attached to it and I hate asking ushers for +1 so let Henry do it. The ticket never had a +1. And Henry already got the inside of his wrist stamped. The bastard. (I just ripped this song on to my girlfriend’s Creative Neeon Zen.)

10. Lily of the Valley – El Vez

Got into an El Vez phase right after my Elvis phase. The Elvis phase after the Morrissey phase. Going from Morrissey to Elvis after watching the Live in Dallas video and ah, so he got all his stage mannerisms (eg., the whipping of the mike cord) from Elvis’s ’68 Comeback special video! Then from Elvis to El Vez via Google searches on ‘pompadours’. Bought the CD at a dag-y CD store in Brisbane, the man at the counter called me ‘man’ and had ass-parted long hair like Lee Dorrian from Cathedral. I went there the summer of 2003.

11. The Abandoned Hospital Ship – The Flaming Lips

I have no idea what this song sounds like. But I know it’s from their pre-Geffen compilation A Collection of Songs Representing Something Totally Stupid but Since Soft Bulletin is Such a Work of Genius I Can Now Release Anything from My Back Catalogue Even If It’s Just The Sound of Me Farting, I Just Have to Call It Something Like Yoshimi What A Stupid Name and stupid amateur indie historians will buy it no questions asked. Just like I did.

12. Meter – Ruang Hampa

The last song in the JKT:SKRG compilation. I don’t think I ever listened to it until one day I put my iPod on another shuffle and I thought I was hearing an unreleased Radiohead track from the OK Computer session. With better enunciation. But just as boring.

13. Dear Morris – Even

I like a band like Even. A trivia in rock history—in my history—but, maybe because it is a piece of trivia, with an indelible place in it. Like the battle for Surabaya (10 November 1945) in the history of mankind. Not a match for the Peloponnesian War, but fuck that suicide bomber who killed the English general was so cool.

14. Broken – Teenage Fanclub

One of the B-sides in the Ain’t That Enough single. The single came in two versions, each with different B-sides. I chose this one because it had a cover of Lou Reed’s Femme Fatale (which sucked, but how did I know, this was pre-Limewire). I hate this song, but Ain’t That Enough became a soundtrack for cold, sunset-y, summer evenings in my college room, a buddy love with H. who taught me the chords to the song (C-G-Am), a perfect life until I realized, no, it ain’t ever enough.
 
15. Stumbling Block – Ben Lee

Being Ben Lee is a stumbling block for Ben Lee’s career.

16. For a Second – Magic Dirt

What Are Rock Stars Doing Today was a great album, may be the only great album with a girl-singer who sings in an awful, exaggerated, Kuta-Australian accent. But I don’t remember this song was on it.

17. (Intro) – Sigur Ros

( )

18. True Love – Scavengers

“True love is beautiful, true love, everything’s cool.” Cool sentiment, totally untrue.

19. I Knew I’d Want You – The Byrds

Once a year, you’ll read a Byrds-revival article complaining why aren’t they more appreciated when Fifth Dimension foreshadowed Sgt. Peppers’ by a full five months. BECAUSE THEY WERE SECOND-RATE AND ARE ALREADY OVERRATED ANYWAY YOU STUPID MOJO-READING HACKS.

20. Mrs. Leroy Brown – Van Lear Rose

Bought the album because I saw the clip for Miss Being Mrs. in a hotel room somewhere. I must’ve felt lonely and sentimental. I miss being lonely.

21. Flat Tire – Eraserheads

I own five Eraserheads albums that my mother bought me on an Ophthalmology Conference trip to Manila. I don’t remember ever having listened to this song.

22. Atwa – System of A Down

Toxicity is one great slab of heaviness. Impossible to distinguish one song from another.

23. The Applecross Wing Commander – You Am I

There were times when I thought dressing like Koes Plus was cool. These times were sometime circa 1993. I was also smoking pot almost everyday then. To ease the acid flashbacks. Applecross is a suburb in Perth. Little Wing Commander impressions was a popular game among primary school kids in boring suburbs like Applecross. Tim Rogers, the lead singer of You Am I, grew up in Applecross. He is a boring cunt. You memorize band members’ names when you’re a boring indie cunt. (These last two sentences should’ve been (virtually) crossed out but this primitive Multiply word processor blah.) You know a lot of boring rock trivia like this when you’re a pothead.

24. It’s Only Divine Right – The New Pornographers

A lesbian friend of mine once said that she’d buy a copy of Hustler if it had Neko Case in it. I would keep buying New Pornographers records as long as it has her in it.

25. All I Really Want to Do – The Byrds

One of their better songs. AND IT’S A(NOTHER) DYLAN COVER.